
Ke esokan paginya.
Setelah melewati malam yang sangat melelahkan setelah mengejar-ngejar adik nakalnya. Kini Rendra sudah bersiap-siap untuk pergi meeting proyek besar yang sudah Ia siapkan jauh-jauh hari.
Wajah Rendra tampak sangat cerah pagi ini. Bagaimana tidak, setelah mendapatkan informasi tentang Dalia dari adiknya. Rendra semakin ingin mengenal sosok wanita pemilik nama Dalia itu. Ada suatu getaran aneh yang menggetarkan hatinya, hingga menimbulkan gairah cinta yang sempat mati di dalam relung hatinya. Kini, Rendra sudah kembali berani menatap masa depannya kembali dan berkata.....................................
" Aku jatuh cinta lagi! "
*
*
*
*
*
*
*
################################
Tepat pukul 08.00 wib.
Sebuah Aula khusus di dalam hotel berbintang 5 tempat di adakannya meeting besar, kini sudah di siapkan dengan sangat rapi dan indah. Jelas saja hal itu bukan tidak mungkin karena salah satu investor asing tersebut merupakan investor kuat di hotel berbintang 5 tersebut.
Dalia terlihat sedang sibuk menyiapkan segala kebutuhan yang akan Rendra butuhkan nanti. Ia juga sudah memilih meja yang akan mereka tempati. Di dalam Aula itu tersedia cukup banyak meja untuk di tempati oleh setiap perusahaan swasta yang ikut dalam meeting besar itu.
Tidak berselang lama, Rendra dan Asistennya tampak memasuki Aula. Ia dan Asistennya itu pun langsung menempati meja yang sudah Dalia pilih.
" Selamat pagi, tuan Rendra. " Sapa Dalia.
" Pagi juga, Dalia. " Kini Rendra menjawab sapaan Dalia sambil tersenyum, walaupun senyumannya masih terlihat kaku.
Letak meja mereka cukup strategis, sehingga memudahkan mereka untuk menarik perhatian para investor asing tersebut untuk melirik ke arah mereka nanti.
" Dalia, apa kau sudah menyiapkan semua berkas yang kita perlukan? " Tanya Rendra kepada Dalia yang kebetulan sedang duduk tepat di sampingnya.
" Sudah, tuan. "
" Bagus, kita harus memenangkan proyek ini! "
" Siap, tuan! Saya yakin tuan pasti bisa memenangkan proyek besar ini." Dalia menyemangati Rendra.
" Terima kasih, Dalia. "
Sejak kapan tuan Rendra bisa bilang terima kasih terhadap karyawannya?
Gumam Rio yang merasa heran melihat perubahan sikap Rendra.
Tidak berapa lama kemudian, terlihat seorang pria yang tidak asing di mata Dalia, memasuki Aula bersama seorang asisten dan seorang sekretaris wanita yang juga sudah menunggunya. Pria itu kemudian berjalan di depan meja di mana Dalia berada saat itu.
Pria itu kemudian menoleh ke arah Dalia, begitupun Dalia. Sontak keduanya terkejut dan tidak percaya akan apa yang mereka lihat saat ini. Pandangan merekapun bertemu.
Abigail?
Ucap Dalia dalam hatinya.
Dalia?
Abigail terus memperhatikan Dalia hingga tanpa sadar langkahnya pun ikut terhenti.
Merasa di perhatikan, dengan cepat Dalia mengakhiri pandangannya dan kembuang muka ke bawah. Melihat respon Dalia yang begitu dingin, Abigail melanjutkan langkahnya kembali menuju mejanya sambil sesekali melirik ke arah Dalia. Jarak meja mereka yang bersebelahan membuat Abigail dengan leluasa memandang wajah Dalia, hingga membuat wanita pemilik nama Dalia itu menjadi risih.
Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?
Gerutu Dalia dalam hati.
Diam-diam ternyata Rendra memperhatikan gerak-gerik mereka sedari tadi.
Ada apa dengan mereka? Kenapa juga harus tatap-tatapan mata seperti itu? Dulu, Dalia adalah sekretarisnya, apa mereka punya hubungan ? Tapi, Dalia kan sudah punya suami? Apa mereka selingkuh? Ah, mikir apa sih aku ini....! Gumamnya.
