
" Dalia, bagaimana keadaanmu sekarang? " Tanya Rendra ketika Shenzi sekarang sudah sibuk bermain bersama bu Retno dan lainnya.
" Jauh lebih baik. " Dalia tidak lagi menghiraukan aturan kerjanya, itu sebabnya Ia hanya menjawab datar setiap pertanyaan Rendra.
Rendra kemudian duduk di sebuah kursi untuk lebih dekat dengan Dalia. Ia melihat makanan dari rumah sakit yang belum tersentuh sama sekali. Rendra lalu mengambil piring makanan itu dan berniat menyuapi Dalia.
" Saya tidak lapar! " Ucap Dalia cepat.
" Makanlah agar tenagamu lekas pulih. "
" Saya tidak lapar, tuan! "
" Sini biar aku suapin! "
" Ya udah, biar saya makan sendiri! " Dalia hendak merampas piring di tangan Rendra, namun dengan cepat Rendra menjauhkannya.
" Dalia, aku bilang aku yang suapin! " Paksa Rendra tak mau kalah.
" Huft! " Dalia mendengus kesal.
Rendra kemudian mulai mengarahkan sesendok nasi ke mulut Dalia.
" Buka mulutnya, aaaaa...! " Ucap Rendra dan Dalia pun terpaksa menurutinya dengan wajah yang tak ramah.
" Nyam...! Enakkan? " Lanjut Rendra lagi ketika berhasil menyuapi Dalia.
" Lagi ya, aaaaa.....! " Rendra kembali menyuapi Dalia dan Daliapun menurutinya.
Mereka melakukan itu berulang kali hingga makanan itu tidak tersisa sama sekali. Rendra kemudian mengambilkan Dalia segelas air putih yang kemudian diberikannya pada wanita yang masih memasang wajah tak bisa ditebak itu.
" Minumlah! " Titah Rendra dan lagi-lagi Dalia menurutinya.
Hening sebentar.
" Dalia, aku ingin minta maaf akan semua perkataanku tempo hari yang sudah melukai hatimu. Maafkan aku! " Rendra kembali meminta maaf untuk kesekian kalinya kepada Dalia.
" Sudahlah tuan, lupakan saja! Terima kasih untuk semuanya. Untuk semua yang telah tuan berikan padaku, termasuk sudah membelikan Shenzi boneka kesukaannya. "
" Apa itu artinya kau memaafkanku? "
" Huft! Sudahlah tuan, saya bilang lupakan saja semua itu. "
" Tapi Dalia , bagaimana aku bisa tenang kalau kau belum sepenuhnya memaafkanku. "
" Aku lelah tuan. Maaf aku ingin istirahat! " Dalia berbaring memunggungi Rendra.
Melihat hal itu, Rendra cukup dibuat kesal oleh Dalia karena mengusirnya secara tidak langsung itu.
" Aku tau kau masih marah padaku, Dalia! Tapi, aku tidak akan menyerah! Aku akan terus berusaha sampai kau mau memaafkanku! "
" Sudahlah tuan Rendra, apa pentingnya hal itu bagi Anda? Saya hanya bawahan Anda! "
Dalia kembali menoleh ke arah Rendra dengan emosi yang menggebu-gebu.
" Jelas kamu sangat penting buat aku! " Bentak Rendra sampai-sampai semua menoleh ke arahnya dan Dalia.
" Maaf! " Lanjut Rendra lagi setelah menyadari dirinya terbawa emosi.
" Masih banyak sekretaris terbaik diluar sana, bukan cuma saya! " Ucap Dalia yang mengira maksud Rendra bahwa dirinya sangat penting buat perusahaan.
Bukan itu Dalia, kau sangat penting bagi hidupku. Kenapa kau tidak mengerti!
Ucap Rendra dalam hati.
Hening lagi.
" Baiklah, aku akan menemuimu lagi, jika kau sudah tidak marah padaku lagi. Aku masih belum menyerah untuk mendapatkan maaf darimu. Aku permisi! " Rendra akhirnya memilih mengalah dari pada harus berdebat panjang lebar dengan Dalia.
" Shenzi, Om ganteng pulang dulu yah, titip ibu! " Ucap Rendra ketika menghampiri Shenzi yang sedang bermain.
