Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Biarkan Semua Orang Tau


__ADS_3

Malam harinya di kediaman Dalia.


" Ibu! " Sahut Shenzi sambil memandangi foto dirinya waktu di taman hiburan melalui ponsel ibunya.


" Iya sayang, ada apa? "


" Shenzi suka liat foto ini, bu. Coba deh ibu lihat, disini ada Shenzi, ada ada ibu dan juga papa." Ucapnya dan Daliapun langsung mengamati foto yang Shenzi maksud.


" Shenzi senang dekat dengan papa? " Tanya Dalia sambil tersenyum.


" Seneng banget, papa baik banget sama Shenzi. Coba kalau ayah udah pulang, Shenzi mau nunjukin foto ini dan bilang kalau Shenzi punya ayah dan juga papa. "


Jawaban Shenzi sungguh polos, namun cukup membuat ibunya kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan anaknya itu.


" Emm... kayaknya udah larut malam, sayang. Sebaiknya Shenzi tidur yah, besokkan mau sekolah. " Dalia mencoba mengalihkan pembicaraan sambil meraih ponsel yang dipegang Shenzi.


" Tapi bu, ibu gak lupa kan kalau lusa ada acara di sekolah Shenzi? "


Astaga, hampir saja aku lupa!


Gumam Dalia.


" Oh iya, ibu inget kok sayang. "


" Kalau gitu, Shenzi mau ibu datang bersama ayah, kalaupun ayah belum juga pulang, ibu datangnya sama papa aja, gimana? "


Dalia tampak berfikir sejenak.


" Ehm... nanti ibu coba bicarakan ini dengan papa ya, sayang. "


" Ok! Shenzi akan sangat bahagia kalau melihat ibu dan papa hadir di acara itu. "


" Baiklah, ibu usahakan! Sekarang Shenzi bobo dulu yah, besok mau sekolah. "


" Siap, bu! "


Shenzi langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan Daliapun menyelimutinya dengan selimut. Setelah itu, Daliapun ikut merebahkan tubuhnya di samping Shenzi dan mulai terlelap dalam mimpi indahnya.


*


*


*


*


*


*


*


################################


Ke esokan paginya di kantor Federick Corporation.


Tik.. tok.. tik.. tok.. tik.. tok..!


Suara deru jarum jam berdetak memenuhi ruangan kedap suara Sekretaris Direktur Utama. Yah, ruangan siapa lagi kalau bukan ruangan Dalia.


Dalia memainkan pulpen didagunya sambil sesekali menggigit bibir bawahnya. Sesekali Ia menatap jam dinding yang terus berdetak di diding ruangannya itu. Ia bingung bagaimana cara menyusun kata-kata untuk menyampaikan permintaan Shenzi kepada Rendra. Apalagi Dalia harus berhadapan langsung dengan pria yang sudah berani menci**nya pada kemarin sore.


" Bagaimana ini? Aku tak sanggup bertatapan muka lama dengannya. " Dalia gelisah.


" Tapi, Shenzi begitu berharap! " Ucapnya lagi.


" Ah sudahlah, sebaiknya aku temui saja, Dia. "


Setelah bergelut dengan fikirannya sendiri, akhirnya Daliapun memutuskan untuk menemui Rendra di ruangannya.


Tok.. tok.. tok..!


" Masuk! " Titah Rendra.


Ceklek!


Dalia membuka pintu ruangan Direktur Utama tersebut lalu kemudian menutupnya kembali. Rendra yang masih terlihat sibuk dengan berkasnya tak memperdulikan siapa yang datang pada saat ini.


" Selamat pagi, tuan. " Suara Dalia mengejutkannya, sontak Rendra langsung refleks dan melihat ke arah Dalia dengan tersenyum lebar.


" Dalia! " Balasnya.


" Apa saya boleh meminta waktu tuan, sebentar? "


" Tunggu dulu, tidak ada siapa-siapa disini, jadi jangan memanggilku dengan sebutan Tuan. "


" Ok, baiklah! Kalau begitu apa boleh aku meminta waktumu sebentar? "


Rendra tampak tersenyum menyeringai mendengar permintaan Dalia barusan.


" Tentu saja boleh, aku punya banyak waktu untukmu,sayang ! Apa kau masih merindukan momen kemarin sore? "


" Tidak, bukan itu! A...aku... hanya....... " Belum selesai Dalia melanjutkan perkataanya, Rendra langsung memotongnya.


" Menginginkan lebih? " Rendra tersenyum menyeringai.

