Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Menangislah Di Pelukanku


__ADS_3

Beberapa Hari Kemudian.


Hari-hari Dalia lewati dengan kesibukan dalam mempersiapkan proyek besar tersebut. Rencananya, Federick Corporation akan bertugas langsung di lapangan untuk meninjau lokasi proyek yang berada di daerah puncak, bogor. Dan orang-orang yang terpilih untuk meninjau proyek tersebut adalah, Dalia, Faizan, Lily, dan Rio, termasuk Rendra sendiri juga ikut dalam tugas tersebut. Itu sebabnya, saat ini semuanya tampak sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Sehari setelah meeting besar tempo hari. Rendra langsung membuat peraturan baru untuk Dalia. Yaitu " Waktu isitrahat akan di habiskan bersama Direktur Utama dan Asistennya, termasuk jam makan siang " . Dalia sempat syok dan tak bisa berkata-kata apa lagi pada waktu itu. Ingin rasanya Ia protes tapi Dia sadar kalau hanya makan gaji saja di kantor itu.


Ya ampun, tuan Rendra! Cinta sih cinta, tapi gak usah gitu juga keleesss? Yang ada, Dalianya kan jadi ilfeel. Wkwkwkwkwk... 😂😂


Sampailah hari ini, Dalia melirik jam dinding yang bergantung di ruangannya. Rasanya Ia ingin menyerah saja akibat aturan-aturan baru yang di buat Rendra seenaknya. Membayangkan makanan-makanan yang menjadi menu makanan bersama Rendra saja, Dia tidak sanggup. Apalagi harus memakannya.


Haddeeeuuuhhh! Gumamnya.


Seperti biasa, Dalia selalu pergi memastikan dulu makanan yang akan Rendra makan, aman atau tidak. Barulah kemudian, makanan-makanan itu di bawa ke ruangan Rendra dan siap untuk di makan bersama-sama.


Dalia duduk tepat di samping Rendra, karena memang itu yang di inginkan Rendra. Sedangkan Rio harus mulai membiasakan hatinya untuk melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini setiap hari.


" Dalia, kamu kenapa makannya dikit banget? " Tanya Rendra sambil melihat ke arah Dalia yang tampak tak bersemangat menyantap makanannya.


" Emm... saya masih kenyang, tuan. " Hanya itu yang bisa di jawab Dalia.


Sandiwara yang bagus Dalia, mengaku saja kalau kau tak mampu memakan makanan seperti ini. Gumam Rio yang merasa kasihan pada Dalia.


Jelas saja, hal itu bukan tanpa alasan. Rendra sangat perduli akan kesehatannya. Termasuk urusan makanan, bagi Rendra makanan yang tidak di goreng, dan hanya menggunakan rebusan dan sedikit garam tanpa penyedap rasa, itu merupakan makanan yang sehat untuk di makan. Bagi Rio, mungkin sudah ikut terbiasa, tapi bagi Dalia, ini sungguh menyakitkan.


" Masih kenyang di jam segini? Apa kamu sakit, Dalia? " Ucap Rendra yang kemudian tangannya terulur untuk menyentuh dahi Dalia, namun Ia tarik lagi, karena sadar kalau mereka tidak hanya berdua saat ini.


" Tidak tuan, saya baik-baik saja. Hanya saja..........? " menggantung ucapannya.


Ayo Dalia, jujur saja! Gumam Rio dalam hati.


" Makanannya tidak enak? Kalau makanan ini tidak enak, aku akan suruh koki-koki ini membawa kembali makanan ini dan masak yang baru lagi. " Ucap Rendra sebegitu entengnya.


" Tidak.... jangan tuan! Makanannya enak kok. Sungguh! Lihat, saya akan memakannya dengan lahap. Lihatlah! " Dalia langsung menyendok makanannya dengan lahap karena tidak ingin koki-koki itu menjadi korban karena ulahnya.


