
" Dalia...?" Sahut Rendra lagi.
" Iya. " Jawab Dalia sambil menoleh ke arahnya.
" Jika aku mengajakmu untuk menjalin hubungan serius denganku, apa kau mau? " Tanya Rendra dengan tatapan penuh harap dan cukup membuat Dalia terperangah mendengarnya.
" Emb... a.. aku... aku hanya wanita biasa, sungguh tidak pantas jika harus memiliki hubungan dengan orang kaya seperti Anda. "
" Aku tidak perduli! Perbedaan kasta bukan masalah bagiku. Aku mencintaimu Dalia, aku sudah jatuh hati padamu sejak pertama kali kau menginjakkan kakimu di kantor ku dan kau mengisi hari - hariku dengan penuh warna. Yah, walaupun aku sempat melakukan kesalahan besar padamu, tapi itu semua karena kebodohanku. "
Rendra kemudian memegang kedua tangan Dalia dan menatap netra hitam itu dalam-dalam.
" Aku mencintaimu, Dalia. Percaya padaku, izinkan aku membahagiakanmu juga anakmu. " Lanjut Rendra lagi dengan penuh harap.
Dalia tampak syok akan semua itu, Ia berusaha mencerna dengan baik setiap kata-kata cinta yang keluar dari bibir Rendra tersebut.
" Apa ini tidak terlalu cepat? " Ucap Dalia.
" Bagiku tidak, kita udah saling mengenal satu sama lain, bukan? "
" Tapi, itu hanya sebatas atasan dan bawahan saja. Anda tidak mengenaliku sepenuhnya, tuan. "
" Kalau begitu, kita rubah hubungan itu menjadi hubungan antara sepasang kekasih, agar aku lebih mudah untuk mengenalimu. " Jawab Rendra enteng hingga membuat Dalia terkekeh mendengarnya.
" Bukan begitu caranya tuan Rendra. " Ucap Dalia sambil tersenyum.
" Lalu, bagaimana? "
" Kita dua orang dewasa yang sama-sama pernah gagal dalam pernikahannya. Memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih tidaklah semudah itu, kita bukan lagi anak remaja yang ketika mereka jatuh cinta, lalu mereka memutuskan untuk berpacaran, ketika punya masalah sedikit, dengan mudahnya mereka mengakhiri hubungan mereka. Dan Aku tidak ingin seperti itu, tuan Rendra. " Kini giliran Dalia yang memegang tangan Rendra.
" Aku hanya ingin kita dekat dan saling mengenali sifat dan karakter kita masing-masing, dan jika Tuhan mentakdirkan kita bersama tentu aku mau bukan hanya sekedar menjadi kekasihmu saja, tapi juga bersedia untuk menjadi istrimu, tuan Rendra. " Lanjut Dalia lagi sambil menatap netra hitam milik Rendra.
Kata-kata bijak itu keluar begitu saja dari bibir Dalia, hingga membuat senyum Rendra mengembang dengan sempurna.
" Ok, baiklah! Tapi dengan syarat, kau jangan memanggilku dengan sebutan " Tuan " lagi, cukup panggil aku Rendra. "
" Bagaimana bisa? "
" Pasti bisa! "
" Aku merasa itu sungguh tidak sopan. "
" Kalau begitu panggil aku sayang. "
" Yang benar saja ?" Dalia terkekeh.
" Benar donk, sayang...! " Rayu Rendra.
" Dasar, belum apa-apa juga, udah gombal. "
" Biarin, kan yang aku gombalin, kamu. "
" Hanya buaya yang tukang gombal. "
" Tapi, aku bukan buaya! "
" Lalu, apa? "
" Macan, banyak yang bilang aku begitu. "
" Ha.. ha.. ha.. ha..! Iya benar, kamu memang macan, apalagi kalau lagi marah, persis! "
" Kalau aku macan jantan, kamu macan betinanya. "
" Kok gitu? "
" Iya karena....... sama galaknya... "
" Ha.. ha.. ha.. ha.. ha..! "
Suara riuh tawa mereka berdua terdengar hingga ke telinga Molly dan Rio.
" Sepertinya berhasil. " Ucap Molly.
" Apanya yang berhasil? " Tanya Rio yang tidak mengerti.
