Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Membahagiakan


__ADS_3

Selama di perjalanan, terjadi keheningan yang cukup lama di antara Rendra maupun Dalia. Hingga akhirnya, Rendra memutuskan untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.


" Dalia? " Sahutnya.


" Iya, tuan Rendra. " Seketika itu juga Dalia menoleh ke arah Rendra yang sedang mengemudi.


" Hari ini aku ingin jalan-jalan. Sebagai tanda terima kasihku, aku ingin kamu yang nentuin tempatnya. "


Dalia cukup terkesiap mendengar perkataan Rendra. Baginya, itu merupakan hal luar biasa yang Ia dengar setelah sekian lama bekerja bersama bos dingin tersebut. Ia menatap Rendra kembali, memastikan kalau yang berada di sampingnya saat ini benar-benar bos dinginnya.


Kenapa aku seperti tidak mengenal tuan Rendra. Apa Dia kesambet yah?


Gumam Dalia.


" Dalia, apa kau mendengarku? " Tanya Rendra karena merasa tidak mendapatkan respon.


" De.. dengar, tuan! "


" Lalu, kenapa kau diam saja? " Decak Rendra tapi tidak sekasar biasanya.


" Hmm... saya bingung tuan, saya tidak tau tempat seperti apa yang tuan sukai? "


" Mulai hari ini kau harus tau apa yang aku sukai. Kau harus tau apa yang aku inginkan, dan kau harus mengerti apa yang aku mau! " Ucap Rendra mulai ego kembali.


Ya ampun Rendra, mau PDKT tapi kok gitu bahasanya? Yang ada wanita yang di ajak PDKT kan jadi ilfeel... 😥😥😥


Ternyata Dia masih tetap Birendra Federick.


Gumam Dalia dalam hati.


" Baik, tuan! Maafkan saya. " Jawab Dalia dengan menunduk.


Melihat Dalia yang kembali diam, Rendra mulai berfikir keras. Ia sama sekali tidak tau bagaimana caranya berbicara dengan wanita.


Haddeeuuuuhh Rendra.. 😥😥


Apa kata-kata ku tadi terlalu keras yah?


Gumam Rendra.


" Dalia? " Kini Rendra melembutkan sedikit suaranya.


" Iya, tuan. "


" Hari ini hari yang spesial buatku. Aku baru saja memenangkan proyek besar itu, yah walaupun hanya menjadi pertner. Namun, hal itu tidak menjadi masalah bagiku. Itu sebabnya aku ingin kamu yang menentukan tempat tujuan kita. " Ucap Rendra panjang lebar setelah berfikir keras bagaimana cara berbicara kepada wanita.


" Tapi, saya takut tempat yang saya pilih tidak sesuai dengan keinginan tuan? " Jawab Dalia bingung.


" Aku tidak perduli, aku akan menyukai apa pun yang kau sukai. "


What! Apa-apaan ini? Baru aja tadi kata-katanya ego banget, sekarang bisa-bisanya bilang Dia akan menyukai apa yang aku sukai? Maksudnya apa coba? Ah, aku sungguh tak bisa memahami jalan pikiran bos ini.


" Hmm.... Apa tuan menyukai anak-anak? " Tanya Dalia yang sepertinya sudah menemukan ide di kepalanya.


" Anak-anak? " Ulang Rendra yang tidak mengerti maksud Dalia.


" Iya, anak-anak. "


" Suka! Aku sangat suka dengan anak-anak. "


" Kalau begitu, saya tau kita harus kemana. "


" Kemana emangnya? "


" Tuan Rendra, cukup ikuti saja petunjukku. Ok! "


" Ok! Baiklah. "


Rendra pun melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, karena tempat yang mereka tuju cukup jauh dari keramain kota. Sesekali suasana di antara mereka sudah mencair. Tampak mereka beberapa kali bersendu gurau, entah siapa yang memulai duluan. Yang pastinya, Rendra dan Dalia terlihat semakin akrab semenjak kejadian ciuman kilat kemarin sore.


****


Tanpa terasa, kini mobil Rendra sudah sampai di tujuan. Dalia menatap penuh kerinduan akan tempat itu. Dan Rendra bisa menangkap itu dari manik mata Dalia.


" Sudah sampai! Apa ini tempatnya? " Tanya Rendra.


" Iya, tuan! " Ucap Dalia dengan matanya masih tertuju ke depan melihat anak-anak kecil yang sedang bermain berlarian di halaman.


