
Pukul 15.00 wib.
Dalia dan Lily tampak sedang berenang di kolam renang yang tersedia di villa tersebut. Terlihat pula dari arah balkon, ada yang sedang memperhatikan mereka. Yah, Dia adalah Faizan yang kebetulan sedang bersantai di balkon bersama Rio sambil menikmati pemandangan sekitar. Ketika Faizan mengarahkan teropongnya ke arah bawah, betapa terkejutnya Ia dengan apa yang Ia lihat.
" Wow! Pemandangan di bawah sini jauh lebih indah, pak Rio! " Ucapnya dengan mata yang tak berkedip.
" Di mana? Coba aku lihat. " Rio kemudian mengambil alih teropong itu dari tangan Faizan dan mengarahkannya ke arah yang di maksud oleh Faizan.
" Wow! " Rio menelan salivanya.
" Jangan lama-lama donk pak Rio, sini bagi aku juga! " Faizan yang tidak sabaran kemudian merampas teropong itu dari tangan Rio.
" Dasar otak mesum! " Rio memukul kepala Faizan dengan tanganya.
" Awh, sakit tau! " Faizan meraba kepalanya yang terasa sakit.
" Makanya, jangan liat yang begituan napa. Mending kita liat yang di sana lagi yuk! " Ajak Rio, namun tak diindahkan oleh Faizan.
" Tunggu dulu pak Rio, lagi nanggung nih! "
" Nanggung? Dasar otak mesum gak ada ahlak! Gantian donk! " Rio ternyata juga tidak mau kalah dan langsung merebut teropong itu lagi.
" Ngatain aku otak mesum, Dianya sendiri demen liat begituan! " Rungut Faizan.
" Apa yang kalian lihat? " Terdengar suara Rendra yang mengejutkan mereka berdua.
" I... itu... itu tuan... lihat... anu...! " Jawab Faizan terbata-bata.
" Lihat apa Rio? " Suara terdengar lebih keras.
" Li... lihat.. anu.. tuan! " Rio pun sama gugupnya dengan Faizan.
" Anu.. anu... apanya yang anu? Kalian kalau bicara yang benar! " Decak Rendra mulai kesal.
Merasa tidak puas dengan jawaban Faizan dan Rio, Rendra kemudian berjalan mendekati mereka berdua dan langsung merebut teropong yang di pegang Rio. Rendra kemudian mendekatkan matanya di teropong itu dan mulai menelusuri apa yang di lihat oleh kedua karyawannya tersebut.
Deg!
Sontak saja jantung Rendra berdegup tak karuan saat mendapatkan objek yang Ia lihat.
" Owh....! " Ucap Rendra yang dengan susah payah menelan salivanya yang tercekat di tenggorokannya saat melihat tubuh mulus milik Dalia yang hanya mengenakan pakaian renang saja saat itu.
Kau begitu menggoda, Dalia.
Gumam Rendra dalam hatinya.
" Pak Rio, ternyata tuan Rendra lebih otak mesum dari pada kita, buktinya tuan Rendra lebih lama melihatnya dari pada kita. Padahal kita kan juga mau! " Bisik Faizan ke telinga Rio.
" Sssttt..! Biarin aja! Itu artinya naluri lelakinya masih berfungsi. " Jawab Rio pelan sambil terkekeh.
Ketika Rendra masih fokus melihat ke arah kolam renang dengan teropongnya, tiba-tiba Dalia mendadak melihat ke arahnya. Sontak Rendra langsung berbalik badan dan menyerahkan teropong itu kembali ke tangan Rio.
" Aku mau mandi dulu, kalian bersiaplah! " Ucapnya sambil melenggang pergi dengan wajah tanpa dosa.
****
Sementara itu, Dalia yang menyadari kalau ada seseorang yang memperhatikannya dari atas balkon, sontak langsung memberitahukannya pada Lily.
" Lily! " Sahutnya.
" Iya, nona. "
" Sepertinya ada yang memperhatikan kita dari atas balkon. "
" Benarkah, nona? "
" Iya, aku melihatnya tadi, orang itu seperti...."
Tuan Rendra! Aku gak salah liat, yang tadi itu memang tuan Rendra, tapi buat apa Dia melihat ku mandi. Dasar otak mesum!
Gerutu Dalia dalam hati.
" Seperti siapa nona? "
" Ah sudahlah, lupakan! "
" Hmm...aku penasaran! Coba kita cek, nona! " Lily mengajak Dalia ke pinggir kolam renang agar lebih mudah melihat ke arah balkon.
***
Di balkon.
" Tuan Rendra kenapa mendadak pergi? " Tanya Rio heran.
" Entahlah, mungkin udah kebelet gak tahan. Ha.. ha.. ha..ha...! " Jawab Faizan tertawa yang kemudian juga dibalas dengan gelak tawa oleh Rio.
