
Setelah Dalia keluar dari ruangan Direktur Utama tersebut. Rendra lalu membetulkan posisi duduknya sambil mengatur nafasnya yang tersengal. Sesekali Ia menyentuh dadanya yang Ia rasa mengalami sedikit masalah pada jantungnya.
" Gimana tuan, apa sudah agak enakan punggungnya? " Tanya Rio setelah melihat bosnya itu baik-baik saja.
" Sudah. "
" Kalau begitu, saya permisi kembali ke ruangan saya, tuan Rendra. " Ucap Rio lagi sambil membungkukkan sedikit kepalanya.
" Tunggu dulu, segera kau panggilkan aku dokter Evan sekarang juga! " Rendra terlihat terus memegang dada kirinya.
" Apa yang terjadi, tuan? Apa jantung tuan Rendra sedang sakit? " Jawab Rio yang mulai panik melihat bos kesayangannya tersebut.
" Iya, aku rasa jantungku sedikit bermasalah. Jangan banyak tanya lagi, kau panggilkan saja dokter Evan saat ini juga! "
" Ba.. baik tuan, saya akan segera memanggil dokter Evan. "
Dengan sigap, Rio kemudian mengambil ponselnya dan langsung menghubungi dr. Evan. Cara bicara Rio yang begitu panik membuat dr. Evan tak kalah paniknya di luar sana. Hingga tidak membutuhkan waktu lama, dr. Evan kini sudah berada di luar gedung dan segera masuk ke ruangan bos tertinggi Federick Corporation tersebut.
Dr. Evan merupakan anak dari dr. Bimo yang tak lain adalah dokter keluarga Federick. Setelah dr. Bimo pensiun, dr. Evan lah yang kini menggantikan ayahnya tersebut sebagai dokter keluarga Federick.
Tok... tok...tok...!
" Masuk! " Titah Rio.
Ceklek!
Pintupun terbuka dan memperlihatkan wajah panik dr. Evan yang juga di sambut dengan wajah yang tak kalah paniknya dari Rio.
" Syukurlah kau cepat datang. Segera kau periksa tuan Rendra sekarang! " Ucap Rio ketika menyambutnya.
Rio dan dr. Evan terbilang cukup akrab, karena usia mereka yang sepantaran. Terlebih lagi dr. Evan sering sekali mengatasi Rendra kalau sedang sakit, hingga menambah keakraban mereka berdua.
Tanpa menjawab perkataan Rio, dr. Evan langsung bergegas memeriksa keadaan Rendra yang saat ini sedang terbaring di atas kasur di kamar istirahatnya.
" Tuan, saat ini apa yang sedang tuan Rendra rasakan? " Tanya dr. Evan pada Rendra.
" Jantungku dok, jantungku berdetak dengan sangat cepat, sampai-sampai aku tak mampu mengendalikan nafasku." Jawab Rendra yang masih memegang dadanya.
Mendengar perkataan Rendra, dr. Evan pun segera mengambil alatnya untuk memeriksa tensi darah dan juga melakukan rekam jantung. Namun, melihat dari hasilnya, jantung Rendra masih terlihat normal. Hal itu membuat dr. Evan bingung.
Jantung tuan Rendra baik-baik saja. Tensi darahnya juga normal. Lalu apa yang membuatnya seperti ini ya?
" Bagaimana dr. Evan, bagaimana dengan jantungku? Apa yang sudah terjadi dengan jantungku?" Tanya Rendra yang masih panik.
" Hmm... sebelumnya, apa yang sempat tuan Rendra lakukan? Apakah tuan Rendra baru saja selesai berolahraga, pak Rio? " Tanya dr. Evan kepada Rio untuk menemukan penyebab sakitnya Rendra.
" Tidak, tuan Rendra malah tidak sempat berolahraga pagi ini. " Jawab Rio.
Mendengar perkataan dr. Evan yang sedikit meragukan kata-katanya, Rendra kemudian duduk di atas tempat tidurnya dan langsung menghadap ke arah dr. Evan.
" Kemarikan tanganmu, dr. Evan. Coba kau rasakan, bukankah detaknya sangat cepat? Apa kau tidak percaya padaku? " Ucap Rendra sambil meraih tangan dr. Evan dan mendekapkan ke dada kirinya.
Iya sih, jantungmu memang berdetak lebih cepat, tapi aku tidak mengerti apa yang membuatmu seperti ini? Hasil pemeriksaan semuanya menunjukkan kau baik-baik saja, tuan Rendra. Oh Tuhan, bagaimana caranya aku menjelaskan hal ini pada tuan muda menyeramkan ini.
Ucap dr. Evan dalam hati.
__ADS_1
" Oh iya pak Rio, bagini saja! Aku minta segelas air putih hangat. " Dr. Evan melakukan plan B alias ide terakhirnya.
" Baik dok, saya akan menyuruh sekretaris baru tuan Rendra untuk segera menyiapkannya. "
" Tidak! Jangan suruh Dia! Dia yang sudah membuatku menjadi seperti ini. " Ucap Rendra tiba-tiba, hingga membuat Rio dan dr. Evan terkesiap mendengarnya.
" Kalau begitu, biar saya saja yang akan mengambilkannya. " Ucap Rio sebelum meninggalkan ruangan itu dengan pikiran yang di penuhi tanda tanya.
Kenapa tuan Rendra malah menuduh Dalia penyebab jantungnya bermasalah? Apa salah Dalia? Ah, aku sungguh tak mengerti.
Gumam Rio dalam hati.
