
MOHON BIJAK DALAM MEMBACA!
ADEGAN DI BAWAH INI SEDIKIT MENGANDUNG UNSUR 21+..
SEDIKIT AJA KOK, GAK GAMBLANG JUGA!
HEHE.. 😂😂😂
Pagi Harinya.
Sinar mentari pagi memancar melewati sela-sela jendela kamar pengantin baru. Dalia mulai mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang menyilaukan mata. Ia tersadar lalu terkejut saat melihat jam di dinding menunjukkan pukul 08.00 pagi.
" Aataghfirullah! Aku bangun sesiang ini dan lupa shalat subuh! " Dalia lalu hendak bergerak untuk bangun, namun Ia lupa kalau sekarang Ia tidak berada di rumahnya dan juga tidak tidur sendirian lagi saat Ia menyadari ada lengan kekar yang memeluknya dari belakang.
" Rendra! Astaghfirullah! Tuh kan lagi-lagi aku mengabaikan satu kewajibanku! Bisa-bisanya aku tertidur tadi malam. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Maafkan aku, Ren. " Ucapnya lagi dengan penuh rasa bersalah.
Dalia lalu membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arah suaminya. Rasa bersalahnya semakin bertambah, manakala Ia melihat Rendra yang tertidur dengan masih menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.
" Maafkan aku, Ren! " Ucapnya sembari membelai wajah sang suami yang terlihat tampan tersebut.
" Kenapa kau terlihat sangat tampan saat tidur begini? " Lanjut Dalia lagi dengan tangan yang bergerilya menyentuh hidung, bibir, hingga ke dada bidang suaminya.
Sebenarnya, ketika Dalia membalikkan tubuhnya tadi, Rendra pun ikut tersadar dari tidurnya, namun Ia sengaja tidak membuka matanya dan tetap berpura-pura tidur supaya bisa melihat tingkah nakal sang istri.
" Hidungmu mancung, bibirmu lumayan sexy dan perutmu.... " Dalia menelan salivanya saat menyentuh perut sixpack sang suami dan itu sungguh membuat Rendra tak kuasa menahan senyumnya.
" Tubuhmu begitu atletis! Ah, aku benci pikiranku! Seharusnya kita sudah melakukannya tadi malam jika saja aku tidak tertidur. Maafkan aku Ren, aku janji aku akan membayarnya malam ini. Aku akan membayarnya sebanyak yang kau mau! " Ucap Dalia dengan tangan yang masih bergerillya di perut sixpack suaminya.
Karena sudah tak tahan lagi, serta juni**nya yang ikut terbangun di pagi ini gara-gara tangan nakal istrinya, Rendra lalu membuka mata dan menggenggam erat tangan istrinya hingga membuat Dalia tersentak kaget.
" Benarkah kau akan membayarnya sebanyak yang aku mau? " Tanya Rendra hingga membuat Dalia tergugu.
" Ren, kau mendengarnya? Itu artinya kau sudah bangun dari tadi? "
Rendra kemudian tersenyum nakal kepada istrinya itu.
" Aku sudah bangun sejak kau mulai berbalik badan! Dan bukan cuma aku yang bangun, tapi juga juni**ku pun ikut terbangun kerena tangan nakalmu itu. "
" Emb.. Ren... a.. aku...! " Dalia terbata.
" Kau harus membayarnya pagi ini! Aku tak ingin menunggu malam tiba! "
" Ta.. tapi! "
" Tidak ada tapi-tapi! Aku tidak terima penolakan! Bukankah kau menginginkan tubuh atletis ini, sayang...? " Tanya Rendra lagi dengan senyum nakalnya.
" Aku tidak bilang begitu tadi! " Dalia berkilah.
" Tapi aku mendengarnya. "
Tanpa basa-basi lagi, tangan Rendra lalu bergerillya masuk ke dalam lingerie istrinya. Ia menyentuh apa saja yang bisa Ia jangkau hingga membuat Dalia tak kuasa untuk menolaknya lagi.
" Ren...! " Ucap Dalia pelan dan sedikit manja.
