
2 Minggu Kemudian.
Hari-hari Rendra dan Dalia terasa berbeda setelah mengungkapkan perasaannya tempo hari di taman hiburan. Memang saat itu momennya kurang romantis karena tanpa adanya bunga dan lilin-lilin. Tapi apalah arti bunga dan lilin itu jika tanpa pembuktian yang nyata.
Rendra bukan pria yang romantis, Ia bahkan tidak tau cara merayu wanita dengan benar. Tapi, Ia berusaha menunjukkan rasa cintanya itu melalui sikapnya dan perhatian-perhatian kecil yang Ia tunjukkan pada Dalia. Seperti halnya pada saat ini di kediaman keluarga Federick.
" Sudah lama menunggu? " Tanya Rendra ketika turun dari kamarnya dan langsung menemui Dalia yang berada di ruang tamu.
" Lumayan. " Jawab Dalia.
" Maaf, tadi setelah meeting di luar aku langsung pulang, aku lupa kalau ternyata aku masih memiliki berkas yang harus aku tanda tangani. " Rendra tersenyum dengan wajah tanpa dosa.
" Lupa apa sengaja? "
" Dua-duanya, hehe.. " Rendra terkekeh.
" Tapi tunggu, kamu gak capekkan dari kantor langsung ke rumahku dulu? " Lanjut Rendra lagi baru menyadari kesalahannya.
Siang harinya Rendra dan Rio melakukan meeting di luar kantor bersama klien barunya. Dalia tidak dibawa karena memang Dalia diberi tugas untuk segera menyelesaikan berkas-berkas untuk proyek di daerah Bogor. Ketika meeting bersama klien baru tersebut selesai, Rendra memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan melupakan berkas-berkas yang harus Ia tanda tangani, juga melupakan wanita yang Ia cintai yang sedang bergelut dengan berkas-berkas bertumpuk karena titahnya.
" Manurut kamu bagaimana? " Dalia bertanya balik.
" Maaf. " Rendra menyadari kesalahannya.
" Nanti pulangnya biar aku antar yah? " Lanjut Rendra lagi yang ingin menebus kesalahannya itu.
" Tidak perlu, tuan.... "
" Hmm... " Rendra berdehem ketika Dalia memanggilnya, tuan.
" Rendra maksudku. " Ucap Dalia lagi.
" Diluar kantor jangan memanggilku tuan, jika perlu panggil saja aku " Sayang ". " Rendra tersenyum menyeringai.
" Emb.... " Dalia belum menjawab.
" Kalau kamu gak mau panggil aku " sayang ", aku pun gak mau tanda tangani berkas ini. "
" Kok gitu? " Protes Dalia.
" Panggil aku " Sayang ". "
" Ok, baiklah! Dengarkan yah. "
" Cepatlah panggil aku sayang, aku sudah tidak sabar ingin mendengarnya. "
" Sa................. "
" Rendra! " Belum sempat Dalia memanggilnya sayang, tiba-tiba suara Mamanya mengagetkan mereka berdua.
" I.. iya.. Ma! " Jawab Rendra terbata.
" Mama pergi arisan dulu yah, Molly tadi bilangnya, Dia pulang agak sorean, jadi kamu jaga rumah aja, jangan kemana-mana. "
" Siap, Ma. "
Ketika Mama Sarafina melewati mereka di ruang tamu tersebut, langkahnya terhenti dan matanya memperhatikan Dalia dengan seksama.
" Se... selamat sore, Nyonya? " Refleks Dalia langsung berdiri dan membungkukkan kepalanya untuk menyapa Nyonya besar di rumah itu.
" Hmm... sore. " Jawabnya singkat sebelum Nyonya besar itu mencelos pergi meninggalkan mereka berdua.
" Huft! " Dalia menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk mengurangi kegugupannya.
" Beliau Mamaku, dari wajah memang terlihat galak, tapi memang galak sih. " Ucap Rendra terkekeh.
" Walaupun begitu, Mamaku berhati lembut. " Lanjut Rendra lagi mencoba meredam rasa gugup Dalia.
" Apa Mamamu bisa menerima wanita sepertiku? " Tanya Dalia tampak ragu.
