
MOHON BIJAKLAH DALAM MEMBACA, KARENA BAB DI BAWAH INI MENGANDUNG SEDIKIT UNSUR 21+...
SEDIKIT AJA KOK, GAK BANYAK DAN GAK GAMBLANG JUGA... 😂😂😂
Hari berganti hari, terhitung lima hari sudah Dalia menjadi nona muda di keluarga Federick. Keseharian Dalia lebih banyak di habiskan di rumah, itu sebabnya Ia memutuskan untuk membuat cake sebagai pengobat rasa bosannya. Dari pertama kali Dalia bekerja di perusahaan Federick Corporation, belum sekalipun Ia pernah membuatkan sebuah cake untuk tuan muda yang kini sudah menjadi suaminya tersebut.
" Sudah jadi! " Ucapnya ketika Ia mulai mengeluarkan cake dari oven.
" Rendra pasti menyukainya! Kata Molly, Dia sangat menyukai cake buatanku yang pernah Molly beli dulu. " Lanjutnya lagi.
Ketika Dalia sibuk menata cakenya di atas piring, tiba-tiba Mama Fina masuk ke dapur untuk menemuinya.
" Hmm... harumnya, menantu Mama lagi buat apa sih? " Tanya Mama Fina.
" Lagi buat cake Mah, kata Molly Rendra suka banget makan cake. "
" Ya bener, Rendra memang suka banget makan cake! Mama cicipi boleh ?"
" Tentu saja boleh Mah. "
Dalia membuat tiga cetak cake, satu cetak cake Ia siapkan untuk Rendra dan sisanya untuk yang lainnya. Mama Fina lalu mencicipi cake yang sudah Dalia sediakan.
" Emm..., enak! Kok sepertinya Mama pernah makan cake rasa seperti ini sebelumnya yah? " Ucap Mama Fina sambil mengunyah cakenya.
" Dulu, Molly pernah beli cake buatan Dalia dalam jumlah yang sangat banyak Mah! Katanya untuk acara di rumahnya, dan Dalia sendiri yang mengantarnya ke sini. "
" Owh! " Mama Fina menghentikan makannya sambil menoleh ke arah Dalia.
" Jadi, waktu ulang tahun Rendra, Molly beli cake sama kamu? Wah! Mama gak nyangka kalau cake seenak ini ternyata buatan tanganmu, Dalia! " Lanjut Mama Fina lagi dengan takjub.
" Biasa aja kok Mah, rasanya! " Dalia tersipu malu mendapatkan pujian dari Mama mertuanya itu.
" Gak ada yang biasa, ini enak loh! Mamah gak bohong! Jadi kamu kerja di kantor Rendra sambil jualan cake juga? "
" Gak kok Mah! Sebelum Dalia bekerja di kantor Rendra, Dalia hanya berjualan cake online, sampai akhirnya Dalia bertemu dengan Molly dan merubah hidup Dalia hingga menjadi seperti sekarang. "
" Menjadi Nyonya Birendra Federick! " Ucap Mama Fina sambil senyum-senyum kepada menantunya itu.
" Mama jangan bilang begitu, Dalia merasa tidak enak hati! "
" Apanya yang tidak enak hati, kamu itu memang Nyonya Birendra Federick! " Ucap Mama Fina sambil merangkul bahu menantunya itu.
" Ternyata Molly mak comblang kalian! Hmm... anak itu ternyata diam-diam pandai juga cariin jodoh buat kakaknya, tapi Dianya sendiri gak perduli dengan jodohnya sendiri! " Lanjut Mama Fina lagi.
" Emangnya Molly belum punya pacar, Mah? " Tanya Dalia yang mulai penasaran.
" Belum tuh! Sampai sekarang belum pernah Mama liat Dia bawa cowok ke rumah ini. "
" Mungkin Molly belum mau menikah kali, Mah! "
" Mau sampai umur berapa, Dalia! Nanti terlalu lama malah gak laku. Sebenarnya Mama tuh tertarik jodohin Dia dengan Rio, Asisten pribadi Rendra. Mama udah kenal betul keluarganya Rio, Rio itu dari keluarga baik-baik, Ayahnya juga mantan Asisten Papa, dan sekarang Dia melanjutkan tugas Ayahnya menjadi Asisten Rendra. Mama liat Rio itu anak baik dan dewasa, Mama yakin kalau Molly sama Dia, Mama akan merasa tenang karena Rio pasti bisa membimbingnya. "
Dalia menyimak dengan baik perkataan panjang lebar Mama mertuanya tersebut.
" Hmm... Dalia punya ide, Mah! " Ucap Dalia tiba-tiba seperti mendapat lampu menyala di atas kepalanya.
" Benarkah? Apa itu? "
" Sini, Dalia bisikin! "
Dalia lalu membisikkan sesuatu ke telinga Mama Fina dan Mama Finapun mengangguk sambil senyum-senyum tanda mengerti.
