
Ketika malam menjelang, tampak Dalia belum juga sadarkan diri. Sedangkan Rendra terlihat sangat kelelahan, sampai-sampai Ia pun ikut tertidur, dimana kepalanya bertumpu di kedua tangannya tepat di atas kasur Dalia.
Ceklek!
Terdengar suara pintu terbuka, sontak Rendra langsung terbangun dan menoleh ke arah pintu. Ia melihat Rio, Faizan, Lily, dan juga Molly datang menjenguk Dalia.
" Molly, apa yang kau lakukan disini? " Tanya Rendra karena merasa heran kenapa adiknya itu datang ke rumah sakit.
" Aku hanya ingin menjenguk temanku, apa itu tidak boleh? " Ucapnya cemberut.
" Oh iya, maaf kak Ren lupa kalau kalian berteman. "
" Ya sudah, duduklah disini! " Lanjut Rendra lagi sambil menyuruh Molly untuk duduk di dekat Dalia.
Rendra kemudian menghampiri yang lainnya dan menyuruh mereka duduk diruang tunggu yang juga terdapat di ruangan itu. Ruangan Dalia termasuk ruangan yang cukup besar, terdapat sofa, tempat tidur untuk yang menunggu pasien, serta fasilitas-fasilitas lainnya.
" Bagaimana keadaan nona Dalia, tuan? " Tanya Lily.
" Kata dokter, Dia akan segera sadar. "
" Oh... syukurlah! " Lily merasa lega.
" Tuan Rendra, saya sudah menyiapkan pakaian ganti dan semua yang tuan butuhkan untuk malam ini dan esok pagi. " Ucap Rio sambil meletakkan sebuah bag kecil di tepi dinding ruangan.
" Taruh saja di situ! "
" Kak Ren, kenapa Dalia bisa seperti ini? " Tanya Molly tiba-tiba kepada kakaknya itu.
Rendra tampak bingung harus menjelaskannya mulai dari mana.
" Aku dan Dalia sempat bertengkar setelah kami berhasil meloloskan diri dari jurang kematian. "
Semua yang ada disitu tampak antusias mendengar cerita Rendra.
" Yah, aku sempat membahas masa lalunya, yang berujung pada kata-kata kasarku yang bodoh! " Lanjut Rendra lagi.
" What? " Ucap Molly sambil menghampiri kakaknya dan duduk di dekatnya.
" Emangnya apa yang udah kak Ren katakan pada Dalia? " Lanjut Molly lagi.
" Aku... aku menghinanya dengan kata-kata pela*** dan murah**. " Jawab Rendra dengan wajah menyesal.
" Astaga kak Ren? Itu akan melukai hatinya? " Ucap Molly kecewa pada kakaknya itu, sedangkan yang lain hanya menyimak dengan wajah yang tidak percaya kalau bos mereka akan melakukan hal seperti itu.
" Iya, Dalia sedih dan tak terima dengan perkataanku, itu sebabnya Dia pergi meninggalkanku hingga akhirnya aku menemukannya tergeletak tidak berdaya di jalanan yang cukup curam. "
" Kakak keterlalulan! " Molly kesal.
" Iya, kakak memang keterlaluan! Sekarang kakak sudah tau semuanya, tapi kakak ragu apa Dalia akan memaafkan kakak? Kak Ren yakin itu akan sulit baginya. " Rendra tampak benar-benar menyesal.
" Tuan Rendra harus berusaha. " Ucap Lily menyela.
" Iya, Dia benar! Kakak harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan maaf dari Dalia. " Sambung Molly.
" Bagaimana caranya? Aku yakin ketika Dia sadar Dia akan sangat benci melihatku. "
" Tuan Rendra sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya. Aku yakin Dalia masih memiliki sedikit cela untuk memaafkan tuan Rendra. " Ucap Rio menimpali.
" Iya, benar! Walaupun aku jatuh hati pada nona Dalia, tapi aku melihat ketulusan di mata tuan Rendra, itu sebabnya aku akan mendukung tuan Rendra untuk memperjuangkan nona Dalia. " Sambung Faizan.
" Faizan benar, tuan Rendra harus memperjuangkannya, karena Dalia sudah mengajukan surat pemunduran dirinya kepada saya. " Ucap Rio lagi.
" Apa? Surat pengunduran diri? " Tanya Rendra terkejut.
" Iya tuan, sebelum peninjauan proyek ini, Dalia sudah mengajukan surat pengunduran diri kepada saya, namun masih saya tangguhkan hingga peninjauan proyek selesai. Dan sekarang peninjauan proyek sudah selesai, saya yakin Dalia akan menagih janji saya, dan saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali tuan Rendra bisa mengurungkan niatnya. "
" Aku tidak akan biarkan hal itu terjadi, aku tidak akan biarkan Dia pergi dari Federick Corporation. " Ucap Rendra tidak rela.
" Aku tidak akan biarkan Dia pergi dari hidupku. " Lanjutnya lagi.
" Maksud kak Ren? " Molly ingin memastikan apa yang Ia dengar barusan.
" Ah, sudahlah lupakan! Kak Ren hanya tak mau Dalia pergi dari perusahaan kita. "
" Owh.. "
Tuan Rendra, akui saja kalau kau sudah jatuh cinta pada Dalia dan tak ingin kehilangannya.
Gumam Rio dalam hatinya.
Hmm... aku tau Anda menyukai Dalia sama seperti aku menyukai Dalia, tuan. "
Gumam Faizan dalam hatinya juga.
Kalau suka yah, bilang suka tuan Rendra.
Lily juga bergumam dalam hatinya.