" Panti asuhan? " Tanya Rendra lagi, karena ternyata Dalia membawa Rendra ke salah satu panti asuhan yang tidak jauh dari kota.


" Iya, tuan! Selamat datang di panti asuhan " Harapan ibu " Ucap Dalia, namun hanya mendapatkan respon diam dari Rendra lengkap dengan wajah datarnya. Bukankah wajah Rendra memang selalu datarkan, guys?? 😁😁


Karena merasa tidak mendapatkan respon, Dalia kembali bertanya kepada Rendra.


" Apa tuan Rendra tidak menyukai tempat ini? Kalau tuan tidak suka, kita mencari tempat yang lain saja. "


" Tidak.. tidak Dalia! Aku menyukainya, kau memilih tempat yang tepat. " Ucap Rendra sambil tersenyum ke arah Dalia, kali ini senyumannya benar-benar tulus hingga membekukan hati Dalia.


" Benarkah? " Dalia tampak bahagia.


" Benar! Ayo, kita turun dari mobil. Sepertinya anak-anak sudah tidak sabar ingin melihatmu, Dalia. "


" Baiklah, tuan! "

__ADS_1


Mereka kemudian turun dari mobil dan langsung di sambut hangat oleh anak-anak panti. Terlihat anak-anak itu berhambur untuk menyambut Dalia dalam pelukan mereka.


" Tante Dalia datang! Tante Dalia datang! " Ucap mereka.


" Owh... Tante sangat merindukan kalian. " Ucap Dalia terharu sambil membalas pelukan anak-anak itu.


Rendra memperhatikan dari jarak yang tidak begitu jauh. Ia seperti terhipnotis dan ikut terharu melihat kejadian yang ada di depan matanya.


Kau seperti berlian yang bersinar, Dalia! Kemana kau selama ini? Kenapa baru sekarang aku menemukan mu?


Gumamnya.


" Oh iya, tante mau ngenalin kalian dengan seseorang? " Ucap Dalia sesaat setelah melepaskan pelukannya.


" Siapa Tante? " Jawab mereka.


Dalia kemudian berjalan menghampiri Rendra, lalu tanpa sadar langsung menggenggam tangan Rendra dan membawanya untuk lebih dekat ke arah anak-anak. Rendra cukup terkejut saat melihat tangannya di genggam erat oleh Dalia.


" Anak-anak, perkenalkan ini.................? " Dalia melihat ke arah Rendra dan langsung menyadari kalau ternyata tangannya sedari tadi menggenggam erat tangan Rendra.


" Cie... cie... cie...? " Ejek anak-anak itu serempak.


Dengan sigap, Dalia langsung melepas genggamannnya dengan perlahan. Wajahnya kini tampak merah merona karena malu. Ia tak bisa menyembunyikan wajah malu-malu itu. Hingga lengkungan dari bibir Rendra terlihat jelas karena melihat wajah Dalia yang tampak sangat lucu di mata Rendra.


" Om ini ayahnya Zizi yah, Tante? " Tanya salah satu anak kepada Dalia.


" Ayahnya Zizi? " Ulang Rendra.


Zizi merupakan panggilan anak-anak panti terhadap Shenzi. Anak-anak panti sangat mengenal Shenzi, karena Dalia biasanya selalu membawa Shenzi jika ke panti.


" Bukan, anak-anak! Om ini bosnya Tante, namanya Om Rendra. " Ucap Dalia cepat.


" Oh.......! Hai, Om Rendra! " Sahut anak-anak tersebut menyapa Rendra.


" Hai juga, anak-anak! Om sangat bahagia bertemu dengan kalian semua. Apa boleh Om menjadi teman kalian juga seperti Tante Dalia? " Rendra merentangkan tangannya sambil sedikit merendahkan tubuhnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan anak-anak.


" Boleh, kok Om! " Jawab mereka serempak sambil berhambur memeluk Rendra.


Pemandangan yang cukup membuat hati Dalia merasa bahagia. Ia tidak menyangka seorang bos dingin seperti Rendra memiliki kasih sayang yang besar terhadap anak-anak. Hal itu, dapat Ia lihat dari manik mata Rendra yang begitu tulus.


Andai aja dulu Raymond mau di bawa ke sini dan bisa bersikap semanis itu terhadap anak-anak?


Gumamnya.


" Dalia! " Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan paruh baya yang memanggil namanya, Dalia lalu mencari arah suara itu.