" Sejauh yang aku lihat, Mama tidak pernah melarang kami anak-anaknya untuk jatuh cinta dengan siapapun. Selama itu membuat aku dan Molly merasa bahagia. "
" Tapi, aku takut! Aku takut ketika aku sudah mantap denganmu, namun aku dan Shenzi malah tak diterima di keluarga ini."
" Jangan bicara seperti itu, Mamaku tidak sekejam itu. Asalkan kamu tau, Mamaku dulu sama sepertimu, Mama hanya wanita biasa, bukan dari kalangan orang kaya. Mama bekerja sebagai sekretaris Papa. Karena kecantikannya, Papaku jatuh cinta padanya. Bahkan Papa rela menentang perjodohan dari kakek demi cintanya pada Mama. Dan pada akhirnya, Papapun menikahi Mama dan mendapatkan anak-anak yang lucu seperti aku dan Molly" .
" Lucu katamu? " Dalia terkekeh.
" Iya, aku lucu kan? Imut juga? "
" Ha.. ha.. ha.. ha..! Lucu darimananya, yang bener itu menyeramkan seperti singa! " Dalia tertawa lepas.
" Kamu mengataiku singa? " Rendra tidak terima.
__ADS_1
" Emang iya, kan? "
" Awas kamu yah?"
Rendra langsung berpindah duduk dan mendekat ke arah Dalia. Ia menggelitiki Dalia dan mengunci tubuh Dalia agar tidak bisa melepaskan diri.
" Geli... cukup Rendra! Aku menyerah! " Ucap Dalia sambil tertawa geli.
" Gak, aku belum puas! Habisnya kamu mengataiku singa! " Rendra terus menggelitiki Dalia.
" Cukup Ren....! Awh, geli... "
" Gimana rasanya? " Rendra menghentikan gelitikannya.
" Huft! Geli! "
" Mau lagi? "
" Sudah, cukup! Aku menyerah! "
" Makanya jangan mengataiku singa, aku pun bisa menjadi singa dan siap untuk memangsamu, kalau aku mau! "
Rendra masih merengkuh pinggul Dalia erat. Tanpa sadar Ia sudah memeluk wanita itu dengan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Dalia. Sejenak pandangan mereka bertemu, mata mereka saling beradu. Ada hasrat yang menggebu dari keduanya.
Merasa ada dorongan kuat dalam dirinya ketika melihat bibir sexy milik Dalia yang mirip buah ceri itu, tanpa fikir panjang lagi, Rendra mendekatkan bibirnya dan berniat ingin menci** bibir sexy Dalia.
Cup!
Bibir merekapun bertemu. Dalia tampak tak kuasa menolak serangan itu, Ia hanya bisa pasrah saat ******* - ******* lembut berhasil Rendra berikan padanya. Cium** itu berlangsung cukup lama, walaupun tanpa balasan dari Dalia. Dalia menahan hasratnya walaupun sebenarnya Ia sangat merindukan moment seperti itu.
Saat Rendra melepas cium**nya dengan lembut, sejenak tatapan penuh hasrat mereka pun bertemu, nafas mereka beradu dan detak jantung keduanya pun berirama. Bagaimana tidak, keduanya sama-sama sudah lama tidak merasakan sensasi yang menghangatkan ketika bercium** seperti tadi.
" Tu...tuan Rendra! "
Terdengar suara terbata dari seorang pelayan yang sedang mengantarkan minuman kepada mereka. Sontak, Rendra dan Daliapun langsung menoleh ke arahnya.
" Sejak kapan kau di situ? " Tanya Rendra.
" Se... sejak ta... tadi.. tuan! " Ucap pelayan baru yang bernama Nina itu dengan tangan gemeteran.
Mama Sarafina menambah satu asisten rumah tangga lagi dirumah itu untuk memudahkan pekerjaan bi Ijah pembantu lamanya. Asisten rumah tangga baru itu bernama Nina, wanita muda polos, yang dimana baru memulai pekerjaannya sudah harus menghadapi momen yang cukup membuat tubuhnya bergetar hebat.
" Kau melihatnya? " Tanya Rendra tampak menginterogasi, sedangkan Dalia hanya terdiam dan tak bisa berkata apa-apa saat kejadian itu harus ketangkap basah oleh pembantu dirumah Rendra.
" Ma..maaf, tuan! " Ucap Nina tertunduk.
