Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Duda dan Janda


__ADS_3

Perbincangan hangat yang terjadi di antara mereka menambah keakraban keduanya. Jelas saja, hal itu terjadi berkat Bu Hasnah yang selalu merayu mereka berdua dengan kata-kata duda dan janda. Hingga keduanya tersenyum malu-malu padahal dalam hatinya mau. Wkwkwkwkwkwk.. 😂😂


Perbincangan hangat berakhir tatkala Bu Hasnah memilih masuk dan membiarkan keduanya ngobrol berdua agar lebih dekat. Lagi-lagi kecanggungan menerpa mereka. Keduanya seakan tak memiliki kata-kata untuk memulai pembicaraan. Hingga akhirnya, Dalia lah yang memilih untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.


" Tuan Rendra. " Sahut Dalia.


" Iya. "


" Apa tuan Rendra ingin melihat-lihat pemandangan sekitar? " Tanya Dalia.


" Boleh. " Jawab Rendra bersemangat.


" Ayo, kita ke halaman belakang! Di halaman belakang panti terdapat taman bermain anak-anak dengan pemandangan alam yang masih bagus. " Ajak Dalia sambil berjalan lebih dulu dan di ikuti Rendra di belakangnya.


Setibanya di taman belakang.


" Taraa...! Ini dia tamannya. " Ucap Dalia bersemangat.


" Yah, walaupun gak seindah Ubud, tapi terkadang aku suka melepas rasa sedihku di tempat ini. " Lanjut Dalia lagi.


" Rasa sedih? " Ulang Rendra, sehingga menyadarkan Dalia akan kata-kata curhatnya barusan.


" Eh... lupakan itu! Aku hanya ingin mengenalkan tuan Rendra tempat ini. Yah, barangkali tuan Rendra suka. "


Rendra tersenyum.


" Aku suka kok tempat ini, Dalia! Terima kasih telah membawaku membuka mata untuk melihat surga kecil di dunia ini. " Ucap Rendra sambil menatap dalam manik mata Dalia.


Dalia membalas tatapan itu, hingga tatapan merekapun bertemu cukup lama. Ada sesuatu yang mencair di dalam hatinya yang telah lama membeku. Ingin rasanya Ia mengartikan ini sebagai " Cinta ", namun Ia tahan karena merasa tidak pantas untuk mencintai seorang Direktur Utama. Apalah Dalia, Ia hanya seorang anak panti asuhan yang tak memiliki orang tua ataupun keluarga.


" Kalau begitu, gimana kalau kita duduk di sana aja, tuan Rendra! " Tunjuk Dalia kepada salah satu gundukan tanah yang di tumbuhi rumput hijau.


" Boleh, aku ikut saja. "


Mereka kemudian duduk di atas gundukan tanah yang agak tinggi tersebut tanpa beralaskan sama sekali.


" Tuan Rendra tunggu di sini! Aku akan mengambilkan sesuatu untuk di gunakan sebagai alas tuan Rendra duduk. " Ucap Dalia karena sadar bahwa bos besarnya itu duduk di atas tanah berumput tanpa alas sama sekali.


" Tidak perlu Dalia! " Rendra menarik tangan Dalia yang sedang berdiri dan hendak beranjak dari duduknya.


Lagi, tatapan mereka kembali bertemu.


" Tidak perlu! Hari ini aku ingin menikmati menjadi orang biasa sehari bersama dirimu. "


Kata-kata Rendra seakan menjadi busur panah yang menancap tepat di relung hati Dalia yang paling dalam. Ingin sekali Dalia mengatakan " Maksudnya apa? " tapi kata-kata itu hanya keluar di dalam hatinya saja.


Dalia masih menatap manik mata Rendra lekat. Begitupun sebaliknya.


" Duduklah! " Titah Rendra, dan Dalia pun kembali duduk di sampingnya.


