Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Cemburu


__ADS_3

Ketika berada di dalam kamarnya, Dalia menumpahkan semua air matanya agar dapat meredam rasa takutnya. Ia menangis tersedu-sedu mengingat apa yang coba Rendra lakukan padanya tadi. Untung saja Rio datang tepat pada waktunya, benaknya.


Ceklek!


Terdengar suara pintu kamarnya terbuka, seketika itu Dalia menoleh dan melihat Lily yang baru saja masuk setelah berendam cukup lama di dalam kolam renang. Dengan sigap Dalia menghapus air mata dengan ibu jarinya agar tidak di lihat Lily kalau dirinya baru saja menangis.


" Nona Dalia, Anda belum bersiap-siap? " Tanya Lily yang merasa heran saat melihat Dalia masih mengenakan handuk piyamanya.


" Eh.. itu, tadi lama di kamar mandi. " Jawab Dalia berkilah sambil bergerak mencari pakaian ganti dengan memalingkan wajahnya yang terlihat sembab itu agar tidak di lihat Lily.


Namun terlambat, Lily sudah terlanjur basah melihat mata Dalia yang tampak sembab itu.


" Nona Dalia, apa Anda menangis? " Tanyanya sambil menatap mata Dalia.


" Eng.. enggak kok! Siapa juga yang nangis, ini cuma kelilipan aja kok. " Dalia mencoba menghindar, namun tangannya di tahan Lily.


" Yakin? "


" Iya Lily, mataku tadi kemasukan debu, makanya jadi sembab gini. "


" Oh.... kalau gitu jangan di kucek, nona !"


" Iya, ini udah gak aku kucek kok! Aku mau ganti pakaian dulu yah. " Jawab Dalia sambil tersenyum menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.


" Iya deh. "


****


Tepat pukul 16.00 wib, semuanya tampak sudah berkumpul di halaman villa tanpa terkecuali Dalia. Mereka semua bersiap-siap untuk pergi meninjau lokasi proyek 1. Dari Dalam villa, tampak Rendra yang baru saja keluar dengan setelan jas yang sangat rapi. Ia masih sempet melirik ke arah Dalia, namun Dalia malah memalingkan wajahnya karena tak ingin di lihat oleh Rendra.


Cih! Decak Rendra kesal.


" Ok! Karena semuanya sudah berkumpul, jadi langsung saja yah. Saya, Dalia, dan tuan Rendra akan menaiki mobil yang di sana. Sedangkan Faizan dan Lily akan menaiki mobil yang satunya lagi. Ok! " Ucap Rio mencoba mengatur kendaraan yang akan mereka pakai.


" Maaf pak Rio, apa boleh saya memilih untuk satu mobil bersama Lily saja, biar Faiz yang menggantikan posisi saya satu mobil dengan pak Rio dan juga tuan Rendra. " Ucap Dalia tiba-tiba menyela.


" Tidak bisa! " Bentak Rendra tiba-tiba.


Sontak semua yang berada di situ di buat terkesiap mendengar suara Rendra yang menggelegar seperti petir tersebut.


" Kau akan tetap satu mobil denganku! Tidak ada penolakan karena ini perintah! " Lanjut Rendra lagi sembari masuk ke dalam mobilnya.


Hening...


Rio memandang ke arah Dalia, begitupun sebaliknya.


" Maaf, Dalia. " Hanya itu yang bisa Rio ucapkan.


" Huftt! " Dalia hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia hanya bisa pasrah saat melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam mobil, di mana Rendra sudah menunggunya di sana.


Di dalam mobil hanya memperlihatkan suasana hening mencekam. Tak ada yang berani berbicara ataupun sekedar membuka pembicaraan.


Tidak butuh waktu lama, rombongan Federick Corporation itu pun tiba di lokasi proyek 1. Mereka kemudian turun dari mobil dan mulai berjalan menelusuri pembangunan yang tampak sudah berjalan sekitar 20% dari target yang di tentukan.


Dalia menunjukkan spec bangunan kepada Rendra sembari mereka berbicara kepada kepala proyek di tempat itu. Semburat senyum kepuasan terlukis di wajah Rendra saat melihat hasil kerja para pekerja tersebut. Ia sangat senang karena ini kali pertamanya mengatasi proyek sebesar ini setelah papanya wafat.


Karena sudah merasa puas dengan hasil yang Ia lihat, Rendra dan rombongan memutuskan untuk kembali ke villa dan melanjutkan kembali peninjauan proyek 2 pada esok harinya. Ketika Dalia berjalan selangkah lebih depan dari dirinya, Ia melihat sebuah kayu yang jatuh dan akan menimpa Dalia.


" Dalia, awas!! " Teriaknya.