" Cepet banget Om pulangnya? "
" Iya, soalnya Om ada kerjaan yang harus Om selesaikan. "
" Tapi, nanti kita ketemu lagi kan? " Tanya Shenzi penuh harap.
" Tentu sayang, Om janji! "
" Ok! Hati-hati di jalan ya Om ganteng. " Ucap Shenzi sebelum kembali fokus dengan mainannya.
" Rio, ayo kita pulang! Faiz, kau juga boleh pulang. " Rendra kemudian mengajak Rio pulang.
" Baik, tuan. " Jawab Faiz.
" Oh iya Imran, Apa kau sudah memerintahkan yang lain untuk berjaga-jaga di sekitar sini? " Rendra bertanya kepada Imran sebelum dirinya benar-benar pulang.
" Sudah, tuan! "
" Kalau begitu, nanti kau bisa mengantar Bu Retno dan Shenzi pulang. "
" Eh, tidak perlu tuan, rencananya saya dan Shenzi akan menginap disini, Shenzi ingin menemani ibunya. " Sela bu Retno tiba-tiba.
" Oh, baguslah kalau begitu. "
__ADS_1
" Kalau begitu Imran, kau harus tetap menjaga mereka disini. " Lanjut Rendra lagi.
" Siap, tuan! " Jawab Imran tegas.
" Anda tidak perlu repot-repot tuan! Kami bisa menjaga diri kami sendiri! " Ucap Dalia tiba-tiba, sontak mambuat Rendra geram mendengarnya.
" Saya tidak terima penolakan! " Jawab Rendra tegas hingga Dalia hanya bisa diam mendengar kata-kata andalan Rendra itu.
" Ayo, kita pulang Rio! " Lanjut Rendra lagi.
" Ba.. baik, tuan! " Jawab Rio mengiyakan.
Maunya apa sih? sungguh menyebalkan!
Gerutu Dalia dalam hati.
Ya Ampun, kalian mirip Tom and Jerry. wkwkwkwkwk...
Faizan mengulum senyumnya sebelum akhirnya Ia pun meninggalkan ruangan itu.
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
2 Hari Kemudian.
Selama dua hari ini, Dalia diizinkan untuk tidak bekerja dahulu. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menghabiskan waktu bersama anak semata wayangnya, Shenzi. Seperti halnya saat ini, Dalia tampak sedang menemani anaknya menggambar.
" Ibu, kapan kita bertemu dengan Om ganteng lagi, bu? " Celetuk Shenzi tiba-tiba.
" Hah? " Dalia terkejut mendengar petanyaan tiba-tiba dari anaknya itu, Ia kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan yang sangat sulit untuk Ia jawab itu.
" Ibu kok gak jawab? " Tanya Shenzi lagi karena tak mendapatkan respon.
" Hmm... lain kali ya, sayang! Mungkin Om gantengnya sekarang lagi sibuk. " Dalia sudah tak bisa lagi menghindari pertanyaan itu.
" Tidak! Om ganteng tidak punya anak. " Jawab Dalia santai.
" Kalau begitu, apa boleh Shenzi jadi anaknya Om ganteng? "
Mata Dalia membulat sempurna ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Shenzi.
" Tidak boleh! Kamu itu anak ibu. "
" Shenzi memang anak ibu, tapi Shenzi juga jadi anaknya Om ganteng, gitu maksud Shenzi. "
" Tidak.. tidak..! Kamu hanya anak ibu, Om ganteng tetap Om ganteng, mengerti! "
" Baiklah. " Akhirnya Shenzi mengalah.
" Huft " Dalia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Bagaimana bisa anakku ingin menjadi anaknya tuan Rendra, itu artinya aku dan tuan Rendra..........? Tidak.. tidak! Itu tidak boleh terjadi, bisa aku mati berdiri kalau jadi istri laki-laki sombong seperti itu!
Gerutu Dalia dalam hatinya.
****
Sementara itu di tempat lain, tampak Rendra dan Rio sedang menjenguk Abigail di kantor polisi setelah penangkapannya kemarin malam. Abigail ditangkap dengan tuduhan penipuan dan pencucian uang serta mencoba melakukan percobaan pembunuhan kepada Rendra dan Dalia. Abigail akan dikenakan pasal berlapis atas kesalahannya tersebut.
