Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Beri Aku Kesempatan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, hubungan Rendra dan Dalia tampak semakin dirundung ujian berat. Walaupun begitu, Rendra masih berusaha dan berharap kalau Dalia kelak akan menjadi istrinya. Walaupun waktu mereka lebih banyak dihabiskan di kantor, itu jauh lebih dari cukup bagi Rendra. Baginya, hal itu masih membukakan sedikit harapan untuknya.


Ketika Dalia sedang berada di rumahnya pada malam hari . Tiba-tiba saja Raymon datang bertamu ke rumahnya. Sebenarnya hampir setiap hari Raymon ke rumahnya untuk menemui anaknya, Shenzi. Namun, entah kenapa hari ini Dalia benar-benar malas jika harus bertemu dengan pria yang pernah jadi masa lalunya itu.


" Ray, bisa gak kalau bertamu jangan malam-malam begini, aku gak enak sama tetangga. " Ucap Dalia dengan wajah yang ditekuk.


" Maafkan aku, Dalia! Tapi aku tidak bisa menolak permintaan Shenzi. Bukankah Dia selalu ingin bertemu denganku walau sebentar. " Jawab Raymon dengan wajah sendunya.


" Ya sudah, masuklah! " Akhirnya Dalia mempersilahkan Raymon masuk ke dalam rumahnya, namun pintu rumahnya Ia biarkan terbuka agar tidak menimbulkan fitnah.


" Ayah...! " Teriak Shenzi begitu kegirangan menyambut kehadiran Ayahnya tersebut.


" Owh....! Anak Ayah semakin hari semakin berat saja! Ooppss! " Ucap Raymon yang langsung menggendong putri kecilnya itu.


Dalia sudah biasa melihat pemandangan itu, Ia memang membebaskan Raymon untuk lebih dekat bersama putri kecil mereka, karena walah bagaimanapun juga Raymon tetap memiliki hak atas anaknya tersebut.


Raymon dan Shenzi bermain di ruang tamu, sedangkan Dalia lebih memilih duduk berselonjor di depan tv sambil memainkan ponselnya seperti sedang menunggu panggilan dari seseorang. Yah, siapa lagi kalau bukan Rendra.


" Ren, kau sedang apa? Kenapa belakangan ini kau sudah jarang ke sini? Asal kamu tau aku merindukanmu,Ren." Ucapnya sambil tersenyum sendiri menatap layar ponselnya yang sudah tertera nomornya Rendra.


" Apa aku harus menghubunginya yah? " Dalia tampak berfikir.


" Ah, bomatlah! Yang penting aku bisa mendengar suaramu aja itu udah cukup! " Akhirnya Dalia memencet tombol hijau di layar ponselnya tersebut.


Hatinya berdebar-debar saat menunggu panggilannya diangkat. Ini merupakan kali pertamanya Ia menghubungi Rendra duluan, biasanya s'lalu Rendra yang berinisiatif menghubunginya lebih dulu.


Tut... tut... tut..!


Tut... tut... tut...!


Dalia mencoba menghubungi Rendra hingga tiga kali, namun tak juga mendapatkan jawaban. Akhirnya Dalia memilih memutus panggilan itu dan melemparkan ponselnya ke sembarang arah.


" Kemana sih! Kok gak diangkat? " Decak Dalia kesal.


" Jangan-jangan Dia sedang bersama Kalina? " Ucapnya lagi sambil memasang wajah yang cemburu.


" Ah, mikir apa sih aku ini! Itu tidak mungkin, aku bisa lihat ekspresi tidak sukanya Rendra pada Kalina. " Dalia berspekulasi sendiri.


" Dalia! " Tiba-tiba terdengar suara Raymon yang datang menghampirinya.


" Ada apa Ray? " Tanya Dalia cuek.


" Bisa kita bicara sebentar? " Kening Dalia mengkerut mendengar permintaan itu.


" Kau ingin bicara apa? " Tanya Dalia balik.

__ADS_1


" Sebaiknya kita bicarakan ini diluar. "


" Ok, baiklah. "


Raymon dan Daliapun akhirnya duduk di teras rumah dan membiarkan Shenzi bermain sendirian di ruang tamu.


" Mau bicara apa? Bicaralah! " Celetuk Dalia seakan tak ingin berlama-lama duduk di samping Raymon.


" Dalia, aku tau kau masih marah padaku. Aku memang salah, maka maafkanlah aku." Ucap Raymon mulai membuka pembicaraan.


" Berapa kali aku harus bilang padamu, aku sudah memaafkanmu. Jadi tolong jangan bahas masa lalu lagi. "


" Kalau begitu, apa aku masih punya kesematan? "


" Untuk...?" Tanya Dalia bingung.


" Untuk bisa bersamamu lagi. " Jawab Raymon tak ingin berbasa-basi lagi.