Dengan sigap Rendra langsung berlari dan mendorong tubuh Dalia bersama dirinya. Rendra dan Daliapun selamat dari insiden itu, namun keduanya harus jatuh ke tanah dengan posisi Dalia yang menimpa tubuh Rendra yang menyentuh tanah.


Deg!


Tatapan mata mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain. Jarak wajah yang berjarak hanya beberapa centimeter itu pun membuat wajah keduanya menghangat akibat hembusan nafas keduanya yang saling beradu.


" O.. owh..! " Ucap Lily terperangah.


Rio dan Faiz hanya bisa diam melihat pemandangan layaknya di sinetron-sinetron Indonesia, yang kini berada di depan mata mereka langsung.


Menyadari kalau sedang di perhatikan, dengan cepat Dalia menjauhkan tubuhnya dari Rendra sembari berdiri membersihkan bajunya yang kotor karena terkena tanah.


" Tuan tidak apa-apa? " Tanya Rio yang datang membantu Rendra untuk berdiri.


" Saya baik-baik saja! " Jawabnya.


" Maafkan kelalaian kami, tuan Rendra! " Ucap kepala proyek yang datang menghampiri mereka.


" Lain kali harus lebuh hati-hati lagi. " Kali ini Rendra berkata halus, entah karena sudah lelah atau karena masih gugup akibat adegan tadi.


" Baik, tuan! "


" Ya sudah, ayo semuanya, kita kembali ke villa! " Ajak Rendra kepada para karyawannya itu karena tak ingin berlama-lama di tempat tersebut.


****


Di dalam mobil, sesekali Rendra melirik ke arah Dalia, memastikan kalau wanita di sampingnya itu baik-baik saja. Ingin rasanya Ia menanyakan langsung, tapi egonya jauh lebih tinggi dari pada itu.


" Apa tuan yakin, tuan baik-baik saja? " Tanya Rio yang masih mencemaskan bos kesayangannya itu.

__ADS_1


" Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku! " Jawab Rendra.


" Tapi aku tidak tau, apa wanita di sampingku ini baik-baik saja? " Lanjut Rendra lagi yang sebenarnya ingin menanyakan langsung, namun hanya bisa menggunakan cara itu.


" Saya baik-baik saja, tuan. Terima kasih karena sudah menolong saya tadi. " Jawab Dalia langsung sambil menatap manik mata Rendra.


" Syukurlah! Lain kali lebih berhati-hati lagi! "


" Iya, tuan. "


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Malam harinya.


Setelah selesai makan malam, Dalia kemudian keluar melihat pemandangan yang ada di belakang villa. Dimana, di belakang villa terdapat sebuah aliran air sungai langsung dari pegunungan. Terdapat batu-batu besar yang bisa di jadikan tempat untuk bersantai di sana. Dengan di terangi sorot lampu-lampu di sekitar villa, menambah eksotisme tempat itu.


Rio yang melihat Dalia sedang bersantai ria di atas batu besar tersebut pun kemudian datang menghampirinya.


" Hai, Dalia. " Sapa Rio dan seketika itu juga Dalia menoleh ke arahnya.


" Hai juga, pak Rio. "


" Boleh aku duduk di sini?"


" Tentu saja boleh, gak ada yang melarang kok. " Jawab Dalia tersenyum.


" Hmm.. sungguh suasana yang sangat nyaman. " Ucap Rio yang ikut menikmati suasana dinginnya malam itu.


" Iya, aku sangat menyukai suasana seperti ini! " Dalia memejamkan matanya sembari menghirup udara segar di tempat itu.


" Menikah? " Ulang Dalia yang merasa sangat aneh dengan perkataan Rio.


" Iya, ketika kau sudah menikah lagi, aku rekomendasikan tempat ini untukmu dan suamimu berbulan madu. "


" Ha...ha.. ha.. ha..! Bulan madu? Jangankan suami, pacarpun aku gak punya, pak Rio! Ha.. ha.. ha.. ha.. " Ucap Dalia yang merasa geli dengan perkataan Rio.


Yah, mana tau Dalia, kalau ternyata kau berjodoh dengan tuan Rendra, pasti kau akan di bawa ke tempat ini untuk berbulan madu.


Gumam Rio sambil membayangkan wajah Rendra dan Dalia ketika menikah, dimana Rendra akan menjadi budak cinta Dalia. Dan itu membuatnya senyum-senyum sendiri.


" Hayo! Lagi mikirin apa coba? Lagi mikirin yang jorok-jorok yah? " Dalia memecah lamunan Rio.


" Gak kok! Lagi membayangkan..........."


Dalia menunggu kelanjutan ucapan Rio dengan seksama.


" Ah, sudahlah lupakan. " Lanjut Rio lagi.


" Yah, gak asyik banget. " Ucap Dalia kecewa.


