
Dengan langkah cepat Rio dan Lily segera bergegas menemui Faizan yang kebetulan sedang berada di ruang tengah saat itu, dan...
" O.. owh..! " Ucap Lily dengan mulut yang menganga.
" Wow! " Sambung Rio tak kalah kagetnya.
" Aku benci melihat ini! " Sela Faizan dengan ekspresi yang sungguh menyedihkan.
Mereka bertiga hanya berdiri diam membisu. Tak ada satupun dari mereka yang berani membangunkan Rendra maupun Dalia yang sedang terlelap dalam posisi duduk, dimana kepala Dalia bersender di dada bidang milik Rendra, pun tangannya juga memeluk erat tubuh kekar itu. Rendra pun sama, Ia terlihat seperti layaknya seorang suami yang dengan siaga menjaga istrinya dalam dekapan hangat tubuhnya.
Tidak berapa lama kemudian, Rendra dan Dalia mulai tersadar. Keduanya mulai mengerjapkan mata mereka secara perlahan. Dalia yang masih merasa nyaman bersender, tak langsung memindahkan posisinya. Hingga tanpa sadar dirinya saat ini sedang ditatap oleh Rendra.
Apa semalaman ini, Dia tidur seperti ini?
Gumam Rendra.
" Huah! " Dalia menguap tapi masih tak merubah posisinya.
Hingga suara Rendra mengejutkan dirinya.
" Dalia. "
Mendengar suara yang memanggilnya, sontak Dalia langsung tersadar dan mulai mendongakkan kepalanya menatap Rendra yang sudah tersenyum lebar kepadanya.
" Ma.. maaf, tuan! " Ucap Dalia langsung terbangun dan berpindah posisi, Ia menundukkan wajahnya karena malu.
Sesaat kemudian, Dalia melirik sekilas wajah Rendra yang masih tersenyum melihatnya. Hingga akhirnya mereka tersadar kalau saat itu ada tiga orang jomblo yang sedang menonton mereka berdua.
" Apa yang kalian lakukan di sini? " Tanya Rendra terkejut, tak terkecuali Dalia.
" Kami sedang mencari tuan Rendra dan nona Dalia, karena tidak ada di kamarnya. Ternyata ada di sini. " Jawab Rio sambil tersenyum penuh arti.
Hening.
Dalia semakin menyembunyikan wajahnya. Ia sangat malu, apalagi Lily menatapnya sambil senyam-senyum. Ingin rasanya Ia lari saat itu juga, tapi masih Ia tahan karena takut Rendra akan marah padanya.
" Oh.. kami tidak sengaja ketiduran di sini karena listriknya mati. " Ucap Rendra mencoba menjelaskan apa yang sedang di fikirkan oleh mereka bertiga.
" Oh...! " Jawab Rio, Faizan, dan Lily yang sepertinya meminta jawaban lebih jelas lagi.
" Kenapa kalian hanya menjawab " Oh " ?" Rendra kesal.
" Emangnya kami harus menjawab apa tuan? " Tanya Lily polos.
" Ja..... " Belum sempat Rendra membalas ucapan Lily, tiba-tiba pak Aryo pengurus villa datang.
" Maaf tuan Rendra, saya tidak tau kalau tadi malam listriknya mati. Tapi, sekarang semua sudah normal kembali, tuan. Sekali lagi saya minta maaf atas keteledoran saya. "
" Hmm.. ya sudahlah pak Aryo, Anda boleh kembali! "
" Terima kasih, tuan! "
Pak Aryo langsung berjalan meninggalkan mereka yang masih berada di ruang tengah saat itu.
" Sekarang kalian sudah menemukan kami, bukan? " Tanya Rendra lagi kepada mereka bertiga.
" Iya, tuan. " Jawab mereka.
" Kalau begitu kembalilah ke kamar kalian masing-masing! Kita harus segera bersiap-siap pergi ke lokasi proyek 3." Titah Rendra karena tak ingin mereka berlama-lama menatapnya penuh curiga.
Ketiga jomblo itupun menuruti apa yang di perintahkan oleh bosnya, kini lagi-lagi hanya tinggal mereka berdua saja. Suasana mendadak berubah menjadi hening dan canggung.
" Kalau begitu saya pun permisi, tuan Rendra! " Ucap Dalia mendadak izin ke kamarnya.
" Iya, silahkan. "
" Terima kasih karena tuan tidak meninggalkan saya. " Lanjut Dalia lagi sebelum Ia mengambil langkah seribu karena menahan malu saat mengingat dirinya yang begitu nyaman tidur di dalam dekapan seorang Birendra Federick.
