Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Cantik Dan Ganteng


__ADS_3

Ke esokan harinya di sekolah Shenzi.


Shenzi tampak melamun setelah di make up dan mengenakan kostum untuk menari. Ia tampak tidak bersemangat untuk tampil bersama teman-temannya di atas panggung nanti. Tampak pula seorang guru sedang menghampirinya, guru itu adalah gurunya Shenzi yang bernama ibu Naina.


" Shenzi, kenapa melamun? " Tanyanya pada anak muridnya itu.


" Ibunya Shenzi belum dateng. " Jawabnya cemberut.


" Jangan cemberut gitu donk, sayang! Mungkin ibunya Shenzi masih di jalan. "


" Benerkah bu Naina? Kalau ibu gak dateng bagaimana? " Tanya Shenzi sungguh mencemaskan ibunya.


" Tunggulah sebentar lagi, pasti ibunya Shenzi dateng kok! Jangan cemberut lagi yah! "


" Hmm..iya deh! "


" Ayo, anak-anak semuanya siap-siap berdiri di belakang panggung!" Tampak seorang guru lainnya memerintahkan murid-murid yang akan tampil di atas panggung itu segera bersiap-siap.


" Ya udah, Shenzi jangan sedih lagi, nanti make up nya luntur, kan udah cantik gini. " Ucap bu Naina sambil merapikan sedikit make up Shenzi.


" Shenzi gabung dengan temen-temen Shenzi yang lain gih! " Lanjut bu Naina lagi.


" Baiklah, bu Naina. "


Shenzipun akhirnya menuruti perintah bu Naina, Ia segera berlari menyusul teman-temannya yang sudah berdiri di belakang panggung.


" Sudah siap anak-anak? " Tanya guru pemandunya.


" Siap, bu! " Jawab mereka serempak.


" Marilah kita sambut persembahan dari anak-anak TK Kartika! Beri tepuk tangan yang meriah! " Ucap pembawa acara di atas panggung yang disambut dengan tepuk tangan gemuruh dari para orang tua murid.


Seketika itu juga, tirai yang menutup panggung itupun langsung terbuka dan memperlihatkan barisan anak-anak cantik yang sudah siap untuk menampilkan penampilan terbaik mereka.


Alunan musik mulai bermain, gerakan tarianpun dimulai. Dengan menggabungkan musik tradisional dan modern, membuat gerakan-gerakan indah perpaduan antara tarian tradisional dan dance modern dari anak-anak berumur 5 tahun itu menjadi sempurna dan membuat siapapun yang melihatnya akan terpukau. Shenzi yang berada ditengah barisan menjadi sorotan, manakala saat dirinya menampilkan performance dance yang begitu lincah.


" Anak siapa itu, lincah banget gerakannya, cantik lagi tuh! " Ucap salah satu orang tua murid.


" Iya, kalau aku jadi orang tuanya sayang banget melewatkan momen ini. " Sahut ibu satunya lagi.


Ketika musik masih berjalan dan masih menyisakan setengah lagu lagi, tiba-tiba Shenzi terjatuh bersimpuh di atas panggung. Sontak musikpun ikut berhenti. Semua mata tertuju pada Shenzi, tanpa terkecuali teman-teman kecilnya yang ikut menolong Shenzi. Tampak mata Shenzi memerah, saat Ia menatap ke arah barisan penonton, namun tak mendapati sosok yang Ia cari. Yah, sosok itu adalah ibunya.


Ternyata ibu tidak datang.


Gumam Shenzi kecewa.


Ibu Naina pun berlari naik ke atas panggung untuk menghampiri Shenzi yang tampak sedih itu.


" Shenzi sayang, kamu kenapa? " Bu Naina mengahapus setetes air mata yang jatuh di pipi Shenzi.


" Ibunya Shenzi tidak datang. " Ucapnya sedih.


" Ibu Shenzi masih di jalan, ibu yakin itu! " Bu Naina mencoba menghibur anak muridnya tersebut.


" Tapi.............! " Belum sempat Shenzi melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memberinya semangat.


