
Setelah dari rumah sakit, Raymon tidak langsung pulang, Ia lebih memilih pergi menuju ke gedung Federick Corporation. Ia kini berniat ingin menemui Rendra, entah apa tujuan sebenarnya Ia melakukan itu.
Tidak butuh waktu lama, kini Raymon sudah menginjakkan kakinya di perusahaan tempat mantan istrinya bekerja tersebut. Tak ingin berlama-lama, Ia lalu menemui salah satu karyawan yang bertugas di bagian lobby.
" Permisi, apa saya bisa bertemu dengan pak Rendra? " Tanya Raymon dengan sopan.
" Apa sebelumnya Anda sudah membuat janji? " Karyawan itu bertanya balik.
" Tidak, tapi katakan saja padanya kalau Raymon ingin bertemu. "
" Maaf pak, kami tidak bisa melayani tamu tuan muda tanpa membuat janji terlebih dahulu, kalau Anda mau silahkan Anda membuat janji terlebih dahulu, tinggalkan saja nomor ponsel Anda, nanti akan dihubungi oleh kami, jika tuan muda kami sudah memiliki waktu untuk bertemu dengan Anda. " Penjelasan panjang lebar karyawan itu membuat Raymon terperangah mendengarnya.
" Serumit itu? Kalau begitu telfon saja sekretarisnya, katakan saja mantan suaminya sedang menunggunya di lobby! " Hanya ide itu yang bisa Raymon pakai untuk bisa bertemu dengan Rendra.
Apa? Pria ini mantan suami nona Dalia? Apa aku tidak salah dengar tadi?
Gumam karyawan tersebut tidak percaya.
" Baiklah pak, sebentar! "
Karyawan itu kemudian menghubungi sekretaris Direktur Utama Federick Corporation, yaitu Dalia.
" Halo! " Jawab Dalia dari balik telfon.
" Halo, nona! Ada seseorang yang mengaku sebagai mantan suami Anda, Dia ingin bertemu dengan Anda di lobby? "
What! Mengaku? Karyawan si**an, aku memang mantan suaminya!
Gumam Raymon tampak kesal.
" Tanyakan Siapa namanya? " Tanya Dalia.
" Raymon, nona! " Jawab karyawan tersebut dengan sedikit rasa takut karena mendapatkan tatapan tajam dari Raymon.
" Kalau begitu, suruh Dia tunggu sebentar, saya akan segera kesana! "
" Baiklah, nona! " Telfon itupun diakhiri.
" Pak Raymon bisa tunggu disana sebentar, Nona Dalia akan segera menemui Anda. "
" Kau masih ragu kalau aku mengaku sebagai mantan suaminya nona Dalia? " Tanya Raymon dengan penuh penekanan.
" Maafkan saya pak! "
" Dasar! "
Raymon lalu beranjak dari tempat itu dan mencari tempat duduk. Belum lama Ia menunggu, dari arah lift terlihat seorang wanita cantik yang tak lain adalah Dalia. Wanita cantik itu kemudian datang menghampirinya.
" Apa yang kau lakukan disini? Tolong jangan membuat masalah di kantor ini, Ray! " Dalia langsung menyerangnya dengan kata-kata seperti itu.
" Cih! Siapa juga yang ingin membuat masalah! Aku kesini ingin menemui Rendra, tapi oleh karyawan si**an itu disuruh membuat janji terlebih dahulu, dan itu sungguh menyebalkan, itu sebabnya aku memintanya untuk menghubungimu saja. "
" Kenapa kau ingin bertemu dengan Rendra? " Tanya Dalia dengan tatapan tajamnya.
" Ini bukan urusanmu, Dalia! Aku hanya ingin bicara empat mata dengan sesama lelaki gentle! " Jawab Raymon santai.
" Apa maksudmu? Jika niatmu hanya untuk menghancurkan hubunganku bersama Rendra, sebaiknya kau pergi saja dari sini! " Dalia tampak tak bisa menahan emosinya lagi.
" Kau mengusirku? " Tanya Raymon dengan tatapan yang dalam.
" Iya, pergi dari sini Ray! Jangan pernah ganggu kebahagiaanku! " Ucap Dalia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Mendengar nada bicara Dalia yang sedikit meninggi, semua karyawan yang berada di lobby tampak memperhatikan mereka. Tanpa terkecuali satpam yang bertugas di tempat itu tampak mulai bersiap-siap jika mendapatkan perintah dari Dalia untuk mengusir pria yang ada di hadapannya saat ini juga.
Melihat hal itu, Raymon kini berusaha membujuk Dalia dengan lembut.
" Dalia, justru karena aku tak ingin merusak kebahagiaanmu, itu sebabnya aku ingin bertemu Rendra. " Ucapnya dengan memelankan suaranya.