__ADS_1


" Gak jadi deh, aku balik ke ruanganku aja lagi! " Dalia bergidik ngeri saat melihat senyuman menerkam Rendra.


" Dalia, tunggu! Jangan pergi, aku hanya bercanda! " Ucap Rendra yang langsung berlari menghampiri Dalia dan menahan tangannya.


" Tapi, jangan berkata seperti itu lagi! " Ancam Dalia.


" Iya deh iya! Ya udah kita duduk disitu, ada perlu apa? Kalau kau memang merindukanku, katakan saja. Aku punya banyak waktu untukmu! " Goda Rendra lagi.


" Ya udah, gak jadi !" Dalia mulai kesal.


" Eitss! Baiklah.. baiklah! Aku hanya bercanda, jangan ngambek begitu, nanti cantiknya luntur. " Rendra terkekeh.


" Gak lucu! " Dalia memanyunkan bibirnya.


" Tuh kan, jadi mirip donald bebek kalau manyun. " Rendra mengejek hingga membuat Dalia tambah kesal.


" Nyebelin banget sih! Dari dulu, selalu menyebalkan! " Gerutu Dalia.


" Ya udah, maaf, habisnya kamu lucu kalau lagi ngambek gitu! Ayo kita duduk di situ! "


Rendra lalu menggandeng tangan Dalia dan mengajaknya duduk di sofa tamu yang ada di ruangannya.


" Ada apa sayang, hmm...? " Tanya Rendra setelah mereka duduk.


" Jangan panggil aku sayang, aku jadi merasa aneh dengan panggilan itu. "


" Loh, kenapa emangnya? Tapi kan kamu.... "


" Kamu apa? Kamu mau bilang kalau aku pacar kamu, gitu? "


" Iyakan, apa bedanya? "


" Beda donk, kita cuma deket, tapi tidak pacaran. "


" Ok.. ok! Aku terima hubungan tanpa status ini, tapi bolehkan kalau aku panggil kamu dengan sebutan sayang kalau lagi berdua begini? " Pinta Rendra penuh harap.


" Hmm....! " Dalia tampak berfikir.


" Bolehlah Dalia, bolehlah... bolehlah, boleh ya? " Rendra berusaha keras merayu Dalia sambil menaik-naikkan alisnya.


" Iya deh, boleh. "


" Yes! " Rendra tersenyum penuh kemenangan.


" Jadi, kamu mau bicara apa?" Tanya Rendra kini mulai serius.


" Maksud kedatanganku kemari ingin meminta tolong padamu. "


" Minta tolong apa, sayang? "


" Kalau buat kamu, aku bisa cancel semua pekerjaan ku! "


" Jangan begitu donk! Kamu harus profesional. "


" Lalu?"


" Jadi gini, rencananya besok aku ingin izin keluar sebentar untuk menghadiri acara di sekolah anakku. "


" Terus. " Rendra menyimak dengan antusias.


" Shenzi menginginkanmu ikut hadir dalam acara tersebut. Sebenarnya jauh-jauh hari Dia sudah bicarakan ini padaku, Dia ingin ayahnya hadir di acara tersebut, tapi aku tau itu tidak mungkin. Tapi, untungnya saat melihat fotomu tadi malam, Shenzi lalu ingin kamu yang datang menggantikan posisi ayahnya. "


" Aku sama sekali tidak merasa keberatan, Dalia. Aku akan datang besok, aku ingin lihat Shenzi tersenyum bahagia walaupun aku bukan ayah kandungnya. "


" Kamu yakin? Apa itu gak akan mengganggu pekerjaan kamu sama sekali? "


" Sama sekali tidak, Dalia. "


" Bagaimana kalau ada paparazzi meliput di sana, dan semua media memberitakan tentangmu? Seorang Birendra Federick salah satu orang tersohor di Negeri ini tampak bersama dengan seorang wanita dan anak kecil. Begitu kira-kira bunyi beritanya, terus kamu harus bagaimana? "


" Biarkan saja, kenapa pusing-pusing! Biarkan saja semua orang tau tentang kita, supaya tidak ada laki-laki lain yang berani mendekati Daliaku. " Ucap Rendra sambil menyentuh dagu runcing wanita pemilik nama Dalia itu.


Hening...


Keduanya mendadak membeku. Pandangan mata mereka saling beradu. Kali ini, lagi-lagi Rendra harus bergulat dengan hasratnya sendiri saat melihat bibir sexy yang begitu menggoda untuk Ia cium.


" Rendra! " Sahut Dalia sadar akan tatapan penuh hasrat milik Rendra itu.