Dalia menatap ke arah depan sambil menikmati nuansa rindangnya pepohonan dan suara burung-burung yang saling bersahutan. Sedangkan Rendra masih tak bergeming menatap ke arahnya, hingga Dalia tersadar kalau Dia sedang di perhatikan.


Dalia pun seketika itu menoleh ke arah Rendra, dan Rendra menyambutnya dengan senyuman. Senyuman yang tak bisa Dalia artikan. Dalia pun membalas senyuman itu. Lagi-lagi tatapan mata mereka saling mengunci satu sama lain. Entahlah, seperti inilah jadinya kalau dua orang pendiam saling bertemu. Wkwkwkwkwk... 😂😂😂

__ADS_1


" Dalia? " Sahut Rendra.


" Iya, tuan. " Jawab Dalia dengan tidak memindahkan tatapan mereka masing-masing.


" Apakah tempat ini sangat berarti bagimu? "


Kali ini Dalia mengahiri tatapan itu lebih dulu. Ia menatap nanar ke arah depan, sambil sesekali menarik nafas dalam. Seolah-olah menyimpan begitu banyak beban di hatinya.


" Tempat ini sangat berarti bagiku. Aku besar dan tumbuh di sini. Hingga nasib merubahku. Dalam sekejap, aku merasakan kebahagiaan. Tapi, dalam sekejap itu pula kebahagiaan itu sirna tatkala orang tuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat. Baru sebentar aku merasakan memiliki orang tua, merasakan hangatnya kasih sayang orang tua, dalam waktu yang tidak lama, semuanya di renggut kembali. Aku memilih untuk mengakhiri kesedihanku dengan memutuskan untuk menikah, aku pikir dengan memiliki suami, aku tidak akan merasa sedih lagi, karena sudah memiliki teman hidup. Tapi, pada kenyataannya semua itu tak seindah yang di bayangkan. Lagi, kebahagiaan itu harus di renggut dengan cara paksa, dengan menyisakan luka yang menganga. " Mata Dalia berkaca-kaca, seakan sudah siap untuk menumpahkan segala beban di hidupnya.


Rendra menatap iba ke arah Dalia.


" Terkadang aku selalu berfikir, kenapa orang tua kandungku membuangku? Kenapa orang tua asuh ku di ambil Tuhan begitu cepat? Dan kenapa rumah tanggaku harus berakhir begitu mudahnya? Apa salahku terlahir di dunia ini? Apa aku tidak pantas untuk bahagia? " Tanya Dalia beruntun dengan derai air mata yang ikut jatuh di pipinya.


"Saat ini aku hanya ingin membahagiakan anakku, Dia malaikat kecilku. Penyemangat hidupku. Dia segalanya bagiku. " Air mata Dalia sudah tak bisa terbendung lagi.


Dalia kemudian menenggelamkan kepalanya di antara kedua pahanya dan menangis terisak. Beban hidup yang Ia pikul terasa begitu berat. Hinaan, cacian, dan makian puas Ia telan selama hidupnya. Ia merasa begitu sedih saat mengingat kembali rentetan kisah dirinya yang di buang dari bayi, hingga cacian di saat dirinya sudah dewasa. Rendra merasa bersalah, karena pertanyaannya membuat Dalia menjadi sesedih itu.


Saat ini, ingin rasanya Ia memeluk Dalia ke dalam dekapannya. Berulang kali Ia menarik ulur tangannya ketika ingin memeluk Dalia. Hingga akhirnya Ia sudah tidak tahan lagi mendengar tangisan Dalia. Entah beban seberat apa yang kini sedang di pikul Dalia, itu yang ada di benak Rendra saat ini.


Tanpa persetujuan dari Dalia, Rendra langsung merangkul tubuh Dalia dan mendekap erat tubuh Dalia ke dalam pelukannya. Sontak Dalia berhenti menangis karena terkejut. 😂


" Jangan menangis Dalia, dunia ini tidak sekejam itu padamu. " Ucap Rendra masih mendekap erat Dalia dalam pelukannya.