Sementara itu, sambil menunggu Rio kembali, dr. Evan mengumpulkan segenap keberaniannya untuk bertanya kepada Rendra.
" Kalau saya boleh tau, apa yang sudah di lakukan sekretaris baru tuan Rendra tersebut, hingga tuan menjadi seperti ini? " Tanya dr. Evan hati-hati.
" Entahlah, Dia seperti penyihir. Dia menyihirku dengan matanya saat aku melihat matanya, tiba-tiba saja jantungku berdebar tak karuan. Dia sungguh wanita yang berbahaya, manurutku. "
Dr. Evan terperangah mendengar perkataan Rendra. Ia gagal paham akan perkataan Rendra tersebut. Namun, Ia dapat menyimpulkan sesuatu yang sangat menggelikan di dalam hatinya.
Tuan Rendra, sepertinya saat ini yang anda butuhkan bukan saya, tapi dokter cinta.
Ucap dr. Evan dalam hati sambil mengulum senyumnya.
Tidak lama kemudian, Rio pun datang dengan membawa segelas air hangat di tangannya. Dr. Evan lalu memerintahkan Rio untuk memberikannya pada Rendra, dan langsung di minum oleh Rendra. Kemudian dr. Evan membantu Rendra untuk mengatur nafasnya.
" Untuk saat ini, sebaiknya tuan Rendra berisitirahat saja dulu sampai jantung tuan Rendra stabil kembali. " Ucap dr. Evan, karena memang hanya itulah yang bisa Ia lakukan untuk menyelamatkan diri dari manusia egois tersebut.
" Baiklah! " Jawab Rendra singkat.
" Terima kasih dr. Evan. " Ucap Rio sambil mengantar dr. Evan hingga di depan pintu ruang kerja Rendra.
" Oh iya Rio, emangnya seperti apa sih sekretaris baru tuan Rendra? " Tanya dr. Evan karena tidak bisa menahan rasa penasarannya.
" Permisi pak Rio! " Belum sempat Rio menjawab pertanyaan dari dr. Evan, Dalia sudah berada di hadapan mereka.
" Hmm... seperti Dia! " Jawab Rio sambil melihat ke arah Dalia dan mata dr. Evan pun membulat sempurna melihat kecantikan Dalia.
" Ada apa Dalia? " Tanya Rio kepada Dalia.
" Saya cuma ingin bertanya, bagaimana keadaan tuan Rendra? Apakah tuan Rendra baik-baik saja? " Jawab Dalia cemas dan merasa bersalah karena Dia berfikir bahwa wajahnya telah membuat Rendra ketakutan melihatnya.
" Tuan Rendra baik-baik saja, tuan Rendra hanya butuh istirahat sebentar. " Ucap Rio mencoba menenangkan Dalia.
" Saya hanya khawatir karena melihat wajah saya yang dapat merusak mata tuan Rendra hingga membuatnya ketakutan seperti tadi. "
Kata-kata konyol itu berhasil lolos dari bibir Dalia, hingga membuat dr. Evan ingin tertawa.
Apa-apaan ini! Masa' tuan Rendra takut melihat wanita secantik ini? Gumam dr. Evan.
" Ha.. ha.. ha..! Tidak ada yang salah dari dirimu Dalia, kau tidak sampai merusak mata tuan Rendra kok. " Ucap Rio tertawa kecil.
" Benarkah itu? "
" Benar nona Dalia, tidak ada yang membuat mata seseorang rusak hanya karena melihat kecantikan anda. " Kali ini dr.Evan yang menjawab kecemasan Dalia.
__ADS_1
" Syukurlah, kalau tuan Rendra baik-baik saja. Kalau begitu, saya permisi kembali ke ruangan saya lagi. Jika tuan Rendra butuh sesuatu, pak Rio bisa memanggil saya. " Ucap Dalia kepada Rio.
" Baiklah Dalia, kau boleh kembali ke ruanganmu. "
Dalia pun kemudian berlalu dari hadapan mereka berdua. Kepergian Dalia masih menyisakan sesuatu yang menggelitik di hati dr. Evan.
" Dia lucu sekali, kenapa Dia bisa berfikir seperti itu? " Ucap dr. Evan sambil terkekeh.
" Yah, itu karena tuan Rendra yang meminta syarat yang macam-macam untuk wanita yang menjadi sekretarisnya. "
" Ha.. ha.. ha... ha..! Ada-ada saja bos kesayanganmu itu. Aku rasa bos beku mu itu lama-lama akan mencair kalau sering bersamanya. "
" Maksudmu? " Rio tampak tidak mengerti.
" Ah sudahlah, kau pun lama-lama sama anehnya dengan tuan Rendra. "
" Kalau bagitu, aku permisi dulu. Kali ini tugasmu akan sedikit berat karena tuan Rendra tidak bisa membedakan mana yang namanya sakit dan mana yang namanya jatuh cinta. Ha.. ha.. ha..! " Lanjut dr. Evan lagi sambil tertawa.
Dr. Evan pun kemudian berjalan Meninggalkan Rio yang masih bingung karena tidak berhasil mencerna dengan baik perkataan darinya.
Maksudnya?
Gumam Rio dalam hati.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Ternyata bos sama asistennya sama saja yah? Sama-sama gak bisa membedakan antara sakit dan jatuh cinta...Haddeeuuuhhh!
Efek kelamaan jomblo yah begitu??
Hahaha... 😆😆😆
Jangan lupa like, vote dan komennya yah Readers....
Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘
__ADS_1