Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Satu Sendok Untuk Berdua


__ADS_3

Setelah kejadian di toilet, Rendra kemudian menyuruh Rio kembali ke kantor lebih dulu, sedangkan Ia dan Dalia menaiki mobil miliknya yang lain setelah menghubungi anak buahnya untuk menjemput mereka, kali ini Rendra membawa pengawal dalam mobil yang satunya lagi untuk membuntuti mereka dari belakang. Rendra melakukan hal itu bukan tanpa alasan, Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Dalia.


" Kita ke kantor polisi sekarang !" Titah Rendra kepada sopirnya yang kebetulan saat ini mereka sudah meninggalkan gedung Adiyaksa Group.


" Untuk apa, tuan? " Tanya Dalia menyela.


" Untuk melaporkan kejadian ini, apa lagi! "


" Tapi, saya baik-baik saja, tuan. "


" Baik-baik saja bagaimana? Jelas-jelas si brengsek itu hampir melecehkanmu! Bahkan hal yang Dia lakukan sudah termasuk pelecehan verbal. " Emosi Rendra mulai meledak saat mengingat kembali kejadian tadi.


" Jangan di laporkan, tuan! Setidaknya saya baik-baik saja saat ini. "


" Jangan membantah! " Bentak Rendra karena emosi tapi tidak membuat Dalia takut.


" Tapi tuan, fikirkan proyek anda. Jika tuan melaporkan kejadian ini, maka semua proyek impian yang sudah tuan Rendra impi-impikan s'lama ini akan berakhir dengan sia-sia. Saya tidak ingin hal itu sampai terjadi. " Ucapan Dalia cukup membuat Rendra berfikir.


Dalia, bisa-bisanya kau masih memikirkanku.


Gumam Rendra dalam hati.


" Tapi, aku memikirkanmu Dalia! Aku khawatir Dia masih nekat ingin mencelakaimu. " Ucap Rendra sambil menatap manik mata milik Dalia.


" Jangan fikirkan saya, tuan. Saya akan baik-baik saja, percayalah! " Dalia membalas tatapan mata itu mencoba meyakinkan Rendra bahwa dirinya akan baik-baik saja.


Bagaimana caranya aku bisa berhenti memikirkanmu, Dalia? Sedangkan wajahmu selalu menghiasi isi kepalaku.


Dalia memberanikan diri memberikan sentuhan hangat di punggung tangan Rendra dengan kesadarannya, untuk membuat Rendra yakin akan dirinya yang baik-baik saja.


" Tuan Rendra, terima kasih banyak atas semuanya! Percayalah, saya akan baik-baik saja! " Ucapnya sambil menatap dalam manik mata Rendra.


" Baiklah, tapi ada syaratnya! " Jawab Rendra sambil menaikkan alisnya.


" Apa itu?"


" Mulai besok, kau akan di antar jemput oleh pengawal pribadiku! " Titah Rendra.


" Tapi, tuan.......? " Ucapan Dalia terhenti saat jari telunjuk Rendra menyentuh bibirnya.


Deg!


Jantung Dalia seakan berhenti berdetak saat itu juga. Bagaimana tidak, tangannya yang hanya menyentuh punggung tangan Rendra, kini berbalik arah, di mana tangan Rendra langsung membalas sentuhan hangat itu dengan menggenggam erat tangan Dalia. Juga, Ia gunakan jari telunjuk tangan satunya lagi untuk menyentuh bibir Dalia.


" Sssssttttt! Aku tidak terima penolakan! " Rendra menekan kata-katanya sebagai tanda perintah.


Dalia membeku dan tak bisa berkata-kata apa lagi. Sadar akan jarinya yang telah lancang, Rendra mendadak mati kutu akan tatapan Dalia yang membeku tersebut. Perlahan-lahan Ia menjauhkan jari tangannya itu menjauhi bibir Dalia. Juga, melepas genggaman tangannya.


