
" Pegang tanganku, Dalia! " Ucap Rendra yang berusaha meraih tangan Dalia.
" Tuan Rendra! " Teriak Dalia lagi ketika sudah sampai di tepian jurang.
" Dalia! " Teriak Rendra.
Hampir saja Dalia jatuh ke dalam jurang, namun dengan sigap tangan Rendra meraihnya.
" Dapat! Pegang erat tanganku, Dalia! Aku akan menarikmu ke atas! "
" Tuan Rendra aku takut. "
" Percaya padaku, ok! "
Dalia mengangguk.
" Sekarang aku akan membantumu naik ke atas! Satu, dua, tiga! "
Akhirnya Dalia berhasil naik dan selamat dari kejadian yang dapat merenggut nyawanya tersebut.
" Terima kasih, tuan Rendra. " Ucapnya dengan nafas yang masih tersengal.
" Apa kau terluka? " Tanya Rendra sambil melihat lengan Dalia.
" Tidak tuan, ini hanya luka kecil saja! " Jawab Dalia sambil menyembunyikan lengannya dari Rendra.
" Luka ini kau bilang kecil? Sinikan lenganmu! " Rendra lalu melepas dasinya dan mulai membalutkan luka di lengan Dalia.
" Awh! " Rintih Dalia.
" Sudah! " Ucap Rendra ketika selesai membalutkan dasi di lengan Dalia.
" Sekarang kita harus keluar dari tempat ini, apa kau bisa berjalan? " Lanjut Rendra lagi.
" Bisa, tuan! "
Rendra dan Dalia kemudian berusaha terus berjalan menaiki jalan yang menanjak. Sesekali Rendra mengulurkan tangannya untuk membantu Dalia berjalan.
Ketika sampai di jalan yang mereka lalui tadi, mereka sudah tak mendapati pria bongsor yang membawa mereka tadi. Rendra kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Ia mencoba menghubungi Rio, namun berkali-kali dihubungi tetap saja tidak tersambung.
" Sial! Kenapa di sini tidak ada signal sama sekali! " Decak Rendra mulai kesal.
" Ponsel saya juga tidak mendapatkan signal, tuan! " Ucap Dalia yang juga sedang mencoba menghubungi seseorang.
" Abigail sialan! Lihat saja nanti, aku akan buat perhitungan dengannya! "
" Apa tuan Rendra yakin kalau semua ini rencana pak Abigail? "
" Tentu saja! Siapa lagi kalau bukan Dia. "
" Tapi, kenapa Dia ingin mencelekai tuan Rendra? "
" Entahlah! Mungkin karena Dia menginginkanmu. "
" Menginginkanku? Maksud tuan Rendra? " Dalia berusaha meminta penjelasan dari Rendra akan kata-kata barusan yang keluar dari mulutnya.
" Apalagi kalau bukan dirimu yang Ia inginkan! Aku tidak tau seberapa jauh hubungan kalian dulu. " Rendra mulai memancing emosi Dalia.
" Kami tidak memiliki hubungan apa-apa selain hanya sebatas pemimpin dan bawahan saja. " Dalia menegaskan kata-katanya.
" Cih! Jangan sok suci Dalia, aku tau semuanya! " Rendra benar- benar memancing emosi Dalia.
Dalia menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar. Emosinya kali ini benar-benar terpancing dengan perkataan Rendra.
" Kalau begitu, katakan apa yang Anda tau tentang saya! Katakan semuanya tanpa ada yang ditutupi lagi. "
" Kau menantangku? "
" Iya, tuan muda Birendra Federick! "
Pandangan mata mereka bertemu, keduanya seakan sedang memulai genderang perang. Tatapan menghunus tajam tak kalah menakutkan, tatkala Dalia memeberikannya untuk Rendra. Sudah lama Dalia menunggu momen ini, momen dimana Rendra akan berbicara yang sebenarnya tentang apa yang Ia nilai selama ini akan dirinya.
