
" Apa anda sudah siap, nona Dalia? " Tanya Rio sambil melirik ke arah Dalia.
" Si.. siap pak! " Ucap Dalia sambil memegang jari jemarinya untuk mengurangi sedikit kegugupannya.
Ceklek!
" Tunggu sebentar, pak! " Pinta Dalia tiba-tiba saat pintu itu belum terbuka sempurna.
" Ada apa lagi? " Tanya Rio yang merasa heran.
" Apa wajah saya tidak akan merusak mata tuan Birendra Federick? " Ucapnya sambil menatap bola mata Rio.
Rio menatap balik Dalia, Ia mengulum senyumnya. Pertanyaan konyol Dalia telah menggelitik hatinya untuk tertawa, namun Ia tahan. Kemudian seulas senyum pun Ia berikan pada Dalia.
" Kamu cantik. " Ucapnya.
Mendengar pujian yang lolos dari seorang Asisten Direktur Federick Corporation, Dalia merasa tersipu. Ia seketika menundukkan wajahnya karena malu setelah sadar akan pertanyaan konyolnya tersebut.
" Udah siap? " Tanya Rio lagi.
" Siap pak. " Ucap Dalia sambil menganggukkan kepalanya.
" Relaks aja, ok! " Rio mencoba menenangkannya.
Pintupun kemudian di buka lebar oleh Rio.
" Permisi tuan. "
" Iya, masuk! " Jawab Rendra yang masih sibuk dengan penanya.
Rio kemudian mengajak Dalia untuk lebih dekat ke arah meja kerja Rendra.
" Saya datang membawa calon sekretaris tuan Rendra yang baru. "
Mendengar perkataan Asistennya tersebut, Rendra pun langsung menghentikan aktifitasnya. Ia lalu mendongak dan menatap langsung ke arah Dalia. Pandangan mereka pun bertemu.
Cantik! Tapi, aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana?
Gumam Rendra dalam hati dengan mata yang tak berkedip memperhatikan Dalia dari atas sampai bawah.
Pria ini, bukankah Dia orang kaya sombong yang pernah meneriakiku waktu di depan rumah Molly? Apa hubungannya dengan nona Molly?
Dalia pun bergumam dalam hatinya dengan mata yang juga masih menatap ke arah Rendra.
Rio yang sedang berdiri di antara keduanya, hanya bisa merasa heran karena bosnya beradu pandang cukup lama dengan Dalia.
Mereka kenapa malah beradu pandang? Apa mereka berbicara lewat mata ya?
Merasa dirinya ketahuan oleh Rio sedang memperhatikan wanita yang berada di hadapannya. Rendra berpura-pura membetulkan posisi dasinya yang tidak miring itu.
" Ehmm..! " Rendra kemudian berdehem sebelum mulai berbicara.
" Kamu Dalia Andrina? " Ucapnya.
" Iya, pak. " Balas Dalia sopan.
" Panggil saya tuan muda! " Rendra mulai merasa kesal karena dirinya di panggil dengan sebutan " pak ".
" Baik pak, eh maksud saya tuan muda. "
" Bagus! Apa aku pernah melihatmu sebelumnya? " Tanya Rendra lagi karena merasa tidak asing dengan wajah Dalia.
" Sepertinya pernah tuan, saya pernah anda marahi waktu memarkirkan motor di depan rumah tuan muda. " Ucap Dalia sedikit jujur.
" Ohhh... jadi kamu wanita bodoh yang waktu itu berada di depan rumahku? "
" Iya, Tuan. Maaf kalau saya telah membuat anda kesal pada waktu itu. " Ucap Dalia pasrah saja di hina seperti itu.
" Rio, bagaimana bisa kau mempekerjakan wanita ini yang cara memarkirkan motor saja Dia tidak tau! " Bentak Rendra pada Rio dan cukup membuat Rio dan Dalia tersentak di buatnya.
Aduh, bagaimana ini? Kenapa aku tidak bisa mengenalinya lebih dulu sebelum tuan Rendra mengenali wajahnya..?
" Tapi tuan, saya rasa Dia memiliki pengalaman yang sangat baik selama bekerja di perusahaan Adiyaksa Group. " Ucap Rio mencoba membela Dalia.