Dalia diam dan berhenti menangis, kata-kata Rendra seakan menjadi mata air di gurun yang gersang. Dekapan Rendra begitu menghangatkan dirinya. Ia merasa sangat nyaman berada di di dalam pelukan laki-laki pemilik nama Rendra tersebut. Namun Ia sadar, hal ini sungguh tidak pantas. Apalagi, Ia hanya bawahan Rendra.


Dalia kemudian menjauhkan tubuhnya secara perlahan, supaya Rendra tidak merasa tersinggung. Ia kemudian memberanikan diri untuk menatap Rendra dan tersenyum getir.


" Terima kasih, tuan! " Ucapnya.


Deg!


Kali ini giliran jantung Dalia yang di buat berdetak tak terkendali. Ia merasa sudah lama sekali tidak pernah mendapatkan perlakuan semanis ini. Walau bagaimanapun Dia wanita normal yang memiliki rasa ketertarikan terhadap lawan jenisnya.


" Emm... tuan, sepertinya kita harus ke kantor sekarang! Kasian pak Rio kalau terlalu lama menunggu. " Ucap Dalia mencoba mengalihkan perhatian Rendra.


" Oh... ok ! Kita pamit kepada ibu panti dan anak-anak terlebih dahulu. "


Ketika Dalia berdiri dan ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba kakinya menabrak sebuah batu kecil hingga menyebabkan Ia kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Namun, dengan cepat tangan Rendra memopang tubuh Dalia agar tidak terjatuh. Lagi-lagi tatapan mata mereka bertemu.


Deg!


Jantung keduanya seakan berlari marathon. Tidak bisa di pungkiri, kalau keduanya sama-sama memiliki ketertarikan masing-masing.


" Terima kasih, tuan! " Hanya itu yang bisa Dalia ucapkan sambil menyeimbangkan dirinya kembali.


" Lain kali hati-hati ya! Ya sudah, ayo kita pamitan dulu. " Ucap Rendra dan mendapat anggukan kepala Dalia.


Mereka berdua kemudian berpamitan kepada Ibu Hasnah dan juga anak-anak panti.


****


Di dalam perjalanan pulang menuju kantor utama Federick Corporation. Dalia terlihat memijit-mijit kepalanya karena merasa pusing.

__ADS_1


" Dalia, kamu kenapa? " Tanya Rendra yang memperhatikan Dalia dari tadi.


" Gak kenapa-napa, tuan. Cuma pusing sedikit. "


" Hmm... apa gak sebaiknya kita ke rumah sakit aja? "


" Gak perlu tuan Rendra. Ini cuma pusing biasa kok, nanti juga ilang. Maklum faktor usia kali. " Jawaban Dalia membuat Rendra tertawa mendengarnya.


" Ha.. ha.. ha..! Kamu belum tua kok, baru aja kepala tiga. "


" Kepala tiga pun, tapi saya kan udah ibu-ibu. " Ucapan Dalia semakin menambah geli di telinga Rendra yang mendengarnya.


" Ha.. ha.. ha.. ha..! Ibu muda, maksudnya kan? "


Dalia tersenyum mendengar rayuan yang tidak terlalu gombal itu keluar dari bibir Rendra.


Ternyata tuan Rendra pandai juga merayu.


Gumam Dalia.


Waktu terus berputar, di tengah perjalanan tampak Dalia tertidur bersender di kursi dengan kepalanya ikut bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti irama mobil.


Rendra tidak tega melihat hal itu. Untuk menghindari kepala Dalia terbentur, Rendra menggunakan tangannya untuk di gunakan Dalia sebagai bantal. Di mana tangan satunya memegang stir dan melajukan mobilnya dengan kecepatan lambat untuk menghindari hal yang tidak-tidak.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers.

__ADS_1


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘


__ADS_2