" Slurrrppp! Emm... enak! " Lanjut Dalia lagi.


Senyum Rendra mengembang saat melihat Dalia menyuap makanannya dengan lahap.


" Makan yang banyak, aku tidak mau sekretarisku sakit. " Rendra pun langsung menyendok makanannya juga.


Bilang saja " kamu " , tuan Rendra. Gak usah pakai kata sekretaris segala. Hmm...


Gumam Rio.


" Iya tuan. " Jawab Dalia singkat.


Dalia, kau sangat beruntung. Aku belum pernah melihat tuan Rendra seperhatian ini terhadap wanita. Tuan Rendra termasuk pribadi yang dingin hingga tidak tau cara bersikap romantis terhadap wanita. Bahkan, dulu sewaktu masih bersama nona Kalina saja, tuan Rendra sangat ego dan gila kerja. Ah, aku tidak sepenuhnya menyalahkan nona Kalina berselingkuh, tuan Rendra memang tidak pernah memberikan perhatian-perhatian kecil sekalipun kepada nona Kalina.


Gumam Rio.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Selesai makan siang dan beristirahat, Rendra, Rio, dan Dalia pergi menghadiri undangan meeting dari perusahaan Adiyaksa Group di daerah Jakarta Barat.


Meeting itu di lakukan untuk mempersiapkan perencanaan pembangunan proyek sebelum perwakilan Federick Corporation pergi meninjau lokasi proyek tersebut di daerah puncak, bogor.


Meeting tersebut berjalan dengan lancar di bawah pimpinan Abigail. Bisa di bilang, ini kali pertama dalam sejarah, dua perusahaan besar yang saling bersaing bisa bekerja sama dalam mengatasi sebuah proyek.Yah, perusahaan mana lagi kalau bukan Federick Corporation dan Adiyaksa Group.


Setelah selesai meeting, Rendra CS tidak langsung pulang, mereka masih bercerita untuk mengakrabkan diri dengan Adiyaksa Group. Sesaat kemudian, Dalia meninggalkan ruangan itu untuk ke toilet karena ingin buang air kecil. Di saat yang bersamaan, Abigail pun izin keluar dari ruangan tersebut. Rendra menangkap suatu gerak-gerik aneh dari Abigail, hal itu membuatnya tidak tenang.


Di dalam toilet, Dalia tampak mencuci tangannya di wastafel sambil merapikan pakaian dan rambutnya di depan cermin setelah selesai melakukan aktifitasnya. Tiba-tiba saja seorang pria masuk ke dalam toilet wanita tersebut dan mengunci pintu toilet itu dari dalam.


Ceklek!


Sontak Daliapun menoleh ke arah pria itu yang tak lain adalah Abigail. Abigail pun tersenyum menyeringai ke arahnya.


" Apa yang kau lakukan di sini? " Tanya Dalia panik.


" Apalagi kalau bukan untuk menemuimu, sayang...? " Jawab Abigail sambil mendekat ke arah Dalia.


" Jangan berani mendekat! " Ancam Dalia sambil memundurkan langkahnya.


Suasana toilet yang kosong dan jauh dari ruangan meeting memudahkan Abigail untuk melancarkan aksi gilanya.


" Ha.. ha.. ha..! Kenapa kau takut, Dalia? Bukankah dulu kita sering bersama, hah? "


" Bersama dalam pekerjaan dan tidak lebih dari itu! "


" Oh... begitu !" Ucap Abigail sambil menatap Dalia dengan tatapan menghujam tajam.


" Itu artinya, kau tidak pernah menganggap keberadaanku? hah! " Lanjut Abigail lagi yang mulai emosi.

__ADS_1


" Lalu, aku harus menganggap mu apa? Kau cuma atasanku, bukan kekasihku! " Bentak Dalia tidak kalah tegasnya.