****
Tepat pukul 08.30 wib, para investor asing sudah berkumpul di dalam Aula tersebut. Mereka menyimak satu persatu proyek yang di tawarkan oleh para pengusaha swasta yang ikut serta dalam meeting hari itu. Hingga akhirnya para investor asing itu tertarik untuk menerima tawaran dari dua perusahaan sekaligus dengan menggabungkan proyek kerjasama antar dua perusahaan swasta tersebut.
__ADS_1
Adiyaksa Group dan Federick Corporation terpilih untuk mengerjakan proyek yang terbilang sangat besar itu. Abigail tersenyum penuh kemenangan tatkala perusahaannya terpilih menjadi yang no. 1 dalam mengatasi proyek ini. Sedangkan Rendra harus rela menjadi yang ke 2, namun baginya ini akan menjadi langkah pertamanya setelah menggantikan posisi ayahnya.
" Tuan Rendra, maaf. " Ucap Dalia yang merasa gagal karena perusahaan sebesar Federick Corporation hanya akan menjadi partner saja.
" Tidak apa-apa, Dalia! Kita sudah melakukan yang terbaik. " Jawab Rendra sambil tersenyum.
Sepertinya tuan Rendra benar-benar berubah.
Gumam Rio dalam hati melihat bos kesayangannya itu sungguh berbeda.
****
Pukul 13.00 wib, meeting pun selesai dengan di akhiri jamuan makan siang dari hotel tersebut. Semuanya keluar dengan tertib, namun sebelumnya Rendra dan Abigail melakukan swafoto bersama para investor asing tersebut.
Ketika keluar dari Aula dan hendak kembali beraktifitas di kantor, Dalia terlebih dahulu pamit kepada Rendra karena ingin ke toilet terlebih dahulu. Sedangkan Rendra bersama Rio melanjutkan langkah mereka menuju ke area parkir.
Ketika Dalia keluar dari toilet, tiba-tiba seorang pria menarik tangannya dan Ia di bawa ke salah satu sudut ruangan yang terdapat di lorong hotel tersebut.
Yah, pria itu adalah Abigail. Ternyata, Abigail membuntuti Dalia sesaat setelah Dalia berpamitan kepada Rendra. Jari telunjuknya Ia arahkan di bibir Dalia untuk menyuruh Dalia diam.
" Lepaskan aku! " Dalia mencoba berontak namun tenaganya kalah kuat.
" Sssstttt! Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar. " Abigail mengeratkan genggamannya.
" Sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi! Aku bukan lagi sekretarismu! "
" Aku bisa melakukan apa saja untuk merekrutmu kembali ke perusahaanku! "
" Maaf, pak Abigail yang terhormat! Walau aku harus di pecat sekalipun dari Federick Corporation, lebih baik aku bekerja di tempat lain dari pada harus kembali ke Adiyaksa Group! "
Mendengar hal itu, Abigail merasa sangat marah.
" Aku tidak perduli dengan yang kau katakan, Dalia ! Kau lupa siapa aku? Aku akan mencarimu walau ke ujung dunia sekalipun. Dan pertemuan kita kali ini, apa boleh aku sebut sebagai takdir? " Senyum Abigail menyeringai.
" Hentikan omong kosongmu itu! Lepaskan aku! " Dalia terus berontak.
" Aku tidak akan melepaskanmu! Tidak akan pernah terulang untuk kedua kalinya! Apa kau tidak tau, Dalia. Betapa aku sangat merindukanmu, dan itu sungguh menyiksaku selama bertahun-tahun! "
" Aku tidak mau tau! Tidak ada yang perlu kau rindukan dariku! Kita tidak memiliki hubungan apapun! Aku hanya sekretarismu! "
" Bagiku kau lebih dari itu, Dalia! Apa kau lupa kita pernah.......................? "
" Jangan menangis, Dalia! " Abigail merasa bersalah saat melihat Dalia menitikkan air mata, ingin rasanya Ia menghapus air mata itu.
" Stop! Jangan berani menyentuhku! " Dalia menolak kasar tangan Abigail yang ingin menyentuh pipinya.
" Dalia, aku melakukan itu karena aku sangat mencintaimu?" Ucap Abigail memelas.
" Cinta apa yang kau maksud? Kau mencintai wanita bersuami, apa itu waras? "
" Aku tidak perduli dengan semua itu! Aku ingin memilikimu, aku cemburu pada suamimu yang pengangguran itu. Dia tidak pantas mendapatkan cinta dari wanita cantik seperti dirimu, Dalia. "
" Lalu, apa kau merasa pantas? " Mata Dalia menatap tajam ke arah Abigail.