" Ide bagus! " Ucap Mama Fina kemudian.
" Sip! Serahkan semuanya pada Dalia! Dulu Dia yang mencomblangkan Dalia dan Rendra, sekarang giliran Dalia yang mencomblangkan mereka."
" Ok sip! Mama serahkan semuanya ke kamu! "
Mereka berdua lalu berjabat tangan dan tak lama kemudian Rendra pun masuk ke dapur untuk mencari keberadaan istri tercintanya itu.
" Ternyata kamu di sini, aku cariin di kamar kamu gak ada! " Ucap Rendra sambil merangkul pinggul Dalia dan mengecup kening istrinya tersebut tanpa malu di depan Mamanya.
" Kamu udah pulang? Maaf yah sayang, aku gak tau kalau kamu udah pulang. " Ucap Dalia sambil membalas mencium pipi pria tampan yang sudah menjadi suaminya itu.
" Kalian membuat Mama iri! " Celetuk Mama Fina tiba-tiba.
" Oh... Mamaku sayang, ternyata Mama juga mau dipeluk dan di cium yah! " Rendra lalu menghampiri Mamanya dan memeluk juga mengecup kening wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.
" Kami sayang Mamah! " Sambung Dalia yang juga menghampiri Mama Fina dan memeluknya erat juga memberikan kecupan hangat di pipi wanita paruh baya itu.
__ADS_1
" Kalian berdua anugerah terindah buat Mamah! " Sambut Mama Fina sambil kedua tangannya menyentuh pipi Rendra dan Dalia.
" Ada apa ini, kok pelukan gak ngajak-ngajak Molly sih?" Sahut Molly tiba-tiba yang baru tiba di dapur.
" Ayo sini, peluk Mama juga! " Titah Mama Fina padanya.
" Molly sayang kalian!" Molly pun langsung memeluk erat Mama Fina dan lainnya.
" Owh... sungguh keluarga idaman! " Ucap Bi Ijah yang kebetulan sedang berada di dapur membantu Dalia membuat cake.
*
*
*
*
Setelah drama panjang peluk-pelukan, keluarga tersebut pun kemudian berkumpul di ruang keluarga sambil mencicipi cake buatan Dalia.
" Hmm... aku tidak menyangka kalau aku sangat menyukai cake dari tangan wanita yang pernah aku marahi karena parkir sembarangan di depan rumahku! " Celetuk Rendra sambil mengunyah cake buatan Dalia.
" Dan wanita yang kau marahi itu kini sudah menjadi istrimu! " Celetuk Molly hingga membuat semuanya terkekeh.
Rendra sudah kembali bekerja setelah mengambil tiga hari cuti. Rendra memangkas cutinya karena memang ada pekerjaan penting yang membuatnya tidak bisa meninggalkan pekerjaannya lebih lama lagi. Sebenarnya Ia tidak rela harus berpisah dari Dalia, wanita yang sudah resmi menjadi istrinya tersebut walau hitungan detik saja, karena wanita itu sudah membuatnya menjadi candu.
" Sayang, Rio sudah membuatkan surat pengunduran dirimu di kantor, jadi tidak lama lagi surat itu keluar, dan kamu tidak perlu repot-repot kerja lagi di kantor ku! " Ucap Rendra dengan mulut yang masih mengunyah.
" Tapi, sayang! " Dalia mencoba protes.
" Tidak ada tapi-tapi! Ini perintah! Dan aku tidak terima penolakan! " Tegas Rendra.
" Huft.. Selalu saja!" Dalia cemberut.
Melihat Dalia yang mendadak cemberut Rendrapun langsung merayu istrinya itu agar tidak tambah cemberut.
Wah! Gawat kalau Dia sampai marah, nanti malam bisa-bisa aku gak dapat jatah.
Gumam Rendra dalam hatinya.
" Sayang, ini demi kebaikan kamu! Aku gak mau kamu capek-capek kerja. Kamu cukup di rumah aja, nungguin suamimu ini pulang. Karena aku gak mau kamu capek dan gak ada waktu buat aku! " Rayu Rendra sambil mengedip-ngedipkan matanya.
" Otak apa? " Tanya Rendra manaut-nautkan keningnya.
" Otak mesum! " Bisik Dalia kemudian di telinga Rendra.
" Mesum-mesum gini, suamimu juga kan? " Rendra malah berbicara lantang hingga membuat yang lain terkekeh melihat tingkah mereka.
" Iih... dasar kamu! " Pipi Dalia mendadak merah karena malu.
*
*
*
*
Malam Harinya.
Matahari kini telah sembunyikan sinarnya dan kini telah berganti dengan cahaya bulan. Semua orang tampak sudah kembali ke kamar mereka masing-masing untuk sekedar mengistirahatkan diri dalam mimpi yang indah.
Kamar Rendra dan kamar Molly terletak di lantai dua dan berada tidak jauh. Letak kamar yang bersebelahan itu sungguh akan membuat Molly merasa tidak tenang.