" Assalamu'alaikum bu Hasnah! " Ucap Dalia sambil berjalan menghampiri bu Hasnah dan langsung memeluknya.


" Wa'alaikum salam, sudah lama kamu gak kesini, nak? " Ucap bu Hasnah rindu bahkan sampai menitikkan air mata.


Ibu Hasnah merupakan pengurus sekaligus pemilik panti asuhan " Harapan ibu " yang Dalia dan Rendra datangi saat ini. Bu Hasnah sangat menyayangi Dalia layaknya anak kandung sendiri. Sebelum Dalia bekerja di Federick Corporation, Ia sangat sering menemui ibu Hasnah bersama anaknya. Namun, kini seakan tak memiliki waktu untuk menyempatkan dirinya berkunjung ke panti di karenakan kepadatan kerja yang menuntutnya.


" Ya sudah, gak apa-apa Dalia! Yang penting keadaan Dalia dan Shenzi baik-baik saja, bukan? "


" Alhamdulillah baik, bu! " Jawab Dalia tersenyum.


" Assalamu'alaikum! " Sapa Rendra yang datang menghampiri mereka.


" Wa'alaikum salam, duduk nak! " Bu Hasnah memerintahkan Rendra untuk duduk.


" Kalau begitu, ibu ke dalam dulu buatkan kalian minum sebentar yah. " Bu Hasnah beranjak berdiri berniat masuk ke dalam rumah. Namun, dengan cepat tangan Dalia menghentikannya.


" Jangan repot-repot bu, biar Dalia saja! " Ucap Dalia menawarkan diri.


" Kalau gitu, kamu yang repot? "


" Gak repot kok bu, biar Dalia saja yah. Ibu duduk di sini saja temani tuan Rendra. " Ucap Dalia yang langsung beranjak masuk ke dalam rumah.


" Tuan Rendra? " Tanya bu Hasnah merasa bingung.


" Panggil saja saya Rendra, bu. " Jawab Rendra.


" Nak Rendra ini siapanya Dalia? Pacarnya yah? " Tanya bu Hasnah sambil tersenyum penuh arti.


Deg!


Jantung Rendra berdegup kencang saat mendengar kata " Pacar ".


" Emm... bu.. bukan bu, saya hanya temannya saja. " Hanya itu yang bisa di jawab oleh Rendra karena memang Ia tak memiliki hubungan serius dengan Dalia selain cuma atasan dan bawahan saja.


" Oh... temennya! Soalnya, ini kali pertamanya Dalia membawa lelaki ke sini. Selama ini tidak pernah sama sekali, Ia selalu pergi sendirian ataupun bersama anaknya saja. Bahkan, waktu Dia masih belum bercerai dari suaminya dulu, suaminya pun tak pernah Ia bawa ke sini. "


Kata-kata yang keluar dari bibir bu Hasnah cukup membuat Rendra terheran-heran.


Lalu, kenapa Dia mau membawa ku kemari?


Tanya Rendra dalam hatinya.


" Apa Dalia donatur tetap di sini, hingga Ia sering kemari, bu? " Tanya Rendra.


" Bukan nak! Dalia bisa datang ke sini kapanpun Ia mau, tempat ini sudah menjadi rumah kedua baginya. " Ucap Bu Hasnah menjeda ucapannya, hingga membuat Rendra penasaran.


" Orang tua angkat Dalia merupakan donatur tetap di panti ini. " Lanjut Bu Hasnah.

__ADS_1


" Orang tua angkat? " Ulang Rendra yang semakin penasaran.


" Iya nak! Dalia merupakan bagian dari panti asuhan ini. 30 tahun lalu, ibu menemukan bayi perempuan yang hanya berbungkus kantong kresek hitam di halaman belakang panti. Dia sangat lucu dan cantik. Sepertinya orang tuanya tidak menginginkan Dia, karena ibu menemukan bayi perempuan itu dalam keadaan yang mengenaskan akibat kedinginan tanpa sehelai benangpun, bahkan tali pusar tampak belum di potong bersama ari-arinya. Ibu kasian pada bayi itu, hingga akhirnya ibu besarkan Dia di panti ini dan ibu beri nama Dalia. " Ucap bu Hasnah panjang lebar sambil menitikkan air mata mengingat masa kelabu Dalia.


Rendra masih setia mendengarkan.