" Kau selalu seperti itu! Kau tidak pernah menghargai rasa cintaku padamu! Kau selalu mengacuhkan ku! Padahal aku bisa memberikan mu apa saja yang kau mau, tidak seperti suami bodohmu itu! " Abigail semakin kesal.


" Cinta tidak bisa di ukur dengan uang, pak Abigail! " Dalia menekan ucapannya saat menyebut " Pak Abigail " .


" Cinta tidak semurah itu! " Lanjut Dalia lagi.


" Bulshit dengan semua itu! Aku sudah muak dengan sikapmu padaku! Kali ini tidak ku biarkan kau lari dariku lagi. " Ancam Abigail.


Dalia sangat merasa ketakutan saat itu, Ia merasa Abigail saat ini benar-benar berbahaya.


Dalia, kau dalam bahaya! Dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang Ia inginkan! Gumam Dalia dalam hati.


" Jangan mendekat! "


Abigail tidak menggubris hal itu, Ia terus berjalan mendekati Dalia dengan senyuman menyeringai.


" Kalau kau berani mendekat, aku akan berteriak! " Ancam Dalia.


" Ha.. ha.. ha.. ha..! " Abigail hanya tertawa.


Cinta benar-benar membutakan dirinya.


" Kau mau apa, Abigail? " Dalia semakin panik saat tangan kekar Abigail menyentuh pundaknya.


" To.............emb! " Belum sempat Dalia berteriak minta tolong, tangan kekar Abigail sudah lebih dulu menutup mulutnya.


" Jangan berteriak! Atau aku akan melakukan hal yang akan membuatmu mengingatnya seumur hidupmu! " Ancaman Abigail seketika itu membuat nyali Dalia menciut.


Melihat Dalia yang sudah diam dan tidak melawan, Abigail melepaskan tangannya dari mulut Dalia.


" Apa yang kau inginkan? " Tanya Dalia yang hampir menangis.


" Aku hanya menginginkan mu! Aku ingin kau jadi milikku seutuhnya! "


" Tapi, tidak ada cinta di antara kita berdua. "


" Aku sangat mencintai mu Dalia, kau membuatku hampir gila! Dan kau masih sebut itu tidak ada cinta? " Abigail mulai frustasi.


" Itu bukan cinta, Abigail. Itu hanya obsesi gilamu terhadap diriku! "


" Obsesi? " Abigail tersenyum menyeringai.


" Iya, aku memang terobsesi untuk memilikimu, aku tergila-gila padamu Dalia! Bibirmu, tubuhmu, dan semua yang kau punya, ingin aku miliki seutuhnya! " Lanjut Abigail lagi.


" Itu sebabnya aku bilang itu bukan cinta! " Jawab Dalia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


" Bulshit! Aku sudah di mabuk kepayang sejak lama akan dirimu yang begitu memabukkan di mataku, Dalia! Kau seperti candu bagi siapapun yang melihat dirimu! " Abigail mendekatkan wajahnya ke arah wajah Dalia, dan seketika itu juga Dalia membuang wajahnya ke samping.


" Menjauhlah! " Pinta Dalia memelas.


" Sial! Lihatlah, kau selalu saja menolakku! Aku cuma ingin menyentuh bibirmu itu sebentar saja, kau tidak mau! Aku selalu cemburu dan menjadi gila setiap kali melihat bibir dan tubuhmu dengan mudahnya di cumbu oleh suami bodohmu itu!"


" Ha.. ha.. ha.. ha.! Aku selalu mengawasi mu Dalia, hanya kau saja yang tidak menyadari keberadaanku! Kalau aku mau, aku sudah membunuh suami bodohmu itu sejak lama! "


" Kau benar-benar sudah tidak waras, Abigail. "


" Yah, aku memang sudah gila! Aku gila karenamu, Dalia! Itu sebabnya aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini ?" Abigail kembali tersenyum menyeringai.


" Aku akan benar-benar berteriak, kalau kau berani macam-macam terhadapku! " Dalia mulai ketakutan.