" Ren...! " Sahut Dalia sembari jemari tangannya bermain di dada bidang milik suaminya.
" Ehm...! " Rendra berdehem sambil memperhatikan wajah cantik istrinya yang begitu menggoda itu.
" Nanti saat kita honeymoon, kita bawa Rio dan Molly yah?" Pinta Dalia dengan penuh harap.
Kening Rendra berkerut dalam.
" Kenapa harus bawa mereka? Yang ada mereka malah mengganggu momen kita berdua. " Protes Rendra.
" Justru karena ada mereka malah memudahkan kita, karena ada yang akan menjaga Shenzi. " Dalia masih berusaha.
Rendra tampak diam dan seperti membenarkan perkataan Dalia. Yah, Shenzi memang rencanaya akan Dalia bawa saat honeymoon nanti. Dalia melakukan itu karena tidak sampai hati meninggalkan anaknya bersama Raymon, sementara dirinya bersenang-senang di luar Negeri. Hal itu Ia lakukan lantaran karena memang Ia ingin membawa Shenzi merasakan momen indah saat jalan-jalan ke luar negeri nanti, karena memang baik Ia maupun anaknya memang belum pernah sama sekali melakukan wisata ke luar negeri hingga saat ini.
" Ide bagus! Tapi, siapa yang harus mengurus perusahaan? " Rendra tampak berfikir lagi.
__ADS_1
" Kamu bisa menyerahkannya pada pak Bowo sebagai Manager kepercayaan di perusahaan kamu. "
" Yah, kamu benar! Pak Bowo bisa dipercaya untuk memegang kendali sementara selama aku dan Rio tidak ada. "
" Kalau begitu, deal? " Dalia mengulurkan tangannya.
" Belum. " Ucap Rendra sambil tersenyum sarkasme.
" Loh, apa lagi? " Tanya Dalia heran.
" Aku akan jawab deal jika aku mendapatkan jatahku malam ini. " Senyum menyeringai membuat Dalia berdecak kesal.
" Semalamkan udah, tadi pagi juga udah, emangnya kamu gak capek apa? " Dalia berusaha menolak dengan halus.
" Kalau untuk urusan itu aku gak ada capeknya! " Tegas Rendra.
Tapi, aku yang capek Ren...
Jawab Dalia hanya mampu Ia ucapkan dalam hatinya saja.
" Ayolah sayang...! Jangan buat aku menunggu lama! " Kini Rendra sudah memeluk erat tubuh istrinya dan memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah Dalia.
" Iya deh iya! Aku udah pasrah nih, tunggu apa lagi! " Jawab Dalia yang semakin membuat Rendra gemas.
" Kau memang penggoda! " Rendra langsung memangsa istrinya tanpa bisa membuat istrinya itu lengah.
" Awh! Ren....! " Pekik Dalia dengan terkekeh geli.
Pergulatan antara dua manusia yang di mabuk cinta itupun tak dapat di elakkan lagi.
*
*
*
Sementara itu di kamar sebelah, tampak Molly yang masih belum tidur karena asyik bermain ponsel. Di tengah asyiknya itu, tiba-tiba telinganya kembali mendengar suara aneh yang Ia dengar hampir tiam malam itu.
" Ah... Ren! " Samar-samar suara Dalia terdengar dari balik dinding kamar Molly.
" Astaga! Gak pandai capek kali yah, mereka? " Ucap Molly kesal.
Suara aneh itu semakin lama semakin terdengar jelas dan saling bersahut-sahutan satu sama lain.
" Ah.. sayang! " Samar-samar kini suara Rendra pula yang terdengar.
" Ya Tuhan! Kenapa aku harus mendengar semua ini? " Keluhnya lagi.
Molly langsung mematikan ponselnya dan langsung menutup kupingnya dengan menggunakan bantal.
" Kalau kayak gini terus aku kan jadi kepengen kawin, mak! " Ucapnya perih.
Kasian Molly... 😂😂😂
*
*
*
*
*
################################
Hey.. hey.. Readers!
Author comeback!
Makasih atas do'a kalian semua, walaupun Author belum terlalu sehat sempurna, tapi setidaknya Author udah bisa nulis lagi. Maaf yah, kalau bikin kalian terlalu lama menunggu. Oh iya, ini Author kasih sampai 1.600 kata.
" Doubel up dong Thor? " Kata Readers.
Maaf yah, bukannya Author gak mau Up Doubel, sebenarnya Author mau.. mau banget! Tapi masalahnya Author cuma pakai Handphone buat ngetik, bukan pakai laptop. Itu sebabnya Author gak mampu Double Up karena capek jari-jari Author ngetiknya..
hehe... 😂😂😂
Jangan lupa untuk dukung Author biar Author selalu semangat! Beri like, vote, dan komennya yah...
__ADS_1
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