Tidak jauh berbeda, Rendrapun sama halnya dengan Dalia. Ketika Dalia sudah hilang dari pandangan matanya, Ia pun mendadak senyum-senyum sendiri mengingat momen saat bangun tidur tadi.
****
Pukul 09.00 wib.
Rendra beserta rombongan tampak sudah bersiap-siap pergi menuju lokasi proyek 3. Rencananya, ini adalah hari terakhir mereka melakukan peninjauan proyek di kawasan Puncak, Bogor tersebut.
Ada yang berbeda, Rendra, Rio, Dalia, Faizan, dan Lily berangkat hanya menggunakan satu mobil saja. Kali ini Rendra memerintahkan anak buahnya untuk tidak ikut bersama rombongan mereka, karena bagi Rendra lokasinya tidak begitu jauh, juga tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah memasuki kawasan proyek 3,namun belum sampai ke lokasinya. Proyek 3 merupakan proyek yang paling besar dari dua proyek sebelumnya. Kawasan yang dipakai cukup luas, itu sebabnya butuh beberapa menit lagi untuk tiba di lokasi peroyek sebenarnya.
" Stop... stop! " Tampak beberapa orang berpakaian seperti ajudan menghentikan mobil mereka.
" Rio, siapa orang-orang ini? Kenapa mereka menghentikan mobil kita? " Tanya Rendra yang merasa aneh dengan kemunculan orang-orang tersebut.
__ADS_1
" Saya tidak tau, tuan! Tapi, biar saya yang berbicara kepada mereka. "
Rio kemudian membuka kaca depan mobilnya untuk memudahkannya berbicara kepada orang-orang tersebut.
" Permisi, kenapa kalian menghentikan mobil kami? " Rio mencoba berkomunikasi kepada salah satu dari orang tersebut.
" Kami dari Adiyaksa Group ditugaskan untuk mengawal rombongan Federick Corporation dalam melakukan peninjauan proyek 3, dikarenakan jalan yang akan Anda lalui ini sedang dalam perbaikan. "
Hening.
Rendra dan rombongan tampak menyimak dengan baik penjelasan dari orang tersebut.
" Apa kalian punya bukti yang bisa membuat kami percaya kepada anda? " Tanya Rio lagi ingin memastikan.
" Baik pak! Ini surat tugas kami, kartu pengenal kami dan juga lencana yang kami punya di pakaian kami. Ini semua dari Adiyaksa Group! " Pria itu kemudian memberikan bukti-bukti yang cukup meyakinkan.
Setelah melihat semua bukti itu, Rio langsung menoleh ke arah Rendra.
" Tuan, sepertinya mereka memang dari Adiyaksa Group. "
" Ya sudah, ikuti saja mau mereka. "
" Baik, tuan. "
Rio kemudian kembali berbicara kepada pria bongsor tersebut.
" Baiklah, kami percaya. "
" Kalau begitu, dua orang saya akan ikut bersama Anda, dan tuan Rendra akan ikut satu mobil bersama saya. "
" Kenapa harus begitu? Bukankah kalian bisa mengawasi kami dari belakang. "
" Maaf pak, jalan yang akan kita lalui sedikit terjal, jadi alangkah baiknya tuan Rendra akan lebih aman jika bersama saya yang sudah cukup berpengalaman mengendarai mobil di daerah sini. "
" Kalau begitu, saya akan ikut bersama tuan Rendra. "
" Maaf pak! Saya hanya di perintahkan untuk membawa tuan Rendra saja. "
Mencurigakan.
Gumam Dalia.
" Kalau begitu, izinkan saya yang akan menemani tuan Rendra. " Ucap Dalia tiba-tiba.
Mendengar tawaran Dalia, tampak seseorang dari ajudan itu berbisik kepada pria bongsor yang berbicara kepada Rio tadi.
Biarkan saja kalau wanita itu ingin ikut, karena wanita itu mahluk lemah, jadi bukan masalah besar buat kita. Bisiknya kepada temannya itu.
" Ok, baiklah! "
" Anda yakin dengan semua ini, tuan? " Tanya Rio mencoba meyakinkan Rendra.
" Ya sudah, ikuti saja mau mereka! "
" Baiklah,tuan."
****
Rendra dan Dalia pun turun dari mobil mereka dan masuk ke sebuah mobil jip, dimana pria besar tadi sudah berada di kursi kemudinya. Sedangkan dua orang pria besar lainnya mengendarai mobil yang di kendarai Rio, Faizan, dan juga Lily.