" Ya sudahlah, sudah terlanjur juga Dia menginjakkan kakinya di ruangan ini. " Desis Rendra.
" Kamu bekerja di Adiyaksa Group berapa lama? " Tanya Rendra lagi pada Dalia.
" 4 tahun, tuan. 2 tahunnnya saya sebagai karyawan magang di perusahaan tersebut. "
" Lumayan lama, kenapa resign? "
" Saya ingin fokus mengasuh anak saya yang baru berusia 6 bulan waktu itu, tuan. "
" Ohh...begitu, ternyata ibu yang baik juga. "
" Lalu, kenapa bercerai dari suamimu? "
__ADS_1
Hah! Pertanyaan apa itu? Kenapa juga tuan Rendra menanyakan hal yang tidak penting begitu?
Ucap Rio dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Dalia sedikit terkejut dengan pertanyaan yang Rendra berikan padanya. Ia tidak menyangka seorang bos besar dari Federick Corporation memberikan pertanyaan yang mengarah ke ranah pribadi tersebut, bukan ke ranah prestasinya.
" Kenapa diam, jawab! "
Aduh... tuan Rendra!
Rio hanya bisa mengelus dada.
" Karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa di pertahankan dari kami. " Jawab Dalia dengan sedikit kesal di dalam dadanya.
" Kamu egois! " Ucap Rendra yang cukup membuat Dalia tersentak mendengarnya.
" Kamu tidak memikirkan perasaan anakmu? Hmm... " Lanjut Rendra lagi, namun kali ini sudah berhasil membuat hati Dalia mencelos mendengarnya.
" Maafkan saya tuan, tapi saya rasa ini ranah pribadi saya, jadi tidak ada hubungannya dengan lamaran kerja saya di perusahaan ini. " Ucap Dalia tegas.
Kenapa jadi begini? Rio menepuk jidatnya.
" Wah... wah.. wah..! " Rendra bertepuk tangan sambil berdiri menghampiri Dalia.
" Kamu cukup berani dengan saya, ternyata! " Lanjut Rendra lagi.
Ya Tuhan, kenapa jadi begini sih? Rio sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
" Sekali lagi saya minta maaf. Jika memang saya tidak sesuai dengan kriteria karyawan yang tuan cari, saya bisa pergi saat ini juga! "
Ucap Dalia lagi dengan lebih berani.
" Ha.. ha.. ha.. ha...! Rio! " Panggil Rendra pada Rio dengan tertawa.
" I.. iya.. tuan..! " Jawab Rio yang sudah pasrah akan kehilangan sekretaris tuan Rendra lagi.
Mati aku! Dalia... Dalia... belum juga bekerja, sepertinya kamu bakal bernasib sama dengan yang lainnya.
" Aku suka Dia! Aku butuh wanita berani seperti Dia! Cepat kau tunjukkan ruangannya! " Ucap Rendra tiba-tiba.
Rio dan Dalia terperangah tidak percaya mendengar perkataan Rendra setelah perdebatan yang terjadi.
" Kenapa diam!" Bentak Rendra pada Rio.
" Apa kau sekarang menjadi bodoh setelah melihat wanita cantik di sampingmu? " Ucap Rendra lagi yang tanpa sadar sebuah pujian Ia lesatkan untuk Dalia.
" Ti... tidak tuan, baiklah saya akan menunjukkan ruang kerja untuk nona Dalia. " Ucap Rio dengan cepat sambil memberikan senyum terbaiknya kepada Dalia.
" Kenapa kau malah tersenyum padanya? Jangan ada yang berani tersenyum kepadanya, karena itu bisa membuat Ia besar kepala! " Rendra menyahut saat menyadari Rio melempar senyum termanis ke arah Dalia.
Apa? Sabar Dalia.... sabar...!
Dalia mencoba menyabarkan dirinya sendiri.
" Maafkan senyuman saya, tuan muda! "
" Bagus! Sekarang kalian berdua pergi dari hadapanku, jangan membuatku sakit mata karena melihat wajah kalian berdua! "
Sakit mata? Apa wajahku sejelek itu?