Rendra langsung menurunkan tangannya dan dengan susah payah Ia menelan salivanya.


" Ada saatnya suatu saat nanti ketika aku sudah menjadi milikmu seutuhnya, maka setiap jengkal yang aku miliki, itu akan menjadi milikmu juga! " Lanjut Dalia lagi.


" owh! Dalia, aku sungguh tidak sabar menanti saat itu tiba, saat dirimu akan menjadi milikku seutuhnya. "


" Bersabarlah! "


" Aku s'lalu sabar menunggumu! "


Dalia tersenyum dan senyum itupun dibalas oleh Rendra.


" Jadi, besok kamu mau menghadiri acara di sekolah Shenzi? " Tanya Dalia lagi.


" Tentu saja aku mau! Kita akan pergi bersama-sama menggunakan mobilku, ok! "


" Ok, baiklah! Kalau gitu, aku permisi kembali ke ruanganku. "

__ADS_1


" Eh, tunggu dulu, kenapa terburu-buru sekali." Rendra menahan tangan Dalia yang hendak beranjak itu.


" Aku harus kembali bekerja. "


" Aku bosnya, jadi aku yang mengatur pekerjaanmu! "


" Mulai lagikan? "


" Temani aku sebentar, please! " Rendra berharap penuh.


" Ok, baiklah, sebentar saja yah? "


" Iya, tanganku terasa kebas, kamu bisa memijatkannya untukku? " Pinta Rendra sambil menyodorkan tangannya kepada Dalia.


Dasar tukang modus.


Gerutu Dalia dalam hatinya.


" Ya udah, sini aku pijitin. "


Dalia lalu memijit pelan tangan Rendra, sedangkan Rendra tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Dalia bertahan lebih lama di ruangannya.


" Kalau punya istri kan enak, ada yang mijitin kayak gini! " Goda Rendra lagi.


" Jadi, kamu jadiin istrimu sebagai tukang pijit? "


" Gak, bukan gitu, maksudku. "


" Aku mengerti! " Ucap Dalia tersenyum.


Hening.


" Dalia, apa boleh aku menci** pipimu? " Pinta Rendra yang sepertinya benar-benar tidak mampu melawan hasratnya.


Astaga! Sepertinya duda didepan ku saat ini benar-benar tidak mampu menahan diri! Gerutu Dalia dalam hatinya.


" Dalia, kenapa kau diam saja, apa kau marah akan permintaanku tadi? " Tanya Rendra lagi karena belum mendapatkan respon apa-apa.


" Huft! Baiklah, hanya pipi, ok! " Dalia akhirnya memberinya izin.


Rendra tampak begitu bahagia hingga mengembangkan senyumannya di depan Dalia.


Cup!


Cukup lama Rendra mendaratkan ci**annya tersebut di pipi putih Dalia. Hingga tanpa sadar pintu ruangannya kembali terbuka.


Ceklek!


" Permisi, tu.......! Ma.. maaf! " Ucap Rio terbata saat melihat pemandangan di depan matanya.


Sontak Rendra dan Dalia terkejut hingga Rendra segera mengakhiri kecupannya itu.


" Apa kau tidak tau cara mengetuk pintu! " Decak Rendra kesal.


" Ma.. maaf tuan, biasanya saya memang tidak mengetuk pintu, bukan? " Rio mencoba menjelaskan kebiasaannya.


" Cih! Kalau begitu, mulai hari ini kau harus mengetuk pintu terlebih dahulu! "


" Ba.. baiklah, tuan! "


" Tuan Rendra, saya permisi ke ruangan saya sekarang! " Dalia menutupi wajahnya yang memerah karena malu dihadapan Rio dan langsung keluar dari ruangan Rendra.


Apa yang sedang mereka lakukan? Apa mereka berani melakukan hal itu di kantor? Tidak mungkin, Dalia tidak sebodoh itu. Tapi, tadi Dia mau aja di cium tuan Rendra. Ah sudahlah, pusing aku mikirin mereka, mending aku mikirin hidupku..


Rio terbang dengan fikiran negatifnya tanpa sadar Rendra terus memperhatikannya.


" Kau fikir kami akan melakukan hal bodoh di tempat ini? Hah? " Celetuk Rendra seakan memahami isi kepala Rio.


" Ti.. tidak tuan! "


" Aku tidak sebreng*** itu untuk menodai cintaku padanya! " Rendra tampak serius saat mengatakan itu.


" Ma.. maafkan fikiran bodoh saya, tuan! "


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers...

__ADS_1


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘


__ADS_2