Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Meninjau Proyek


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Hari-hari Dalia lewati dengan berusaha bersikap seperti biasanya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara Dia dan Rendra. Walaupun sejujurnya, Ia merasa sangat malas kalau harus selalu bertatapan wajah dengan bos arrogannya itu.


Tak ada yang berubah, Dalia tetap istirahat bersama dan di antar jemput oleh ajudannya Rendra. Tak apalah baginya, yang penting setelah peninjauan proyek itu selesai, Dia bisa pergi dari kantor itu dengan tenang.


Hingga tibalah hari yang di nanti pun tiba, yaitu hari dimana keberangkatan rombongan dari Federick Corporation yang terdiri dari Rendra, Rio, Dalia, Faizan, dan juga Lily untuk meninjau proyek besar tersebut.


Mereka pergi menggunakan dua buah mobil, dimana Rendra, Dalia, dan Rio berada di salah satu mobil yang di sopiri Imran. Sedangakan Faizan dan Lily berada di salah satu mobil lainnya lagi dengan dua orang anak buah Rendra yang lain. Rencananya, mereka akan menginap selama tiga hari di sebuah Villa mewah milik keluarga Federick yang ada di puncak, Bogor. Sebelumnya, Dalia sudah lebih dulu menitipkan anaknya kepada Bu Retno selaku pengasuh Shenzi selama ini.


Di dalam mobil, sesekali Rendra melirik ke arah Dalia yang kebetulan berada di sampingnya. Sedangkan Dalia lebih memilih menatap ke arah luar jendela dari pada harus menatap wajah bos menyebalkannya itu.


Kenapa Dia selalu menatap ke arah luar, sungguh tidak sopan.


Gumam Rendra mulai kesal.


Hanya hening yang tercipta di antara mereka sebelum akhirnya Rendra mengakhiri keheningan itu.


" Rio, apa kau sudah menyiapkan semua keperluan kita selama di sana? " Tanya Rendra.


" Sudah, tuan. "


" Bagus! "


" Dan kau Dalia, apa semua contoh spec bangunan sudah kau bawa? " Lanjut Rendra lagi yang kali ini menatap ke arah Dalia.


" Sudah, tuan. " Dalia menjawabnya dengan mata yang masih tertuju ke arah luar jendela.


" Sungguh tidak sopan, kalau di ajak bicara itu melihat ke lawan bicaranya bukan malah melihat ke arah luar jendela! " Decak Rendra kesal karena di acuhkan.


" Maaf tuan! Tapi setau saya, aturan dalam catatan kerja saya, saya tidak boleh menatap mata tuan Rendra saat berbicara. " Jawab Dalia santai.


Rendra memang paling benci kalau ada anak buahnya yang berani menatap matanya saat berbicara. Baginya, anak buahnya harus menundukkan pandangannya ketika berbicara dengan dirinya.


" Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku! " Rendra mulai tak bisa mengontrol emosinya.


" Maaf tuan Rendra, bukannya saya membela Dalia, tapi yang di katakan Dalia itu memang ada benarnya. Semua karyawan di larang menatap mata tuan Rendra saat berbicara." Ucap Rio menyela karena merasa keadaan di belakangnya mulai terasa panas.


" Cih! " Decak Rendra.


" Kalau begitu, buat aturan baru untuknya sekarang juga! Aku ingin Dia menatapku kalau sedang berbicara! " Titah Rendra.


Apa? Sebenarnya apa yang di inginkan bos menyebalkan ini padaku?


Gerutu Dalia dalam hati yang mulai kesal karena semudah itu Rendra membuat dan mengubah aturan kerjanya.


" Baik, tuan! " Jawab Rio.


" Dalia, mulai sekarang kau harus menatap mata tuan Rendra saat berbicara, aturan baru ini akan aku masukkan ke dalam catatan kerjamu nanti. " Lanjut Rio lagi sambil mengedipkan mata ke arah Dalia. Entah apa maksudnya.


Dalia pun menatap ke arah Rio dengan sorotan mata tajamnya. Ia sungguh benci dengan aturan yang selalu di buat seenaknya seperti ini.


Aturan apa lagi ini?


Dalia bertanya dalam hatinya kepada Rio.


Maaf, Dalia.


Jawab Rio dalam hatinya.


Sungguh menyebalkan!


Gerutu Dalia lagi.


