Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Takut Gelap


__ADS_3

Malam harinya.


" Aku tidak habis fikir, bagaimana bisa Abigail menggunakan bahan-bahan yang tidak berkualitas untuk proyek sebesar ini? "


Rendra mulai merasa kesal setelah mengetahui fakta di lapangan ketika Ia melakukan peninjauan proyek 2 bersama Rio dan Faizan. Ia mendapati beberapa bahan bangunan yang di pakai tidak sesuai dengan operasional kerja. Bahkan, terdapat pula bangunan yang roboh saat para pekerja sedang mengerjakannya, untung saja tidak terdapat korban jiwa dalam insiden tersebut.


" Sepertinya ada yang tidak beres, tuan. " Jawab Rio mulai curiga.


" Iya, sepertinya pak Abigail sengaja melakukan itu, padahal jelas-jelas Dia tau bahan-bahan itu jauh dari standard. " Faizan menimpali.


Rendra menyimak omongan Rio dan Faizan sambil berfikir keras.


" Kalau begitu, aku mau kalian bekerja sama untuk memecahkan masalah ini. " Ucap Rendra kemudian.


" Dan kamu Rio, perintahkan tim mata-mata kita untuk melacak kasus ini, segera! " Lanjut Rendra lagi.


" Siap, tuan! " Jawab mereka serempak.


" Ya sudah, malam ini kita kembali ke kamar kita masing-masing, kita bahas ini lagi besok. "


" Baik, tuan. "


Mereka bertiga kemudian kembali ke kamar mereka masing-masing. Di dalam kamar, Rendra tampak gelisah dan tak dapat memejamkan matanya karena terus kepikiran proyek besar itu.


Merasa belum mengantuk, Rendra kemudian mengambil ponselnya di atas nakas dan mulai menscrollnya. Namun, tetap saja tak membuatnya berhenti memikirkan masalah proyeknya. Hingga akhirnya jemari tangannya berhenti pada salah satu profil watshap ketika Ia mencoba menghubungi seseorang yang Ia sendiri tidak tau ingin menghubungi siapa pada malam selarut itu.


Rendra kemudian mengklik profil itu dan menatapnya lekat. Yah, foto profil itu adalah profil watshap milik Dalia. Di dalam foto profil tersebut, tampak Dalia mengenakan kemeja putih yang di padukan dengan bletzer hitam yang casual sambil tersenyum. Foto itu tampak di ambil saat dirinya berada di kantor.


" Kau memang cantik, Dalia. " Ucap Rendra yang memperhatikan foto Dalia tanpa berkedip.


" Tapi, huftt! " Rendra menghembuskan nafasnya dengan kasar.


" Tapi kenapa kau mau mengerjakan hal serendah itu? Apa yang sebenarnya kau cari? Uangkah? Atau kepuasan? " Ucapnya lagi.


" Jika kau melakukan itu demi uang ataupun kepuasan, kenapa kau terlihat sangat ketakutan saat aku ingin menciummu pada waktu itu? "


Rendra terus berbicara sendiri di kesunyian malam itu. Ia seakan ikut terbang bersama fikirannya yang di penuhi dengan tanda tanya tersebut.


" Aarrgghh! " Aku sungguh tak mengerti. "


Rendra langsung menghempas kasar ponselnya di atas kasur. Ia kemudian berjalan keluar dari kamarnya hendak mengambil air minum, karena tenggorokannya saat ini sedang membutuhkan air.


****


Di saat yang bersamaan, tampak Dalia juga terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk melihat ke arah jam dinding yang berada di dalam kamarnya tersebut.


" Baru jam 1 malam, aku pikir udah subuh. Huah! " Ucapnya sembari menguap karena masih mengantuk.


" Lily, bangun donk! Temenin aku sebentar, aku haus nih! " Dalia mencoba membangunkan temannya itu karena Dalia lumayan penakut kalau sedang berada di tempat yang belum pernah Ia tempati sebelumnya.


" Emb... huah! Nyam.. nyam..! " Ucap Lily yang hanya menggeliat-geliat saja tapi tidak terbangun.


" Huh, dasar tukang tidur! "


Akhirnya Dalia memutuskan keluar dari kamarnya sendirian saja. Ia terus melangkah pelan menuju ke arah dapur. Bulu kuduknya meremang saat melewati ruangan yang hanya di sinari cahaya remang-remang tersebut.


Tinggal beberapa langkah lagi sampai di dapur, tiba-tiba Dalia mendengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan. Lagi, rasa takutnya kembali mengerjap, langkahnya mendadak berhenti. Ingin rasanya Ia lari saat itu juga, namun kembali Ia urungkan saat mendengar suara pintu freezer yang terbuka.


" Apa itu pencuri? " Ucapnya pelan.