" Ketika usianya menginjak angka 10 tahun, Ia pun di adopsi oleh donatur tetap di panti ini, yang kemudian namanya di tambah menjadi Dalia Andrina. Ibu sangat bersyukur, Dia memiliki orang tua angkat yang sangat menyayanginya. Dan Dalia termasuk anak yang beruntung karena bisa merasakan bangku kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak. " Ucap bu Hasnah lagi sambil tersenyum bahagia.


Mendengar cerita bu Hasnah, Rendra terperangah tidak percaya. Ia tidak pernah menyangka, ternyata Dalia yang Ia kenal adalah bayi kecil yang pernah di buang dan besar di panti asuhan.


" Kalau saya boleh tau, di mana orang tua angkatnya sekarang? Karena yang saya dengar Dalia hanya tinggal berdua bersama anaknya. "


" Orang tuan angkat Dalia sudah meninggal. Mereka tidak memiliki anak lagi selain Dalia saja. Itu sebabnya, mereka sempat mewariskan sebuah rumah untuk Dalia tempati, namun sayang, rumah itu kemudian di gadai suaminya hingga tak mampu di tebus. Dan pada akhirnya, Dalia harus merelakan rumah kenangan orang tuanya itu di sita oleh bank. "


Brengsek! Pria itu tidak pantas untukmu, Dalia!


Umpat Rendra dalam hatinya karena merasa kesal mendengar cerita dari bu Hasnah.


Bu Hasnah bisa membaca dengan jelas raut wajah Rendra yang mendadak kesal mendengar kisah pilu hidup Dalia.


" Nak Rendra! " Sapanya.


" Iya, bu. "


" Saya bisa lihat, kalau nak Rendra menyukai Dalia. " Ucapan bu Hasnah membuat wajah Rendra merona malu.


Dengan susah payah Rendra menelan salivanya juga melakukan sedikit gerakan untuk melonggarkan dasinya agar memberi sedikit ruang untuk tenggorokannya yang tercekat. Bu Hasnah pun semakin tersenyum melihat Rendra yang salah tingkah itu.


" Saya yakin nak Rendra anak yang baik dan bertanggung jawab. Saya berharap, jika kelak nanti kalian berjodoh, tolong bahagiakan Dalia, sayangi anaknya, dan jangan pernah sia-siakan mereka. " Ucap bu Hasnah lagi sambil mengusap air matanya yang ikut jatuh di pipi keriput miliknya.


" Iya, bu! Saya janji, saya akan membahagiakannya! " Jawab Rendra mantap seakan-akan Ia sudah yakin kalau Dalia akan menjadi jodohnya.


" Siapa yang ingin tuan Rendra bahagiakan? " Tanya Dalia tiba-tiba yang kebetulan sudah kembali dengan membawa tiga gelas teh hangat yang kemudian Ia letakkan di atas meja.


Gawat? Apa Dia mendengar semuanya? Gumam Rendra.


Mendengar pertanyaan Dalia, sontak Rendra kelabakan dan bingung untuk mencari jawaban yang tepat. Tidak mungkin baginya untuk menjawab dengan kata " Membahagiakanmu" . Sedangkan bu Hasnah hanya bisa tertawa simpul melihat ekspresi Rendra.


" Emm... itu.... anu....? " Ucap Rendra hingga membuat kening Dalia mengernyit heran.


" Itu, tadi Rendra bilang, Dia ingin membahagiakan anak-anak panti. " Bu Hasnah menyelamatkan hidup Rendra.


Syukurlah!


Gumam Rendra merasa lega.


" Benarkah itu, tuan? " Tanya Dalia lagi dan Rendra mengangguk.


" Terima kasih, tuan Rendra! Terima kasih. "


Ucap Dalia lagi dengan senyum bahagia.


" Sama-sama Dalia! Aku juga akan menjadi donatur tetap di panti ini. "


" Terima kasih, nak Ren! " Kali ini Bu Hasnah yang mengucapkan terima kasih.


" Sama-sama, bu! "


" Sekali lagi, terima kasih tuan! " Ucap Dalia lagi.


" Jangan terlalu banyak berterima kasih, Dalia! Semua ini berkat kamu juga. " Jawab Rendra tersenyum bahagia karena melihat wajah Dalia yang menampilkan kebahagiaan yang tiada tara.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Readers!!


Author kasih 2000 kata loh untuk episode kali ini!!

__ADS_1


Beri Author semangat dengan cara like, vote, dan komen yah...


Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘


__ADS_2