" Ya sudah, letakkan itu diatas meja, dan kembalilah ke dapur. Tapi ingat, jangan beritahukan siapapun tentang apa yang kamu lihat tadi. "
" Baik, tuan. " Pelayan itu langsung melengos pergi dari hadapan Rendra dan Dalia.
Hening...
" Ok, kalau gitu dimana saja akan ku tanda tangani berkas-berkas ini." Rendra memecah keheningan diantara mereka berdua.
" Di sini, terus yang disini lagi, yang ini, dan ini juga. " Dalia menunjukkan beberapa berkas yang perlu ditanda tangani.
Rendra kemudian mengambil pulpennya dan mulai menandatanganu semua berkas tersebut.
" Sudah, ada lagi, Dalia? "
" Tidak ada lagi. " Dalia lalu memasukkan semua berkas itu ke dalam tasnya kembali.
" Apa kau ingin pulang? " Tanya Rendra ketika melihat Dalia sedang sibuk mengemaskan tasnya.
" Iya! " Jawab Dalia singkat dan membuat kening Rendra berkerut.
" Kau marah padaku? "
" Tidak, kenapa aku harus marah? "
" Kau marah karen aku menci**mu tanpa izin? " Tanya Rendra lagi.
" Gak kok, aku cuma kaget aja tadi! "
" Benar? "
" Iya. " Jawab Dalia mengangguk.
" Kalau begitu, kau tak ingin lebih lama lagi disini? " Tanya Rendra penuh harap.
" Hanya ada kita berdua dirumah besar ini, tidak ada Molly dan juga Mama. Dan itu terlalu berbahaya, sebaiknya aku pulang. " Ucap Dalia tersenyum, dan Rendra pun mengerti maksud perkataan Dalia barusan.
" Ok, baiklah, aku mengerti! "
__ADS_1
" Ya udah, aku pulang dulu ya,............sayang? "
Dalia langsung beranjak dari tempat duduknya, sedangkan Rendra masih terperangah tidak percaya mendengar Dalia menyebutnya dengan panggilan " Sayang " .
" A...apa kamu bilang barusan? "
" Aku pulang dulu yah ?" Ulang Dalia.
" Bukan yang itu, setelahnya. "
" Sayang? "
" Iya... iya itu maksudku, kau mengatakannya? "
" Kan tadi kamu pengen dipanggil sayang? "
Pipi Rendra mendadak merah merona karena nerveous.
" Kau menggodaku, Dalia? "
" Nggak, aku gak menggodamu kok! Kalau gitu aku tidak akan memanggilmu sayang. "
Dalia langsung berjalan cepat keluar dari rumah Rendra sebelum Rendra kembali berubah menjadi singa lapar.
" Hey, tunggu! " Rendra mengejarnya dan langsung memegang tangan Dalia, hingga langkah Daliapun terhenti.
" Panggil aku sayang sekali lagi! "
" Gak mau. "
" Kalau gak mau, aku akan menci**mu lagi disini! " Ancam Rendra.
" Ok.. ok... baiklah! "
" Cepat, panggil aku sayang. "
" Sayang, aku pulang dulu yah. "
" Lagi? "
" Sayang, lepasin tanganku donk! "
" Ok baiklah, kalau gitu mulai saat ini kamu harus memanggilku dengan sebutan sayang !" Rendra langsung melepaskan genggamannya.
" Yang benar saja! " Dalia tidak terima.
" Iya, ini perintah! "
" Mulai deh bawa-bawa perintah! " Protes Dalia.
" Dan...................." Belum sempat Rendra menyelesaikan perkataannya, dengan cepat Dalia membungkam mulut Rendra dengan telapak tangannya.
" Aku mengajukan penolakan! " Tegas Dalia.
" Bye! " Setelah mengatakan itu, Dalia langsung mengeluarkan jurus langkah seribu untuk melarikan diri dari Rendra.
" Dasar! " Ucap Rendra sambil tersenyum menatap punggung Dalia yang sudah mulai menjauh menggunakan motor maticnya.
" Dalia, kau membuatku gila! " Ucapnya lagi dengan senyuman yang belum menyurut sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Hay! Ketemu Author lagi!!
Semoga episode kali ini bisa bikin Readers baper sampai senyum mesem-mesem yah. 😚😚😚
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers...
Kiss jauh dari Rendra dan Dalia.... 😘😘😘