Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Will You Marrie Me


__ADS_3

2 hari kemudian.


Langit jingga kini bergerak berganti hitam, menandakan hari sudah malam. Di sebuah ruang tamu tampak sesosok wanita yang sedang mendengus kesal. Sosok wanita itu adalah Dalia. Bagaimana tidak, Ia mencoba menghubungi Rendra hingga berkali-kali, namun tak kunjung mendapatkan jawaban dari pria yang sudah merebut hatinya itu.


Dalam dua hari belakangan, Rendra tampak berlaku cuek terhadap dirinya. Dalia curiga kalau Raymonlah penyebabnya. Tapi, ketika Ia kembali mengingat kata-kata Raymon pada malam itu, tentu terlalu berlebihan jika Dalia menuduhnya. Akhirnya Dalia hanya bisa merana, merasakan sedihnya diacuhkan.


*I will always love you.... kekasihku!


Dalam hidupku hanya dirimu satu...


I will always love you... cintaku!


Selamanya takkan pernah terganti..


Ku mau menjadi yang terakhir untukmu..


Ku mau menjadi mimpi indahmu...


Cintai aku dengan hatimu...


Seperti aku mencintaimu...


Sayangi aku dengan kasihmu...


Seperti aku menyayangimu...


I will be the last for you...


And you will be the last for me*...


Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang sedang menyanyikan sebuah lagu milik Ungu Band dari arah luar rumahnya. Sontak Dalia langsung beranjak dari tempat duduknya dan langsung membuka pintu.


Ceklek!


Ketika pintu terbuka betapa terkejutnya Ia saat melihat banyak sekali sekumpulan orang-orang yang sudah berjejer rapi kiri dan kanan sambil memegang lilin di tangannya. Sedangkan di barisan belakang tampak sekelompok musisi jalanan yang sedang memainkan gitar dan menyanyikan lagu tembang milik Ungu band tersebut. Di tengah-tengah barisan itu pula terdapat dua orang yang sedang memegang spanduk bertuliskan " Will you marrie me? " .


Dalia tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika melihat semua itu. Ketika musisi jalanan itu hampir menyelesaikan lirik terkahir dari lagu tersebut. Tiba-tiba saja dari arah belakang muncullah Rendra sedang membawa sebucket bunga di tangannya berjalan hingga berdiri tepat di depan spanduk yang di pegang oleh dua orang tadi.


Di belakang Rendra muncul pula Molly, Rio, Faizan, Lily, Raymon dan juga Shenzi yang juga berdiri berjajar di belakang spanduk. Rendra pun kemudian menyanyikan penggalan lirik terakhir dari lagu tersebut.


I wii be the last for you...


And you will be the last for me...


Dalia menutup mulutnya, Ia sudah tak mampu membendung air mata bahagianya lagi saat melihat semua kejutan tak terduga yang harus Ia terima di malam ini. Ia tidak tau harus menggambarkan ekspresi seperti apa lagi isi hatinya saat ini, yang jelas Ia amat bahagia.


" Dalia, maafkan aku dalam dua hari ini aku mengacuhkanmu. Dan semua itu ide bodoh dari Molly. Tapi, jujur akupun begitu tersiksa akan hal itu. Dasar Molly! " Ucap Rendra mulai membuka percakapan hingga membuat gelak tawa yang mendengarnya termasuk Dalia.


" Dalia, semua ini aku siapkan untukmu, yah walaupun tidak sepenuhnya ideku. Yah, seperti yang kau tau, aku cukup bodoh dalam menyiapkan moment romantis seperti ini. " Lanjut Rendra lagi yang begitu jujur, hingga lagi-lagi menimbulkan gelak tawa dari orang-orang di sekelilingnya. Tanpa terkecuali Dalia, Ia tersenyum mendengar kepolosan dari lelakinya itu.


" Dengan segala kekuranganku dan segala kesederhanaan moment ini. Aku hanya ingin mengatakan Will you marrie me , Dalia? " Ucap Rendra lagi dengan irama jantungnya yang seperti bermain drumb.


" Maukah kau menjadi istriku, Dalia? "


" Mau... mau... mau... mau... mau...! " Teriak orang-orang yang menyaksikan moment itu. Seketika tempat itu menjadi ramai karena para tetangga Dalia ikut berkumpul menyaksikan moment romantis yang jarang mereka lihat di tempat mereka.


Hening..


" Ya, aku mau! " Jawab Dalia mantap.


" Yes! " Teriak Rendra melompat kegirangan.


" Horee!! " Sorak sorai terdengar dari para warga yang menyaksikannya.