" Kebelet? Ada-ada aja kamu, Faiz! " Rio tertawa terpingkal-pingkal mendengar kebanyolan Faiz.
" Loh, iyakan! Secara tuan Rendra kan duda, otomatis udah lama banget tuh gak liat yang mulus-mulus, auto kebelet...! Ha.. ha.. ha..! " Faizan terus tertawa membayangkan bosnya yang kebelet karena gak tahan.
__ADS_1
" Ha.. ha.. ha.. ha..! Aku jadi ngebayangin wajah tuan Rendra yang kebelet! Dasar bocah! " Rio memukul pelan kepala Faizan tanpa mengendorkan tawanya.
" Pasti lucu banget, pas kebelet tapi gak ada tempat buat melampiaskannya! "
" Yah, auto ke kamar mandi! Ha.. ha.. ha..! " Rio terbawa suasana.
" Ya udah, capek aku ketawa, Faiz! Coba kita lihat di bawah, emangnya apa yang sudah membuat tuan Rendra nyelonong pergi begitu aja. " Lanjut Rio lagi.
" Ayo! "
Ketika Rio dan Faizan kembali melihat ke arah kolam renang, tapi kali ini tanpa menggunakan teropongnya. Betapa terkejutnya mereka saat sorot mata menghunus tajam milik Dalia dan Lily yang seakan ingin menerkam mereka berdua.
" O.. owh..! " Ucap Rio dengan wajah terkejutnya.
" ******, kita ketahuan! " Ucap Faizan yang juga sama terkejutnya.
" Pantes, tuan Rendra auto kabur! " Balas Rio
" Sekarang apa yang harus kita lakukan, Faiz? " Lanjut Rio lagi.
" Apa lagi, selain.... kaburrrr! " Jawab Faiz yang langsung berlari meninggalkan balkon tersebut.
" Tunggu aku, Faiz! " Teriak Rio yang ditinggal kabur duluan.
" Hey kalian! Jangan kaburrr! " Teriak Dalia dan Lily yang suaranya masih terdengar di telinga mereka berdua.
" Dasar laki-laki !" Decak Dalia.
" Iya, dasar otak mesum! " Sambung Lily.
****
Hening...
Hanya terdengar suara gemercik air di kolam renang.
" Lily, aku duluan yah, soalnya mau ke kamar mandi dulu! " Ucap Dalia sambil keluar dari dalam kolam renang.
" Ok nona, nanti aku nyusul belakangan, aku masih mau berendam sebentar. " Jawab Lily.
Dalia kemudian memakai handuk piamanya dan langsung masuk ke dalam villa berniat menuju kamarnya. Ketika sampai di depan kamar, Dalia langsung membuka pintu kamar yang ada di depannya saat ini.
Ceklek!
Setelah itu, Dalia langsung menutup rapat pintu kamar itu kembali. Ia kemudian langsung membuka piama handuknya dan berjalan menuju kamar mandi dengan hanya mengenakan pakaian renang saja.
" Awh! " Dalia menutup mata dengan kedua tangannya.
" Dalia! " Rendra menelan salivanya dengan susah payah, bagaimana tidak, Dalia yang hanya menggunakan balutan baju renang yang cukup sexy itu memperlihatkan dengan jelas bentuk tubuhnya di depan mata Rendra.
" Apa yang tuan Rendra lakukan di kamarku? " Ucap Dalia panik sambil mencari piyama handuknya yang berserakan di lantai untuk segera menutup tubuhnya.
" Owh! Kamarmu? Coba kau perhatikan dengan teliti, apa ini kamarmu? " Rendra berjalan mendekat ke arah Dalia.
Dalia kemudian mengarahkan pandangannya ke sekeliling kamar, dan benar saja Ia salah masuk kamar dan sekarang malah terjebak di dalam kamar bos menyebalkannya itu.
Bodohnya aku! Kenapa juga bisa salah kamar. Gumam Dalia yang merutuki kebodohannya sendiri.
" Maaf tuan, saya salah kamar. " Dalia menundukkan pandangannya dari tubuh Redra yang tampak maskulin itu dan beranjak ingin membuka pintu kamar Rendra, namun dengan cepat tangan Rendra segera menarik tangannya dan menyandarkan tubuh Dalia di dinding kamar.
Pandangan mereka bertemu, jantung keduanya bergemuruh seakan beradu. Nafas merekapun memburu. Ada hasrat yang kuat, yang keduanya tidak mengerti hasrat apakah itu.
" Kau sengaja menggodaku, ya? " Tanya Rendra dengan nafas yang memburu.
Hembusan nafas Rendra terasa menghangat di wajah Dalia. Dalia memejamkan matanya, dan menelan salivanya, berharap bisa mengurangi rasa gugupnya.