" Aku tau semuanya! Kau bercerai dari suamimu karena telah berselingkuh dengan Abigail. Aku sungguh membenci wanita tukang selingkuh seperti dirimu! "
" Kalau Anda membenci saya, kenapa saya tidak dipecat dari dulu?"
" Cih! Aku mau kau menjadi pela*** untukku sama seperti kau menjadi pela*** untuk Abigail. " Ucap Rendra sarkasme hingga benar-benar menusuk ke relung hati Dalia.
Plakk!
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Rendra. Dalia kemudian menatap Rendra dengan mata yang berkaca-kaca.
" Anda tidak tau apa-apa tentang diriku, tuan Rendra! Dan jangan pernah menyebutku dengan panggilan itu! "
" Beraninya kau menamparku! " Rendra semakin emosi.
" Kalau kau tidak mau di sebut pela*** , lalu kau mau disebut apa? Murahan? Hmm... " Lanjut Rendra lagi.
Plakk!
Tamparan kedua kalinya kembali mendarat dipipi Rendra.
__ADS_1
" Aku tidak serendah itu, tuan Rendra! " Ucap Dalia yang kali ini tidak lagi bisa membendung air matanya yang ingin jatuh.
" Beraninya kau menamparku lagi! "
" Anda pantas mendapatkannya! "
" Kau! " Rendra semakin emosi hingga tanpa sadar Ia pun ingin mengayunkan tangannya, namun masih Ia tahan karena Ia sadar dihadapannya saat ini adalah seorang wanita.
" Kenapa berhenti? Ayo, tampar saya juga! " Dalia kembali menantangnya.
Sial! Aku tidak mau melakukannya!
Gumam Rendra sambil menurunkan tangannya.
" Kenapa gak jadi? Ayo, tampar aku tuan Rendra! Anda sudah menghinaku, merendahkanku, sekarang tunggu apa lagi, tampar aku juga! " Ucap Dalia dengan derai air mata, hingga membuat nyali Rendra menciut.
Ingin rasanya Rendra memeluk Dalia dan meminta maaf atas perkataanya saat itu juga, namun egonya jauh lebih tinggi dari rasa ibanya, hingga hanya mampu membuatnya diam seribu bahasa.
Dalia menghapus air matanya sembari mengatur nafasnya sebelum melanjutkan perkataanya lagi.
" Tuan Rendra yang terhormat, dengarkan ini baik-baik! "
" Sesakit dan sesusah apapun hidupku, aku tidak akan pernah melakukan hal serendah itu untuk memberi makan anak semata wayangku. Sebaik dan seburuk apapun aku di masa lalu, Anda sama sekali tidak memiliki hak untuk tau. "
" Tuan Rendra, Anda sama sekali tak punya hati! "
Setelah berbicara panjang lebar, Dalia langsung berlari meninggalkan Rendra sendiri. Hatinya benar-benar terluka, hingga Ia sudah tidak perduli lagi akan keselamatannya juga keselamatan bos angkuhnya itu.
" Dalia! " Teriak Rendra namun tidak di gubris oleh Dalia, Ia terus saja berlari.
" Dalia, tunggu! " Teriak Rendra lagi sambil berlari mengejar Dalia yang tampak semakin jauh dari pandangannya itu.
Bodoh! Bisa-bisanya aku berbicara seperti itu. Aku benar-benar bodoh!
Gumam Rendra merutuki dirinya sendiri.
Kau tak punya hati, Rendra!
Kata-kata dari mantan istrinya kembali terngiang di telinga Rendra.
Anda sama sekali tak punya hati!
Lagi, giliran kata-kata Dalia yang terngiang di telinganya.
" Aarrgghh! " Teriaknya sampai-sampai lututnya melemas dan tak mampu untuk berlari lagi.
Rendra kemudian duduk bersimpuh di tanah berbatu tersebut. Ia menundukkan kepalanya, menyesali apa yang sudah Ia katakan pada Dalia.
" Kenapa? " Decaknya kesal.