" Shenzi, semangat!! Maaf, ibu terlambat sayang! " Ucap Dalia dengan nafas yang terengah-engah karena harus berlari untuk dapat melihat anaknya di atas panggung.


" Semangat Shenzi! Papa mendukungmu! " Teriak Rendra juga yang juga terengah-engah.


Shenzi pun mencari arah suara itu dan mendapati dua orang yang sangat Ia sayang tersebut. Seketika itu juga, Shenzi langsung menghapus air matanya dan tersenyum lebar.


" Ibu.... ! Papa...!" Ucapnya bahagia.


" Tuh, ibu sama Papanya udah dateng! Shenzi harus semangat! Tampilkan yang terbaik untuk orang tua Shenzi, ok! " Ucap Bu Naina sebelum turun dari panggung.


" Ok, bu Naina! " Jawab Shenzi sambil tersenyum.


Setelah drama panjang tadi, anak-anakpun kembali ke barisannya masing-masing . Alunan musik mulai bermain, dan tarian pun kembali dilanjutkan.


Kali ini Shenzi menari dengan senyum yang mengembang sempurna. Tak ingin melewatkan momen ini, Dalia lalu meraih ponselnya dan mulai merekam aksi panggung anaknya tersebut. Sedangkan Rendra tampak merangkul bahu Dalia yang tanpa sadar keberadaan mereka di foto oleh paparazzi yang kebetulan sedang meliput acara panggung anak-anak TK Kartika tersebut.


Tepuk tangan meriah terdengar dari para penonton tatkala aksi panggung anak-anak itu berakhir.


" Kalian anak-anak hebat! " Ucap pembawa acara.

__ADS_1


Acara kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan dari kepala sekolah. Yang kemudian dilanjutkan dengan acara-acara lainnya.


****


" Ibu! " Sahut Shenzi setelah melepas kostumnya dan mulai menghampiri ibunya, begitu juga dengan anak-anak yang lain.


" Anak ibu hebat! Sini peluk ibu dulu! " Dalia merentangkan tangannya dan Shenzi pun langsung menghambur memeluk ibunya.


" Papa gak dipeluk? " Sahut Rendra.


" Sini Pa, peluk Shenzi juga! " Titah Shenzi.


Tanpa ragu Rendra langsung memeluk Shenzi dan Dalia seperti layaknya keluarga kecil yang sempurna.


" Rendra, nanti ada yang motret kita, gimana? Ini tempat umum. " Protes Dalia.


" Biarin! Aku gak perduli! " Jawab Rendra santai.


" Serasi banget ya mereka? " Celetuk salah satu orang tua murid.


" Iya, cantik dan ganteng, pantes anaknya cakep banget. " Sambung yang satunya lagi.


" Tapi aneh deh, dari penampilan sih bukan orang biasa, kayak bos-bos gitu, tapi kok anaknya gak dimasukin di TK elit yah? "


" Iya yah, aneh juga? "


" Ehmm... ngapain ngurusin hidup orang, mending urus hidup kalian masing-masing. " Celetuk salah satu suami dari mereka.


" Eh, Papa! Maaf! "


****


" Ibu kok telat? " Tanya Shenzi setelah mereka bertiga kembali duduk di kursi penonton yang sudah disediakan.


" Maafin ibu yah, tadi ada meeting mendadak, itu sebabnya ibu agak telat. " Jawab Dalia mencoba menjelaskan.


" Maafin Papa juga, karena gara-gara Papa, ibumu jadi telat. " Sambung Rendra


" Oh.. gak apa-apa deh! Yang penting sekarang ibu dan Papa sudah berada disini. "


Ketika acaranya selesai, mereka bertiga kemudian berjalan menuju mobil Rendra yang terparkir di halaman parkir. Tiba-tiba datang seorang ibu-ibu bertubuh gempal datang menghampiri mereka bertiga. Yah, ibu-ibu itu adalah bu Retno.


" Neng Dalia. " Sapanya.