Dalia kemudian melihat sebuah tongkat bassball yang bersender di sudut ruangan. Ia pun lalu mengambil tongkat itu dan memasang kuda-kuda untuk menyerang orang tersebut jika membahayakan dirinya. Hanya tampak bayangan saja dari orang yang Ia sebut pencuri itu. Dalia kemudian mencari saklar lampu untuk menyalakan lampu di ruangan dapur.


Tek!


Seketika itu Rendra terkejut sesaat dirinya baru saja ingin mengambil sebotol air dingin dari dalam freezer.


" Siapa kau? " Sahut Dalia sambil mengambil ancang-ancang akan menyerang orang tersebut.


Hmm... aku seperti mengenal suara ini.


Gumam Rendra.


Sontak Rendra langsung menoleh ke arahnya dengan tersenyum menyeringai.


" Tu.. tuan Rendra! " Ucap Dalia terbata tanpa menurunkan tongkat bassball dari tangannya.


" Apa yang kau lakukan? Kau ingin membunuhku? " Tanya Rendra dengan mengernyitkan dahinya namun tak menyurutkan semyum menyeringai miliknya.


" Ti.. tidak! Mana mungkin aku mau membunuh seorang tuan Rendra. " Dalia kemudian menurunkan tongkat bassballnya dan menaruhnya di samping dinding.


" Lalu, untuk apa tongkat bassball itu? "


" Aku fikir ada pencuri yang masuk ke dapur. " Jawab Dalia polos.


" Jadi, kau fikir aku ini pencuri? " Decak Rendra kesal namun tampak Ia mengulum senyumnya melihat kepolosan Dalia.


Astaghfirullah, kenapa juga aku harus berhadapan dengan bos sensi ini?


Gerutu Dalia dalam hati.


" Tidak tuan, bukan itu maksudku! Karena tuan Rendra tak menyalakan lampu dapur itu sebabnya aku tak bisa mengenali tuan Rendra. "


" Terserah aku donk! Mau dinyalakan atau tidak, itu suka-suka aku donk! "


Astaga! Ingin rasanya Dalia membenturkan kepalanya di dinding saat itu juga.


" Maaf tuan! "


" Ah, itu cuma alasanmu saja kan? Bilang aja kau memang ingin menemuiku. Apa kau merindukanku malam ini, hmm..? " Rendra kembali tersenyum menyeringai.


Apa lagi ini? Yang benar saja, kenapa Dia selalu berfikir buruk tentangku?


" Tidak tuan! Saya ke dapur karena saya ingin mengambil segelas air putih, saya hanya haus, tuan! "


" Hmm... haus air putih apa haus belaian? Aku bisa memberikannya kalau kau mau?"


Tuan Rendra, kenapa kau selalu berubah, kadang baik kadang jahat kepadaku! Baru saja tadi pagi kau buat aku berfikir bahwa kau masih memiliki hati nurani, tapi malam ini kau malah membuatku kembali membencimu.

__ADS_1


Telinga Dalia memanas mendengar kata-kata Rendra barusan. Matanya memerah karena manahan amarahnya. Akhirnya Dalia memilih untuk kembali saja ke kamarnya dari pada harus meladeni bos gilanya itu. Ia tak menjawab dan memilih memutar tubuhnya memunggungi Rendra. Ketika Ia ingin melangkahkan kakinya, suara Rendra menghentikannya.


" Mau kemana? Aku sedang mengajakmu bicara, kau malah pergi. Sungguh tidak sopan! " Rendra mulai kesal karena diacuhkan.


Dalia lalu menoleh ke arahnya kembali namun tak menjawab sepatah katapun.


" Katanya kau ingin minum, ambillah! Aku akan pergi dan tak ingin meladenimu, kecuali kau memaksa! " Rendra tersenyum namun terlihat menggelikan bagi Dalia.


*S*iapa juga yang mau meladeni bos aneh sepertimu, yang ada aku bisa gila karena menahan emosi.


Belum jauh Rendra berjalan, Ia kembali memanggil Dalia.


" Dalia! " Seketika itu juga Dalia menoleh ke arahnya lagi.


" Jika kau butuh aku, pintu kamarku tidak terkunci untukmu. " Lanjut Rendra lagi dengan senyuman menyeringainya.


Dasar! Decak Dalia kesal.


Huh! Kenapa menggodanya begitu menyenangkan, padahal aku sama sekali tidak serius, tapi ekspresi marahnya itu sungguh lucu sekali. Ha.. ha. ha..


Gumam Rendra sambil tersenyum sendiri.


Belum jauh Rendra melangkah, tiba-tiba saja listrik padam dan menyebabkan lampu mendadak mati.


" Aaarrhhh!! " Teriak Dalia dari arah dapur.


