Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Jatuh Cinta


__ADS_3

Di lobby gedung Federick Corporation.


Sementara itu, Faizan tampak celingukan kesana kemari mencari-cari kemunculan Dalia. Namun, wanita yang di tunggu-tunggu tak kunjung muncul juga. Faizan mengira Dalia sudah kembali ke kantor karena melihat Rio yang juga sudah berada di kantor dari siang tadi. Juga motor matic miliki Dalia sudah tampak terparkir rapi di tempat parkir. Tidak berapa lama kemudian, Rio tampak keluar dari gedung dan berdiri di depan lobby. Melihat itu, Faizan pun berinisiatif menghampirinya.


" Pak Rio! " Sahutnya.


" Faizan?"


" Hmm... apa pak Rio melihat Dalia? " Tanya Faizan.


" Dalia? " Rio mengernyitkan keningnya.


" Iya, Dalia. "


" Hmm... Dia sedang bersama tuan Rendra dan belum juga kembali. " Ucap Rio santai.


" Bersama tuan Rendra? Belum kembali? Lalu kenapa pak Rio sudah kembali dari siang tadi? Dan kenapa ada motor Dalia di parkiran? " Wajah Faizan mendadak berubah.


" Aku di suruh pulang duluan membawa motor matic Dalia. Yah, mungkin tuan Rendra ingin berduaan dengan Dalia. " Rio tersenyum menyeringai karena tau Faizan sedang cemburu.


" Berdua saja? " Ucap Faizan dengan wajah sendunya.


" Yah, begitulah! Itu sebabnya aku di suruh pulang duluan, karena tuan Rendra tak ingin di ganggu. " Senyum menyeringai itu tak berhenti mengembang.


" Apa pak Rio tau kemana perginya mereka? "


" Yah, mana aku tau! Mungkin saat ini tuan Rendra sedang bersenang-senang dengan sekretaris cantiknya itu. " Ucapan Rio sungguh membuat Faizan tidak tenang.


" Tidak biasanya tuan Rendra mau jalan dengan sekretarisnya saja. "


" Sekretarisnya kali ini berbeda. Mungkin Dalia lebih istimewa. " Rio mengulum senyumnya.


" Dalia, kau di mana sekarang? " Ucapnya cemas, hingga Rio menutup mulutnya karena ingin tertawa.


*


*


*


*


*


*


*


################################


Mobil Rendra kini sudah tiba di depan gedung Federick Corporation. Rendra lalu menghentikan mobilnya dan menatap lekat wajah Dalia yang masih tertidur di sampingnya. Ia tak merisaukan tangannya yang kini merasa sangat sengal dan kebas. Baginya itu tidak masalah, yang penting Dalia bisa tidur dengan nyaman.


Sesekali ibu jarinya mengusap pipi putih mulus milik Dalia. Memberikan Dalia sentuhan rasa nyaman yang menenangkan. Hingga tanpa sadar ibu jarinya beralih menyentuh bibir sexy Dalia yang berwarna merah seperti buah ceri itu.


Bibirmu? Gumamnya.


" Astaghfirullah! Apa yang sudah aku fikirkan? " Sesalnya.


" Ah, aku benci fikiranku! " Decaknya sambil memukul dahinya.


Yah, namanya juga laki-laki, muna' banget kalau gak mikirin hal begitu, ya kan guys?? 😂😂😂


Merasa tidak ada respon dari Dalia, tangan Rendra yang satunya mencoba untuk menyentuh dahi Dalia.


" Apa kau sakit, Dalia? "


" Tidak panas, mungkin Dia kelelahan sampai tertidur senyaman ini. " Ucapnya tersenyum.


Rendra masih tak bergeming menatap Dalia dan tak berani membangunkannya. Ia tidak tega untuk membangunkan orang yang sedang terlelap senyaman itu. Rasa sakit di tangannya pun seakan tidak Ia rasakan lagi.


Yah, namanya juga " cinta ",. 😂😂😂

__ADS_1


" Dalia, aku akan membahagiakanmu dan juga anakmu. Itu janjiku! "


" Walau aku tidak tau, kau akan jadi jodohku atau tidak, tapi aku tidak perduli, aku akan tetap membahagiakanmu. "


Rendra menatap nanar ke arah depan, tanpa sadar Dalia sedang mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan pandangannya.


" Karena aku mencintaimu. Yah, aku jatuh cinta padamu. " Ucap Rendra sambil tersenyum dengan tetap memandang ke arah depan.


Dalia terkesiap mendengar hal itu, Dia tidak tau dan tak bisa mengartikan maksud kata-kata Rendra itu di tujukan untuk siapa. Matanya masih menatap Rendra bingung dengan posisi kepala yang tak berpindah dari tangan Rendra.


" Aku mencintaimu, Da...............? " Ucapan Rendra terpotong saat Ia menoleh ke arah Dalia, dan melihat Dalia sudah menatapnya dengan penuh tanda tanya.


" Da.... Dalia, kau sudah bangun? " Tanyanya kemudian.


" Iya, tuan. " Ucap Dalia.


Kemudian Dalia menyadari kalau kepalanya dari tadi menyandar di tangan Rendra.


" Ma..maaf tuan, saya tidak sadar kalau tangan tuan Rendra menyanggah kepala saya ?"


" Tidak apa-apa, Dalia. " Rendra berusaha tersenyum ke arahnya, walaupun saat ini hatinya sedang bermarathon karena takut Dalia mendengar semuanya.


" Pasti tangan tuan Rendra sakit kan? " Dalia memegang dan memijit-mijit tangan Rendra tanpa Ia sadari.


