
Dalia... oh Dalia..! Aku akan mencari tau tentangmu Dalia ku..! " Ucap Faizan sambil tersenyum-senyum sendiri saat berjalan menuju meja kerjanya.
****
Sore harinya di saat jam pulang kerja.
Dalia tampak berjalan tergesa-gesa menghampiri Rio yang baru saja keluar dari ruangannnya.
" Pak Rio, tunggu sebentar! " Sahutnya.
" Ada apa Dalia? " Tanya Rio merasa heran.
" Aku ingin meminta maaf atas kejadian tadi siang. Sungguh aku tak berniat merendahkan pak Rio di depan para karyawan lain. Aku sungguh tidak enak hati, maafkan aku pak Rio! "
Mendengar itu, Rio menyambut Dalia dengan senyuman hangatnya.
" Tidak apa-apa Dalia, kau tidak perlu meminta maaf. Aku memang salah dan pantas untuk di tegur. Justru aku ingin berterima kasih padamu, karena sudah menjadi sekretaris yang baik untuk tuan Rendra. " Ucap Rio sambil tersenyum hangat.
" Aku sungguh tidak enak hati, pak Rio. "
" Jangan berfikir begitu, sebagai orang kepercayaan tuan Rendra, sudah semestinya kita saling mengingatkan. Apalagi menyangkut kebaikan tuan Rendra. Sudahlah Dalia, tidak apa-apa kok! " Rio memukul pelan bahu Dalia.
" Hmm.. terima kasih pak Rio! " Dalia tersenyum kepada Rio.
" Sama-sama, Dalia. " Rio pun membalas senyuman indah itu.
" Kalau begitu, saya permisi pulang duluan ya, pak Rio! " Ucap Dalia yang telah merasa lega atas rasa bersalah yang mengganjal hatinya.
" Iya Dalia, hati-hati di jalan! " Ucap Rio yang tampak sedikit memberi perhatian kepada sekretaris baru bos nya tersebut.
Rio kemudian berjalan menuju ruangan Rendra untuk menjemput Rendra. Yah, memang itu sudah menjadi rutinitas kerjanya setiap hari. Sedangakan Dalia, Ia langsung berjalan menuju lobby. Namun, langkahnya terhenti tatkala seseorang datang menghampirinya.
" Hay, nona Dalia? " Sapa Faizan.
" Eh, hay? " Sambut Dalia ramah.
" Kita belum berkenalan, bukan? "
" Tapi, sepertinya anda sudah tau nama saya?"
" Tapi mengenal nama saja tidak cukup tanpa berjabat tangan. " Faizan langsung menyodorkan tangannya untuk berkenalan dengan Dalia.
" Dalia. " Ucap Dalia sambil menyambut tangan Faizan.
" Faizan, anda bisa memanggil saya dengan nama Faiz. " Faizan memberikan senyuman termanisnya serta memasang wajah sok gantengnya.
" Baiklah Faiz, senang berkenalan dengan mu! Saya rasa kita akan menjadi partner kerja yang baik. " Ucap Dalia sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya dari tangan Faizan.
" Of Course! Saya jauh lebih senang karena mendapat partner kerja secantik kamu! "
" Terima kasih, anda terlalu memuji. "
" Tidak, ini bukan pujian tapi kenyataan. "
" Ok, baiklah, terima kasih Faiz! Saya rasa sudah waktunya saya pulang. Sampai ketemu besok, Faiz. Bye! " Ucap Dalia sambil berlalu meninggalkan Faiz yang masih tak berkedip menatapnya.
" Bye! " Ucapnya dengan melambaikan tangannya.
Dari dalam sebuah mobil mewah yang terparkir tidak jauh dari arah mereka, ternyata tampak seorang pria yang sedang memperhatikan Dalia dan Faizan sedari tadi. Pria itu tidak lain adalah Rendra.
" Rio, apa yang sedang mereka lakukan di sana? " Tanya Rendra pada Rio, dan Rio pun sepertinya sudah paham siapa yang di maksud oleh Rendra.
" Sepertinya mereka sedang berkenalan, tuan. "
" Berkenalan? Siapa yang menyuruhnya berkenalan dengan Faizan? Berani sekali Dia! Apa Dia tidak bisa membaca catatan kerjanya? " Rendra mulai merasa kesal.
