Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Bunga Atau Perhiasan


__ADS_3

Malam harinya di kediaman keluarga Federick.


" Dalia, aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku? "


" Dalia, aku jatuh cinta padamu, aku ingin kau menjadi kekasihku. "


" Dalia? "


" Aarrgghh!! Aku sangat bodoh dalam urusan cinta. " Rendra meremas rambutnya.


Berkali-kali Rendra mengulang kata-katanya di depan cermin. Hingga akhirnya, Ia memilih menyerah dan merutuki kelemahannya dalam urusan menyatakan cinta.


" Aku harus bagaimana? "


" Bagaimana caranya " bilang cinta " kepada seorang wanita? "


" Aarrgghh! Aku sungguh bodoh! "


" Apa aku harus bertanya pada Molly? "


Rendra berfikir sejenak.


" Tidak... tidak boleh! Anak itu terlalu berbahaya, yang ada bukannya memberi solusi, malah membuat masalah nantinya. "


Rendra tampak berfikir lagi.


" Rio! Yah, Rio! " Ucapnya tiba-tiba.


" Sebaiknya besok aku minta pendapat darinya saja. Walaupun Dia jomblo, bukan tidak mungkin Dia sedikit tau cara menaklukkan hati wanita. "


Senyum Rendra mengembang, tatkala sudah menemukan seseorang yang bisa membantunya. Rendra sudah tak sanggup lagi menyembunyikan perasaannya terlalu lama terhadap Dalia. Ia seperti di kejar-kejar rasa cintanya sendiri. Rasa ingin memiliki, mencintai, dan menyayangi melebur menjadi satu. Layaknya orang-orang yang sedang jatuh cinta, mata Rendra tetap terjaga, wajah Dalia seakan menghiasi isi kepalanya, hingga membuatnya sulit untuk tidur.


****


Sementara itu di kediaman Dalia.


Seperti biasa, kebiasaan merawat kulit sebelum tidur seakan menjadi sesuatu yang wajib Dalia lakukan di setiap malamnya. Dalia menatap lekat wajahnya di depan cermin, hingga timbul rasa percaya diri dalam dirinya sendiri.


Kau masih cantik, Dalia. Kau masih pantas mendapatkan laki-laki yang tampan dan baik hati. Seperti........... tuan Rendra!


Hatinya membenarkan logikanya yang berbicara sendiri, hingga menciptakan lengkungan dari bibir sexynya karena tersenyum tersipu malu akan kehaluannya sendiri.


" Ibu! " Teriak Shenzi memanggil ibunya yang masih senyum-senyum tidak jelas di depan cermin.


Dalia tersadar dari lamunannya dan seketika itu juga menoleh.


" Iya, sayang? "


" Sini dong, bu! Shenzi ingin bercerita. " Panggil Shenzi dengan melambaikan tangannya.


" Iya, sebentar sayang. " Dalia lalu menghampiri anak semata wayangnya itu.


" Ada apa? Kok tiba-tiba anak ibu mau bercerita? Emangnya anak ibu mau cerita tentang apa? " Lanjut Dalia sambil mencium puncak kepala anaknya berkali-kali.


" Tentang ayah. " Perkataan Shenzi menembus ke relung hatinya yang paling dalam. Hingga Dalia diam dan tak bisa bergerak karena terkejut.


" Ibu kok diem? " Tanya Shenzi yang merasa sikap ibunya mendadak aneh.


" Eh, tadi bilang apa sayang? " Ulang Dalia yang berpura-pura tidak dengar.


" Shenzi ingin bercerita tentang ayah, bu. " Ulang Shenzi lagi.


" Emangnya kenapa? Kok anak ibu mendadak ingin bercerita tentang ayah? "


" Bulan depan akan ada acara di sekolah Shenzi, bu. Shenzi akan bernyanyi di atas panggung. Setiap orang tua di undang untuk hadir dalam acara itu." Jelas Shenzi.


" Terus? "


" Shenzi ingin ibu dan juga ayah hadir di acara itu, melihat Shenzi bernyanyi di atas panggung. Seperti temen-temen Shenzi yang lain, ayah dan ibu mereka akan ikut hadir di acara itu, bu. "


" Shenzi ingin punya ayah seperti temen-temen Shenzi yang lainnya. " Lanjut Shenzi lagi.