Rendra menelan salivanya, mana kala saat matanya berpindah menatap bibir merah Dalia yang tampak seperti buah ceri itu. Ingin rasanya Ia mencumbu bibir itu, tapi itu tidak mungkin. Timbul pula rasa tidak rela di dalam hatinya, mana kala ada lelaki lain yang bisa menyentuh bibir itu selain dirinya. Padahal Ia tahu betul, Dalia seorang janda, tentu saja bibir itu pernah tersentuh, namun ke egoan mengalahkan akal sehatnya.


****


Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam membisu. Entah itu karena efek jantung yang sama-sama bermarathon atau karena hati yang sama-sama membeku hingga menjadi kaku bagi keduanya untuk memulai pembicaraan.


" Dalia, apa kau ingin makan sesuatu? " Rendra kemudian memecah keheningan di antara keduanya.


" Hmm... tidak tuan, terima kasih! " Dalia menolak dengan halus.


" Ayolah, ini perintah! " Ucap Rendra sedikit memaksa.


Kenapa tuan Rendra suka sekali memaksa.


Gumam Dalia sedikit kesal.


" Ayolah Dalia, kamu yang menentukan tempatnya. Mobil ini akan berhenti sesuai tempat yang kamu mau! " Lanjut Rendra lagi.


Dalia seakan tak memiliki pilihan lain selain hanya mengiyakan saja.


" Baiklah tuan, kalau begitu kita ke salah satu taman yang tidak jauh dari jalan ini. Kalau gak salah, di dekat sini terdapat taman."

__ADS_1


" Ok! Imran, hentikan mobil ini di taman yang Dalia maksud. " Rendra langsung gerak cepat memerintahkan anak buahnya yang bernama Imran itu.


" Baik, tuan! "


****


Dan kini tibalah mereka di salah satu taman indah yang terdapat di Jakarta. Rendra dan Dalia kemudian turun dari mobil dan langsung berjalan memasuki area taman tersebut.


Dalia kemudian melihat sebuah gerobak mamang rujak, dan Ia pun berinisiatif untuk mengajak Rendra duduk di salah satu tempat duduk yang tidak jauh dari mamang rujak berada. Tidak lupa, pengawal Rendra memantau mereka dari jarak yang tidak terlalu dekat dengan mereka.


" Tuan Rendra, saya mau makan rujak mamang itu, apa tuan mau juga? " Tanya Dalia.


" Tidak, terima kasih Dalia! Buat kamu saja! "


" Hmm.. baiklah. "


Dalia lalu membeli dua bungkus rujak yang satunya pedas dan yang satunya lagi tidak memakai cabai sama sekali. Ia melakukan itu, takut kalau-kalau Rendra tiba-tiba menginginkan rujak juga ketika melihat Dalia sedang memakan rujaknya.


" Makan yang banyak, biar cepat gemuk! " Ucap Rendra yang melihat Dalia sedang memakan rujak kesukaannya.


" Jangan sampai deh, tuan Rendra! Saya takut gemuk! " Jawab Dalia.


" Ha.. ha.. ha.. ha..! Aku heran, kenapa semua wanita seperti takut akan gemuk? "


" Karena kebanyakan wanita takut di tinggalkan suaminya gara-gara bentuk tubuh yang sudah tidak ideal lagi. "


" Tapi, aku bukan tipe lelaki seperti itu. " Ucap Rendra hingga membuat Dalia menoleh melihat ke arahnya.


" Aku akan mencintai wanita itu tulus, setulus aku menerima semua kekurangan dan kelebihannya. " Lanjut Rendra lagi seakan Ia menujukan kata-kata itu untuk Dalia.


Hening.


Dalia berhenti mengunyah rujaknya. Karena tatapan yang mengunci satu sama lain.


Cekrek!


" Bagus sekali! Kalian sungguh pasangan yang sangat serasi! " Ucap tukang fotografer jalanan itu sambil menyerahkan hasil jepretannya yang langsung jadi itu.


Rendra dan Dalia langsung menerima hasil jepretan itu dengan wajah bingung mereka.


" Ambil saja! Gratis untuk pasangan serasi seperti kalian! " Ucap fotografer itu sambil berlalu meninggalkan dua orang yang sedang bingung tersebut.


" Dalia, kau ingin menyimpan foto ini? " Tanya Rendra.


