Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Dilema Besar


__ADS_3

Hari demi hari berganti, kini Shenzipun sudah di perbolehkan pulang dari beberapa hari yang lalu. Pertemuan yang tidak terduga antara Rendra dan Kalina, serta fakta yang terkuak akan Dalia adalah sahabat baik Kalina kini menjadi dilema di hati Dalia.


Hubungan persahabatan yang pernah terjalin membuat Dalia dan Kalina kembali bersahabat baik. Keduanya sering komunikasi melalui ponsel mereka. Bahkan sesekali Kalina berkunjung ke rumah Dalia, hanya untuk sekedar berbagi cerita seputar kisah wanita.


Dari cerita-cerita Kalina, Dalia dapat membaca dengan jelas, bahwa Kalina masih menyimpan rasa cinta terhadap Rendra. Walaupun begitu, Dalia juga tidak bisa menampik, bahwa dirinya juga egois dan takut kehilangan Rendra. Sungguh hal ini membuatnya begitu gegana.


" Ibu, apa Papa jadi datang ke rumah kita, bu? " Tanya Shenzi. Saat itu juga Dalia tersadar dari lamunannya saat Ia sedang memasak makanan spesial untuk menyambut kedatangan Rendra di rumahnya.


" Jadi kok sayang, mungkin sekarang Papa Rendra sedang berada di perjalanan. " Jawab Dalia sambil mengelus lembut pipi anaknya.


" Horee!! Shenzi mau ajak Papa Rendra main boneka barbie. " Kening Dalia seketika mengkerut mendengar perkataan Shenzi barusan.


" Eh.... emb...! " Dalia tampak bingung harus berkata apa.


" Kalau gitu, Shenzi mau ambil boneka barbie Shenzi dulu ya, bu. "


" Shenzi, tunggu! " Teriak Dalia, namun Shenzi sudah lebih dulu meninggalkannya berdiri mematung di dapur.


Ya ampun, aku gak bisa ngebayangin seorang Birendra Federick memainkan boneka barbie? Gumam Dalia sambil tertawa kecil.


Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari arah depan.


Tok.. tok.. tok..!


" Apa Itu Rendra? " Ucap Dalia sambil tersenyum bahagia.


" Untung saja semua makanannya sudah siap! " Ucapnya lagi sambil menata makanan yang Ia masak itu di atas meja makan.


Tok.. tok.. tok..!


Suara ketukan pintu kembali terdengar.


" Iya, sebentar! " Teriak Dalia sambil berlari dari arah dapur.


Ceklek!


Dalia membuka pintu rumahnya dan mendapati seorang pria bertubuh tinggi tegap sedang membelakanginya. Jelas, mata Dalia menangkap dari pakaiannya, pria itu bukanlah Rendra.


" Siapa ya? " Tanya Dalia dan seketika itu juga pria itupun langsung menoleh ke arahnya.


" Dalia. " Ucap pria itu tampak begitu bahagia saat melihatnya.


" Ray... Raymon. " Dalia terbata saat menyebutkan nama itu.


Yah Raymon, mantan suami Dalia yang selama tiga tahun terakhir ini tidak pernah Ia lihat batang hidungnya sama sekali.


" Akhirnya aku menemukanmu! Aku mencarimu kemana-mana, hingga akhirnya aku mendapatkan alamat ini. Dan ternyata benar, kau tinggal disini. " Ucap Raymon.


" Kau sudah bebas? " Tanya Dalia lagi.


" Iya, aku mendapatkan revisi dan alhamdulillah aku bisa menghirup udara bebas kembali. "


Hening.


Dalia tampak memperlihatkan wajah tidak sukanya akan kehadiran mantan suaminya itu. Dan itu sungguh mengusik hati Raymon.


" Kau tidak senang melihat kedatanganku? Itu sebabnya kau tak mengizinkan ku masuk? "


" Apa yang kau inginkan, Ray? "


" Aku hanya ingin melihat putri kecil kita. Dia pasti sudah tumbuh menjadi gadis kecil sekarang. " Ucapnya dengan wajah sendu.