" Rio! Kenapa kau malah memainkan mata kepada Dalia? Apa kau sudah bosan melihat? Jangan sampai aku buat aturan untukmu juga! " Bentak Rendra yang merasa sangat kesal saat melihat Rio mengedipkan matanya ke arah Dalia.


" Maaf, tuan! Mataku ke..kelilipan. " Jawab Rio terbata.


Dalia mengulum senyumnya.


" Kau juga! Kenapa kau diam saja? Kau dengar tidak apa yang di katakan Rio! " Bentak Rendra yang kali ini Ia arahkan kepada Dalia.

__ADS_1


Tampak raut wajah kesal dari Rendra.


" Sa.. saya dengar, tuan! Mulai detik ini saya akan menatap mata anda setiap berbicara dengan Anda! " Tegas Dalia sambil menatap tajam ke arah Rendra.


Rendra juga membalas tatapan Dalia tak kalah tajamnya, tatapan mereka saling menghunus, seakan berperang dalam hati mereka masing-masing.


Apa yang kau inginkan dari ku, bos menyebalkan?


Aku benci kau mengacuhkanku, tapi aku juga tidak sanggup menatapmu. Aarrgghh!


****


Tidak berapa lama kemudian, mobil rombongan dari Federick Corporation tiba di lokasi villa yang akan mereka tempati selama di Puncak, Bogor.


Mereka kemudian turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam villa. Kedatangan mereka di sambut oleh penjaga villa yang bernama Pak Aryo dan Ibu Ani. Keduanya merupakan pasangan suami istri yang bertugas menjaga villa itu sejak dulu sewaktu tuan Davian Federick masih hidup.


Terdapat lima buah bilik kamar dalam villa tersebut. Dalia dan Lily menempati kamar yang sama, begitu juga dengan Rio dan Faizan. Sedangkan Rendra akan menempati kamarnya sendirian. Sisanya akan di tempati lagi oleh anak buah Rendra.


" Siang ini kita beristirahat dulu di kamar kita masing-masing. Nanti sore baru kita turun ke lokasi proyek 1." Rendra memberi titah sebelum mereka masuk ke kamar mereka masing-masing.


" Siap, tuan! " Jawab mereka kompak.


" Selama di sini, kalian boleh menikmati pandangan alam di sekitar sini, kalian juga boleh memakai kolam renang yang ada di bawah serta fasilitas-fasilitas yang ada di villa ini. "


" Terima kasih, tuan! " Jawab mereka senang, namun tidak dengan Dalia, Ia masih setia dengan wajah datarnya, dan itu sungguh membuat Rendra kesal.


Kenapa wajahnya biasa saja, apa tempat ini tidak menyenangkan? Dasar, wanita matre! kalau aku mau aku bisa membayarmu tidur denganku Dalia. Tapi, sayangnya aku tak berselera dengan wanita seperti itu.


Gumam Rendra dalam hati.


Kenapa tuan Rendra menatap ku seperti itu, apa Dia punya niat buruk? Apa Dia masih berfikir aku ini wanita yang bisa di bayar? Aku benci memikirkan hal ini.


Dalia juga bergumam dalam hatinya saat menyadari Rendra memperhatikannya.


Hening! Rio, Faizan, dan Lily, masih berdiri menunggu titah berikutnya dari Rendra. Namun, mereka harus melihat perang antar mata di antara Rendra dan Dalia. Keduanya seakan tidak menyadari kalau mereka sedang di perhatikan oleh yang lainnya.


" Tuan Rendra. " Ucap Rio menyadarkan Rendra.


" Huh! Kalau begitu, silahkan kalian ke kamar yang sudah di siapkan. Kalau kalian butuh sesuatu kalian bisa memanggil pak Aryo atau ibu Ani yang bertugas di villa ini. " Rendra melanjutkan kata-katanya lagi.


Mereka kemudian bergegas memilih kamar mereka masing-masing. Kamar yang di tempati Dalia dan Lily kebetulan berada tepat di samping kamar Rendra. Sebenarnya Dalia tak ingin memilih kamar itu, namun Lily memaksanya karena bagi Lily, kamar itu cukup luas. Yah, ukuran dari kamar itu cukup luas dengan di dukung pemandangan yang indah, dan mereka dapat menikmati hamparan perbukitan yang hijau dari jendela mereka.


****


Di dalam kamar Dalia dan Lily.


" Nona Dalia, selamat ya? " Ucap Lily kepada Dalia yang terlihat sedang merapikan pakaian yang Ia bawa.