" Eh, Bu Retno. "


" Shenzinya biar bu Retno aja yang antar pulang, neng Dalia dan tuan Rendra bisa kembali ke kantor. "


" Hmm... gak apa-apa bu Retno, biar saya dan Dalia saja yang antar Shenzi pulang. " Jawab Rendra.


" Benarkah tidak apa-apa? " Tanya bu Retno sekali lagi dan mendapatkan anggukan kepala dari Rendra.


" Ya udah, bu Retno bisa langsung pulang aja! Biar Dalia dan tuan Rendra yang akan mengantar Shenzi pulang. " Kali ini Dalia yang menjawab.


" Baiklah kalau begitu, bu Retno pamit pulang duluan yah neng Dalia dan tuan Rendra! "


" Iya Bu Retno, hati-hati di jalan! " Sambung Dalia.


" Ya udah, ayo! " Ajak Rendra setelah melihat bu Retno melajukan motornya.


" Ayo! " Jawab Dalia dan Shenzi kompak.


Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam mobil Rendra, dimana sudah ada pak Imran yang sudah siap melajukan mobil tersebut.


" Jalan pak, bawa kita ke mall terbesar yang ada di kota ini! " Titah Rendra pada Imran.


" Apa! Mall? " Dalia tampak terkejut.


" Iya, mall! Kita bawa Shenzi main-main disana sambil mencari tempat makan siang disana. "


" Hore!! " Teriak Shenzi kegirangan.


" Tapi, Ren...! " Belum selesai Dalia berbicara, jari telunjuk Rendra sudah berada dekat dengan bibirnya.


" Ssttt...! Aku tidak terima penolakan! " Ucap Rendra pelan namun penuh penekanan.

__ADS_1


" Dasar! Selalu saja begitu! " Gerutu Dalia, namun hanya ditanggapi dengan senyum oleh Rendra.


****


Sesampainya di salah satu mall di Jakarta, terlebih dahulu Rendra mengajak mereka makan di salah satu tempat makan yang ada di mall tersebut.


" Hari ini hari yang spesial untuk Shenzi! " Bisik Rendra di telinga Dalia.


" Terima kasih Ren, tapi ini terlalu berlebihan! " Balas Dalia.


" Ingat, aku tidak terima penolakan! " Tekan Rendra.


" Huh! S'lalu saja! "


Setelah makan, Rendra dan Dalia membawa Shenzi ke tempat bermain. Shenzi tampak senang bukan main, Ia tidak menyangka kalau Ia akan kembali ke tempat bermain di mall ini bersama Ibunya dan juga seorang pria yang sudah Ia anggap sebagai papanya itu.


Bukan hanya itu, Rendra juga menemani Shenzi bermain di tempat bermain tersebut. Terdengar suara tawa bahagia dari keduanya, hingga membuat Dalia tak kuasa menahan air mata bahagianya. Ia tidak pernah menyangka lelaki yang Ia anggap sangat menyebalkan itu adalah lelaki yang kini mampu membuat anaknya merasa begitu bahagia.


*


*


*


*


*


*


*


################################


Ke esokan paginya di salah satu rumah sakit di Jakarta.


" Dokter, korannya! " Ucap kurir pengantar koran.


" Taruh di meja ku! " Jawab dokter cantik itu.


" Ok, baiklah! "


Ketika dokter wanita itu sudah selesai mengenakan jas putihnya dan mulai duduk di kursi kebanggaannya, Ia pun kemudian melirik sekilas ke arah koran yang terletak di atas mejanya. Dokter cantik itu tampak terkejut saat matanya fokus pada sebuah judul dari media cetak tersebut.


Birendra Federick tampak bersama dengan seorang janda beranak satu, apakah itu kekasihnya?


Judul berita dari halaman pertama koran tersebut terpampang dengan jelas, sehingga membuat dokter cantik ini segera meraih koran itu dan mulai membacanya.


" Rendra? " Ucapnya.


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Hayo!! Apa ada yang tau siapakah dokter cantik ini?


hehe.. 😂😂


Jangan lupa like, vote, dan komennya**** yah Readers...


Kiss jauh dari Author... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2