Duh, tuan Rendra yang benar saja. Masa' Dalia tidak boleh berkenalan dengan yang lainnya? Lagi pula hal itukan tidak ada dalam catatan kerjanya.
Ucap Rio dalam hati yang tampak kebingungan akan jalan fikiran Rendra.
" Mulai besok, tambahkan dalam catatan kerjanya kalau Dia tidak boleh berkenalan dengan karyawan laki-laki tanpa seizinku! " Decak Rendra seakan tau apa yang difikirkan oleh Rio.
" Ba.. baik, tuan! " Hanya itu yang bisa Rio katakan untuk menyelamatkan dirinya.
Rio pun kemudian melajukan mobilnya meninggalkan gedung Federick Corporation. Begitu pula dengan Dalia dan Faizan yang juga sudah lebih dulu meninggalkan gedung tersebut dengan kendaraan mereka masing-masing.
*
*
*
*
__ADS_1
*
*
*
*
*
*
*
################################
Ke esokan harinya.
Seperti biasa, rutinitas di gedung Federick Corporation terlihat sibuk. Banyak karyawan-karyawan yang berlalu lalang memasuki ruang kerja mereka masing-masing. Tanpa terkecuali Dalia, Ia sudah berada di dalam ruang kerja Rendra untuk melakukan tugasnya.
" Selamat pagi, tuan Rendra! " Sapa Dalia ketika Rendra dan Asistennya memasuki ruangan.
" Pagi. " Kali ini Rendra sudah bisa membalas sapaan Dalia. Entah sejak kapan Ia bisa berubah seperti itu.
Sudah hafal dengan pekerjaannya, Dalia langsung menuju kamar istirahat Rendra dan memilih dasi yang cocok untuk Rendra kenakan.
Setelah mendapatkan apa yang kiranya cocok untuk Rendra kenakan, Dalia lalu kembali menemui Rendra dan memasangkan dasi tersebut untuknya.
Kegiatan itu hampir setiap hari Ia lakukan, sebenarnya Dalia sedikit risih setiap kali harus beradu pandang dengan Rendra saat memasangkan dasi. Tentu saja hal itu bukan tanpa alasan, terbilang sudah cukup lama Ia menjanda dan belum pernah membuka hatinya lagi hingga saat ini.
Namun, sebegitu seringnya Dalia bertatapan muka dengan Rendra, membuat hatinya sedikit bergejolak. Entah gejolak apakah itu, yang Ia sendiri tidak mengerti akan gejolak di dalam hatinya tersebut.
Pekerjaannya memasangkan dasipun selesai. Dalia berniat kembali ke ruangannya. Namun, langkahnya terhenti tatkala Rendra memanggilnya.
" Dalia! " Sahut Rendra dan seketika itu juga Dalia pun menoleh padanya.
" Iya, tuan! " Ucap Dalia.
" Mulai hari ini kau tidak boleh berkenalan dengan karyawan laki-laki tanpa aku yang memintamu untuk berkenalan dengan karyawan tersebut! " Ucap Rendra yang cukup membuat mata Dalia dan juga Rio membulat sempurna mendengarnya.
Dalia melirik ke arah Rio, seakan meminta jawaban akan aturan baru tersebut. Namun, Rio hanya bisa mengangkat bahunya pelan tanda Ia sendiri pun sama bingungnya akan jalan pikiran Rendra.
" Aturan baru ini akan di masukkan ke dalam catatan kerjamu! " Lanjut Rendra lagi.
Ingin sekali Rio mengeluarkan kata-kata itu untuk menyadarkan bosnya tersebut, namun kata-kata itu hanya mampu terucap dalam hatinya saja.
" Baiklah, tuan Rendra. " Jawab Dalia pasrah.
" Bagus, kalau begitu kamu boleh kembali ke ruanganmu. " Ucap Rendra dengan kata-kata yang lembut sambil sedikit senyum.
What! Sejak kapan tuan Rendra bisa selembut itu kalau berbicara?
Rio merasa heran.
" Saya permisi, tuan! " Dalia membungkukkan sedikit kepalanya sesaat sebelum keluar dari ruangan angker tersebut.