" Kenapa kau selalu mengacuhkan ku, Dalia? Dan sekarang, ketika kau sudah tidak menjadi istrinya lagi, masih saja mengacuhkan ku? Kenapa Dalia? Kenapa? Apa kurangku? "
" Kau ingin tau? Dengarkan baik-baik! " Ucap Dalia menegaskan bicaranya.
" Pertama, waktu itu aku masih milik Raymon Hadi. Kedua, aku tidak mencintaimu sama sekali. Ketiga, aku membencimu, sangat membencimu, karena kau telah menghancurkan kebahagiaanku juga anakku. " Ucap Dalia yang langsung berlalu dari hadapan Abigail yang masih berdiri mematung, sembari Dalia mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
Belum jauh berjalan, langkah Dalia terhenti tatkala tangannya lebih dulu di raih Abigail.
" Aku tidak akan melepasmu! Tidak akan! " Ucap Abigail.
" Lepaskan aku, Abigail! Lepaskan aku! " Dalia mencoba berontak kembali.
" Dalia! " Tiba-tiba suara Rendra mengejutkan mereka berdua.
Dengan sigap, Abigail langsung melepaskan genggamannya. Begitupun Dalia, Ia langsung bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Apa yang di lakukan Abigail di sini? Dan kenapa sikap mereka tampak aneh?
Gumam Rendra dalam hati.
" I.. iya, tuan Rendra! " Dalia menjawab sahutan Rendra.
Hening. Terjadi keheningan cukup lama, karena Rendra merasa curiga akan apa yang Ia lihat tadi.
__ADS_1
" Hai, tuan Rendra! Kebetulan sekali kita bertemu di sini! Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan sekretarismu, kita mengobrol sebentar, anda sangat beruntung memiliki sekretaris briliant seperti Dalia! " Ucap Abigail menghampiri Rendra dengan sandiwaranya.
" Hmm.... iya, Dalia memang sekretaris yang briliant ! Dan aku sangat bersyukur Dalia bekerja bersamaku! " Balas Rendra seakan menyindir Abigail.
Sial! Apa maksudnya Dia berkata seperti itu? Apa Dia sengaja memancingku?
Umpat Abigail dalam hati.
" Tentu saja! Anda sungguh beruntung, tuan Rendra! " Abigail menepuk pundak Rendra pelan.
" Kalau begitu, saya permisi dulu! Senang bekerja sama denganmu dan juga............ Sekaretaris Dalia. " Lanjut Abigail lagi dengan menekan sedikit intonasi bicaranya saat menyebut nama Dalia.
Abigail pun pergi meninggalkan Rendra dan Dalia yang masih berdiri mematung.
Hening.
" Ada apa tuan mencari saya? " Dalia mencoba bertanya memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.
" Emm... itu.... aku....! Emm.... sebenarnya aku ingin mengajakmu kembali ke kantor bersama-sama? "
" Oh..........! " Dalia mencoba mencerna kata-kata Rendra barusan.
" Dalia? "
" Ok, baiklah tuan Rendra, terima kasih telah menunggu saya, kalau begitu ayo! Saya akan mengambil motor saya dulu di parkiran."
" Eh... tidak perlu Dalia. Maksudku, kamu naik mobil ku saja! "
Dalia menatap bingung ke arah Rendra.
" Lalu, motor saya bagaimana, tuan? "
" Itu gampang! Serahkan kunci motormu kepada Rio, biar Dia yang akan membawanya ke kantor. "
Dalia masih gagal paham untuk mengartikan kata-kata Rendra. Hingga hanya menghadirkan keheningan kembali di antara mereka.
" Dalia? "
" I.. iya, tuan? "
" Bagaimana? "
" Ok, baiklah tuan! "
Persetujuan Dalia cukup membuat bibir Rendra melengkung sempurna. Merekapun lalu meninggalkan hotel tersebut dengan Dalia yang kini duduk di samping kemudi mobil, dimana Rendra sebagai tukang kemudinya. Sedangkan Rio harus rela panas-panasan meninggalkan hotel tersebut dengan mengendarai motor matic milik Dalia.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Pasti Readers penasaran dengan kisah masa lalu Dalia yah??
Sabar yah.... 😁😁😁
Jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers!!
__ADS_1
Kiss jauh dari Author.... 😘😘😘