" Selamat? Untuk apa? " Tanya Dalia tidak mengerti.


" Karena nona Dalia satu-satunya sekretaris tuan Rendra yang mampu bertahan hingga sekarang. " Ucap wanita berkaca mata itu sambil tersenyum ke arah Dalia.


" Dan aku juga memenangkan taruhannya! " Lanjut Lily lagi.


" Taruhan? " Ulang Dalia semakin tidak mengerti.


" Iya, taruhan! Aku dan karyawan lainnya melakukan taruhan akan berapa lama nona Dalia bertahan menjadi sekretaris tuan Rendra. Dan aku menang taruhan itu, karena nona Dalia lah satu-satunya sekretaris tuan Rendra yang bertahan selama ini. " Ucap Lily polos.


Dalia termangu.


" Ehm... emang sebelumnya, gak ada yang selama aku apa? "


" Gak ada, nona. Bahkan ada yang cuma tiga hari doank. "


" Kenapa bisa begitu? "


" Entahlah nona, mungkin pekerjaanya kurang bagus, ataupun wanita itu bukan selera tuan Rendra. "


" Selera? " Dalia mengernyitkan keningnya saat mencerna kata itu di fikiran negatifnya.


" Iya, selera! Tuan Rendra itu memiliki selera yang tinggi kalau soal wanita. Bahkan pernah loh ada artis yang di tolak cintanya oleh tuan Rendra. "

__ADS_1


" Artis pernah di tolak cintanya? " Ucap Dalia tidak percaya.


" Iya, kalau gak salah namanya Keryl, Dia salah satu model yang cukup terkenal loh, sering banget dulu datang ke kantor cuma buat caper pada tuan Rendra. Tapi, oleh tuan Rendra malah di acuhkan! Kasian banget artis itu. " Ucap Lily sambil terkekeh.


" Tapi, apa hubungannya selera tuan Rendra dengan sekretarisnya, kan gak ada sangkut pautnya, tuan Rendra kan mencari sekretaris bukan calon istri, atau.......... " Dalia menggantung ucapannya.


" Kok nona Dalia gak paham sih maksud aku. Tuan Rendra itu dalam memilih sekretaris harus enak di pandang mata alias harus cantik di mata tuan Rendra. " Lily mencoba menjelaskan.


" Seperti nona Dalia ini, bahkan menurutku nona Dalia ini wanita paling cantik yang pernah menjadi sekretaris tuan Rendra. " Lanjut Lily lagi.


" Ah, kamu berlebihan, aku gak secantik itu kok! "


" Gini nih, udah cantik gak sombong lagi! Pantas aja tuan Rendra pertahankan! "


What! Pertahankan? Kamu gak tau Lily, aku yang bertahan dari bos arrogan itu, tungga aja tanggal mainnya nanti, aku akan segera lepas dari cengkraman bos menyebalkan itu lagi.


Hening.


" Oh iya, nona Dalia, aku perhatiin tuan Rendra sepertinya menyukai nona Dalia deh? "


Mata Dalia membulat sempurna saat mendengar perkataan Lily barusan.


" Gak mungkin! " Jawab Dalia penuh penekanan.


" Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, nona! Lagi pula aku perhatiin nona Dalia dan tuan Rendra terlihat sangat cocok loh! " Goda Lily.


" Gak, pokoknya gak! "


" Iih... nona Dalia kok jawabnya gitu? Masih banyak loh wanita di luar sana yang berebut ingin mendapatkan tuan Rendra. "


What! berebut? idih... aku sih gak bakal mau ngerebutin lelaki menyebalkan seperti Dia.


" Udah ah, aku mau istirahat. " Dalia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur tepat di samping Lily karena tak ingin meladeni Lily berbicara lagi.


" Hmm..... iya deh, tapi nanti kita sambung lagi yah ngobrolnya. "


" Iya, bobo siang dulu gih, nanti sore kan kita akan pergi ke lokasi proyek 1."


" Siap, nona! "


Huh! Ada-ada aja! Mana mungkin bos arrogan bin sombong itu suka sama aku. Dia sama seperti Abigail yang hanya menginginkan tubuhku saja. Dan aku benci pria seperti itu.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Hai Readers!!


Maaf yah, Author baru sempet Up. Soalnya Author lagi sibuk, jadi gak bisa di paksain buat nulis, takutnya jadi berantakan.


Ini Author kasih 1.600 kata loh..

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan komennya yah, supaya Author semangat!!


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘


__ADS_2