****
Kini Dalia sudah berada di ruang kerjanya. Ia masih terngiang-ngiang akan perkataan Rendra. Sama seperti Rio, Ia juga tidak habis pikir dengan jalan pikiran bosnya tersebut.
" Tuan Rendra kenapa ya? Masa' berkenalan saja tidak boleh? " Ucap Dalia sedikit kesal.
" Oh Tuhan, kuatkan hatiku untuk bisa tetap bertahan bekerja di sini! " Lanjut Dalia lagi.
Tok.. tok.. tok..!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya.
" Masuk! " Titah Dalia.
Ceklek!
Dalia melihat ke arah pintu dan tampaklah wajah Faizan dengan senyuman termanisnya.
" Selamat pagi, nona Dalia? " Sapanya.
" Pagi juga, Faiz. " Jawab Dalia yang juga tersenyum ke arahnya.
Faizan kemudian berjalan mendekati Dalia dan langsung duduk di kursi yang tepat berada di depan Dalia. Hanya meja sebagai pembatas antara mereka. Dalia tak menghiraukan Faizan yang terus menatapnya itu, Ia tetap fokus dengan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya.
" Hmm... ada perlu apa kemari? " Tanya Dalia karena mulai merasa risih di tatap terus oleh Faizan.
" Aku hanya ingin memandangmu! " Jawab Faizan sambil menumpu dagunya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
" Apa? " Mendengar hal itu, sontak Dalia pun menatap ke arahnya.
" Eh.. maksudku, aku hanya ingin menemanimu di sini. Yah, siapa tau ada yang bisa aku bantu! " Ucap Faizan masih dengan senyum termanisnya.
" Terima kasih, Faiz. Aku rasa saat ini aku masih bisa mengerjakan tugasku sendiri. " Jawab Dalia yang juga membalas senyuman Faiz.
Faizan lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Hingga matanya menangkap sebuah vigura kecil yang terpajang di atas meja Dalia.
Itu foto siapa? Apa anaknya yah? Jangan-jangan Dia sudah memiliki suami? Mati aku!
Faizan bertanya-tanya dalam hatinya.
" Emm...Dalia? "
" Iya. "
" Foto anak kecil itu siapa? " Tunjuk Faizan pada vigura kecil tersebut.
" Oh... ini foto anakku. " Ucap Dalia sambil mengambil vigura kecil tersebut.
" Namanya, Shenzi! Sekarang sudah berusia 5 tahun. " Lanjut Dalia lagi.
5 tahun? Emangnya Dia menikah umur berapa? Wajahnya masih tampak muda? Apakah Dia istri orang? Ah, pasti Dia sudah memiliki suami? Ku menangis... membayangkan...
Faizan merintih di dalam hatinya.
" Owh... cantik banget..! Secantik ibunya, hehe...! " Ucap Faizan sambil terkekeh berusaha menahan pedih di hatinya.
" Terima kasih, Faiz! Kamu terlalu memuji. " Dalia kembali menunjukkan senyum terindahnya kepada Faizan, hingga membuat hati lelaki itu semakin terpotek-potek.
Senyumanmu mengalihkan duniaku, Dalia! Ini sungguh menyiksa, Tuhan.
Faizan semakin menangis di dalam hatinya.
" Kalau begitu, aku permisi kembali ke meja kerjaku dulu ya, Dalia! See you! " Ucap Faizan yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Dalia.
" See you to, Faiz! "
" Ada-ada aja, itu bocah! Kenapa juga ekspresinya berubah seperti itu saat tau aku punya anak. Ha..ha.. ha.. ha..!" Ucap Dalia terkekeh mengingat wajah Faizan yang kaget saat mendengar penjelasan soal Shenzi.
****
Sementara itu, Faizan masih tampak termangu di meja kerjanya. Ia tidak habis fikir wanita yang Ia sukai sudah memiliki anak dan suami dalam benaknya.
Beruntung sekali pria itu!
Ucapnya dalam hati.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Maaf yah, Author baru update lagi..
Gimana, ada gak para Readers yang hatinya juga lagi terpotek-potek sama seperti Faizan?
Jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers yang baik hati..
Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘
__ADS_1