
Melihat Dalia dalam keadaan tak sadarkan diri, Rendra kemudian menggendongnya dan membawanya menelusuri jalan gelap dan berbatu tersebut. Sambil berharap, akan ada sebuah mobil yang lewat dan bisa menyelamatkan mereka.
Di tengah perjalanannya, Rendra melihat sebuah bangunan tua, dimana dinding-dinding bangunan itu sudah jebol dimana-mana. Namun, atapnya tampak masih ada walaupun sudah banyak yang bocor. Bangunan itu berlantaikan keramik yang tampak sudah retak sana-sini, namun masih bisa di injak.
Rendra kemudian membawa Dalia ke dalam bangunan tua itu, dan meletakkannya di lantai. Ia lalu membuka jaz yang masih melekat di badannya untuk dijadikan sebagai bantal oleh Dalia. Ia juga mulai mengumpulkan ranting-ranting kering dengan bantuan flashligth yang ada di ponselnya.
Ranting-ranting itu kemudian Ia letakkan secara beraturan hingga membentuk sebuah tumpukan ranting. Rendra kemudian memanfaatkan pengalamannya dulu sebagai anak pramuka untuk membuat api dari bahan kayu atau batu. Rendra tidak menyerah, Ia terus berusaha. Dengan peluh yang mulai bercucuran, akhirnya apinya muncul dan mulai membakar ranting-ranting yang Ia kumpulkan tadi dan membentuk seperti api unggun.
" Huft! " Desahnya sambil mengelap peluh yang jatuh di dahinya.
" Tidak sia-sia aku jadi anak pramuka. " Ucapnya sambil tersenyum.
Rendra kemudian kembali mendekat ke arah Dalia.
" Dalia. " Ucapnya sambil menyentuh pipi putih Dalia.
" Kenapa dingin sekali ?" Suhu tubuh Dalia mulai menurun.
" Dalia, ku mohon sadarlah! " Ucapnya kembali cemas.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang? " Rendra mulai merasa frustasi.
" Nafas buatan, yah nafas buatan. Aku harus memberikannya nafas buatan. "
Tiba-tiba timbul idenya untuk memberi Dalia nafas buatan. Rendra kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Dalia untuk mulai memberi Dalia nafas buatan. Rendra tampak berusaha keras, Ia terus berusaha hingga akhirnya usahanya itu berhasil.
" Dalia, sadarlah! " Ucapnya begitu bahagia ketika melihat pergerakan kecil dari Dalia.
" Dii... nginn..! " Ucap Dalia gemetar tanpa membuka matanya.
" Dingin? " Ulang Rendra.
" Aku.. ke.. dii.. nginan... " Ucap Dalia lagi semakin gemeteran.
" Tunggu sebentar Dalia, aku akan memberikanmu selimut. " Ucap Rendra sambil melepas kemeja putih yang Ia kenakan dan langsung membalutkan kemeja itu ke tubuh Dalia yang terasa sepeerti es tersebut.
" Bertahanlah, Dalia! "
" Dii.. ngin..! " Ucap Dalia yang masih tampak kedinginan dan tak kunjung membuka matanya.
" Ok, baiklah! Cuma ada satu cara lagi. Biarkan aku memelukmu dan menghangatkanmu dengan suhu tubuhku. "
Tanpa pikir panjang, Rendra langsung berbaring di samping Dalia dan mulai memeluk erat tubuh Dalia dan membenamkan kepala Dalia di dada bidangnya. Ia terus berusaha menyelimuti Dalia dengan tubuhnya, mengalirkan setiap kehangatan yang mengalir melalui kulit mereka.
" Jangan tinggalkan aku! " Ucap Dalia mengigau.
" Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Dalia! "
Cup!
Rendra memberikan sebuah kecupan manis di puncak kepala Dalia.
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Pagi Harinya.
Tampak beberapa orang pria bertubuh besar menggunakan pakaian serba hitam mulai memasuki bangunan tua tersebut. Yah, mereka adalah anak buah dari tuan Rendra.
" Apa kau yakin, tuan Rendra ada di sini? "
Tanya Imran kepada yang lain, karena Imran merupakan ketua dari semua ajudan Rendra.
" Yakin pak, signal pelacaknya menunjukkan tuan Rendra berada di tempat ini. "
" Kalau begitu, berpencar dan mulai cari ke seluruh penjuru bangunan ini! " Titah Imran.