Dalia mendadak mengalihkan pandangannya dan memilih menghadap ke arah depan. Ia tidak habis fikir kenapa Raymon masih bisa mengharapkannya kembali.


" Aku tidak mengerti dengan perkataanmu barusan. Ini sudah terlalu malam, sebaiknya kau pulang! " Tegas Dalia.


" Dalia, beri aku kesempatan kedua! Beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku di masa lalu! Pikirkan anak kita, pikirkan Shenzi, Dia membutuhkan figur seorang Ayah. "


" Orang lain? Rendra yang kau maksud? Dia tidak akan pernah bisa menggantikan sosokku di dalam hatinya Shenzi. Aku ini Ayah kandung Shenzi, aku Ayah biologisnya! Jadi, aku memiliki ikatan bathin yang lebih kuat dari pada pria asing itu."


" Cukup! Cukup kau bilang Rendra sebagai pria asing! Jauh sebelum kau datang di kehidupan kami, Rendra sudah lebih dulu mengisi kekosongan dan kehampaan hatiku dan hatinya Shenzi. Dan sekarang kau tiba-tiba datang dan ingin mengakui tempat itu? Tidak semudah itu Ray! Kau lah orang asing di sini! " Jelas Dalia dengan penuh penekanan, hingga membuat Raymon merasa bersalah.


" Maaf Dalia, maafkan aku! Aku tidak bermaksud bicara seperti itu. Aku meminta hal ini karena aku hanya ingin mengabulkan permintaan Shenzi. Dia ingin kita bisa hidup bersama-sama lagi. Aku pikir itu lebih baik, aku akan punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku dan membuatmu bahagia, Dalia. " Ucap Raymon menunduk lemah.


Dalia hanya diam dan tak merespon apa-apa.


" Baiklah kalau begitu, aku permisi! Pikirkan lagi, ini demi Shenzi, anak kita. " Ucap Raymon lagi sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan rumah Dalia.


Dalia masih saja berdiri mematung dan tak berpindah dari tempatnya berdiri. Hatinya benar-benar dilanda dilema besar. Di satu sisi Ia mencintai Rendra, namun di sisi lain Ia memikirkan permintaan yang sama , anaknya lontarkan padanya.


" Ibu! " Sahut Shenzi yang menyadarkan lamunan Dalia.


" Iya, sayang! " Balas Dalia sambil mendekat ke arah anaknya.


" Ayah mana, bu? " Tanya gadis kecil itu.


" Emm... Ayah kamu sudah pulang. " Jawab Dalia singkat.


" Yah, bentar banget Ayah ke sini! Coba aja Ayah tinggal bersama kita, tentu Ayah tidak perlu pergi-pergi lagi dari rumah ini ." Ucap Shenzi begitu polosnya.

__ADS_1


Ada sesuatu yang begitu menusuk ke relung hati Dalia akan perkataan polos anaknya tersebut. Namun, Ia berusaha untuk tetap menampilkan senyum indahnya di depan anak semata wayangnya itu.


" Ya udah, besok lagi ketemu sama Ayah! Sekarang waktunya Shenzi tidur. " Ucap Dalia sambil mengajak anaknya masuk ke dalam rumah dan mengunci rapat pintu rumahnya.


****


Waktu menunjukkan tepat pukul 00.00 wib. Namun, mata Dalia enggan juga terpejam. Tiba-tiba Ia teringat akan ponselnya yang Ia lempar ke sembarang arah tadi. Dalia lalu pergi mencari benda pipih itu dan kemudian kembali lagi ke kamarnya.


Dalia kemudian membuka layar ponselnya dan sontak saja Ia terkesiap saat melihat ada 25 panggilan tak terjawab dari Rendra. Ia baru ingat kalau Ia hanya menggunakan mode getar, itu sebabnya Ia tidak tau kalau Rendra sudah memanggil sebanyak itu.


" Aduh! Rendra pasti akan marah dan berfikir yang tidak-tidak padaku! " Ucapnya cemas.


" Ah sudahlah! Besok saja aku jelaskan padanya. " Dalia lalu menyimpan ponselnya di atas nakas dan kembali merebahkan tubuhnya di samping Shenzi, anaknya.


Belum juga terlelap, lagi-lagi Dalia harus mendengar suara rintihan anaknya yang mengigau dan itu sungguh membuat hatinya begitu terenyuh.


" Ayah! " Ucap Shenzi mengigau.


" Jangan pergi Ayah! Jangan tinggalkan Shenzi lagi! " Lanjutnya.


" Ayah....! Hikss.. hikss.. hikss...! "


Dalia termangu mendengar perkataan anaknya tersebut. Ia hanya bisa menenangkan anaknya yang sedang mengigau itu, tanpa berbicara sepatah katapun.


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Jangan lupa like, vote, dan komennya yah..


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2