" Tidak apa-apa Dalia, tanganku baik-baik saja. "


" Maaf tuan, saya lancang. "


" Kamu lucu, Dalia. " Ucap Rendra terkekeh karena merasa lucu saat Dalia berusaha memegang dan memijitkan tangannya, namun dalam sekejap Dalia langsung melepaskan tangannya begitu saja.


Mendengat hal itu, Dalia tertunduk malu.


" Sejak kapan kamu bangun? " Tanya Rendra penasaran.


" Emm.. barusan. "


Apa Dia mendengar semuanya ya?


" Hmm... Apa kau mendengar kata-kata ku barusan? "


Dalia tersenyum, bukan karena Dia menyadari kalau kata-kata itu di tujukan untuknya, tapi Dia merasa bosnya ini sedang jatuh cinta. Tapi, Dia tidak tau dengan siapakah bosnya ini jatuh cinta.


" Dengar.....! Tuan Rendra lagi jatuh cinta yah? " Tanyanya sambil tersenyum.


Apa? Dia mendengarnya? Tapi, kenapa ekspresinya seperti itu?


" Semangat ya tuan Rendra, latihannya tadi sudah sangat bagus! Aku yakin, wanita itu pasti bisa menerima cinta tuan Rendra. Yang pastinya wanita itu sangat beruntung bisa di cintai seorang Birendra Federick. " Ucap Dalia salah mengerti.


Dan wanita itu adalah kamu, Dalia.


Syukurlah, Dia tidak menyadarinya, aku ingin Dia tau semua itu di moment yang pas dan romantis.


Gumam Rendra merasa lega.


Wanita yang beruntung! Sadar Dalia, jangan biarkan rasa ini tumbuh, kau sangat tidak pantas untuk seorang Birendra Federick.


Gumam Dalia dalam hati sedikit kecewa.


Hening.


Keduanya masih sama-sama diam di tempat duduknya. Terbang dengan pikiran mereka masing-masing.


" Dalia? "


" Iya, tuan. "


" Ayo, kita turun. Sepertinya Rio sudah menunggu kita di sana. "


" Oh iya, baik tuan. "


Mereka berdua pun segera keluar dari dalam mobil. Dua pasang mata tampak melihat mereka dari jarak yang tidak begitu jauh. Yah, siapa lagi kalau bukan Rio dan Faizan.

__ADS_1


" Kau lihat itu, sebaiknya kau menyerah saja dari sekarang Faizan. Karena sainganmu berat. " Bisik Rio di telinga Faizan sambil tersenyum menyeringai.


" Kenapa harus Dalia? " Jawab Faizan.


" Seperti yang aku bilang tadi, Dalia wanita yang istimewa di mata tuan Rendra. " Ucap Rio.


" Ku menangis..... membayangkan.... betapa kejamnya dirimu... atas diriku...? " Lanjut Rio lagi sambil bernyanyi dan berjalan mendekati Rendra dan meninggalkan Faizan yang sedang patah hati.


****


" Terima kasih tuan, atas tumpangannya. " Ucap Dalia sebelum beranjak pergi menuju parkiran motornya sesaat setelah Rio memberikan kunci motor kepadanya.


" Justru aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Dalia! Karena kau mau menemaniku jalan-jalan. " Balas Rendra sambil tersenyum.


Dalia menjawab perkataan Rendra dengan menampilkan senyum indah khas miliknya. Walau hanya mendapatkan balasan senyum dari Dalia, entah kenapa hal itu sudah cukup membuat Rendra sangat bahagia. Bahkan raut wajah bahagianya itu pun dapat di baca oleh Rio.


Tuan Rendra tampak sangat bahagia sekali. Dalia, sepertinya kau wanita pertama yang menaklukkan hati batu tuan Rendra selain nona Kalina.


" Dalia? " Panggil Rendra tiba-tiba hingga membuat yang punya nama itu pun menoleh.


" Iya, tuan. "


" See you tomorrow! "


" See you too. " Dalia tersenyum sebelum kembali berjalan menuju motornya di tempat parkir.


Senyuman Rendra tak kunjung pudar, Ia terus tersenyum melihat punggung Dalia sampai Dalia benar-benar hilang dari pandangannya. Begitu pula dengan Dalia, langkahnya seakan mengikuti irama hatinya yang ikut bahagia, dan senyumnya pun tetap mengembang. Layaknya bunga yang sedang mekar. Meski Ia berusaha mencegah rasa itu untuk tumbuh, namun, rasa itu tetap saja tidak bisa di hentikan.


Dalia melenggang hingga lewat di depan Faizan yang sedang menatapnya sendu. Namun, Dalia tidak menyadari kalau Ia ternyata sempat melewati Faizan begitu saja tanpa menyapanya. Begitupun Faizan yang tidak berani menyapa Dalia karena hatinya sedang patah hati saat ini.


Yah, terkadang cinta membuat seseorang menjadi buta. Buta matanya sampai tak menyadari orang-orang di sekitarnya yang sedang memperhatikan dirinya dari jarak yang tidak jauh. Contohnya saja Rio, hatinya meringis dan ngilu karena harus melihat dua orang yang sedang jatuh cinta, tapi dirinya belum bisa merasakan hal itu.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


" Readers? "


" Iya, Thor. "


" See you monday! "


" Yah, Author kok suka gantungin aku sih??"


" Hehe... maaf yah, Author lanjut senin lagi, karena Author belum sempet nulis lanjutannya. "


Jangan lupa beri Author semangat dengan cara like, vote, dan komen yah Readers...

__ADS_1


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘


__ADS_2