Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Merusak Mata


__ADS_3

Cake yang di bawa Molly tadi kemudian di bawa Rio ke ruangan Rendra, begitu pula dengan surat lamaran Dalia.


" Permisi tuan muda. " Ucap Rio setelah membuka pintu ruangan Direktur Utama tersebut.


" Iya, masuk! " Titah Rendra.


" Ada apa? " Lanjutnya lagi.


" Ini ada kiriman cake dari nona Molly untuk tuan. " Rio lalu meletakkan cake itu di atas meja Rendra.


" Hmm... adikku itu memang paling tau selera ku. " Rendra tersenyum sambil sesekali menghirup aroma kelezatan dari cake tersebut.


" Ya sudah, kalau sudah selesai kau boleh pergi! " Lanjut Rendra lagi.


" Ada lagi tuan. " Sahut Rio.


" Hmm... apa lagi? "


" Saya sudah menemukan seseorang yang tepat untuk menjadi sekretaris tuan muda. "


" Benarkah? " Rendra mengangkat kedua alisnya.


" Iya, ini CV nya tuan. "


Rio kemudian menyerahkan CV milik Dalia kepada Rendra. Rendra terlebih dahulu memperhatikan foto dari sang pemilik CV tersebut. Ia memperhatikannya dengan serius hingga sebuah pujian lolos dari mulutnya.


" Cantik. "


Aku seperti pernah melihat wanita ini, tapi dimana?


Ucapnya dalam hati.


Rendra kemudian membuka lembaran demi lembaran lamaran kerja tersebut, hingga matanya tertuju pada sebuah surat pengalaman kerja.


" Adiyaksa Group? "


" Dia pernah bekerja di perusahaan Adiyaksa Group? " Kening Rendra mengkerut saat menyebut nama perusahaan tersebut.


" Sepertinya begitu, tuan. "


Hmm... ini sangat bagus! Dengan begitu aku bisa memanfaatkannya untuk menghancurkan Adiyaksa Group.


Senyum licik terukir di bibir Rendra.


" Kalau begitu, besok suruh Dia menemuiku, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya. "


" Baik, tuan. "


" Ada lagi? "


" Tidak ada, tuan. "


" Kalau begitu, pergi dari hadapanku! "


" Dan jangan lupa, suruh wanita itu berdandan yang cantik, aku tidak mau yang menjadi sekretarisku tampil jelek, karena itu dapat merusak mataku. " Lanjut Rendra sambil melempar surat lamaran itu kepada Rio dan dengan sigap Rio menyambutnya sebelum lembaran lamaran kerja itu keluar dan merepotkannya.


" Baik, tuan muda. "

__ADS_1


" Kalau begitu saya permisi. " Rio membungkukkan sedikit tubuhnya sebelum Ia keluar dari ruangan yang terkenal angker untuk para karyawan di perusahaan itu.


" Kita lihat berapa lama Dia mampu bertahan. " Ucap Rendra dengan senyum liciknya.


Sementara itu di ruangan Asisten Direktur yang letaknya berhadapan langsung dengan ruangan Direktur Utama.


" Ada-ada saja perkataan tuan Rendra, emangnya pernah ada ya, orang yang matanya rusak hanya karena melihat orang jelek? " Ucap Rio yang merasa tidak masuk akal.


" Ah sudahlah, dari pada otakku ikutan rusak memikirkan hal aneh itu, mending aku hubungi wanita ini. "


Rio lalu membuka CV Dalia dan mencari nomor ponsel yang bisa di hubungi.


Tut.. tut.. tut..!


" Halo? " Ucap seorang wanita.


" Halo, selamat siang, dengan nona Dalia Andrina? "


" Iya, saya sendiri. "


" Saya Rio harald selaku Asisten Direktur dari perusahaan Federick Corporation telah menerima CV anda. Dan besok anda di minta datang menghadap HRD untuk melakukan interview. "


Federick Corporation? Jadi nona Molly memasukkan lamaranku di perusahaan besar itu? Gumam Dalia dalam hati.


" Halo, apa anda mendengarku? "


" I.. iya pak, saya dengar. Alhamdulillah, terima kasih banyak pak. "


" Kalau begitu, besok jangan lupa untuk berpakaian yang rapi dan sopan serta berdandan yang cantik, karena kalau tidak, anda dapat merusak mata sang pemimpin perusahaan. "


Hening, tidak terdengar sahutan dari wanita pemilik nama Dalia itu.


" Halo, apa kau mendengarnya? " Ulang Rio.


" De... dengar pak, baiklah! Saya akan berpakaian yang rapi dan sopan serta berdandan yang cantik agar tidak merusak mata bagi siapapun yang melihat saya. "


" Bagus, saya menunggu kedatangan anda besok pagi pukul 09.00 wib. "


" Siap pak! "


Tut.. tut.. tut...!