" Dalia! " Sontak Rendra panik dan langsung berlari mencari arah suara Dalia di tengah kegelapan itu.


" Dalia, kau dimana? " Tanya Rendra lagi karena memang suana saat itu benar-benar gelap.


" Hiks.. hiks.. hiks..! " Hanya terdengar suara Dalia menangis.


Rendra terus meraba-raba, berharap dapat menemukan Dalia. Dan...


" Dalia ." Sahut Rendra ketika menemukan Dalia dalam keadaan duduk sambil menyembunyikan kepalanya di antara kedua lututnya karena ketakutan.


" Hiks.. hiks.. hiks..! " Hanya menangislah yang bisa Dalia lakukan saat ini.


Dalia memiliki trauma akan kegelapan dari sejak Ia masih kecil. Ia akan duduk dengan menyembunyikan kepalanya di antara kedua lututnya jika Ia sedang ketakutan.


" Dalia, ini aku Rendra, jangan takut! " Rendra mencoba membantu Dalia berdiri perlahan.


" Ayo ikut aku, kita melangkah pelan-pelan saja. " Rendra mencoba memapah Dalia membantunya melangkah pelan keluar dari dapur tersebut.


Tiba-tiba saja terdengar suara benda jatuh yang secara tidak sengaja di senggol oleh tubuh Rendra.


" Arrhh..! " Teriak Dalia dan langsung refleks memeluk tubuh Rendra dengan erat.


Deg!


Jantung Rendra mendadak berdetak tak karuan akan serangan tiba-tiba itu.


" Aku takut gelap, tuan! Aku juga takut hantu! Aku ini penakut, tuan Rendra! " Ucap Dalia dengan polosnya.


Ingin rasanya Rendra tertawa mendengar kepolosan Dalia barusan, namun Ia tahan.


Gumam Rendra sambil mengulum senyumnya.


" Sudah, jangan takut! Kamu duduklah dulu di sofa yang ada di ruang tengah, tunggu aku di sana, aku akan pergi memeriksa gardunya. "


" Tidak.. tidak! Jangan tinggalkan aku, tuan Rendra! "


" Kau takut aku akan meninggalkanmu? " Ulang Rendra tapi dengan maksud lain.


" Bukan begitu, aku takut saat ini tuan Rendra meninggalkan ku sendiri di tempat gelap ini, aku sungguh takut Tuan.. " Dalia memperjelas maksudnya sambil mempererat pelukannya.


Huh! Aku kira kau takut aku tinggalkan hidupmu.


Gerutu Rendra kecewa.


" Ya sudah, aku tidak akan kemana-mana! Kita pergi ke sofa yang tidak jauh dari dapur ini. Ayo, ikuti langkahku pelan-pelan! "


" Baiklah, tuan. "


Dengan langkah perlahan Rendra dan Dalia mencari letak sofa yang tidak jauh dari dapur tersebut.


" Awh! " Rendra merintih ketika kakinya tersandung meja.


" Tuan Rendra kenapa? " Tanya Dalia.


" Tidak apa-apa, hanya kesandung sedikit. "


" Nah, ini sofanya, duduklah di sini Dalia! " Lanjut Rendra lagi sambil membantu Dalia untuk duduk.


Rendra memilih sofa, karena memang tidak memiliki pilihan lain. Ia tidak mungkin membawa Dalia kembali ke kamar yang Ia sendiri tidak tau dimana letak kamarnya ataupun kamar Dalia tanpa penerangan sama sekali seperti ini. Bahkan, Ia juga tak bisa meninggalkan Dalia sendirian walau hanya untuk memeriksa gardu sebentar saja.


****


20 menit kemudian.


" Dalia...! Dalia...! " Sahut Rendra pada Dalia yang tampak masih memeluk erat tubuhnya.


" Apa Dia tertidur? Atau jangan-jangan......Dia mati karena ketakutan? "


Dengan cepat Rendra memeriksa denyut nadi Dalia dan juga memeriksa hembusan nafasnya.


" Hah... huft... hah.. huft..! " Terdengar deru nafas Dalia yang naik turun.


" Owh, syukurlah kau hanya tertidur, Dalia. Aku pikir kau sudah mati tadi. " Ucap Rendra merasa lega.


" Tidurlah Dalia, aku tidak akan pernah meninggalkanmu! " Lanjut Rendra lagi yang tanpa sadar Ia pun ikut tertidur sambil mendekap erat tubuh Dalia dengan tangan satunya dalam posisi duduk.


****


Pagi harinya.


Lily terbangun dan mulai mengerjapkan matanya perlahan berusaha menyesuaikan sinar cahaya matahari yang masuk melewati jendela kamarnya.

__ADS_1


" Nona Dalia? " Lily terkejut ketika menoleh dan tak menemukan Dalia berada di sampingnya.