" Siap, pak! "
Anak buah tuan Rendra mulai mencari ke semua sudut bangunan tua tersebut, hingga akhirnya mereka berhasil menemukan Rendra dan juga Dalia sedang berbaring di lantai sambil berpelukan.
" Kami sudah menemukannya, pak Imran! " Teriak dua orang anak buah Rendra.
__ADS_1
Sontak, Imran dan lainnya bergegas menuju tempat rekannya itu menemukan Rendra dan Dalia.
" Alhamdulillah!"
" Tuan Rendra! " Imran mencoba membangunkan Rendra.
Rendrapun terbangun dan tampak terkejut melihat anak buahnya sudah berada di hadapannya saat ini.
" Kenapa kalian lama sekali! Kami hampir saja mati di hutan ini. " Ucapnya tetap saja tidak ada lembut-lembutnya.
" Maaf tuan, kamu sudah berusaha dengan baik! " Jawab Imran.
" Sudahlah, siapkan mobilnya! Dalia harus segera di bawa ke rumah sakit. "
" Siap, tuan! "
Rendra kemudian menggendong tubuh Dalia dan langsung membawanya kembali ke dalam mobil. Mobil itu kemudian melaju meninggalkan lokasi itu dan langsung menuju ke rumah sakit terdekat.
Setibanya di rumah sakit, Dalia kemudian segera dibawa ke ruang UGD untuk segera mendapatkan penanganan. Rendra tampak menunggu di ruang tunggu dengan wajah yang sangat cemas bukan main.
" Tuan Rendra, sebaiknya Anda beristirahat dulu! " Sahut Imran karena melihat kondisi tuan mudanya itu tampak pucat.
" Bagaimana bisa aku beristirahat dengan tenang, sedangkan di dalam sana Dalia sedang berjuang untuk hidup! " Ucap Rendra dengan wajah yang sangat menyedihkan.
Aku tidak pernah melihat tuan Rendra seperti ini sebelumnya? Apa Nona Dalia begitu penting untuknya?
Gumam Imran.
" Sudahlah! Kau pergilah dari sini! Aku ingin sendiri! "
" Baik, tuan! "
Imran lalu meninggalkan Rendra sendirian di ruang tunggu tersebut dan Ia pun segera meraih ponselnya untuk memberitahukan Rio, kalau tuan Rendra telah ditemukan.
****
Cukup lama Rendra menunggu, tiba-tiba tampak seorang suster menghampiri dirinya.
" Suster, bagaimana keadaannya sus? " Tanya Rendra panik.
" Maaf tuan, saat ini kondisi pasien sedang kritis. Pasien mengalami dehidrasi parah, itu sebabnya saat ini kami butuh transfusi darah secepatnya. Golongan darah pasien A+ , apakah tuan bisa membantu kami, karena stok darah itu di rumah sakit kami sedang kosong. "
" Bagaimana bisa rumah sakit ini tidak memiliki stok darah A+?" Rendra tampak kesal.
" Maafkan kami, tuan! "
" Kalau gitu, segera periksa darah saya! " Titah Rendra.
Rendra pun menuruti suster itu, Ia kemudian melakukan tes darah, karena Ia sendiri belum pernah tau golongan darahnya. Karena sebenarnya Rendra ini sangat takut dengan jarum suntik, itu sebabnya Dia tidak pernah ingin tau golongan darahnya.
Tidak butuh waktu lama, hasil tes darah Rendra pun keluar dan ternyata darahnya cocok karena Rendra juga bergolongan darah A+. Betapa senangnya Rendra saat mengetahui hal itu, Ia pun merelakan darahnya diambil untuk membantu Dalia, walaupun dengan susah payah Ia menahan rasa takutnya akan jarum suntik tersebut.
" Ambil saja darahku sebanyak-banyaknya, sus! " Ucap Rendra hingga membuat suster itu tersenyum.
" Kami hanya membutuhkan sekantong darah saja, tuan! "
" Oklah! Tapi, lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Daliaku. "
" Tentu tuan, kami akan berusaha sebaik mungkin! "
Selesai mendonorkan darah, Rendra kemudian kembali ke ruang tunggu, sedangkan kantong darahnya dibawa ke ruang UGD lagi untuk diberikan pada Dalia.