Karena sudah tidak tahan lagi, Rendra lalu melepas lingerie milik istrinya itu hingga membuangnya ke sembarang arah. Ia pun melakukan apa yang memang seharusnya Ia lakukan sejak malam tadi. Mereka kemudian sama-sama melakukan pergulatan panas pada pagi hari itu dalam waktu yang sangat panjang.
*
*
*
Sementara itu di lantai bawah.
" Assalamu'alaikum! " Sapa Rio yang baru saja tiba di kediaman keluarga Federick.
" Wa'alaikum salam, masuk nak Rio! Kebetulan sekali kamu datang sepagi ini, ayo kita sarapan pagi sama-sama! " Ajak Mama Fina yang kebetulan sedang berada di meja makan bersama Molly.
" Emb... tuan muda belum turun, Nyonya? " Tanya Rio yang memang tujuan utamanya adalah menemui Rendra.
__ADS_1
" Belum kayaknya, emangnya Rendra gak ngambil cuti? " Tanya Mama Fina terlihat bingung.
" Bukan itu Nyonya, saya hanya ingin membuat laporan dan butuh tanda tangan tuan muda untuk pekerjaan hari ini. "
" Oh.. begitu! Molly, coba kamu panggil kakakmu gih! Suruh mereka turun, sarapan bersama kita sekalian. "
" Malas ah Ma! " Molly menolak.
" Kok jawabnya gitu? "
" Yah habisnya Mamah nyuruh Molly gedor kamar pengantin baru, kalau misalkan mereka lagi............" Molly menggunakan kode di tangannya.
" Lagi apa! Lagi tidur iya, karena pasti tadi malam mereka kecapean habis bertempur! Sana susul gih! "
" Iya deh iya! " Akhirnya Molly pun menuruti perintah Mamanya.
Molly kemudian menaiki anak tangga dengan langkah gontai. Ia berjalan pelan-pelan ketika sudah sampai di depan kamar kakaknya tersebut.
" Kak Ren! Kakak ipar? " Panggilnya pelan namun tanpa mengetuk pintu.
Samar-samar terdengar suara aneh yang saling bersahut-sahutan dari dalam kamar kakaknya tersebut.
" Itu seperti suara mereka, sepertinya mereka sudah bangun! " Ucap Molly lagi.
" Kak.....! " Belum selesai Ia meneruskan kata-katanya, Molly langsung menutup mulutnya rapat saat mendengar suara yang menurutnya aneh itu.
Karena penasaran, Molly lalu mendekatkan telinganya ke daun pintu kamar kakaknya tersebut.
" Ah... Ren! " Terdengar suara Dalia yang terkesan manja tanpa dibuat-buat.
Sontak Molly langsung menjauhkan daun telinganya dari pintu tersebut. Ia pun kaget bukan main.
" Oh No! Aku benci pikiranku! " Ucapnya langsung mengambil langkah seribu.
" Menyebalkan! " Gerutunya lagi saat menuruni anak tangga.
" Mana kakakmu dan kakak iparmu? " Tanya Mama Fina heran karena hanya melihat Molly sendirian.
" Mereka gak akan turun sampai berjam-jam! " Jawab Molly sambil mengunyah rotinya.
" Kamu gak bilang ada Rio kemari? "
" Suruh Dia naik sendiri ke atas, biar tau apa yang sedang terjadi di atas sana! " Jawab Molly santai.
" Maksud kamu, emangnya apa yang sedang terjadi di atas sana? " Tanya Mama Fina lagi yang tampak tidak mengerti maksud pembicaraan anaknya.
" Duh Mama! Haruskah Molly menjelaskannya secara detail? " Molly semakin frustasi.
" Yah, mana Mama ngerti kalau kamu jelasin ke Mama sepotong-sepotong gitu. " Jawab Mama Fina sungguh polos.
" Kak Ren dan Dalia sedang bercinta. " Jawab Molly menekan kata-katanya hingga membuat Mama Fina langsung meneguk air minumnya.
" Dan telingaku sudah berdosa karena sudah mendengar suara aneh itu! " Lanjut Molly lagi hingga berhasil membuat Mama Fina dan Rio mengulum senyumnya.