" Aku tidak percaya padamu setelah ucapanmu tadi malam yang menginginkan aku kembali padamu !"
" Lupakan kata-kataku tadi malam! Aku sungguh ingin bertemu Rendra, ada hal penting yang harus aku kasih tau ke Dia. "
Dalia tampak diam.
" Dalia, percaya padaku! Ini semua demi kebahagiaanmu! " Ucap Raymon lagi sambil merengkuh bahu Dalia dan menatapnya dalam untuk meyakinkan ucapannya.
__ADS_1
Dalia bisa menatap netra coklat itu dengan jelas. Tidak ada kebohongan di dalamnya.
" Ya sudah, kalau begitu, ikut aku! " Akhirnya Dalia mengizinkan Raymon untuk bertemu dengan Rendra.
Dalia kemudian berjalan menaiki lift yang kemudian diikuti Raymon di belakangnya. Setibanya di depan ruangan Rendra, Dalia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Raymon.
" Kau tunggu di sini! Biarkan aku masuk terlebih dahulu. " Titahnya.
" Ok, baiklah! "
Dalia lalu masuk ke ruangan Direktur Utama tersebut dan meninggalkan Raymon yang masih berdiri mematung di depan pintu ruangan itu. Rio yang kebetulan lewat dibuat terheran-heran akan sosok pria asing yang berdiri di depan ruangan bosnya tersebut. Ia pun langsung bergegas menemui pria itu.
" Permisi, apa yang Anda lakukan di depan ruangan Direktur Utama Federick Corporation? " Tanya Rio dengan penuh selidik karena Dia selalu tau lebih dulu siapapun tamu yang akan bertemu dengan Rendra, namun kali ini Ia tak mengenal pria itu sama sekali.
" Saya hanya ingin bertemu dengan Rendra dan Rendrapun mengenali saya, jadi Anda jangan khawatir." Jawab Raymon santai.
" Anda jangan coba-coba menipu saya! Saya sangat mengenali semua teman-teman tuan Rendra tanpa terkecuali, dan tidak ada Anda dalam kamus saya! "
" Saya tidak bilang pada Anda kalau saya temannya Rendra, bukan? Saya hanya bilang Rendra mengenali saya! "
" Kalau begitu, saya akan pastikan kebenaran perkataan Anda barusan! "
" Ok, silahkan! "
Belum sempat Rio mendekat ke arah pintu, pintu itu sudah terbuka lebih dulu dan memperlihatkan wajah Dalia yang masih tampak datar.
" Eh, pak Rio! " Sahut Dalia.
" Dalia. " Balas Rio dengan keheranan.
" Sekarang kau boleh masuk, Rendra sudah menunggumu di dalam! " Ucap Dalia kemudian sehingga membuat Rio mengurungkan niatnya untuk bertemu Rendra.
" Baiklah, terima kasih Dalia! "
Ketika Raymon lewat didepan Rio, Ia menampilkan senyum mengejeknya kepada Rio. Rio yang melihat itu mendadak kesal, karena ini kali pertamanya Ia benar-benar tidak mengenali siapa pria asing yang berani bertemu dengan tuan mudanya itu.
" Maaf pak Rio, Anda bisa menemui tuan Rendra setelah Dia! " Ucap Dalia yang masih berdiri menunggu Raymon keluar dari ruangan Rendra.
" Emh.. kau mengenali pria itu, Dalia? " Tanya Rio yang masih heran.
" Apa! Dia mantan suamimu? " Ulang Rio lagi ingin memastikan.
" Iya, pak Rio! Dan tuan Rendra pun sudah mengenalinya. " Jawab Dalia masih datar.
Aku kecolongan! Bisa-bisanya aku tidak mengetahui hal ini!
Gumam Rio tampak kesal.
" Lalu, ada perlu apa Dia menemui tuan Rendra? " Tanya Rio lagi.
" Entahlah, aku juga tidak tau! Yang penting Dia mengatakan kalau Dia tak memiliki niat buruk akan hubunganku dengan tuan Rendra. "
" Apa kau yakin padanya? "
" Hmm... entahlah! " Jawab Dalia dengan wajah cemasnya.
" Kita tunggu saja! Semoga apa yang Ia katakan itu benar adanya! "
" Iya, semoga saja! "
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Raymon pun keluar dari ruangan tersebut bersama Rendra. Ia kemudian berpamitan dengan sopan sambil berpelukan layaknya seperti seorang sahabat. Pemandangan itu sungguh membuat Rio dan Dalia terperangah tidak percaya.
