Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Dalia Hancur


__ADS_3

Di dalam ruangannya, Rendra mengambil sebucket bunga mawar yang Ia beli tadi pagi, lalu menginjak-nginjaknya. Bahkan Ia juga melepaskan kelopak-kelopak bunga mawar itu dengan kasar menggunakan tangannya sendiri, hingga duri dari bunga mawar itu melukainya.


" Sial! " Umpatnya.


" Kau seperti mawar ini Dalia, cantik tapi berduri. " Lanjut Rendra lagi sambil menghancurkan bunga mawar itu hingga kelopaknya berceceran di lantai.


Rendra menjadi seperti itu bukan tanpa alasan. Ia pernah di khianati istrinya sendiri, bahkan Ia pernah mendapati istrinya bercumbu di depan matanya sendiri. Ingin rasanya Ia membunuh keduanya saat tangan lelaki lain menyentuh tubuh telan**ng istrinya saat itu. Namun, saat itu masih bisa di tahan oleh Rio. Andai saja Rio tidak menahannya, mungkin Kalina yang saat ini sudah menjadi mantan istrinya itu sudah tak dapat melihat dunia lagi. Semenjak kejadian itu, Rendra frustasi dan mengalami trauma berat. Trauma yang membawanya membenci cinta dan membenci wanita.


" Ternyata semua wanita itu sama. Sama-sama murahan! " Ucapnya sambil menggertak meja.


" Dalia.....! Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau buat aku jatuh cinta padamu lalu kau hempaskan semua rasa cinta itu dengan sebegitu hebatnya. "


" Aarrgghh!! " Rendra hilang kendali hingga membuang semua benda yang ada di atas mejanya.


Tangannya kemudian meraih dompet yang terdapat foto Dalia di dalamnya saat Ia berada di taman waktu itu. Ia mengambil foto itu dan ingin menyobeknya. Namun, Rendra tak sanggup melakukannya. Hati kecilnya bicara " Jangan lakukan Rendra " . Akhirnya Ia hanya menatap foto Dalia dengan segenap kekecewaannya.


Ceklek!


Pintupun terbuka dan memperlihatkan tubuh Rendra yang sedang memunggunginya. Dalia kemudian menutup pintu itu kembali dan mulai mendekati Rendra. Dalia terkejut saat melihat ruangan Rendra yang tampak berantakan. Tampak pula kelopak-kelopak bunga mawar yang berserakan di lantai. Ia kemudian berjalan melewati hamparan kelopak bunga mawar yang berserakan di lantai itu untuk lebih lebih dekat dengan Rendra yang masih belum menyadari kehadirannya saat itu.


" Tuan Rendra. " Sahutnya.


Rendra tertegun saat mendengar suara itu. Yah, suara yang selalu Ia rindukan untuk Ia dengar, tapi suara itu pula yang kemudian menjadi suara yang Ia benci untuk di dengar.


" Kau datang di saat yang tepat, Dalia. " Ucap Rendra dengan senyum sarkasnya.


Rendra kemudian menoleh ke arah Dalia dan langsung menghampirinya. Ia lalu meraih dompetnya dan mulai membuka dompetnya di depan mata Dalia. Rendra mengeluarkan lembaran seratus ribuan dalam jumlah yang cukup banyak. Uang-uang itu kemudian Ia lambai-lambaikan di depan wajah Dalia.


" Berapa tarifmu satu malam, Dalia? " Ucapnya yang tiba-tiba itu membuat mata Dalia membulat sempurna saat mendengarnya.


" 1 juta, 10 juta, atau.....100 juta? Berapa? Katakan saja, aku ingin memakai jasamu untuk satu malam. Eh, tidak... tidak, tidak untuk satu malam saja, aku ingin memakai jasamu sepuasnya selama kau bekerja denganku. Ruangan ini memiliki kamar untuk ku beristirahat, aku rasa tidak akan ada yang tau. Aku bisa menambahkan tugas di dalam catatan kerjamu itu untuk melayaniku. Tenang saja, untuk yang satu ini aku akan membayarmu cash, tanpa menunggu gajimu cair. "


Mata Dalia memanas saat mendengar perkataan Rendra yang merendahkan harga dirinya saat itu. Air matanya sudah tidak sabar ingin keluar dari pelupuk matanya saat itu juga. Ia sungguh tidak mengerti kenapa Rendra bisa berbicara seperti itu padanya.