" Kok kalian malah senyum-senyum? Emangnya ada yang lucu yah? Coba aja deh kalian denger sendiri, mendadak lantai atas menjadi angker setelah kak Ren menikah. " ucap Molly kesal.
" Ha.. ha.. ha.. ha.. ha..! " Mama Fina dan Rio pun tertawa lepas mendengarkan pernyataan Molly tersebut.
" Ya sudahlah! Kalau gitu kamu tunggulah tuan muda mu itu selesai bergelut dengan istrinya barulah Dia menemuimu! " Ucap Mama Fina kemudian kepada Rio.
" Baiklah, Nyonya! "
" Iya, tunggulah berjam-jam hingga kau lumutan! " Celetuk Molly lagi dan itu sungguh membuat Rio semakin gemas.
*
*
*
__ADS_1
4 jam kemudian.
Waktu menunjukkan tengah hari, itu artinya sudah masuk jam makan siang. Rio yang sudah menunggu berjam-jam lamanya akhirnya bisa bernafas lega tatkala melihat sang pengantin baru tersebut sedang menuruni anak tangga. Keduanya tampak sudah segar dan rapi dengan pakaiannya.
Mama Fina menyambut mereka dengan senyuman yang tak dapat di artikan. Sedangkan Molly harus berusaha keras membuang fikiran kotornya gara-gara suara aneh yang Ia dengan tadi pagi.
" Duduklah, kalian berdua pasti sudah sangat lapar, karena dari pagi belum sarapan! " Ucap Mama Fina menyambut mereka.
" Ren, lain kali suruh istrimu sarapan pagi dulu, kasian Dia, udah gak disuruh sarapan, tenaganya pun dihabiskan. " Lanjut Mama Fina lagi hingga membuat wajah Dalia mendadak menjadi merah karena malu.
" Iya Ma! Maaf yah sayang! " Rendra lalu meminta maaf pada istrinya tersebut dan hanya mendapatkan balasan anggukan kepala dari Dalia.
" Dari pagi Rio menunggumu, katanya Dia butuh tanda tanganmu untuk laporan kerjanya! " Ucap Mama Fina lagi.
" Oh, nanti selesai makan akan aku tanda tangani! Sekarang makanlah dulu, Rio! "
" Baik, tuan! " Hanya itulah yang bisa dikatakan Rio saat ini karena Dia harus memaklumi pengantin baru yang ada di hadapannya saat ini.
Mereka berlima kemudian lanjut dengan makan siang mereka. Sesekali Molly melirik ke arah Dalia. Ia melihat leher jenjang Dalia di penuhi bercak-bercak merah yang Ia yakini itu ulah kakaknya.
" Dalia, baru satu malam kau menginap disini, lehermu sudah dipenuhi oleh gigitan serangga! " Celetuk Molly membuat semuanya menghentikan aktifitas makan mereka.
" Mana ada serangga di rumah ini, kamu yang benar saja Molly! " Sahut Mamanya tiba-tiba.
" Ada kok Ma, itu buktinya leher Dalia merah-merah. "
" Ohh.. itu bukan gigitan serangga! " Sahut Mamanya lagi.
" Lalu apa? " Tanya Molly lagi.
" Itu gigitan vampir! Kakakmu yang jadi vampirnya. Iyakan Dalia? "
" I.. iya.. Ma..! " Jawab Dalia tergugu.
" Jadi kamu mau bilang aku vampir? " Rendra tidak terima.
" Bu.. bukan begitu maksudku? " Bantah Dalia.
" Awas saja nanti malam, aku akan menggigitmu lebih banyak lagi! " Ancam Rendra.
" Jangan Ren! " Tolak Dalia.
" Tidak bisa, aku kan vampir! "
" Mengaku juga!" Celetuk Molly hingga membuat Mama Fina dan Rio tertawa mendengarnya.
" Sudah.. sudah...! Jangan jadi vampir dulu! Sekarang lanjutkan makannya lagi !" Sahut Mama Fina kemudian.
Mereka berlima pun melanjutkan makan siang mereka sambil terkekeh karena puas membuat pengantin baru tersebut tersipu malu.
*
*
*
*
*
*
################################
See you monday yah Readers..
Jangan lupa like, vote, dan komen..
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘
__ADS_1