Kata-kata Shenzi seperti belati yang menusuk tepag di jantung Dalia. Detak jantungnya seakan ikut berhenti, mendengar permintaan anaknya yang tak mungkin bisa Ia kabulkan itu. Dalia diam membisu, sunyi dan sepi, sesunyi hatinya saat ini.


" Ibu? " Sahut Shenzi.


" Iya, sayang. "


" Ibu kenapa?"


" Sayang, dengerin ibu yah! Ibu janji, ibu bakalan hadir dan memberikan Shenzi semangat dari bawah panggung. Tapi ibu gak janji soal ayah. Maafkan ibu sayang." Dalia langsung memeluk anaknya itu erat dan mencium puncak kepalanya berkali-kali.


" Tapi bu, Shenzi rindu sosok ayah? " Mata Shenzi berkaca-kaca menatap ke arah ibunya.


Rasanya Dalia ingin mati saja saat itu karena tak sanggup menatap mata sendu anaknya itu, ingin rasanya Ia menumpahkan seluruh air matanya saat itu juga, namun Ia tahan, karena Ia tak ingin terlihat lemah di depan anaknya.


" Sayang, sudah malam yah, waktunya kamu tidur ! Besokkan anak ibu mau sekolah? " Ucap Dalia mengalihkan pembicaraan.


" Besok-besok kita lanjutkan lagi obrolan kita yah. Anak ibu yang cantik, mau kan? " Lanjut Dalia lagi sambil mengelus-elus kepala Shenzi.


" Baiklah, bu! " Jawab Shenzi yang akhirnya menuruti ibunya.


Syukurlah! Shenzi, ibu minta maaf sayang. Sampai saat ini ibu belum bisa membahagiakan kamu, nak.

__ADS_1


Gumam Dalia sambil mengecup dahi anaknya.


Hingga larut malam, mata Dalia masih terjaga. Ia masih kepikiran akan kata-kata dari anaknya yang begitu membuatnya terenyuh.


" Sosok ayah? " Ucapnya.


" Apa ada, lelaki yang tulus yang bukan hanya mencintaiku saja, tapi juga bisa menyayangi anakku seperti anaknya sendiri? "


" Aarrgghh! Sungguh sulit mencari lelaki yang seperti itu. "


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Ke esokan paginya.


Ketika Dalia keluar dari rumahnya, Ia terkejut ketika melihat beberapa orang laki-laki bertubuh besar sedang berdiri di depan rumahnya. Namun, Dalia dapat mengenali salah satu di antara mereka. Yah, Dia adalah Imran, anak buah Rendra yang bersama mereka kemarin siang.


" Selamat pagi, nona Dalia? " Sapa Imran.


" Pa.. pagi? " Jawab Dalia terbata.


" Kami di perintahkan tuan Rendra untuk menjemput nona Dalia. "


Hening.


Dalia diam membisu.


" Nona Dalia? " Sahut Imran lagi.


" Kami di perintahkan tuan Rendra untuk menjemput nona Dalia. " Ulang Imran dengan tempo yang lambat.


" Kenapa harus repot-repot? Ini sangat berlebihan bagi saya. "


" Tidak nona, ini sama sekali tidak berlebihan. "


" Tapi, saya tidak bisa menerima ini! Sampaikan terima kasih saya kepada tuan Rendra, saya minta maaf! Saya masih bisa memakai motor saya. "


" Maaf nona, ini perintah tuan Rendra! Baik nona, maupun saya tidak boleh menolak perintahnya. "


Yah, kau benar! Tuan Rendra memang si tukang paksa.


Gumam Dalia sedikit kesal.


" Nona Dalia, saya hanya menjalankan perintah! "


" Ok, baiklah! " Ucap Dalia menyetujui dengan senyum yang di paksakan.


Dalia kemudian masuk ke dalam mobil setelah Imran membukakan pintu mobil untuknya. Dalia dan Imran berada satu mobil, sedangkan anak buah Rendra yang lain mengawasi dari belakang dengan mobil lainnya.


