
Ditengah dr. Evan sedang memeriksa keadaan Shenzi, tampak pula dr. Kalina menghampirinya.
" Dr. Evan, anak Dalia sakit apa? " Tanya Kalina kepada Evan.
" Pasien mengalami gejala types, itu sebabnya pasien harus mendapatkan perawatan intensif, dr. Kalina. " Jawab dr. Evan sambil memeriksa Shenzi.
" Lakukan yang terbaik, dr. Evan. "
" Itu pasti! "
Kalina lalu menghampiri Dalia kembali yang sedang duduk di sebuah sofa yang tak jauh dari Shenzi berada.
" Dalia, kau jangan khawatir, rumah sakit ini akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan anakmu. " Ucap Kalina mencoba membuat Dalia relaks.
" Terima kasih, dr. Kalina. "
" Kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan dokter. " Ucap Kalina sambil tersenyum.
" Kenapa tidak, kau sudah menjadi seorang dokter sekarang, Kalina ?"
" Itu juga berkat kau yang selalu mendorongku untuk mencapai cita-citaku."
" Itu berkat kegigihanmu juga, Kalina. "
" Kegigihanku dan support darimu. "
" Selamat untukmu, Kalina. " Dalia memberikan selamat atas keberhasilan Kalina.
" Kau juga Dalia, kau begitu beruntung memiliki anak secantik Shenzi? " Ucap Kalina yang tampak sedikit sendu.
" Oh iya, mana Rendra? " Dalia baru tersadar kalau ternyata Rendra sudah tidak berada di ruangan itu lagi.
" Tuan Rendra keluar sebentar, nona Dalia! Saya juga udah selesai, kalau begitu saya juga permisi. " Jawab dr. Evan yang juga ingin beranjak dari ruangan tersebut.
" Oh, terima kasih banyak dr. Evan. "
" Sama-sama nona, biarkan pasien tertidur dulu, itu karena reaksi obatnya, jadi jangan khawatir. "
" Baiklah, dr. Evan. "
Setelah dr. Evan menghilang dari pandangannya, Dalia tampak gelisah sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kalina yang melihat itu, bisa membaca dengan jelas kegusaran yang Dalia rasakan.
Kenapa Rendra pergi begitu saja, tanpa memberitahuku.
Gerutu Dalia dalam hati.
" Kau memikirkan Rendra, Dalia? " Tanya Kalina tiba-tiba.
" Ah, gak kok, aku cuma belum sempat bilang terima kasih, tadi. "
" Kau bisa mengucapkannya nanti. Bukankah kalian saling mengenal?"
" Iya, aku bekerja di perusahaannya. "
" Aku lihat kau bukan hanya seperti karyawannya, apa kalian pacaran? " Kalina kembali menderu Dalia dengan pertanyaannya.
" Emb... kami gak pacaran, hanya dekat." Jawab Dalia malu-malu.
" Owh.. "
" Kau sendiri ternyata mengenal Rendra juga?"
" Hmm... sebenarnya Dia mantan suamiku." Ucap Kalina yang seketika itu juga membuat Dalia bungkam tidak menyangka dengan apa yang Ia dengar barusan.
" Dalia. " Sahut Kalina lagi karena tidak mendapatkan respon dari Dalia.
" Eh.. ka.. kalina, Rendra mantan suamimu? " Ulang Dalia ingin memastikan apa yang Ia dengar itu nyata.
" Iya, Rendra mantan suamiku. Dan aku rasa Dia pergi karena aku ada disini. "
" Aku tidak tau kalau ternyata kalian...... "
__ADS_1
" Sudahlah, jangan terlalu difikirkan! Antara aku dan Rendra hanyalah masa lalu. " Potong Kalina cepat.
Hening...
Hening lagi...
" Aku gak nyangka kalau ternyata nasib kita sama, Dalia? " Ucap Kalina lagi mencoba mencairkan suasana yang sempat kaku tadi.
" Maksudnya? " Dalia tidak mengerti.
" Maksudku, kita sama-sama menjanda!" Kalina terkekeh.
" Ha.. ha.. ha.. ha..! Iya yah, kau benar! " Dalia pun tertawa mendengar hal itu.
" Tapi, bedanya kau memiliki anak sedangkan aku tidak. " Ucap Kalina tampak kembali sendu.
" Kau bisa mendapatkannya, jika kau menikah lagi. Apa kau tak ingin menikah lagi, Kalina? "
Mendengar pertanyaan itu, Kalina hanya diam membisu seperti menahan kata-katanya. Ada sesuatu yang Ia simpan rapat didalam hatinya.
" Apa kau masih mencintai Rendra? " Tanya Dalia lagi yang seketika itu juga membuat mata Kalina membulat sempurna dan tak tau harus menjawab apa.
" Lupakan pertanyaan itu Dalia, kau ingat Baim? " Kalina tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
Kenapa Kalina malah mengalihkan pembicaraan? Apa itu artinya Dia masih mencintai Rendra?
Dalia menerka-nerka dalam hatinya.
" I.. ingat...! " Jawab Dalia terbata.