" To.......emb..! " Lagi, belum sempat Dalia berteriak minta tolong, tangan Abigail sudah lebih dulu mendarat di mulutnya.


" Jangan berteriak Dalia! Aku hanya ingin mengajakmu berdamai, itu saja! " Bisiknya di telinga Dalia, hingga membuat bulu kuduk Dalia meremang.


" Berdamailah dengan menggunakan tubuh indahmu ini, dengan begitu aku janji tidak akan mengganggu hidupmu lagi! " Lanjut Abigail lagi sambil tersenyum menyeringai.


Mendengar hal itu, air mata Dalia jatuh seketika. Ia mencoba berontak, tapi tenaganya kalah kuat. Suaranya pun tercekat karena tangan Abigail masih mendekap mulutnya erat.


" Sssttttt! Diamlah, sayang. Aku tidak akan menyakitimu, justru aku hanya ingin memberimu kenikmatan yang sudah lama tidak kau dapatkan, bukan kah seorang janda sangat kesepian? Hmm.... "


Perkataan Abigail semakin membuat air mata Dalia mengalir semakin deras.


" Jangan menangis sayang, aku sudah bilang, ini tidak akan sakit! Setidaknya, jika aku tidak bisa mendapatkan hatimu, maka cukuplah tubuhmu sebagai gantinya. " Abigail seperti sudah hilang akal.


Dalia kini hanya bisa pasrah, berharap akan ada seseorang yang datang menolongnya saat itu juga.


****


Sementara itu di ruangan meeting, Rendra tampak sangat gelisah. Berkali-kali Ia melihat jam di tangannya, berharap Dalia segera kembali. Namun nihil, Abigail pun juga belum kembali. Merasa ada yang tidak beres, Rendra memutuskan untuk menyusul Dalia.


Sesampainya di toilet, Rendra mencoba membuka pintu toilet tersebut, namun terkunci.


Sial. Umpatnya dalam hati.


" Dalia! Apa kau di dalam? " Teriak Rendra.


Suara Rendra terdengar jelas di telinga Dalia, namun Ia tak bisa menyahut karena mulutnya masih di dekap erat Abigail.


" Sial! Mau apa Dia kemari? " Umpat Abigail.


Dalia kemudian menggigit tangan Abigail di saat pria itu lengah, hingga Abigail melepaskan dekapannya.


" Tolong..... tolong aku..... emb! " Lagi, Abigail berhasil mendekap mulut Dalia, kali ini lebih erat.


" Sepertinya kau sudah tidak sabaran sekali, Dalia! Kalau begitu aku akan melakukannya di sini sekarang juga! Aku sudah tidak perduli lagi! " Abigail menjadi tidak waras karena di kuasai nafsu dan amarah, hingga tidak bisa lagi dirinya untuk berfikir jernih.


" Dalia? Kau kah itu? " Teriak Rendra.


Merasa tidak mendapatkan jawaban, Rendra kemudian menendang-nendang pintu toilet itu dengan kuat hingga kuncinya terlepas dan pintunya terbuka sempurna.


Rendra kemudian masuk ke dalam toilet tersebut dan mendapati Dalia yang hampir di lecehkan Abigail.

__ADS_1


" Brengsek!! "


Rendra marah bukan main, api amarah seakan membakar seluruh tubuhnya saat itu juga. Ia lalu mendekati Abigail, menariknya dari belakang dan langsung menghajarnya habis-habisan. Sedangkan Dalia, Ia masih terlihat syok dan tak bisa berbuat apa-apa.


" Dasar laki-laki brengsek!! " Umpat Rendra sambil memberikan bogem mentah ke wajah Abigail berkali-kali.


Mendengar suara ribut-ribut dari arah toilet, Rio beserta staf lainnya yang sedang berada di ruang meeting, langsung berlari menghampiri arah suara ribut tersebut.