Hening.

__ADS_1


Dalia masih diam membisu dengan mengalihkan pandangannya dari Raymon.


" Maafkan aku, Dalia! Maafkan atas segala kesalahanku padamu, pada anak kita. Aku memang lelaki bodoh yang dengan mudahnya percaya begitu saja omongan pria breng*** itu. Seharusnya aku percaya padamu. Ku mohon maafkanlah aku! " Lanjut Raymon lagi sambil bertekuk lutut di hadapan Dalia.


Dalia menatap dalam manik mata pria yang pernah mengisi hatinya itu. Tampak dengan jelas sebuah ketulusan yang keluar dari bibir lelaki yang pernah menjadi miliknya tersebut. Ada keegoisan yang timbul dari dalam dirinya agar tak memaafkan pria yang sudah memberinya seorang anak tersebut, namun rasa ego itu Ia redam. Karena bagaimanapun juga, Ia tidak boleh seperti itu. Raymon tetap memiliki hak atas putri kecil mereka.


" Bangunlah Ray! Aku sudah memaafkanmu sejak lama! Masuklah, Shenzi sedang bermain dengan bonekanya. " Dalia mempersilahkan Raymon masuk ke dalam rumahnya.


" Aku sudah tidak sabar ingin menemuinya. Dimana putri kecil kita? " Tanya Raymon tampak antusias setelah kakinya melangkah masuk ke dalam rumah Dalia.


" Sebentar, aku panggilkan dulu! " Dalia berlalu dari hadapan Raymon dan menuju kamarnya.


" Shenzi sayang, ada ayah di depan." Ucap Dalia berbicara lembut sambil menyentuh pipi anaknya itu.


" Ayah? " Ulang Shenzi yang masih bingung.


" Iya, Ayah! Ayahnya Shenzi sudah pulang. " Jawab Dalia sambil tersenyum.


" Yang benar bu? " Tanya Shenzi lagi dan Dalia menganggukkan kepalanya.


" Horee! Ayah pulang! " Teriak Shenzi kegirangan sambil berlari keluar menemui Raymon.


" Ayah! " Teriaknya lagi sambil merentangkan tangannya bersiap untuk menyambut sosok yang amat Ia rindukan selama ini.


" Shenzi sayang! Gadis kecil Ayah! " Raymon menyambut anaknya itu ke dalam pelukannya.


" Shenzi sangat merindukan ayah! " Ucap Shenzi sambil tangannya bergelayut manja di leher Raymon.


" Ayah juga, sayang! Ayah jauh lebih merindukan putri kecil Ayah yang cantik ini! " Raymon menghujami Shenzi dengan ciuman yang bertubi-tubi.


Dalia menatap penuh haru saat melihat pemandangan yang ada dihadapannya saat ini. Di satu sisi Ia bahagia karena melihat putri kecilnya begitu bahagia. Namun di sisi lain, Ia begitu gegana, belum selesai perihal Rendra dan Kalina, kini timbul lagi perihal baru yaitu Raymon.


Ujian apa lagi ini? Kenapa hubunganku dan Rendra begitu rumit?


" Ayah." Sahut Shenzi lagi yang tangannya masih bergelayut manja di leher Raymon.


" Iya, sayang. "


" Apa Ayah tidak merindukan ibu seperti Ayah merindukan Shenzi? " Tanya Shenzi begitu polosnya.


Hening.


Raymon dan Dalia tampak syok akan pertanyaan putri kecil mereka tersebut. Keduanya beradu pandang sejenak, sebelum akhirnya Dalia mengalihkan pandangannya.


" Tentu saja Ayah rindu! " Ucap Raymon tampak canggung.