" Tuan Rendra saja yang menyimpannya kalau mau! "


" Tidak bisa begitu, itu tidak adil. "


" Gak apa-apa, tuan! Biar tuan saja kalau tuan mau. "


" Begini saja biar adil! Aku akan sobek foto ini menjadi dua bagian! " Ucap Rendra sambil merobek foto itu menjadi dua.


" Yang ini untukmu, dan yang ini aku yang simpan. " Lanjut Rendra lagi sambil menyerahkan foto dirinya untuk Dalia, sedangkan Ia menyimpan foto Dalia untuk dirinya.


" Adilkan? " Tanya Rendra lagi.


" Iya, adil tuan! Saya akan menyimpan foto ini dengan baik. " Jawab Dalia sambil memasukkan foto Rendra ke dalam tasnya. Begitupun Rendra juga memasukkan foto Dalia ke dalam saku kemejanya.


Dalia kemudian kembali melanjutkan makan rujaknya yang sempat terhenti tadi.


" Tuan Rendra mau? " Tanya Dalia di tengah makannya.


" Ini enak loh, dan juga sehat! " Lanjut Dalia lagi.


" Tidak, kamu saja yang makan! " Tolak Rendra halus.


Rendra memang tidak pernah makan jajanan di luar. Sedari kecil, asupan makanan yang Ia makan sudah di atur sedemikian rupa oleh koki khusus yang memasak makanan untuknya.


" Sayang banget, padahal ini enak banget loh, tuan? " Ucap Dalia mencoba memancing Rendra.

__ADS_1


Rendra menelan salivanya saat melihat Dalia menyantap olahan buah segar itu dengan lahap.


" Gimana, kalau tuan Rendra coba sedikit saja, biar aku yang suapin! Aku pilihkan yang gak pakai cabai. " Mendengar Dalia berkata akan menyuapinya, Rendra pun langsung menuruti perintah Dalia.


" Aaaaa....... buka mulutnya? " Lanjut Dalia lagi sambil menyodorkan sesendok rujak tanpa cabai yang Ia sempat beli tadi.


" Emmm.... enakkan? " Tanya Dalia saat melihat Rendra mulai mengunyah rujaknya.


" Enak juga. " Jawab Rendra sambil tersenyum.


" Kalau gitu ini untuk tuan Rendra! Aku memang sengaja membelikan yang ini tanpa cabai, khusus untuk tuan Rendra. " Dalia menyerahkan sebungkus rujak tanpa cabai kepada Rendra.


" Gak mau makan sendiri, maunya di suapin! " Ucap Rendra enteng dengan wajah polos tanpa dosa.


Deg!


Tanpa sadar Dalia menjatuhkan sendoknya ke tanah karena terkejut mendengar kata-kata manja Rendra barusan.


" Dalia, kenapa bengong? Ayo, suapin aku! " Lanjut Rendra lagi sambil mendekatkan mulutnya ke arah Dalia.


" Sendoknya jatuh. "


" Pakai sendok kamu aja, satu sendok untuk berdua. " Ucap Rendra santai tapi cukup membuat Dalia terperangah mendengarnya.


" Ayo, tunggu apa lagi, aku jadi lapar! " Lanjut Rendra lagi.


" Baiklah, tuan! " Dalia lalu menggunakan sendoknya untuk menyuapi Rendra.


" Emm... enak sekali! Kalau gitu, sekarang gantian, giliranku yang akan menyuapi kamu lagi. " Rendra lalu mengambil alih sendok dari tangan Dalia dan mulai menyendok rujak pedas untuk Dalia.


" Aaaaa.... buka mulutnya!" Titah Rendra dan Daliapun menurutinya.


" Emm.... bagus! Anak pinter! " Ucap Rendra seolah-olah sedang menyuapi seorang anak kecil.


Mereka terus melakukan itu secara bergantian. " Satu sendok untuk berdua " slogan yang akan selalu terngiang-ngiang dalam ingatan Dalia yang tidak akan pernah Ia lupa. Moment-moment manis yang terjadi di antara mereka, seakan terjadi begitu saja secara natural dan mengalir seperti air.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Segitu dulu ya guys!!


Jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers..


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2