
Malam Harinya.
Malam yang dinanti pun tiba. Momen makan malam romantis sudah terbayang-bayang di kepala Rendra. Di sepanjang perjalanan dirinya terus tersenyum membayangkan wajah wanita yang amat Ia rindukan selama dua hari ini. Kali ini Ia tidak membawa Rio sebagai supirnya, Ia lebih memilih membawa Imran dan anak buah lainnya yang menggunakan mobil lain, sedangkan Rio diberi tugas untuk menyiapkan tempat makan malam romantisnya disebuah restoran mahal di Jakarta.
Tepat pukul 18.30 wib, mobil Rendra kini sudah tiba didepan rumah Dalia. Anak buahnya kemudian turun dan membukakan pintu mobil untuknya, barulah kemudian Ia keluar dari dalam mobilnya dan langsung menuju rumah Dalia.
Tok.. tok.. tok..!
" Assalamu'alaikum. "
Ceklek!
Tidak butuh waktu lama akhirnya pintupun terbuka.
" Wa'alaikumsalam. " Jawab Dalia.
" Tuan Rendra! " Dalia terkejut ketika melihat Rendra tiba lebih awal di rumahnya.
Rendra sengaja datang lebih awal dari waktu yang seharusnya agar bisa memiliki banyak waktu untuk berada di rumah Dalia.
" Tunggu sebentar, saya bersiap-siap dulu! " Lanjut Dalia lagi tanpa menyuruh Rendra masuk ke dalam rumahnya.
" Kau tidak menyuruhku masuk? " Tanya Rendra heran.
" Maaf, silahkan masuk ke gubuk saya kalau tuan Rendra berkenan! " Sebenarnya Dalia bukan lupa menyuruhnya untuk masuk, hanya saja Dia tak mau membuat Rendra merasa tidak nyaman berada di rumah yang Ia sebut gubuk itu.
" Gubuk? Ini tidak seperti gubuk, malah terlihat seperti rumah. Jangan terlalu merendah seperti itu, Dalia. Aku sama sekali tidak keberatan. " Jawab Rendra langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Dalia.
" Silahkan duduk, tuan! Anda mau minum apa? "
" Sudahlah, jangan repot-repot, Dalia. Aku hanya ingin menunggumu disini saja. "
" Ok, baiklah! "
Dalia kemudian berlalu dari hadapan Rendra dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Berbeda dengan Rendra, matanya mengedarkan pandangan di setiap sudut rumah itu, hingga terbesit di dalam hatinya.
Dalia, jika memang kau takdirku, aku akan memperbaiki kehidupanmu dan anakmu. Aku akan membahagiakan kalian, ini janjiku! Ku harap kau memang takdirku, Dalia.
Ditengah lamunannya, terdengar suara anak kecil yang memanggilnya. Yah, anak kecil itu adalah Shenzi.
" Om ganteng! " Teriak Shenzi yang baru saja keluar dari kamar ibunya.
" Shenzi. " Sambut Rendra bahagia.
Shenzi langsung berjalan cepat mendekat ke arah Rendra dan menyalaminya tanpa harus diperintah lagi.
" Anak pintar! " Puji Rendra.
" Iya donk! Kan anaknya ibu! " Rendra tersenyum mendengar ucapan gadis kecil itu.
" Om ganteng udah lama yah nungguin Shenzi? "
" Belum kok, baru aja dateng! "
" Oo... tapi sekarang pasti akan menjadi lama. " Rendra mengernyit heran akan perkataan gadis kecil itu.
" Kenapa? "
" Karena kita harus menunggu ibu berdandan. Kalau ibu lagi dandan itu pasti lama banget. "
" Padahal ibunya Shenzi udah cantik banget walau tanpa dandan. " Ucap Rendra memuji.