****


Sementara itu di dalam sebuah mobil mewah, dimana Rendra dan Rio berada di dalamnya, melaju dengan kecepatan sedang membelah kota Jakarta.


" Rio! " Sahutnya.


" Iya, tuan. "


" Apa kau pernah jatuh cinta? " Pertanyaan Rendra cukup membuat Rio terkejut.


" Pe.. pernah, tuan." Jawabnya gelagapan.


" Lalu, apa kau pernah mengungkapkan perasaanmu kepada wanita yang kau cintai itu? " Lagi, pertanyaan Rendra membuat Rio patah arang.


" Belum, tuan."


" Apa? Belum pernah? Kenapa? " Pertanyaan Rendra yang bertubi-tubi membuat Rio semakin gila.


Karena wanita itu adik dari Birendra Federick.


Ucap Rio yang hanya keluar dari dalam hatinya saja.


" Kenapa kau diam? " Tanya Rendra merasa tak mendapat respon.

__ADS_1


" Saya belum siap, tuan. " Hanya itu yang bisa Ia ucapkan.


" Huh! Payah! Percuma saja aku minta pendapat darimu! "


" Maafkan saya, tuan! Tapi, siapa tau ada yang bisa saya bantu, tuan? "


Rendra berfikir sejenak.


" Hmm... menurutmu, wanita menyukai bunga atau perhiasan? " Tanya Rendra.


" Keduanya, tuan. "


" Hah! Rakus sekali kaum itu? " Decak Rendra.


Mendengar hal itu, Rio memperbaiki ucapannya barusan.


" Maksud saya, semua wanita menyukai bunga maupun perhiasan, bukan berarti mereka menginginkan keduanya di saat bersamaan. "


" Oh...begitu. " Jawab Rendra mulai mengerti.


" Emangnya tuan Rendra mau ngasih ke siapa? "


" Dalia. "


" Dalia? " Ulang Rio.


" Iya, Dalia! Menurutmu, Dalia menyukai bunga atau perhiasan? " Rendra memperjelas pertanyaannya.


Apa tuan Rendra ingin nembak Dalia yah?


Gumam Rio sambil tersenyum-senyum.


" Kenapa kau malah senyum-senyum sendiri, emanganya ada yang lucu? " Ketus Rendra.


" Maaf tuan. "


" Jawab donk, Dalia suka bunga atau perhiasan? "


Astaga! Mana aku tau, tuan! Tapi, menurutku Dalia termasuk wanita sederhana dan tidak matre.


" Menurut saya, Dalia akan menyukai bunga yang tuan Rendra berikan, karena Dia wanita sederhana. Tapi, tergantung momentnya juga, tuan. Kalau tuan ingin menyatakan cinta pada Dalia, saya rasa bunga saja sudah cukup. Tapi, jika tuan ingin melamarnya, maka berikan saja Ia perhiasan. Karena takutnya, jika tuan Rendra nembak Dalia dengan memberikannya perhiasan, malah membuatnya merasa tidak nyaman. "


" Hmm... ide kamu boleh juga! Kau cukup pintar dalam urusan cinta. Tapi, kenapa masih jomblo sampai saat ini? "


Itu karena aku menunggu adikmu, tuan.


" Entahlah, mungkin belum waktunya aku memiliki pacar. "


" Ah, sudahlah, aku tak ingin mendengar curhatmu. "


Siapa juga yang curhat? Bukankah tuan sendiri? Haddeeuuhh..


" Kalau begitu, kau bawa aku ke toko bunga sekarang juga! Aku akan membelikan Dalia sebuah bucket bunga mawar yang indah, kalau perlu dengan toko-tokonya sekalian. " Ucap Rendra tersenyum bahagia.


Keangkuhan yang hakiki!


Gumam Rio.


" Hey, kau dengar tidak? "


" Dengar, tuan! "


" Cepat, bawa aku ke toko bunga, aku sudah tidak sabar ingin melihat Dalia tersenyum malu-malu kepada ku. "


" Baik, tuan! "


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Terima kasih buat para Readers yang udah membaca karya Author sejauh ini.


Like, vote, dan komennya di kencengin yah, Readers!! Biar Authornya semangat!!

__ADS_1


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘


__ADS_2