Para ajudan itu kemudian membawa mereka melewati jalur lain. Dimana jalur itu di kelilingi hutan yang lebat. Mobil yang di isi oleh Rio, Faizan, dan Lily serta dua orang pria besar itu melaju lebih dulu meninggalkan mobil di belakangnya.
" Faiz, apa kau percaya mereka? " Bisok Lily.
" Entahlah, mereka sungguh mencurigakan. "
Sesekali Rio menoleh ke belakang untuk memastikan mobil yang membawa tuan Rendra dan Dalia masih tampak di penglihatannya.
" Hey! Apa Anda tidak bisa memperlambat lajunya sedikit, mereka ketingalan jauh di belakang. " Sahut Rio kepada pria yang menyetir mobil tersebut.
" Tenang saja pak, mereka tidak akan hilang kok! Teman saya sangat berhati-hati membawa kendaraannya ketika yang Ia bawa adalah seorang bos besar seperti tuan Rendra. "
" Lalu, kau tidak perlu berhati-hati saat membawa kami, gitu? " Sela Lily tiba-tiba emosi mendengar jawaban pria itu.
" Sudah... santai Lily! " Faizan mencoba menenangkan.
" Huh! Dasar! " Ketus Lily lagi.
" Aku tidak akan mengampuni kalian jika terjadi apa-apa pada tuan Rendra! " Ancam Rio.
" Tenang saja, pak! "
****
__ADS_1
Sementara itu di dalam mobil yang di kendarai Rendra dan juga Dalia di dalamnya.
" Hey! Kenapa kau lambat sekali, kita bisa kehilangan jejak mereka. " Ucap Rendra.
" Tenang saja, tuan! Saya tau jalannya kok! "
Jawab pria itu santai.
" Awas saja jika kau sampai salah jalan! " Ancam Rendra.
Perjalanan terasa semakin jauh, mobil yang di kendarai Rendra dan Dalia belum sampai-sampai juga. Hingga Dalia tersadar kalau jalan yang mereka lewati semakin kecil dan berbatu.
" Pak, apa Anda yakin ini jalannya? " Kali ini Dalia yang bertanya, sedangkan Rendra hanya bersandar dengan wajah kesal di samping Dalia saat ini.
" Iya, nona!"
Semakin lama jalanan yang mereka lalui semakin menurun. Rendra dan Dalia pun mulai berpegangan di gagang mobilnya karena postur jalan yang semakin buruk. Dalia semakin curiga, kalau ada yang tidak beres dari pria yang berada di depannya saat ini.
" Sebenarnya Anda ini tau jalan apa tidak? " Tanya Dalia lebih tegas, namun pria itu tidak menjawab.
" Hey! Aku bertanya padamu, kenapa kau diam saja! " Lanjut Dalia lagi mulai kesal.
" Saya hanya menjalankan perintah, nona! " Hanya itu jawaban yang diberikan.
" Apa maksudmu? " Tanya Rendra tiba-tiba ketika sadar kalau pria ini memang tidak beres.
" Maafkan saya! " Ucap pria itu sebelum akhirnya Ia melompat melewati pintu depan mobil dan meninggalkan Rendra dan Dalia didalam mobil tanpa kendali tersebut.
" Sialan! " Umpat Rendra.
" Kita akan jatuh ke jurang, tuan! " Ucap Dalia.
" Aku tidak akan biarkan ini terjadi, cepat lompat Dalia, aku akan mencoba mengendalikan mobil ini. "
" Tidak tuan, anda juga harus lompat! Kita sudsh tak memiliki waktu lagi, jurangnya sudah kelihatan. "
" Owh.. shit! "
" Tarik nafas Dalia, dalam hitungan ketiga kita akan lompat! Satu... dua... tiga! "
Keduanyapun langsung lompat keluar dari dalam mobil dan ikut menggelinding di tanah yang curam itu.
" Aarrhh! " Teriak Dalia.
" Pegang tanganku, Dalia! " Ucap Rendra berusaha meraih tangan Dalia.
" Tuan Rendra! " Teriak Dalia lagi ketika tubuhnya sudah sampai di tepi jurang.
" Dalia!! " Teriak Rendra lebih keras.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
"Readers!! " Teriak Author.
Hehe..
Maaf, gantung! 😁😁
Jangan lupa untuk like, vote, dan komennya yah..
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘
__ADS_1