" Sini aku bisikin! "
Rio lalu mendekatkan daun telinganya.
" Mereka jadian. " Bisik Molly.
" Ah, yang bener kamu? "
" Gak percaya? Kita lihat saja nanti! "
Benarkah tuan Rendra dan Dalia sudah jadian? Rio bertanya didalam hati.
" Molly, tunggu! " Sahut Rio yang menghampiri Molly dan Shenzi yang sudah berjalan paling depan.
" Kenapa aku harus menunggumu? " Tanya Molly dengan wajah datarnya.
__ADS_1
" Karena aku takdirmu. " Jawab Rio santai.
" What!! Jangan ngimpi deh! "
" Tunggu dulu, Molly. "
" Apa lagi? "
" Kalau mereka berdua sudah jadian, bagaimana dengan nasib kita? " Tanya Rio sambil tersenyum penuh arti.
" Nasib kita? Nasib Loe aja kali yang ngeness! "
" Tega banget. "
" Yah, habisnya maksud Loe apa ngomong begitu? "
" Maksud gue, apa gak sebaiknya kita juga................ ?"
" Juga apa? "
" Juga jadian seperti mereka? " Rio mengedip-ngedipkan matanya.
" Ngimpi! Nih, mending bawain boneka Shenzi! " Ucap Molly sambil memberikan boneka beruang besar itu ke tangan Rio.
" Menyebalkan! " Lanjut Molly lagi.
Molly, kau terlihat semakin cantik kalau sedang kesal begitu.
Gumam Rio sambil tersenyum.
****
" Ibu....! Om ganteng..! " Teriak Shenzi yang menghampir Dalia dan Rendra.
" Shenzi! " Sambut Dalia.
" Shenzi, duduk sini! " Rendra menyuruh Shenzi duduk ditengah-tengah antara dirinya dan Dalia.
" Molly, fotokan kami bertiga! " Lanjut Rendra lagi yang kali ini memerintahkan Molly untuk mengabadikan foto mereka.
" Ok! Siap-siap yah, satu... dua.. tiga..! " Molly langsung mengambil foto mereka.
" Owh... seperti keluarga sungguhan! " Lanjut Molly lagi.
" Liat tante! " Shenzi ingin melihat hasil jepretan Molly.
" Ini sayang, sungguh sempurna! " Molly kemudian memperlihatkan hasil jepretannya itu kepada Shenzi.
Kata-kata polos gadis kecil itu sungguh membuat siapapun yang mendengarnya akan terharu.
" Kalau begitu, Shenzi boleh panggil Om ganteng dengan sebutan Papa. " Ucap Rendra sambil membelai rambut hitam gadis kecil itu.
" Benarkah Itu, Om? "
" Iya, sayang...! Tentu saja benar, mulai sekarang kamu harus panggil Om dengan sebutan papa. "
" Rendra? " Sela Dalia.
" Gak apa-apa Dalia, aku sama sekali tidak keberatan. "
" Jadi, gimana? Kamu mau panggil Om dengan sebutan papa? " Rendra lanjut bertanya pada Shenzi.
" Mau, Om.. eh.. papa! "
" Lucu banget sih, anak papa! Sini peluk papa dulu! " Rendra merentangkan tangannya dan disambut langsung oleh Shenzi.
" Aku akan menyayanginya seperti anakku sendiri, Dalia. " Ucap Rendra kepada Dalia.
Tanpa terasa air mata Dalia jatuh di pelupuk matanya. Ia mengusap pelan air mata bahagia itu dengan tangannya, sambil berkata.
" Terima kasih, Rendra. " Ucapnya sambil tersenyum.
" Papa peluk ibu juga donk! " Pinta anak kecil itu tiba-tiba.
Sontak Dalia dan Rendra saling beradu pandang, sedangkan Molly dan Rio mengulum senyum mereka mendengar perkataan anak kecil tersebut.
" Dalia. " Panggil Rendra.
Dalia pun langsung mendekat dan memberikan pelukan hangatnya untuk Shenzi dan Rendra. Mereka bertiga berpelukan layaknya sebuah keluarga kecil yang saling menyayangi satu sama lain.
" Owh... so sweet..! " Molly kembali mengambil foto mereka bertiga.