****
Setelah dari ruang UGD, Dalia kemudian dibawa ke sebuah ruangan khusus kelas 1 yang telah dipesan oleh Rendra kepada petugas rumah sakit. Rendra pun tetap menemaninya di ruangan itu, sampai akhirnya Imran datang menemuinya.
" Tuan Rendra. "
" Ada apa, Imran. "
" Dua orang mata-mata yang pak Rio tugaskan saat ini ingin menghadap Anda. "
" Suruh mereka masuk! "
" Baik, tuan! "
Imran lalu memanggil dua orang mata-mata itu dan langsung menghadap Rendra.
" Permisi tuan Rendra! "
" Ada apa? " Tanya Rendra tanpa basa basi lagi.
" Kami sudah mendapatkan bukti-bukti kelicikan pak Abigail, tuan. "
Rendra tersenyum sarkasme.
" Benarkah? "
__ADS_1
" Ia tuan, ini bukti-buktinya! " Mata-mata itu menyerahkan sebuah dokumen rahasia kepada Rendra.
" Pak Abigail telah melakukan pencucian uang dan melakukan korupsi atas dana proyek besar dari para investor. Ia pun melakukan ini dengan mengkambing hitamkan tuan Rendra agar para investor itu berfikir tuan Rendra lah yang sudah menipu mereka. "
" Licik sekali, Dia! "
" Pak Abigail juga yang telah merencanakan pembunuhan atas tuan Rendra. "
" Sudah ku duga! "
" Ada satu lagi fakta yang harus tuan Rendra tau! "
" Hmm.. apa? "
" Ini menyangkut sekretaris Anda, nona Dalia! "
Sontak Rendra langsung menutup semua dokumen yang ada di tangannya dan langsung melihat ke arah anak buahnya itu ketika mendengar nama Dalia disebut-sebut.
" Ada apa dengan Daliaku? "
" Sekretaris Dalia pernah bekerja dengan pak Abigail. "
" Yah, kalau itu aku sudah tau. "
" Nona Dalia, resigne dari kantor Adiyaksa karena pak Abigail sempat ingin melakukan pelecehan terhadapnya. Kasus itu sempat ingin dibawa ke kantor polisi, namun diselesaikan dengan cara damai dengan mengabulkan surat pengunduran diri Nona Dalia. "
" Apa? " Rendra tampak terkejut.
" Bukan hanya itu, kami juga masih mendapatkan fakta-fakta lainnya. "
" Apa itu, katakan semuanya! "
" Pak Abigail pernah menjebak nona Dalia dengan memberikannya pil tidur dan membawanya ke kamar hotel. Tapi, nona Dalia tidak di apa-apakan pada waktu itu, pak Abigail memanfaatkan momen itu untuk mengirim foto Nona Dalia dan dirinya yang kemudian di kirim ke ponsel suami nona Dalia. "
" Lanjutkan! " Rendra tampak sangat antusias.
" Pak Abigail kemudian meninggalkan nona Dalia didalam kamar hotel itu sendirian, yang kemudian memberikan alamat hotelnya kepada suami nona Dalia. Sontak, suami nona Dalia marah besar dan hubungan mereka kian memburuk hingga akhirnya mereka bercerai. Akibat ulah pak Abigail, nona Dalia harus menanggung malu hingga harus menjauh dari kediamannya terdahulu."
" Breksek! " Rendra menggeram dengan mengepalkan tangannya.
" Pak Abigail bukan cuma penipu, tuan. Tapi pak Abigail juga telah menghancurkan kebahagiaan sekretaris Anda. "
Rendra menatap ke arah Dalia yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
" Aku tidak akan mengampuninya, Dalia! "
Hening.
" Kalau begitu, silahkan keluar! Kerja kalian sangat bagus! "
" Terima kasih tuan, kalau begitu kami permisi! "
" Hmm.. "
Setelah mata-matanya keluar dari ruangan itu, Rendra lalu menghampiri Dalia dan duduk di samping ranjangnya. Ia lalu meraih tangan Dalia dan mulai mengecupnya lama.
" Dalia, maafkan aku! "
" Maaf, karena aku begitu bodoh mempercayai gosip itu begitu saja! "
" Ku mohon maafkanlah aku! " Ucapnya benar-benar menyesal sambil mengecup tangan Dalia berkali-kali.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan Komennya yah Readers..!
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