" Dalia, aku minta izin padamu untuk membawa Shenzi menginap di rumahku untuk dua malam saja, karena aku ingin mengajaknya jalan-jalan, apa boleh? " Tanya Raymon ketika Ia sudah berada di depan Dalia.
Dalia tampak berfikir.
" Tenang saja, aku tidak ada niat ingin merebutnya darimu! Aku hanya ingin berbicara banyak dengannya sambil mengajaknya bermain. " Lanjut Raymon lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban.
" Ok, baiklah! Kapan kau akan menjemputnya? "
" Malam ini! "
" Akan aku siapkan semuanya! Tapi ingat, kau harus membawanya kembali tepat pada waktunya! " Ucap Dalia dengan tegas.
" Ok baiklah, aku janji! "
__ADS_1
" Ya sudah, sekarang sudah tidak ada keperluan lagi kan? Jadi sekarang kau boleh pergi! "
" Baiklah, saya permisi! " Ucap Raymon kepada ketiga orang yang masih berdiri menatapnya dan mendapatkan anggukan kepala dari Rendra.
Setelah bayangan Raymon sudah menghilang, Rendra lalu memanggil Rio dan mengajaknya masuk ke ruangannya. Namun sebelumnya, Rendra terlebih dulu tersenyum ke arah Dalia. Entah apa maksud dari senyuman itu, yang jelas senyuman itu begitu aneh di mata Dalia.
Kenapa Dia tersenyum seperti itu kepadaku? Emangnya apa yang sudah dikatakan Raymon kepadanya?
Gumam Dalia dengan sejuta tanda tanya.
*****
Malam harinya di kediaman Dalia.
Raymon tampak sudah sudah menunggu di ruang tamu rumah Dalia. Ia masih menunggu Dalia mengemaskan perbekalan anaknya yang akan Ia bawa saat menginap di rumahnya.
" Sudah! Anak ibu sudah cantik sekarang! " Ucap Dalia usai merapikan rambut putri kecilnya.
" Sekarang temui Ayah di depan! " Lanjut Dalia lagi sambil membawa barang anaknya untuk diberikan pada Raymon.
" Ibu tidak ikut bersama kita? " Tanya Shenzi dengan wajah polosnya.
" Ibu kamu harus bekerja sayang! Nanti lain kali kita bisa liburan bersama Ibu dan juga Papa Rendra, ok! " Jawab Raymon mencoba membuat putri kecilnya itu mengerti.
" Baiklah! " Jawab Shenzi sambil tersenyum.
Aku tidak salah dengarkan? Apa yang dikatakan Raymon itu sungguhan?
Gumam Dalia tidak percaya.
Raymon lalu membawa barang-barang Shenzi ke dalam mobil, sedangkan Dalia mengantar Shenzi untuk masuk ke dalam mobil yang digunakan oleh Raymon.
" Shenzi tunggu di mobil dulu yah? " Ucap Raymon dan Shenzi pun menganggukkan kepalanya.
Raymon lalu berjalan mendekat ke arah Dalia yang berdiri di samping mobilnya.
" Dalia, maaf soal yang kemarin! Aku sadar aku terlalu egois untuk mengharapkanmu kembali! Dan soal Shenzi, aku akan bantu untuk membuatnya mengerti akan hubungan yang rumit ini! " Ucapnya.
" Terima kasih Ray! " Balas Dalia dengan mata yang berkaca-kaca.
" Oh iya, aku rasa sudah waktunya kalian meresmikan hubungan kalian ke jenjang pernikahan! Aku akan jadi keluarga dari pihak mempelai wanitanya. Jangan membuat Rendra menunggu terlalu lama! " Ucap Raymon lagi sambil menyelipkan anak rambut Dalia yang jatuh di pipi.
Perlakuan manis itu memang sering Dalia dapatkan sewaktu Raymon masih menjadi suaminya. Dan setelah bersama Rendra, Ia kembali mendapatkan perlakuan manis yang sama. Sungguh hal itu membuatnya merasa nyaman sekaligus dilema.Tapi, kini perasaan itu sudah Ia buang jauh-jauh. Ia hanya ingin mencintai satu pria saja, dan pria itu adalah Rendra.
Dengan perasaan haru yang menggebu, air mata yang mulai jatuh, tanpa fikir panjang, Dalia langsung memeluk pria yang pernah menjadi suaminya itu dan memeluknya erat hingga Raymon pun tak kuasa untuk menolak pelukan yang amat Ia rindukan itu.
" Terima kasih banyak, Ray! Terima kasih! " Ucap Dalia begitu terharu.
" Kau pantas bahagia, Dalia! " Balas Raymon sambil menahan perasaannya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers!!
Kiss jauh dari Author.... 😘😘😘
__ADS_1