" Kalau begitu, Ayah juga harus mencium ibu sebanyak Ayah mencium Shenzi tadi! " Ucapan polos itu lolos begitu saja dari bibir mungil gadis kecil mereka yang seketika itu juga membuat Dalia membulatkan matanya dengan sempurna.


" Shenzi! " Tegur Dalia.


Raymon tampak memberi kode pada Dalia dengan tangannya.


" Tentu saja Ayah akan melakukannya, tapi tidak di depan Shenzi. " Raymon hanya bisa menjawab itu.


Yah, jujur aku sangat merindukanmu Dalia! Aku sangat rindu! Aku rindu ingin memelukmu dan menghujamimu ciuman yang banyak seperti dulu. Tapi aku sadar itu tidak mungkin, karena saat ini aku hanyalah sang mantan.


Gumam Raymon dalam hatinya.


" Ok, baiklah! Tapi Ayah janji dulu sama Shenzi, kalau Ayah tidak akan pergi lagi ninggalin Shenzi sama ibu! " Ucap Shenzi yang terdengar seperti perintah.


" Iya sayang, Ayah janji Ayah tidak akan pernah meninggalkan Shenzi dan juga ibu. "


" Horee!! Ayah tidak akan meninggalkan kita lagi, bu! " Ucap Shenzi kegirangan sambil melihat ke arah Dalia.

__ADS_1


Dalia tidak menghiraukan perkataan anaknya itu, Ia memilih beranjak meninggalkan mereka yang masih menatapnya dengan tatapan penuh harap.


Dalia kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang basah karena air matanya sendiri. Air mata itu keluar dengan sendirinya dan seakan tak ingin berhenti. Dalia benar-benar dilanda dilema besar.


Saat ini Ia sendiri tidak mengerti akan apa yang sedang Ia tangisi. Apakah Ia menangis bahagia melihat anaknya bahagia atau Ia menangisi hubungannya bersama Rendra yang terus dilanda ujian berat.


****


Sementara itu di ruang tamu, tampak Shenzi begitu bahagia bersama Raymon. Ia bercerita apa saja sedangkan Raymon dengan setia mendengarkan anaknya itu bercerita. Seperti halnya saat ini.


" Ayah tau gak? " Tanya Shenzi.


" Tau apa? "


" Selain Shenzi punya Ayah. Shenzi juga punya Papa. " Ucapnya begitu polos.


" Pa.. pa? " Ulang Raymon sedikit terbata.


" Iya, Papa! Shenzi punya Papa yang juga sama gantengnya seperti Ayah. "


" Benarkah itu ?" Tanya Raymon yang sebenarnya Ia begitu terusik anaknya berbicara tentap sosok Papa tersebut.


" Iya Yah! Nanti Shenzi kenalin sama Ayah kalau Papanya udah sampai di sini! " Jawab Shenzi dengan polosnya.


" Ok, baiklah! "


" Assalamu'alaikum! " Tiba-tiba terdengar suara seorang pria mengucap salam, kebetulan pintu rumah Dalia sengaja tidak di tutup untuk menghindari fitnah. Hingga dengan jelas memperlihatkan wajah pria tersebut.


" Wa'alaikum salam! " Raymon menjawab salam tersebut.


" Papa! " Teriak Shenzi langsung turun dari pangkuan Raymon dan berlari menghampiri Rendra.


" Hey! Anak Papa, sini peluk Papa dulu! " Ucap Rendra sambil membungkukkan tubuhnya untuk menyambut Shenzi ke dalam gendongannya.


Raymon diam terpaku melihat kedekatan anaknya dengan pria asing baginya itu.


" Ibu, Papa datang! " Teriak Shenzi memanggil ibunya.


" Apa! Rendra sudah datang? Apa yang harus aku lakukan sekarang? " Ucap Dalia sambil menatap dirinya di depan cermin.


*


*


*


*


*


*


*


################################


Hay Readers!!


Bertemu lagi di hari senin!!


Jangan lupa like, vote dan komennya yah..


Kiss jauh dari Author.... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2