" Abigail, jangan coba-coba bermain-main denganku! " Ucap Rendra sambil tersenyum penuh kemenangan.
" Aku tidak akan tinggal diam, Rendra! Aku pastikan kau tidak akan pernah mendapatkan Dalia! " Jawab Abigail dari balik jeruji besi.
" Kita lihat saja, nanti! " Balas Rendra sambil menyunggingkan senyum sarkasmenya sebelum meninggalkan Abigail yang tak berdaya di balik jeruji besi itu.
Setelah kejahatan Abigail berhasil terungkap, semuanya kembali berjalan normal. Seperti halnya proyek yang sempat dipercayakan kepada Adiyaksa group tersebut kini sepenuhnya jatuh ke tangan Federick Corporation.
Rendra sangat bersyukur, Federick Corporation dibawah kepemimpinannya kini menjadi Raja diantara perusahaan-perusahaan besar lainnya yang ada di Indonesia.
" Aku sangat bahagia, Rio! " Ucapnya ketika sudah kembali ke kantor.
" Selamat, tuan! "
" Oh iya, bagaimana dengan kabar surat pengunduran diri Dalia? "
" Masih dengan saya, tuan! Kita lihat keputusan Dalia besok. "
" Jangan biarkan Dia pergi dari Federick Corporation. "
__ADS_1
" Tapi tuan, bagaimana jika Dia sudah tidak mau lagi bertahan disini? "
" Biar aku yang akan membuatnya bertahan! "
" Apa rencana tuan? "
Rendra tampak berfikir sejenak.
" Segera kau siapkan makan malam romantis untuk malam ini! Aku ingin mengajaknya makan malam. "
Apakah tuan Rendra akan mengungkapkan perasaannya yang sempat tertunda dahulu?
Gumam Rio dalam hatinya.
" Kenapa kau diam saja? " Tanya Rendra yang mulai kesal melihat Rio tak merespon perkataanya.
" Ba..baik, tuan! Saya akan siapkan semuanya! "
" Bagus! "
Dalia, aku harap kau dapat merubah keputusanmu setelah makan malam romantis nanti malam.
Gumam Rendra sambil tersenyum sendiri.
Rendra kemudian meraih ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Dalia.
Tut.. tut.. tut..!
" Halo? " Jawab wanita pemilik nama Dalia dari seberang sana.
" Ha.. halo.. Dalia. " Rendra gugup.
" Ada apa tuan Rendra? " Tanya Dalia tak ingin berbasa-basi lebih lama.
" Emm.. itu... aku mau mengajakmu makan malam! "
" Maksudnya? "
" Maksudku, sebelum kamu memutuskan untuk resign, aku ingin mengajakmu makan malam bersama denganku malam ini. "
" Terima kasih tuan, tapi saya rasa itu tidak perlu. " Dalia berniat ingin mengakhiri panggilan Rendra.
" Tunggu dulu Dalia, jangan matikan panggilannya! Untuk sekali ini saja, aku mohon, please! " Pinta Rendra sedikit memaksa.
Hening.
Hening lagi.
" Baiklah, tapi saya punya satu permintaan. "
" Apa itu, katakanlah! "
" Apa boleh saya membawa Shenzi? Anak saya ingin sekali bertemu dengan Anda. "
" Tentu saja boleh! Aku sangat tidak keberatan. Aku juga sangat ingin bertemu dengan Shenzi. "
Juga ibunya.
Kata-kata ini hanya terucap di hatinya saja.
" Baiklah, terima kasih tuan. "
" Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Dalia. "
" Oh iya, nanti kamu dan Shenzi tunggu saja di rumah, aku akan datang menjemput kalian. " Lanjut Rendra lagi.
" Baiklah, tuan. Sampai jumpa. "
" Sampai jumpa juga, Dalia. "
Tut.. tut.. tut...!
Sambungan telfonnya sudah terputus, namun ponsel Rendra masih menempel di telinganya. Dengan senyum yang mengembang, Dia sudah membayangkan betapa indah makan malam yang akan Ia lewatkan nanti.
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Jangan lupa untuk Like, vote dan komennya yah Readers.
__ADS_1
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