Rio langsung memutus sambungan teleponnya.


" Huh! Kenapa aku berbicara seperti itu kepada wanita itu? Sepertinya aku sudah ketularan sifat aneh tuan Rendra. " Ucapnya terkekeh.


################################


Di rumah Dalia.


Setelah menerima sambungan telepon dari perusahaan Federick Corporation. Berkali-kali Ia memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Mengamati setiap lekuk tubuhnya sendiri dan memastikan diri kalau Ia memang cantik. Yah, terkadang kepercayaan diri lah yang di butuhkan seseorang dalam melangkah.


" Cermin, aku cantikkan? " Ucap Dalia konyol karena berbicara dengan benda mati itu.


" Ayo katakan, apa aku cantik? " Dalia meraba kulit wajahnya yang tampak sedikit kerutan di sudut matanya.


" Kerutan?? Ahhh!! Oh come on, apa yang terjadi denganku, kenapa aku jadi parno begini sih. Inikan kerutan biasa aja, setiap wanita seusiaku juga memilikinya. "

__ADS_1


Dalia merutuki kebodohannya, tanpa Ia sadari anak semata wayangnya, Shenzi sedang memperhatikan tingkah konyol sang ibu, yang Shenzi rasa itu sangat aneh.


" Ibu kenapa? Kok bicara sama cermin? "


Deg!


Bak di sambar petir di siang bolong, jantung Dalia serasa ingin loncat dari tempatnya karena malu telah terlihat konyol di hadapan anaknya.


" Emm... gak kok, ibu cuma latihan berbicara untuk persiapan interview besok. "


" Oh... kirain ibu seperti penyihir di serial princess snowwhite yang bicara sama cermin soal kecantikannya. Soalnya tadi Shenzi denger ibu bertanya seperti itu pada cermin. " Shenzi menyipitkan matanya.


" Emm... i.. ibu.. ibu bukan penyihir, ada-ada aja kamu. " Dalia patah arang.


Melihat ekspresi ibunya yang tampak lucu itu, Shenzi langsung memeluk ibunya. Kata-kata manispun terucap dari bibir mungil gadis kecil itu.


" Ibu sangat cantik, bahkan kecantikan ibu terpancar dari dalam, hingga memberikan kehangatan dan keteduhan bagi siapapun yang melihatnya. "


Dalia terkejut mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut anaknya itu. Ada sesuatu yang menghangatkan hatinya. Dalia kemudian menjongkokan tubuhnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan anaknya itu.


" Kamu belajar dari mana kata-kata manis itu, sayang? " Ucap Dalia sambil menangkup kedua pipi cubby anaknya itu.


" Dari bibi Retno. " Ucap Shenzi polos.


" Bibi Retno? " Ulang Dalia sambil mengkerutkan keningnya.


" Iya, bibi Retno bilang, kecantikan ibu sangat meneduhkan bagi siapapun yang melihatnya. "


" Ah, bibi Retno terlalu memuji ibu. "


" Tapi, itu benar bu, Shenzi gak bohong. Ibuku ini saaangaatt cantik mengalahkan kecantikan princess-princess yang ada di dalam kamar Shenzi. "


" Ha.. ha.. ha.. ha..! Ya udah, iya deh ibu terima pujiannya, makasih ya sayang... emmuuaacchh..! " Dalia mendaratkan satu kecupan di kening anaknya.


" Kalau gitu, Shenzi pergi main dulu ya bu? "


" Iya, baiklah, tapi ingat jam yah sayang, waktunya pulang harus pulang. "


" Siap komandan! " Shenzi memberi hormat kepada ibunya layaknya seorang angkatan militer.


" Ha.. ha.. ha...! Anak ibu lucu sekali sih! " Dalia mengacak-ngacak rambut anaknya itu.


" Ibu, nanti kecantikan Shenzi luntur kalau ibu acak-acak rambut Shenzi. " Shenzi mengerucutkan bibirnya.


" Ha.. ha.. ha...! Ada-ada aja kamu, ya udah pergi main sana, temennya udah nungguin tuh. "


" Shenzi, ayo main! " Ucap anak-anak perempuan yang sebaya dengannya sudah berada di teras rumah Shenzi.


" Iya, sebentar! " Jawab Shenzi sambil merapikan rambutnya.


" Aku main dulu ya bu? " Ucap Shenzi sambil menyalim tangan ibunya.


" Iya, hati-hati dan jangan jauh-jauh! " Ucap Dalia sedikit berteriak karena anaknya sudah berlari menemui teman-temannya.


" Hufftt! Ibu sangat beruntung memiliki kamu, nak!" Ucap Dalia dengan senyum bahagianya.


################################

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, vote, dan komennya yah Readers..


Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘


__ADS_2