" Iyakan? Tapi ibu masih saja menggerutu kalau di depan cermin. "
" Menggerutu kenapa? "
" Iya, Ibu kadang mengeluhkan jerawatnyalah, atau keriputnya lah, kadang teriak sendiri karena terkejut saat melihat ada sesuatu yang mengganggu wajahnya. Dan kadang Ibu juga bicara kepada cermin, menanyakan cantik atau tidak, seperti penyihir di film snowwhite. " Ucapan gadis kecil itu sungguh polos dan berhasil membuat Rendra tertawa mendengarnya.
" Ha..ha.. ha.. ha..! Yang bener kamu? Ibu kamu begitu? "
" Bener Om, ibu takut kecantikannya luntur, persis seperti penyihir di film itu. "
" Ha.. ha.. ha.. ha..! " Lagi Rendra tertawa terpingkal-pingkal mendengar gadis kecil itu bicara.
" Shenzi, Om mau bilang sesuatu, tapi kamu janji jangan bilang ke ibu yah? " Lanjut Rendra lagi.
" Ok, apa itu Om? "
" Ibu kamu itu galak, dan kalau lagi marah persis seperti penyihir. Ha.. ha.. ha.. ha..! "
" Ha.. ha.. ha.. ha.. emang iya! " Jawab Shenzi membenarkan perkataan Rendra sambil tertawa.
Ditengah obrolan seru antara Shenzi dan Om gantengnya itu, Dalia pun kini sudah keluar dari kamarnya dan bersiap-siap untuk pergi makan malam bersama.
" Seru banget ngobrolnya? " Celetuk Dalia dan seketika itu juga membuat dua orang yang sedang membicarakannya itu mendadak diam seribu bahasa.
" Lagi ngobrolin apa, sampai ketawa-ketawa gitu? " Lanjut Dalia lagi.
" Lagi ngobrolin penyihir, bu. " Jawab Shenzi polos.
" Yah, penyihir, penyihir cantik. " Sambung Rendra.
" Tapi Om gak bilang gitu tadi?"
" Ssstttt! " Rendra mengkode Shenzi dengan tangannya.
" Ok.. ok.. Shenzi mengerti! "
" Hmm....ada yang tidak beres! " Ucap Dalia penuh selidik.
" Ya udah, karena semuanya sudah siap, ayo kita berangkat! Come on Shenzi! " Rendra dengan cepat mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Bahaya, kalau Dalia tau aku mengatainya penyihir, yang ada Dia tambah marah padaku!
Gumam Rendra dalam hati.
" Ayo Om..! Tangkap Shenzi! " Shenzi begitu bersemangat.
" Ooopss! " Rendra langsung menangkap Shenzi dalam gendongannya.
" Shenzi, jalan aja, jangan minta digendong gitu, kasian Om nya. " Dalia merasa tidak enak hati.
" Gak apa-apa Dalia. " Rendra menjawab rasa tidak enak hatinya Dalia.
Ketiga orang layaknya keluarga kecil itupun langsung melenggang masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh anak buah Rendra.
****
Di dalam Mobil.
" Dalia, kau cantik hari ini ." Puji Rendra ketika melihat penampilan berbeda dari Dalia.
Dalia mengenakan mini drees berwarna cream yang senada dengan dress yang dikenakan Shenzi. Bagi Rendra, ini kali pertamanya melihat Dalia mengenakan mini dress seperti itu. Karena biasanya Rendra selalu melihat Dalia dengan pakaian formalnya.
" Terima kasih, berarti biasanya saya tidak cantik yah tuan Rendra? Maaf kalau saya biasanya sudah membuat mata tuan sakit saat melihat saya. "
Astaga! Apa aku salah bicara tadi?
Gumam Rendra.
" Tidak.. tidak, bukan begitu maksudku Dalia. Di hari-hari biasanya kau juga terlihat cantik, tapi kali ini jauh lebih cantik. " Ucap Rendra menjelaskan dan mendapatkan balasan senyum malu-malu dari Dalia.
Ya ampun.. namanya juga perempuan yah guys! Kalau udah dipuji dikit aja, udah kesemsem malu-malu... 😂😂😂
Hening...
Hening lagi.
" Om ganteng mau bawa kita kemana sih? " Shenzi memecah keheningan yang sempat terjadi tadi.