" Kenapa kau diam saja, Dalia? Apa ini kurang? Kau mau lebih? Bilang saja, berapa? Aku berani bayar mahal untuk tubuh indahmu itu!" Lanjut Rendra lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


" Maaf tuan, saya tidak serendah itu! " Tegas Dalia dengan bibir yang bergetar karena menahan air mata yang ingin keluar.


" Cih! Jangan sok jual mahal Dalia! Aku tau semua wanita menginginkan uangku saja! Ambil ini! " Rendra kemudian melempar semua uang yang Ia pegang itu tepat di wajah Dalia, hingga uang itu jatuh berhamburan di lantai.


" Pungut itu, ambil dan bawa pulang! Beritahu aku jika kau sudah siap untuk di pakai? " Lanjut Rendra lagi dengan tatapan penuh amarah.


Air mata Dalia tumpah saat itu juga. Ia menangis terisak meratapi dirinya yang di hina dengan cara seperti itu.


Dalia hancur! hancur sehancur-hancurnya. Selama bertahun-tahun Ia berusaha untuk bangkit dari jurang fitnah yang menghancurkan dirinya, namun hanya dalam hitungan detik, lagi-lagi fitnah itu datang menghancurkannya. Bahkan Ia tidak menyangka bahwa orang yang sudah membuatnya selalu tersenyum, orang itu pula yang membuatnya hancur saat ini.


Lutut Dalia lemah dan tak mampu lagi menopang berat tubuhnya hingga Ia duduk bersimpuh di lantai yang penuh dengan kelopak mawar dan lembaran uang yang berserakan. Dalia membiarkan air matanya tumpah, luka lama yang kembali terbuka, lebar dan sangat lebar itu membuatnya benar-benar lemah. Bahkan suara tangisannya pun hampir tak terdengar karena rasa sakit yang hebat di hatinya.


Rendra melihat sekilas ke arah Dalia. Ada rasa sakit yang ikut Ia rasakan saat itu juga. Ia tidak tega melihat Dalia seperti itu, ingin rasanya Ia merangkul dan membantu Dalia untuk berdiri. Namun, egonya mengalahkan rasa ibanya.


Rio yang merasa Dalia belum juga keluar dari ruangan angker tersebut, kemudian berinisiatif menyusulnya. Ketika Rio membuka pintu, betapa terkejutnya Ia saat melihat Dalia yang sedang menangis bersimpuh di lantai dengan uang dan kelopak mawar yang berserakan di sekelilingnya. Rio tak menghiraukan Rendra, Ia memilih langsung menghampiri Dalia.


" Dalia, kamu kenapa? " Tanyanya, namun tak mendapatkan jawaban, hanya suara isak tangis yang terdengar sangat pelan di telinganya.


" Dalia, ayo bangun! Beridirilah! " Rio mencoba membantu Dalia berdiri.


Rendra hanya menatap sinis ke arah mereka.


Setelah Dalia bisa berdiri, Rio kemudian memapahnya dan membawa Dalia keluar dari ruangan Rendra saat itu juga, karena merasa telah terjadi sesuatu yang tidak beres.


" Apa yang terjadi, Dalia? " Tanya Rio lagi ketika sudah berada di luar ruangan Rendra.


" Maaf pak Rio, saya ingin sendiri dulu. " Hanya itu yang bisa Dalia ucapkan, hingga membuat Rio semakin bingung.


" Baiklah, kembalilah ke ruanganmu! "


Dalia kemudian berlari ke arah ruangannya dan langsung mengunci pintu. Sedangkan Rio masih berdiri mematung di depan ruangan Rendra, berusaha menangkan apa yang sebenarnya terjadi antara Rendra dan Dalia.


****


Dalia menangkup wajahnya di atas kedua tangannya yang bertumpu di atas meja kerjanya. Ia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala rasa sakit dan perih yang melukai relung hatinya. Rasa itu sungguh sakit bahkan lebih sakit dari saat dirinya berpisah dari Raymon.

__ADS_1


" Bisa-bisanya aku berfikir kalau Dia menyukaiku? " Ucap Dalia di tengah isak tangisnya.


" Kau bodoh Dalia, kau sungguh bodoh! Di dunia ini mana ada pria yang tulus, mereka hanya memandang fisikmu saja, tidak ada yang benar-benar tulus. " Lanjut Dalia lagi.