Rio terkejut bukan main, saat melihat Rendra sedang bergulat dengan Abigail. Sontak Rio beserta staf lainnya mencoba melerai keduanya.


" Tuan Rendra, kendalikan dirimu! " Ucap Rio sambil memegang Rendra dari belakang.


Sesaat pertarungan itu berhenti, tatkala keduanya saling di lerai satu sama lain.


" Abigail, berani kau menyentuh Dalia, aku pastikan kau tidak akan bernafas lagi malam ini! " Ancam Rendra dengan tatapan membunuhnya.


Apa? Menyentuh Dalia? Apa yang sebenarnya terjadi? Gumam Rio merasa bingung.


" Dalia milikku! Dan akan menjadi milikku! Sebaiknya kau lepaskan Dia, biarkan Dia kembali bekerja bersamaku! " Jawab Abigail.


" Cih! Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan Dalia bekerja dengan bos brengsek seperti dirimu! "


Kenapa mereka malah merebutkan Dalia?


Gumam Rio yang semakin tidak mengerti.


" Lepas! " Ucap Abigail kepada anak buah yang memegang tangannya.


" Dalia, urusan kita belum selesai! Tunggu permainan ku berikutnya! " Lanjut Abigail lagi sambil melenggang pergi meninggalkan toilet itu. Ia merasa sangat kesal karena Rendra menggagalkan aksinya.


" Lepaskan aku, Rio! " Kali ini giliran Rendra yang meminta di lepaskan oleh pegangan Rio.


Rio pun menuruti perintah bosnya itu.


" Apa yang terjadi, tuan? " Tanya Rio.


" Pria brengsek itu hampir saja melecehkan Dalia kalau saja aku datang terlambat. "


" Apa? Seorang bos besar seperti Abigail bisa melakukan hal rendah seperti itu.? "


" Tentu saja bisa, jika nafsu sudah memainkan akal sehatnya. " Decak Rendra kesal mengingat kejadian tadi.


Rendra kemudian melihat Dalia yang berdiri di sudut ruangan bahkan masih tampak syok tersebut. Ia pun mencoba menghampirinya.


" Dalia, kau tidak apa-apa? " Tanya Rendra dan hanya mendapatkan jawaban anggukan kepala dari Dalia.


" Apa kau yakin? " Tanya Rendra lagi karena merasa ragu.


" Iya tuan, saya baik-baik saja. Terima kasih tuan Rendra datang tepat pada waktunya. " Ucap Dalia sambil menangis dan langsung menghambur memeluk Rendra tanpa sadar.


Rendra pun lalu membalas pelukan itu dan mendekap erat tubuh Dalia untuk mencoba menenangkannya.


" Aku takut! Aku takut sekali, tuan Rendra! " Ucapnya sambil terisak.


" Jangan takut Dalia, ada aku di sini! Aku janji akan menjagamu s'lalu! Jadi, jangan pernah takut, mulai sekarang kamu tidak pernah sendiri lagi!" Jawab Rendra sambil mengelus-elus punggung Dalia.


" Terima kasih, tuan Rendra. "


" Kalau kau ingin menangis, maka menangislah di pelukanku, Dalia! Jika itu membuatmu merasa nyaman. "


Dalia semakin mengeratkan pelukannya dengan derai air mata yang tak berhenti mengalir. Ia merasa benar-benar nyaman dan tenang di dalam pelukan Rendra.


Peluklah erat tuan Rendra, Dalia. Dia sangat mencintaimu, aku bisa melihat itu.


Gumam Rio sambil tersenyum melihat mereka berdua.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Gimana?


Greget gak sama Abigail?


Pangen cubit ginjalnya gak?


wkwkwkwkwk... 😂😂😂


Author kasih bonus sampai 2.200 kata loh, buat kalian pembaca setia Author.


Jangan lupa untuk like, vote, dan komennya yah...


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2