" Kita akan makan malam di sebuah restaurant. "
" Wah! Makan enak donk? "
" Iya, anak manis, disana Shenzi boleh pesan makanan apa aja yang Shenzi suka. "
" Benarkah Om? "
" Iya, sayang. " Rendra mengelus rambut gadis kecil itu.
" Yeay! Sering-sering ya Om ajak kita makan malam! "
" Shenzi! " Tegur Dalia karena merasa Shenzi sudah berlebihan, dan seketika itu juga Shenzi diam.
" Shenzi, nanti lain kali Om ajak Shenzi dan ibu jalan-jalan ke taman hiburan, mau? " Tanya Rendra lagi kepada Shenzi.
" Mau Om, mau banget! " Jawab Shenzi bersemangat.
" Jangan terlalu memanjakannya, tuan! Dia anak saya, dan saya hanya bawahan Anda. " Celetuk Dalia dan lagi membuat Shenzi diam dengan wajah murungnya.
Kalau begitu, izinkan aku memilikimu, Dalia! Agar aku bisa punya hak untuk membahagiakan putrimu juga.
Rendra hanya bisa berucap dalam hatinya saja, karena tak ingin membantah omongan Dalia.
****
Tanpa terasa mobil mereka tiba di restaurant yang sudah menyediakan tempat khusus untuk menjamu mereka bertiga. Kedatangan mereka disambut bak Raja dan Ratu oleh pelayan resto tersebut. Mereka kemudian dibawa ke sebuah taman yang sudah disulap menjadi sangat indah dengan di temani lilin-lilin yang menambah keromantisan makan malam mereka di malam itu.
" Ini terlalu berlebihan, tuan! " Ucap Dalia.
" Tidak, ini masih kelas 3 bagiku! " Jawab Rendra santai.
Tak ingin berlama-lama, mereka bertiga kemudian duduk di tempat yang sudah disediakan. Tampak pula pelayan sibuk menyiapkan menu makanan diatas meja mereka.
" Wah! Makanannya banyak banget! " Ucap Shenzi dengan mata yang berbinar.
" Dia memang tidak pernah saya bawa ke tempat seperti ini. " Celetuk Dalia.
" Gak apa-apa Dalia, lain kali aku bisa membawa kalian ke tempat yang belum pernah kalian temui sebelumnya. "
" Jangan berlebihan tuan. "
" Itu tidak berlebihan bagiku! "
" Kapan makannya ? Shenzi udah lapar, bu! " Celetuk Shenzi.
" Maaf Shenzi! Ya udah, ayo dicicipi hidangannya! "
Ketiganyapun kemudian makan dengan lahap makanan yang tersedia di atas meja makan tersebut. Sesekali Dalia tampak menyuapi Shenzi agar memudahkan anaknya itu untuk memakan makanannya.
" Ibu, suapin Om ganteng juga yah! " Titah gadis kecil itu dengan wajah polosnya.
Dalia terdiam sesaat, sedangkan Rendra tanpak mengulum senyumnya ketika mendengar itu.
" Ide bagus, Shenzi! Ayo, ibu Dalia suapin aku juga! Aaaa....... " Rendra langsung membuka mulutnya.
" Nyam.....! Enak banget! Ternyata makan dengan disuapin ibu Dalia rasanya jauh lebih enak! " Lanjut Rendra lagi ketika satu sendok makanannya berhasil masuk ke tenggorokannya.
Dasar!
Kesal Dalia.
" Gantian, giliran Om ganteng yang suapin ibu juga! " Titah Shenzi lagi yang kali ini membuat Dalia membulatkan matanya ke arah Shenzi.
__ADS_1
" Ibu bisa makan sendiri! "
" Ibu....? " Paksa Shenzi.
" Ya udah, iya! Aaaaaa.....! " Dalia tak sanggup menolak permintaan anaknya itu, Ia pun mulai membuka mulutnya dan Rendra pun langsung menyuapinya.
" Nyam.. nyam..! " Ucap Dalia supaya anaknya puas.