" Diakan cowok paling populer di sekolah dulu, semua siswi di sekolah mengidolakannya, kecuali dirimu. " Ucap Kalina ketus.
" Dan kau salah satu siswi yang mengidolakannya. " Balas Dalia sambil terkekeh.
" Yah begitulah, tapi sayangnya Dia malah memilihmu. " Kalina tampak kecewa
" Maaf Kalina, aku terpaksa menerimanya pada waktu itu karena Dia mengancamku, padahal kau tau aku sangat tidak menyukainya, sungguh menyebalkan! "
" Dan aku harus menerima bullyan di setiap harinya karena cowok sok ganteng itu. "
" Ha.. ha.. ha.. ha..! Dan aku selalu ada untuk membalamu dari mereka! "
" Yah, kau benar! Ah, aku sungguh merindukan momen saat kita sekolah dulu. " Ucap Dalia sambil tersenyum.
" Aku juga Dalia. " Balas Kalina.
Obrolan mereka terus berlanjut hingga tanpa sadar Rendra sudah kembali ke ruangan itu.
" Ya udah Dalia, aku rasa kita sudah terlalu banyak bercerita! Kalau begitu aku permisi dulu yah. Lain kali kita sambung lagi. " Melihat Rendra, Kalina langsung berpamitan kepada Dalia.
" Ok, baiklah! ".
Mereka kemudian bercipika-cipiki.
" Emmuach... emmuach..! "
" Bye, Dalia! " Kalina melambaikan tangannya ke arah Dalia.
" Bye. " Dalia pun membalas lambaian tangan itu.
Kalina melirik sekilas ke arah Rendra dan tatapan merekapun beradu sejenak sebelum akhirnya Kalina menghilang dari pandangan mereka. Setelah Kalina pergi, Rendra lalu menghampiri Dalia.
" Aku tidak pernah menyangka kau mengenalnya. " Ucap Rendra sesaat setelah duduk di samping Dalia.
" Dan aku tidak pernah menyangka kalau ternyata Kalina mantan istrimu. "
" Aku dan Dia hanya masa lalu, jadi jangan diungkit lagi. "
" Aku tidak mengungkitnya, aku hanya sedikit terkejut kalau ternyata mantan istrimu adalah sahabat baikku."
" Dia berselingkuh dengan teman sekolahnya dulu yang bernama Baim. Jika kau satu sekolah dengan Kalina tentu kau mengenal pria itu. "
__ADS_1
Apa? Baim? Kalina berselingkuh dengan Baim?
Lagi, Dalia harus mendengar satu fakta yang cukup mengejutkan dirinya.
" Dia berselingkuh dengan pria itu dibelakangku, bahkan pria itu berani menyentuhnya! " Ucap Rendra geram.
" Aku mengenal Baim yang kau maksud, Baim memang satu sekolah dengan kami. "
" Tapi aku tak mengerti, kenapa Dia tidak menikah saja dengan selingkuhannya itu dan malah memutuskannya. "
Apa ini ada hubungannya dengan pertanyaanku yang tak mampu dijawab oleh Kalina tadi. Kalina memutuskan Baim karena Dia masih mencintai Rendra.
Dalia terbang bersama fikirannya sendiri.
" Dalia, apa kau mendengarku? " Ulang Rendra lagi karena tak kunjung mendapatkan respon.
" De.. dengar kok, Ren. "
" Sudahlah, jangan bahas soal Dia lagi, yang perlu kita fikirkan sekarang adalah tentang kita. "
" Tentang kita? " Ulang Dalia
" Iya, tentang kita! Aku sudah membayangkan betapa bahagianya aku dimana setiap aku bangun dari tidurku, mata ini selalu melihatmu berada di sampingku. " Ucap Rendra sambil menyelipkan anak rambut Dalia yang terjatuh di pipinya.
Dalia menelan salivanya saat jarak wajah Rendra tidak begitu jauh dari wajahnya.
" Kau sudah memikirkan sejauh itu? " Tanya Dalia.
" Tentu saja, aku sudah tidak sabar ingin menikahimu, Dalia. " Rendra sudah tak mampu berbasa-basi lagi.
" Kalau begitu bersabarlah, jika kita memang berjodoh, tentu kita akan menikah. "
" Aku selalu sabar menunggu momen itu. " Rendra tersenyum.
" Dan aku selalu berdo'a yang terbaik untuk hubungan kita. " Dalia membalas senyum itu.
Rendra lalu mendekatkan tangannya di pipi Dalia, dan membelainya lembut.
" I love you, Dalia! " Ucap Rendra tulus.
Deg!
Jantung Dalia berpacu dengan cepatnya. Ia menelan salivanya berkali-kali sebelum menjawab Rendra.
" Katakan kau juga mencintaiku, Dalia! " Mata Rendra menatap dalam netra hitam milik Dalia.
Hening...
" I... I love you too..! " Jawab Dalia terbata.
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Maaf yah Readers episode kali ini cuma dapat 1.100 kata aja. Soalnya Author lagi mentok, alias gak bisa konsen.
Jangan lupa like, vote, dan komennya yah..
__ADS_1
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