" Kalina meninggalkanku karena ke egoisanku, dan sekarang Dalia pun meninggalkanku juga karena egoku. "
" Aarrgghh! " Teriaknya sambil melempar batu-batu kerikil yang ada di hadapannya.
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Sementara itu di lokasi proyek 3, tampak Rio, Faizan dan Lily begitu gelisah karena mengkhawatirkan Rendra dan Dalia yang tak kunjung tiba.
" Pak Rio, saya tak menemukan dua orang tadi yang bersama kita. " Ucap Faizan ketika disuruh Rio untuk mencari keberadaan dua orang utusan dari Adiyaksa Group tersebut.
" Gawat! Ada yang tidak beres. "
" Maksud pak Rio? "
" Tuan Rendra dan Dalia pasti diculik oleh mereka! "
" Apa? " Lily terkejut.
" Lalu, sekarang apa yang harus kita lakukan, pak Rio? " Tanya Faizan.
" Aku akan mengerahkan semua anak buah tuan Rendra untuk mencari keberadaan Tuan dan Nona Dalia. Sedangkan kita juga akan mencari mereka berdua dengan melewati jalan yang kita lewati tadi. "
" Kenapa kita tidak lapor petugas saja, pak Rio? " Lily menyela.
" Ini belum 24 jam, jadi petugas tidak akan melakukan pencarian. "
__ADS_1
" Ya udah, tunggu apa lagi! Kita harus segera menemukan mereka sebelum hari menjadi gelap. "
" Ya, kau benar Faizan! Ayo! "
Mereka bertigapun kemudian bergegas pergi dari lokasi proyek tersebut untuk segera mencari keberadaan Rendra dan Dalia.
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
" Dalia! " Teriak Rendra sembari terus melangkah, walaupun langkah kakinya sudah mulai lunglai.
" Ini sudah hampir gelap, bukankah Dia sangat takut gelap? " Ucapnya begitu mencemaskan Dalia.
" Dalia! Maafkan aku! " Teriaknya lagi.
" Dalia, dimana kamu? "
" Maafkan aku, Dalia! Aku ini memang lelaki bodoh. "
" Aku begitu bodoh kalau soal berbicara! "
" Aku tidak pandai berbicara pada wanita, aku benar-benar bodoh, Dalia! "
" Dalia! "
Rendra terus berteriak dan tidak menyerah. Sampai akhirnya langit jingga berubah menjadi gelap. Rendra semakin mencemaskan keadaan Dalia. Ia tetap menyusuri jalan yang sedikit curam tersebut. Hingga penglihatannya menangkap sesosok perempuan yang sedang tergeletak tidak berdaya di samping sebuah batu besar. Yah, sosok itu adalah Dalia.
" Dalia! " Teriak Rendra.
Rendra kemudian mempercepat langkahnya untuk mendekati Dalia yang tampak tak sadarkan diri itu.
" Astaga Dalia, apa yang sudah terjadi padamu? " Ucapnya sambil memangku kepala Dalia, kemudian Rendra melihat ada darah di dahi Dalia.
" Kau berdarah? Dalia, ku mohoh bangunlah! " Rendra panik bukan main, dengan cepat Ia memeriksa denyut nadi Dalia yang mulai melemah.
" Dalia, ku mohon sadarlah! Jangan membuatku takut? " Ucapnya lagi yang tanpa sadar air matanya jatuh mengenai pipi putih Dalia. Bagi Rendra, ini kali pertamanya Ia menangisi seorang wanita.
" Dalia, maafkan aku! " Rendra terus menangis seakan takut kehilangan Dalia.
" Maafkanlah aku! Aku ini sungguh laki-laki bodoh, Dalia! " Rendra terus merutuki kebodohannya.
" Bibirku mengatakan aku membencimu, tapi tidak dengan hatiku, Dalia! Aku sangat mencintaimu. "
" Aku sangat mencintaimu, Dalia! "
Rendra benar-benar menyesali perbuatannya, dan Ia benar-benar terpukul saat ini.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers!!
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘😘
__ADS_1