" Oh iya Rio, Apa kamu sudah menemui anak Dalia? Bagaimana keadaannya? " Tanya Rendra yang ingin mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Siang tadi, Rio sempat menemui Rendra di rumah sakit. Ia membawakan pakaian ganti juga membawakan makanan untuk bos kesayangannya itu. Disaat itulah, Rendra memerintahkan Rio untuk melihat keadaan anak Dalia, serta memberikannya penjagaan ketat untuk melindungi anak Dalia tersebut.
" Alhamdulillah, anak Dalia baik-baik saja, tuan! Dia sangat ingin bertemu dengan ibunya. "
" Kalau begitu, besok bawa Dia menemui ibunya! "
" Baik, tuan! "
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Sementara itu di tempat lain.
" Bodoh! " Sebuah tamparan keras melesat ke pipi anak buahnya, manakala Abigail terbakar emosi saat mendengar penjelasan dari anak buahnya tersebut.
" Maafkan saya, pak! "
" Saya perintahkan kamu untuk mencelakai Rendra bukan Dalia! " Bentak Abigail.
" Maaf pak, saya benar-benar tidak tau kalau wanita itu penting buat Anda. "
" Sangat penting! Jika sampai terjadi apa-apa padanya, kau dan anak istrimu akan menanggung akibatnya. Camkan itu!"
" Ah, sudahlah! Pergi sana! "
Abigail benar-benar marah tatkala semua yang Ia rencanakan gagal total. Apalagi Ia mendapat kabar bahwa Rendra masih hidup dan selamat dari insiden tersebut.
" Rendra tidak akan tinggal diam kalau Dia tau akulah pelakunya! " Ucapnya.
" Ini semua gara-gara anak buah bodoh itu! "
" Sialan! " Umpatnya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Ke esokan paginya.
Rendra sempat berpesan kepada Faizan untuk datang pagi-pagi sekali ke rumah sakit untuk menggantikan dirinya sebentar. Dan Faizan pun mengiyakannya.
Ceklek!
" Assalamu'alaikum, tuan Rendra! "
" Wa'alaikumsalam, masuk Faizan!"
" Kamu datang tepat waktu, aku titip Dalia kepadamu! "
__ADS_1
" Siap, tuan. " Jawab Faizan bersemangat.
" Oh iya Faiz, kata dokter Dia akan segera siuman pagi ini. Hasil tesnya menunjukkan peningkatan yang baik. Jadi, aku minta kita bekerja sama. "
" Bekerja sama? " Ulang Faizan tidak mengerti.
" Jika Dalia sudah sadar dan bertanya padamu, siapa yang sudah membawanya ke sini, bilang saja padanya kalau kamu yang melakukannya. Bilang kalau kamu juga yang sudah menjaganya selama di rumah sakit. "
" Tapi kenapa, tuan? " Faizan tampak heran karena tak mengerti kenapa Rendra menyuruhnya untuk mengakui hal itu.
" Aku yakin saat Dia sadar Dia tak ingin melihatku. Dia pasti sudah sangat membenciku. Itu sebabnya aku tak ingin membuatnya menjadi sedih jika harus mengingat kembali hal itu ketika melihat wajahku. " Ucap Rendra dengan wajah sendunya.
" Aku mohon Faiz, demi Dalia! " Lanjut Rendra lagi.
" Baiklah, tuan! "
Setelah mendapat persetujuan dari Faizan, Rendra langsung bergegas meninggalkan ruangan itu. Ia benar-benar terpaksa melakukan itu, walaupun sebenarnya Ia tidak rela.
Belum lama setelah Rendra pergi, tiba-tiba saja jari-jemari tangan Dalia bergerak.
" Dalia! " Sahut Faizan sambil mendekati Dalia.
" Shenzi! " Ucap Dalia memanggil anaknya.
" Shenzi sayang! " Lanjut Dalia lagi.
" Dalia, bangunlah! Ini aku, Faiz. " Faiz mencoba menyadarkan Dalia.
Dalia mulai membuka matanya secara perlahan, manik matanya mulai menyesuaikan cahaya lampu yang menerangi ruangannya tersebut. Setelah terbuka sempurna, Ia pun menoleh ke arah Faizan.
" Faiz. " Sahutnya.
" Syukurlah, kau sudah siuman, Dalia! " Ucap Faizan dengan sangat bahagia.
" Faiz, aku dimana? " Tanyanya sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya.
" Jangan banyak bergerak dulu, Dalia! " Faiz mencoba membantu Dalia untuk duduk.
" Aku dimana, Faiz? "
" Kamu di rumah sakit. "
" Siapa yang sudah membawaku ke sini? " Tanya Dalia dan pertanyaan itu cukup membuat Faiz serba salah harus menjawab apa.
" Ehh... itu... emm...? " Jawab Faizan bingung.
" Siapa yang sudah menyelamatkanku, Faiz? Apa itu kau? "
" Emb.. itu...? "
" Siapa Faiz? Kenapa kau menjawabku seperti itu? "
" Itu... Emb..! Yang sudah menyelamtakanmu dan membawamu kesini adalah.........?"
*
*
*
*
*
*
################################
Maaf yah gantung lagi!!
Supaya Readersnya makin penasaran!!
Kira-kira apakah yang akan di jawab oleh Faizan?
a. Aku
b. Tuan Rendra
c. Pak Rio
Ayo, main tebak-tebakkan yuk!!
Jawabannya nanti akan Author kasih di hari senin yah.. hehe.. 😁😁
See you monday!!
Jangan lupa untuk selalu dukung Author dengan cara like, vote, dan komen yah..
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘
__ADS_1