" Hehehe... yang pastinya sangat lucu.. " Ucap Rio terkekeh.


" Oh iya Dalia, aku harap kau mau bertahan lebih lama lagi di Federick Corporation. " Lanjut Rio lagi dengan penuh harap.


" Huft! " Dalia menghembuskan nafas dengan kasar.


" Kita lihat saja nanti. " Lanjutnya.


" Semoga kau berubah fikiran, Dalia. "


" Do'akan saja. "


****


Sementara itu, dari dalam villa tampak raut wajah Rendra yang terlihat sangat kesal saat melihat kedekatan Rio dan Dalia dari balik jendela kaca besar yang terdapat di villa tersebut. Giginya menggertak geram, dengan tangan mengepal erat saat melihat Dalia tertawa bahagia bersama Rio.


" Bisa-bisanya kau sebahagia itu tanpa aku, Dalia! " Ucapnya.


Sungguh ironis, Rendra tidak mengerti akan yang terjadi pada dirinya. Kenapa juga Dia harus marah, bukankah Dia sudah terlanjur membenci Dalia?


" Kenapa juga aku harus cemburu? Bukankah Dia hanya wanita murahan yang bisa di bayar dengan uang. " Ucap Rendra sarkasme.

__ADS_1


Hening...


" Aarrgghh! Tapi, aku memang cemburu! Sialan! " Lanjutnya lagi sambil menendang sofa yang ada di depannya.


Buk!


" Awh! " Rintihnya.


" Dasar sofa sialan! " Umpatnya pada sofa tak berdosa itu.


Tanpa menunggu lagi, Rendra langsung merogoh sakunya untuk meraih benda pipih miliknya dan langsung menghubungi Rio.


Tut.. tut.. tut..!


Terdengar dering dari ponselnya, Rio pun langsung meraih ponselnya dan melihat nama Tuan Rendra yang tertera di layar ponselnya.


" Sebentar yah, Dalia. "


" Iya, silahkan Pak Rio. "


" Halo, tuan Rendra! " Dalia mengernyitkan keningnya saat mendengar nama tuan Rendra.


" Baik ! Baik.. tuan! Saya akan segera ke sana. "


Rio langsung menutup panggilannya dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya lagi.


" Maaf Dalia, sepertinya aku harus kembali ke villa. " Ucap Rio pamit terburu-buru kepada Dalia.


" Gak apa-apa, pak Rio! Tuan Rendra prioritas utama, bukan? "


Rio tersenyum mendengar perkataan Dalia, Ia kemudian berjalan meninggalkan Dalia dan masuk ke dalam villa. Kini, tinggallah Dalia sendiri lagi, Ia lalu meraih ponselnya dan mencoba menghubungi putri semata wayangnya, Shenzi.


****


Di dalam villa, Rio langsung berjalan menghampiri Rendra yang sedang berdiri di depan jendela kaca. Dari situ, Rio mengerti kenapa Rendra memanggilnya.


" Ada apa tuan memanggil saya? " Tanya Rio basa-basi.


" Ehm... tidak jadi, sebaiknya kau kembali ke kamarmu saja, segera atur jadwal untuk besok! "


Astaga! Bilang saja kalau Anda cemburu melihatku bersama Dalia, tuan!


Gumam Rio sambil mengulum senyumnya.


" Baiklah, tuan! Kalau begitu saya permisi! " Ucap Rio sambil membungkukkan kepalanya.


" Iya, silahkan! "


Rendra tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil memisahkan Dalia dan Rio. Kini, Ia kembali membalikkan tubuhnya ke luar jendela untuk melihat Dalia lagi lewat jendela kaca besar itu. Namun, lagi-lagi hatinya seperti terbakar saat melihat siapa yang sudah berada di samping Dalia saat ini. Yah, Faizan yang kini sudah tampak duduk di samping Dalia dan terlihat pula tawa Dalia yang tampak sangat ikhlas tersebut.


Hilang Rio datang Faizan. Wkwkwkwk.. 😂😂


" Sialan! Kenapa malah bocah tengil itu yang duduk di samping Dalia! " Umpatnya kesal.


" Ini tidak bisa di biarkan! " Lanjut Rendra lagi.


Rendra akhirnya memutuskan untuk menyusul Dalia dan Faizan yang sedang bersantai ria tersebut. Ia berjalan keluar lewat pintu samping dan segera mempercepat langkahnya untuk segera tiba di sana.


Setibanya di lokasi, Rendra malah tak mendapati Dalia maupun Faizan berada di sana. Matanya mengitari sekeliling villa, hingga mendapati Dalia dan Faizan yang sudah meninggalkan tempat itu dan kembali ke dalam villa.


" Damn! " Umpatnya sambil merutuki kebodohannya.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers!!

__ADS_1


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘


__ADS_2