" Rio, aku begitu terharu!" Ucapnya sambil mengusap air mata harunya.
" Aku juga! Mereka memang pasangan serasi. " Jawab Rio sambil memeluk erat boneka beruang besar yang ada di tangannya.
****
" Ya udah, sepertinya kita semua sudah lapar! Ayo kita cari restaurant terdekat. " Ajak Rendra setelah pelukan mereka terlepas.
" Ayo! " Jawab mereka kompak.
__ADS_1
Mereka berlimapun langsung meninggalkan taman hiburan tersebut menuju restaurant yang tak jauh dari tempat tersebut.
****
Setibanya di restaurant, mereka berlima kemudian duduk di sebuah meja yang sudah di sediakan. Seorang pelayan tampak datang membawakan menu makanan untuk mereka.
Tidak butuh waktu lama, menu yang mereka pesanpun datang dan sudah siap untuk disantap.
" Emm... yummy! " Ucap Shenzi yang tampak sudah tidak sabar.
" Shenzi mau apa? " Tanya Rendra menawarkan menu yang terletak diatas meja.
" Mau ayam goreng, Pa! "
" Sini Papa ambilkan! " Rendra langsung meraih piring Shenzi dan mengambilkannya ayam goreng yang Shenzi maksud.
" Ini, makan yang banyak yah, biar sehat! "
" Siap, papa! "
" Kamu, mau apa? Sini biar giliran aku yang ambilkan untuk kamu! " Giliran Dalia pula yang menawarkan Rendra.
Sontak wajah Rendra menampilkan senyumnya yang mengembang.
" Emb.. mau yang itu! " Jawab Rendra sambil menunjuk salah satu lauk yang tersedia di meja mereka.
" Ok, apa lagi? "
" Yang itu. "
" Ok, masih ada lagi? " Tanya Dalia dan Rendra tampak berfikir.
" Sayur, mau? " Tanya Dalia lagi.
" Boleh. " Rendra tersenyum.
Setelah mengambilkan semua yang dibutuhkan Rendra, Dalia lalu memberikan piring itu kepada Rendra.
" Makan yang banyak, biar sehat! " Ucap Dalia sambil terkekeh menirukan gaya bicara Rendra kepada Shenzi tadi.
" Siap, sa.......? " Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Dalia sudah membulatkan matanya dengan penuh ancaman.
" Siap, Dalia. " Lanjut Rendra lagi yang gagal memanggil Dalia dengan sebutan sayang.
Tanpa mereka sadari, terdapat dua orang jomblo yang berada didepan mereka saat ini memperhatikan mereka dengan wajah yang menyedihkan.
" Ternyata sudah sejauh itu? " Ucap Rio pelan.
" Yah, mereka membuatku iri. " Sambung Molly.
Rio dan Molly kemudian saling menatap satu sama lain. Pandangan merekapun bertemu.
" Apa kamu mau mengambilkanku lauk juga? " Tanya Rio sambil tersenyum.
Molly pun membalas senyum itu, dan menjawab.
" Ambil sendiri! " Cetus Molly.
" Hmm... kakak dan adik sama saja! Sama-sama menyebalkan. " Gerutu Rio.
" Apa kau bilang?" Molly menajamkan matanya ke arah Rio.
" Eh, tidak, tidak, aku tidak bicara apa-apa. "
" Awas kau! " Molly mengacungkan garpu ke arah Rio dan membuat nyali Rio menciut.
" Galak banget. "
" Tapi, gak apa-apa deh, walaupun galak tetep aja cantik. " Lanjut Rio lagi dengan pelan.
*
*
*
*
*
*
################################
Hmm... sejujurnya kelemahan Author dalam menulis adalah ketika harus menulis kalimat-kalimat romantis. Passionnya Author itu sebenarnya berada di genre Horror dan Mistery.
Tapi, Author pengen keluar dari zona nyaman Author dan mencoba membuat sebuah novel bergenre romantis, yah walaupun Author tau, Author akan kesulitan untuk menulis kata-kata romantis itu. Namun, Author akan berusaha bikin kalian baperr deh, sebisa Author... hehehe... 😁😁😁
Jangan lupa Like, vote, dan komennya yah Readers!!
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘
__ADS_1