" Nona Dalia, kau dimana? Apa kau sudah bangun? " Teriaknya lagi.


" Tidak biasanya! Biasanya nona Dalia akan membangunkanku kalau Dia bangun duluan. "


Lily kemudian berjalan keluar dari kamarnya dan mencari Dalia di kolam renang, namun tak juga menemukannya.


" Apa Dia di kamar tuan Rendra? " Ucapnya tiba-tiba ketika melewati kamar Rendra.


" Ah, mikir apa sih aku ini! Emangnya nona Dalia wanita apaan. " Lily merutuki fikiran negatifnya.


" Tapi, apa salahnya kalau di cek! "


Karena rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya, Ia pun kemudian mencoba membuka kamar Rendra yang tak terkunci itu.


Ceklek!


" Tidak ada siapapun? Hmm... apa nona Dalia berada di kamar pak Rio dan Faizan yah? Bisa aja mereka berdua menculik Dalia, bukan? Hmm.. Ini tak bisa dibiarkan! "


Lily lalu meninggalkan kamar Rendra dan berjalan menuju kamar Rio dan Faizan.


" Pak Rio! Faiz! Buka pintunya! " Teriak Lily sembari menggedor-gedor pintu kamar mereka.


Ceklek!


" Huah! Ada apa Lily, teriak-teriak sepagi ini? " Tanya Faiz sambil menguap karena masih mengantuk.


" Dimana nona Dalia? " Tanya Lily to the point dengan menajamkan matanya ke arah Faizan.


" Huah! Mana aku tau, sayangnya Dia tidak bersamaku semalaman. " Faizan tersenyum menyeringai.


" Iissh! Kau pasti menyembunyikannya di dalam kamarmu! " Lily kembali mempertajam matanya.


" Hmm... Bagaimana bisa aku menyembunyikannya di kamar yang ada aku dan pak Rio di dalamnya. Maksudmu kami Threesome gitu? " Faizan tersenyum lebar dengan kehaluan nakalnya.


" Dasar kamu ya! Cepat katakan dimana nona Dalia! " Lily kehabisan kesabaran, Ia memukul-mukul dada Faizan yang berada di depannya saat ini.


" Hey.. hey! Ada apa ini? " Tanya Rio tiba-tiba yang baru saja keluar dari kamar mandi.


" Pak Rio, masa' Dia menuduh kita menyembunyikan Dalia di dalam kamar kita. " Jawab Faizan.


" Yang benar saja Lily? Mana mungkin kami menyembunyikan Dalia, yang ada kita akan di bunuh tuan Rendra. " Ucap Rio kepada Lily.


" Tapi pak Rio, nona Dalia menghilang. " Jawab Lily dengan wajah cemasnya.


" Apa kau sudah mencarinya di kolam renang? "


" Sudah pak Rio, bahkan aku mencarinya di kamar tuan Rendra, tapi tuan Rendra pun tidak ada di sana. "


" Yang benar saja? " Rio terkejut.


" Iya pak! Saya tidak berbohong! "


" Ini gawat! Faiz, Lily, ayo kita berpencar mencari mereka di sekitar villa ini. "


" Baik, pak! "


Mereka bertiga kemudian berpencar mencari keberadaan Rendra maupun Dalia. Ketika Faizan mencari ke arah dapur, betapa terkejutnya Ia ketika mendapati Rendra dan Dalia yang sedang tertidur di ruang tengah sambil duduk di sebuah sofa panjang dan saling berpelukan.


" Oh.. come on! Kenapa aku harus melihat ini? " Faizan meringis.


" Guys! Kalian harus melihat ini! " Teriaknya lagi memanggil Rio dan Lily.


Dengan langkah cepat Rio dan Lily bergegas menemui Faizan yang kebetulan sedang berada di ruang tengah saat itu, dan.....


" O...owh..! " Ucap Lily dengan mulut menganga.


" Wow! " Sambung Rio.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


" O.. owh! Sudah hari senin Readers! Author kasih bonus sampai 2.100 kata loh, kalau di pecah dapat dua episode, tapi Author bikin satu episode aja biar puas. " Ucap Author.


" Lama banget baru update Thor? " Keluh Readers.


" Maaf yah, Author baru sempet Up sekarang! Seperti biasa, Author usahain untuk Up setiap senin - jum'at."


" Weekend kok gak Up Thor? "


" Hehe.. kalau weekend, Author sibuk nemenin suami, kasian tiap senin - jum'at, selalu Author cuekin buat nulis. hehe.. "


Terima kasih sudah mendukung dan menjadi pembaca setia karya Author ini.


Selalu dukung Author yah, dengan Like, vote, dan komen di setiap episodenya.

__ADS_1


Kiss jauh dari Author...😘😘😘


__ADS_2