Ucap Dalia dalam hati.
Wanita secantik ini bisa bikin sakit mata, bagaimana lagi kalau yang jeleknya?
Pikiran Rio pun tak kalah anehnya dengan Rendra.
Rio dan Dalia pun segera beranjak meninggalkan ruangan menyeramkan itu. Namun sebelumnya, Rendra sempat melirik sekilas gerak tubuh Dalia dari tempat Ia duduk, sebelum wanita itu benar-benar menghilang dari hadapannya. Semburat senyumpun terlukis di bibirnya.
" Cantik juga! " Ucapnya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
################################
Ketika Rio dan Dalia melewati meja karyawan yang letaknya di luar dari ruangan Direktur Utama, semua mata tertuju pada Dalia. Ada yang memuji kecantikannya, namun ada pula yang mencibirnya karena merasa iri akan kehadiran Dalia.
" Eh.. sepertinya Dia bakalan jadi sekretaris barunya tuan Rendra, cantik juga ya? " Ucap salah satu karyawan.
" Palingan gak bakal bertahan lama seperti yang sudah-sudah. " Sahut karyawan lainnya.
" Eh.. denger ya, kalau di liat dari ciri-cirinya sih tipe tuan muda banget. Bisa ajakan kali ini bertahan selamanya. " Sahut yang lain lagi.
" Ha.. ha.. ha.. ha..! Mau secantik bidadari pun, kalau sudah berurusan dengan yang namanya Birendra Federick, bakalan gak lama umurnya. " Tambah karyawan lainnya.
" Huss!! Sudah! Jangan banyak bicara kalau kalian masih ingin bekerja di sini. " Timpal salah satu karyawan yang dari tadi hanya diam saja mendengar celotehan teman-temannya tersebut.
Menyadari perkataan temannya itu ada benarnya juga. Mereka pun sadar diri dan memilih diam dan langsung fokus dengan pekerjaan masing-masing.
****
Sementara itu, di dalam sebuah ruangan yang biasa di gunakan oleh sekretaris Rendra sebelum-sebelumnya.
" Ini ruanganmu, nona Dalia. " Ucap Rio dengan senyum termanisnya seakan melupakan peringatan dari Rendra sebelumnya.
Dalia memperhatikan setiap sudut ruangan yang sudah tertata rapi dan sangat besar tersebut.
" Apa ini tidak terlalu besar, pak Rio? " Tanyanya.
" Ini jauh lebih kecil jika di bandingkan dengan ruangan saya. " Jawab Rio yang memang ada benarnya.
" Baiklah, kalau begitu kapan saya sudah mulai bekerja, pak Rio? "
" Besok. "
" Besok? " Ulang Dalia.
" Iya, besok kamu sudah harus berada di ruangan ini. Saya akan berikan beberapa catatan kerja selama bekerja bersama tuan Rendra. Mulai dari apa yang Dia suka dan yang tidak di sukai, semua akan saya rangkum dalam catatan tersebut. "
Walaupun terdengar sedikit aneh, tapi Dalia mencoba untuk menerima pernyataan Rio.
" Baiklah, pak! Saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan Federick Corporation. "
" Bagus, kalau bagitu kamu ikut saya, saya akan memberikan catatan kerja itu untukmu. "
Rio pun langsung menuju ke ruangannya yang di ikuti pula oleh Dalia di belakangnya.
" Ini Dia catatan kerja yang harus kamu pelajari. "
Rio menyerahkan sebuah catatan kepada Dalia setelah berada di dalam ruangannya tersebut. Namun, catatan kerja itu tidak langsung di baca oleh Dalia.
" Silahkan kamu pelajari dulu di rumah, besok kamu sudah harus siap dengan apa yang harus kamu kerjakan." Lanjut Rio lagi.
" Baik pak Rio, kalau begitu saya permisi. " Ucap Dalia sambil beranjak dari tempat duduknya dan bersiap-siap untuk pulang.
" Iya, silahkan! "
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
"Iya, silahkan like, vote, dan komennya yah Readerss!! " Ucap Rio, selaku Asisten Direktur Federick Corporation.
Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘
__ADS_1