" Yeay! Gitu donk! " Shenzi bersorak-sorai dan Rendra tersenyum bahagia karena menang banyak malam ini.
***
Setelah makan malam, mereka tidak langsung pulang. Mereka kembali disuguhkan makanan penutup. Disaat itulah, Rendra mulai melancarkan bujuk rayunya untuk merayu Dalia agar tetap bertahan di perusahaannya.
" Dalia. "
" Iya. "
" Aku ingin minta maaf soal kejadian waktu itu dan kejadian sebelum-sebelumnya saat diruanganku waktu itu. "
" Huft! Sudah berkali-kali saya bilang, sudahlah tuan Rendra! Jangan bahas ini lagi. Saya sudah memaafkan Anda. "
" Kalau begitu beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku! "
" Maksud, tuan? "
" Aku mohon, jangan resign dari Federick Corporation. "
" Maaf tuan, keputusanku sudah bulat. Masih banyak sekretaris di luar sana yang bisa diandalkan. "
Ini bukan masalah sekretaris, Dalia! Ini masalah hati.
" Terima kasih untuk semuanya, tuan Rendra! Termasuk untuk makan malam mewah ini! " Lanjut Dalia lagi.
" Aku berharap kau berubah fikiran, Dalia! Dan aku akan menunggu kabar lain selain kabar resigne mu besok. " Rendra tampak sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk Dalia.
Hening...
****
Keheningan kembali tercipta hingga akhirnya Dalia dan Shenzi kemudian diantar pulang oleh Rendra. Ketika Rendra hendak berpamitan pulang, suara shenzi menghentikan langkahnya.
" Om ganteng! " Teriaknya dan seketika itu juga Rendra pun menoleh.
" Iya, anak manis!"
" Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi yah? " Ucap Shenzi penuh harap.
" Shenzi! " Dalia sedikit meninggikan suaranya hingga membuat Shenzi seketika itu diam dan berwajah murung.
" Maafkan anak saya, tuan Rendra! Jangan dihiraukan. " Lanjut Dalia lagi yang merasa tidak enak hati pada Rendra akan permintaan anaknya itu.
" Tidak apa-apa Dalia, aku sama sekali tidak keberatan! " Jawab Rendra.
" Shenzi, Om janji nanti kita akan jalan-jalan lagi yah! " Lanjut Rendra lagi sambil tersenyum
Namun, wajah Shenzi tetap saja dingin dan murung. Ia tak merespon kata-kata Rendra dan memilih masuk ke dalam rumahnya dengan berlari.
" Shenzi! " Teriak Dalia memanggil anaknya itu.
" Dalia, jangan terlalu keras padanya! Aku sama sekali tidak merasa keberatan! Sekarang masuklah, bujuk Dia, dan jangan lupa kunci pintu rumahmu. Aku permisi dulu. "
" Baiklah, hati-hati tuan Rendra! "
Dalia langsung menutup pintu rumahnya dan menguncinya. Ia langsung menemui anaknya yang tampak tidak baik-baik saja itu.
" Shenzi sayang, maafin ibu yah, ibu gak bermaksud membentak Shenzi tadi. Ibu hanya gak enak hati sama Om gantengnya Shenzi tadi. " Dalia mencoba memberi pengertian kepada putri kecilnya itu.
" Ibu, Shenzi hanya merasa senang banget berada didekat Om ganteng. Shenzi merasa memiliki seorang ayah seperti temen-temen Shenzi yang lain, bu. Itu saja! " Ucap Shenzi sambil menitikkan air mata.
Deg!
Seketika itu juga ada sesuatu yang menghujam jantung Dalia. Kata-kata Shenzi benar-benar menusuk hingga ke relung hatinya yang paling dalam. Bahkan Ia tidak sanggup menjawab perkataan anaknya itu.
" Maafkan ibu, nak! " Hanya itu yang bisa Ia ucapkan sambil memeluk tubuh kecil Shenzi. Ia paham betul, anaknya saat ini benar-benar merindukan figur ayah dalam hidupnya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers..
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘
__ADS_1