" Aku sangat bahagia! " Ucap Rendra sambil memeluk adiknya, Molly.


" Kak Ren, yang seharusnya kakak peluk itu Dalia, bukan aku! " Kesal Molly akan tingkah bodoh kakaknya itu.


" Oh iya, salah yah..! " Jawab Rendra terkekeh.


" Ha.. ha.. ha.. ha.. ha..! " Terdengar gelak tawa orang-orang yang berada di tempat itu karena melihat kekonyolan Rendra.


" Dasar! Makanya jangan kelamaan jomblo jadinya gitu kan? " Ucap Molly yang seketika itu membuat Rio merasa tersindir.


" Kau menyindirku, nona Molly? " Tanya Rio.


" Kenapa? Ngerasa ya? Ya udah! " Jawab Molly santai hingga Rio geram terhadapnya, namun harus Ia tahan karena sadar Molly itu adik dari bosnya.


" Sabar, Rio! " Ucapnya sendiri sambil mengelus dada.


Rendra kemudian berjalan mendekati Dalia. Ketika sudah berada tepat di depan Dalia. Ia kemudian menyerahkan sebucket bunga mawar merah itu kepada Dalia dan Dalia pun menerimanya dengan senang hati.


" Terima kasih Dalia! Terima kasih karena sudah mau menerima diriku ini apa adanya! " Ucap Rendra dengan tatapan mendamba.


" Sama-sama Ren! Terima kasih juga karena kau sudah dengan tulus mencintaiku juga anakku. " Jawab Dalia juga dengan tatapan penuh damba.

__ADS_1


" Apa aku boleh menciummu? " Pinta Rendra penuh harap.


" Jangan! Banyak anak kecil yang lihat! " Tolak Dalia halus.


" Kalau begitu, bagaimana kalau aku peluk? " Pinta Rendra lagi.


" Boleh! " Jawab Dalia mengangguk.


Tanpa menunggu lama, Rendra langsung memeluk Dalia erat di hadapan puluhan pasang mata yang melihatnya di malam itu.


" Aku mencintaimu, Dalia. " Ucap Rendra.


" Aku juga mencintaimu. " Balas Dalia.


Tepuk tangan gemuruh mengiringi pelukan hangat di antara keduanya. Tampak semua orang ikut merasakan bahagia yang dirasakan oleh Dalia. Tak terkecuali Bu Retno, tetangga yang selama ini selalu membantunya.


" Neng Dalia, semoga neng Dalia selalu hidup bahagia bersama tuan Rendra! " Ucap Bu Retno penuh haru.


Selamat Dalia! Kau menemukan pria yang tepat! Aku yakin, Rendra akan membahagiakanmu, tidak seperti aku!


Gumam Raymon dalam hatinya sebelum akhirnya Ia menghilang dari keramaian itu.


Sebelumnya Raymon sudah menitipkan Shenzi ke dalam gendongan Molly untuk melihat moment romantis ibu dan calon papanya. Sedangkan tas Shenzi, Ia titipkan kepada pak Imran selaku supir pribadi Rendra. Raymon pergi bukan untuk menghilang, hanya saja Ia pergi untuk menenangkan hatinya yang sedikit perih saat melihat wanita yang masih Ia cintai itu berada di pelukan orang lain. Namun baginya, Ia sudah melepas Dalia dengan ikhlas.


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Ke esokan paginya.


Rendra datang menjemput Dalia dan Shenzi untuk mengajaknya ke bandara menyambut kepulangan Mamanya dari Croatia.


" Jangan takut! Mamaku orangnya baik kok, cuma wajahnya aja yang galak. " Rendra mencoba menghilangkan kecemasan Dalia.


Ketika mobil mereka tiba di bandara, Rendra, Dalia, dan Shenzi kemudian turun dari mobil mereka dan mulai masuk ke area bandara. Mereka bertiga lalu menunggu kedatangan Mama Sarafina bersama para jemputan lainnya.


Tidak berapa lama kemudian, dari kejauhan tampaklah rombongan ibu-ibu sosialita yang sedang melenggang memasuki kawasan bandara setelah pesawat mereka mendarat.


" Sepertinya yang paling depan itu Mama kamu, deh! " Ucap Dalia ketika melihat seorang wanita paruh baya yang berjalan paling depan.


" Tebakanmu benar! Mamaku ketua kelompok sosialitanya. "


" Wow! "


Ketika Mama Sarafina berjalan mendekat ke arah Rendra, manik matanya langsung memperhatikan Dalia dari ujung kaki hingga ujung rambut.


" Dia calon menantu Mama? " Bisik Mama Sarafina di telinga Rendra.