****


Sementara itu, Rio mencoba memberanikan diri bertanya kepada Rendra akan apa yang terjadi sebenarnya.


" Tuan Rendra. " Sahutnya, namun wajah tak ramah Rendra menyambutnya dengan tatapan membunuh.


" Mau apa kau kemari? " Tanya Rendra dingin.


" Emm... apa yang terjadi pada Dalia, tuan? Kenapa Dia menangis? "


" Bukan urusanmu! "


" Tapi, tuan...... "


" Aku bilang bukan urusanmu, yah bukan urusanmu! Apa kau juga ingin aku buat menangis seperti Dia? "


" Tidak tuan. "


" Kalau begitu, pergilah! "


" Apa tuan memecat Dalia? " Rio menanyakan itu dengan cepat karena Ia berfikir Dalia menangis karena di pecat.


Rendra tersenyum menyeringai mendengar itu.


" Aku tidak akan memecatnya. " Jawab Rendra yang cukup membuat Rio terheran-heran.


" Dia sangat berguna, Dia bisa aku pakai kapanpun aku mau. " Lanjut Rendra lagi.


Maksudnya? Gumam Rio yang merasa janggal.


" Dia menangis karena mungkin bayaranku kurang banyak. Ha.. ha.. ha. ha..! " Ucap Rendra sambil tertawa.


Bayaran?


Rio mencium sesuatu yang tidak beres, Ia langsung gerak cepat setelah kaluar dari ruangan Rendra. Rio langsung mencari informasi dari anak buah Rendra yang bernama Imran. Ia benar-benar tidak tenang sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada bos dan bawahannya tersebut.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Ke esokan paginya.


Dalia menemui Rio di ruangannya dengan membawa sebuah berkas di tangannya. Ketika berada di ruangan Rio, Dalia lalu menyerahkan berkas itu ke tangan Rio.


" Apa ini Dalia? Kau ingin resign dari kantor ini? " Tanya Rio yang tampak terkejut.


" Iya pak Rio, saya ingin resign. "


" Tidak bisa, Dalia. "

__ADS_1


" Kenapa tidak bisa? Posisiku bahkan tidak terikat kontrak dengan kantor ini. "


" Karena Federick Corporation membutuhkanmu. "


" Masih banyak sekretaris terbaik di luar sana."


" Aku tidak mengizinkanmu resign dari kantor ini. " Tegas Rio.


" Alasannya apa pak Rio?" Tanya Dalia merasa heran.


" Aku sudah tau semuanya. " Ucap Rio dan cukup membuat Dalia mengernyit penih keheranan.


" Aku yakin ada yang telah menghasut tuan Rendra dengan memfitnah dirimu. " Lanjut Rio lagi.


" Lalu? " Dalia memasang wajah tidak perduli.


" Aku percaya padamu, Dalia. "


" Tapi, tidak dengan tuan Rendra. " Perkataan Dalia cukup membuat Rio terdiam mendengarnya.


" Sudahlah pak Rio, emangnya aku siapanya tuan Rendra sampai harus di percaya. " Ucap Dalia yang terdengar tidak percaya diri itu.


" Dalia, saya mohon! Beri saya waktu sampai peninjauan proyek di Bogor selesai, setelah itu kau boleh memutuskan untuk bertahan atau resign. "


" Kalau begitu, beri saya alasan kenapa saya harus menunggu selama itu? "


" Demi nona Molly. " Ucap Rio.


" Nona Molly? " Ulang Dalia.


" Iya, nona Molly yang datang menemuiku dan merekomendasikan mu untuk menjadi sekretaris tuan Rendra.


Apa? Aku memang sudah tau kalau nona Molly yang memasukkan CVku di Federick Corporation, tapi aku tidak menyangka kalau nona Molly langsung merekomendasikannya langsung kepada pak Rio.


" Dalia? " Sahut Rio karena merasa tidak mendapat respon.


" Baiklah pak Rio, saya akan menunggu sampai peninjauan proyek di Bogor selesai. Semua ini demi nona Molly. "


Syukurlah, ini berkat namamu, nona Molly.


" Terima kasih, Dalia." Rio tersenyum lebar karena merasa berhasil membujuk Dalia.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers..


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2