" Ti... tidak sama sekali, tuan Rendra. Saya benar-benar salah kamar. " Jawab Dalia tergugu.
" Jangan bohong Dalia, katakan saja jika kau menginginkannya. Aku bisa membayarmu untuk waktu yang singkat ini. " Nafas Rendra kian memburu dengan pandangan mata yang hendak menerkam Dalia.
" Tidak tuan, aku sama sekali tidak menginginkannya. " Dalia mulai merasa takut.
" Bilang saja kau mau, Dalia! Ayolah, aku pun menginginkannya. " Rendra mendekatkan wajahnya untuk lebih dekat, hembusan nafas Rendra terasa meremang hingga ke seluruh tubuh Dalia, hingga membuatnya membeku.
" Tidak tuan, tolong jangan, tuan! " Suara Dalia terdengar parau, sepertinya Ia ingin menangis.
" Kau menggodaku, Dalia! Bagiamanapun juga, aku ini masih lelaki normal. " Ucap Rendra.
" Maaf, Dalia! Aku sudah tidak tahan! " Lanjut Rendra lagi.
Rendra seakan sudah hilang kendali. Tangannya memegang erat kedua tangan Dalia yang Ia tempelkan di dinding. Matanya menatap penuh damba ke arah bibir sexy Dalia yang begitu menggairahkan. Hasratnya mendorong kuat dirinya untuk mencium bibir sexy itu.
" Jangan, tuan! " Pinta Dalia memelas sambil memejamkan matanya dan membuat air mata jatuh di sudut matanya.
Rendra seakan tidak perduli, Ia terus mendekatkan bibirnya ke bibir sexy milik Dalia. Baru saja menyentuh dan belum sempat melum**nya tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka.
Ceklek!
" Tuan...Ren..! " Sahut Rio terputus karena terkejut dengan apa yang Ia lihat di depan matanya saat ini.
__ADS_1
Damn! Umpat Rendra dalam hatinya.
Syukurlah!
Gumam Dalia.
Rendra lalu melepaskan genggamannya dari tangan Dalia dan menjauhkan tubuhnya.
" Dalia? " Sahut Rio menatap ke arah Dalia.
Dalia membalas tatapan itu dengan mata yang berkaca-kaca.
" Terima kasih, pak Rio. " Ucapnya pelan sambil berlari meninggalkan kamar Rendra dan langsung masuk ke dalam kamarnya yang letaknya hanya bersebelahan saja.
Rendra tampak diam seperti menyesali perbuatannya.
" Apa yang tuan Rendra lakukan? " Tanya Rio ragu.
" Bukan urusanmu! " Bentak Rendra.
" Justru aku yang harus bertanya, apa yang kau lakukan di kamarku tanpa mengetuk pintunya lebih dulu! " Lanjut Rendra lagi dengan kesal.
" Maaf tuan, saya kira tuan masih di kamar mandi. "
" Lalu, kalau aku masih di kamar mandi, kau mau apa? "
" Saya hanya ingin menyiapkan pakaian untuk anda pakai nanti."
" Tidak perlu! Aku bisa sendiri! Keluar dari kamarku! "
Rio masih berdiri mematung, hingga membuat Rendra semakin kesal.
" Apa yang kau tunggu? Kenapa masih berdiri di situ? "
" Maaf tuan, tapi kalau boleh saya tau, apa yang di lakukan Dalia di kamar tuan? " Rio mencoba memberanikan diri untuk bertanya perihal tadi yang masih mengganggu fikirannya.
" Dia salah kamar! " Jawab Rendra singkat.
Rio masih berdiri mematung, karena merasa belum puas dengan jawaban dari Rendra.
" Apa lagi yang ingin kau dengar? " Decak Rendra.
" Salah kamar? " Ulang Rio seakan masih menunggu jawaban lain.
" Aku tidak melakukan apapun padanya! Dan aku juga tak memiliki niat buruk untuk menyakitinya! Aku hanya ingin menciumnya saja, tidak lebih dari itu! " Ucap Rendra yang terdengar seperti menyesal.
Rio bungkam, Dia tidak menyangka Rendra akan senekat itu.
" Apa Dia menangis, Rio? " Tanya Rendra lagi.
" Sepertinya begitu, tuan! "
Hening...
" Kalau begitu, kau keluarlah dulu, aku ingin bersiap-siap! "
" Baik, tuan. "
Rio kemudian keluar dari kamar Rendra dengan perasaan carut marut. Di satu sisi, Dia ingin membuat hubungan Rendra dan Dalia kembali membaik agar Dalia bisa tetap bekerja di perusahaan Federick Corporation, tapi sepertinya itu tidak mudah. Di tambah lagi kejadian tadi yang pastinya itu akan membuat Dalia membulatkan tekatnya untuk resign dari Federick Corporation.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers..
Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘
__ADS_1