Dalia tampak gugup sambil menelan salivanya berkali-kali. Ia cemas akan respon Mamanya Rendra akan dirinya yang Ia sadari jauh dari fashion sosialita.


" Iya Ma, namanya Dalia. Dan Dalia, ini Mamaku. " Rendra langsung mengenalkan mereka.


" Dalia, tante! " Sapa Dalia sambil meraih tangan Mama Sarafina dan mencium punggung tangan itu takjim.


" Hmm... jangan panggil saya tante! " Ucap Mama Sarafina sedikit keras hingga membuat Dalia dan Rendra terkesiap mendengarnya.


" Panggil saya, Mama! Kamu kan udah jadi calon istri dari Birendra Federick, sayang...! " Lanjut Mama Sarafina lagi dengan tersenyum.


" Huft! " Rendra dan Dalia menghembuskan nafas lega secara bersamaan, karena mereka fikir Mamanya akan marah.


" Iya, Ma! " Jawab Dalia malu-malu.


" Hey! Siapa anak kecil ini, kok gak dikenalin sama Mama? " Tanya Mama Sarafina lagi ketika melihat Shenzi.


" Namanya Shenzi, Ma! Dia anaknya Dalia. "


Jawab Rendra.


" Owh... cantiknya! " Mama Sarafina membungkuk dan membelai pipi chubby milik shenzi.


" Iya donk, tante! Kan nurunnya dari ibu! " Jawab Shenzi polos hingga membuat Dalia merona malu.

__ADS_1


" Owh, pinter banget sih! Tapi jangan panggil tante donk, panggil saya Oma, ok! "


" Siap, Oma! "


" Isshh.. anak pinter! " Lagi Mama Sarafina mencubit pelan pipi bulat Shenzi.


" Ya udah, ayo kita pulang! " Ajak Rendra ketika Mamanya sudah selesai berkenalan.


" Eh, tunggu sebentar Ren! " Ucap Mamanya lagi yang menghentikan langkah mereka.


" Apa lagi, Ma? "


" Mama mau kenalin calon menantu Mama pada temen-temen sosialita Mama! "


Sontak Rendra dan Dalia saling beradu pandang saat mendengar hal itu.


" Ren? " Sahut Dalia kembali cemas.


" Kamu tenang saja, ok! "


Mama ada-ada aja!


Gumam Rendra kesal.


" Hai.. hai.. hai... Jeng! Kenalin calon menantuku, namanya Dalia, cantikkan? " Ucap Mama Sarafina memperkenalkan Dalia pada teman-temannya.


" Duh! Anak jeng Fina jago banget sih cari yang cakep-cakep begini! " Sahut ibu satunya sedangkan Dalia hanya bisa memaksakan senyumnya.


" Iya donk! Anak saya gitu loh! " Mama Sarafina merasa bangga akan hasil pencapaian anaknya dalam mendapatkan wanita cantik.


Ampun dah, Mama!


Gumam Rendra.


" Kapan nikahnya jeng? " Tanya satunya lagi.


" Gak lama lagi, pkoknya tunggu aja undangannya, ok! "


" Siplah! "


" Mah! " Sahut Rendra karena tidak tahan.


" Ya udah deh! Saya pamit dulu yah, maklum putra saya kayaknya udah gak sabaran banget pengen cepet di nikahkan. " Ucap Mama Sarafina lagi menggoda Rendra hingga pipi Rendra mendadak menjadi merah karena malu.


" Cie.. cie... cie.. ! Ya iyalah jeng, kasian yang di dalam celana kalau dibiarkan lama-lama...! " Celetuk ibu satunya lagi hingga mengundang gelak tawa di antara mereka, kecuali Rendra dan Dalia yang mendadak wajah mereka menjadi seperti kepiting rebus.


" Mama! " Sapa Rendra lagi.


" Iya.. iya..! "


" Ya udah, saya pamit dulu yah, bye... jeng! "


" Bye...! " Balas lainnya.


Akhirnya Rendra berhasil melepaskan diri dari jeratan teman-teman sosialita Mamanya. Mereka berempatpun segera berjalan meninggalkan bandara dan masuk ke dalam mobil.


Aku gak nyangka kalau respon Mamanya Rendra akan seperti ini? Syukurlah!


Gumam Dalia merasa lega.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Huft! Akhirnya Author lega bisa sampai di episode ini!


Sekarang udah minim konflik, dan tinggal sweet-sweetnya aja..


See you monday yah!!

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan komennya mau yah Readers!!


Kiss jauh dari Author.... 😘😘😘


__ADS_2