Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Tanda Tangan


__ADS_3

Sesampainya Rendra di ruang kerjanya, Ia kembali melayangkan pukulan di atas meja kerjanya hingga menyebabkan tangannya memar dan memerah.


Kenapa juga aku memikirkannya? Dan kenapa juga aku harus semarah ini?


Gumamnya.


" Aarrgghh!! " Amuk Rendra dengan menendang keranjang sampah yang isinya hanya sisa-sisa kertas tersebut hingga terlempar dan masuk tepat ke kepala Rio yang kebetulan baru saja masuk ke dalam ruangannya.


" Awwh! " Rintih Rio.


Apes bener nasib gue hari ini.


Rio hanya bisa pasrah.


Karena emosinya yang masih tak terkendali, Rendra tampak tidak perduli bahkan tidak merasa bersalah sekalipun saat melihat wajah sedih Asistennya itu. Ia terus saja berdecak kesal saat mengingat wajah Dalia dan Faizan yang menari-nari di fikirannya.


Rio yang sudah terlihat menyedihkan itu, kemudian membereskan kertas-kertas sampah yang berceran di lantai dan di masukkan kembali ke dalam keranjang sampah. Dengan perasaan ragu, Rio memberanikan diri untuk bertanya akan kegundahan yang di alami oleh bos kesayangannya itu.


" Tuan Rendra, apa ada sesuatu yang membuat tuan Rendra kesal? "


" Jangan banyak bertanya! Aku ingin pulang sekarang juga! " Jawab Rendra.


" Dan satu lagi, berikan semua berkas-berkas ini kepada Dalia! " Lanjut Rendra lagi dengan memaksa.


" Ba.. baik, tuan! " Ucap Rio tak ingin membantah.


Dengan sigap, Rio lalu membawa berkas-berkas itu dan menitipkan kepada salah satu karyawan wanita yang bernama Lily.


" Lily! " Sapa Rio kepada wanita berkaca mata dan berambut ikal panjang tersebut.


" I.. iya, pak! " Jawab Lily bersemangat saat melihat Rio.


" Ini ada beberapa berkas dari tuan Rendra untuk nona Dalia. Berikan ini padanya dan harus segera selesai. Hari ini tuan Rendra pulang lebih awal. "


" Siap, pak! " Lily menampilkan senyum lebar khasnya.


Kenapa juga Dia tersenyum seperti itu?


Rio kemudian kembali ke ruangan Rendra, namun Rendra sudah lebih dulu keluar dari ruangannya hingga membuat Rio mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.


Dengan ekspresi yang masih tampak kesal, Rendra berjalan meninggalkan gedung Federick Corporation yang di ikuti pula oleh Rio di belakangnya.


Sebenarnya, apa yang telah membuat tuan Rendra sekesal ini?


Tanya Rio dalam hatinya.


Sesampainya di mobil, Rio tidak sempat membukakan pintu mobil untuk Rendra, karena Rendra sudah membukanya sendiri saking kesalnya. Akhirnya Rio memilih untuk segera masuk juga ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan gedung Federick Corporation.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Waktu isitriahat telah berakhir, kini waktunya semua karyawan Federick Corporation kembali pada kesibukan mereka masing-masing. Tanpa terkecuali Dalia dan Faizan.


Hari ini Dalia mendapatkan pekerjaan yang cukup banyak untuk mempersiapkan meeting besar yang akan di laksanakan besok di sebuah hotel bintang 5 yang ada di Jakarta. Ini merupakan proyek besar yang akan di hadapi Rendra setelah papanya wafat. Para investor asing yang datang dari berbagai negara seperti USA, England, Jerman, dan China tersebut akan sangat menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan swasta yang ada di Indonesia.


Yang pastinya moment ini sangat penting bagi Rendra karena harus bersaing dengan perusahaan-perusahaan swasta lain yang ada di Indonesia. Itu sebabnya, berkas yang mereka siapkan sangat banyak hingga Ia memutuskan untuk mengerjakan sebagian berkas itu dan sebagiannya lagi di kerjakan Dalia, karena kasian melihat Dalia.


Namun, rasa ibanya itu seketika berubah menjadi rasa kesal dan melimpahkan semua tugas itu kepada Dalia. Kasian sekali nasib Dalia ya guys?? 😁


" Permisi, nona Dalia. " Sahut Lily ketika Dalia melewati meja kerjanya.


" Iya, ada apa Lily? "


" Ini ada titipan beberapa berkas dari tuan Rendra untuk nona Dalia dan harus segera di selesaikan. "


Mata Dalia membulat sempurna melihat berkas-berkas tersebut.


" Sebanyak ini? " Tanyanya.


" I.. iya, nona. " Jawab Lily yang merasa kasian pada Dalia.


" Baiklah, Lily! Terima kasih! " Dalia pun mengambil berkas-berkas tersebut dari tangan Lily.


" Oh iya, nona Dalia! "


" Iya. "


" Kalau nona butuh bantuan, panggil saja saya! " Lily mencoba menawarkan dirinya karena mengerti kesusahan Dalia.


" Terima kasih banyak, Lily! Nanti kalau saya merasa kesulitan, saya akan memanggilmu! " Ucap Dalia sambil tersenyum.


" Siap, nona Dalia! " Lily tampak bersemangat sekali.


Dalia kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya dan meletakkan berkas-berkas tersebut di atas meja lalu menghempaskan dirinya di atas kursi.


Tuan Rendra kenapa yah? Tadi di kantin tampak sangat marah, dan sekarang malah memberiku semua berkas ini, padahal tadi Dia bilang Dia yang akan mengerjakannya. Ah! Aku sungguh tak mengerti.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Tepat pukul 15.00 wib, dengan cekatan Dalia mampu menyelesaikan semua berkas tersebut. Kini Ia bergegas ke ruangan Rendra untuk meminta tanda tangan darinya.

__ADS_1


Ketika Dalia tiba di ruangan Rendra, Ia tak menemukan bosnya itu ada di sana. Begitupun di ruang kerja Rio. Melihat Dalia yang tampak sedikit bingung, Lily kemudian menghampirinya.


" Ada apa, nona Dalia? " Tanya Lily.


" Apa tuan Rendra sudah pulang? "


" Tuan Rendra sudah pulang dari siang tadi, nona Dalia. "


" Apa? Gimana caranya aku minta tanda tangan tuan Rendra, coba? " Dalia mulai merasa bingung.


" Apa lagi berkas ini harus segera di bawa besok pagi-pagi sekali untuk meeting dan besok pagi tuan Rendra tidak akan punya banyak waktu untuk hal ini. " Lanjut Dalia lagi.


Kebingungan Dalia bukan tanpa alasan, besok pagi Ia akan datang lebih dulu ke tempat meeting besar tersebut. Itu sebabnya semua berkas itu harus sudah siap saat Ia berada di sana. Dan saat ini, Rendra malah meninggalkannya dalam keadaan genting seperti ini.


" Hmm... nona Dalia ke rumah tuan Rendra aja?" Lily menjawab kebingungan Dalia.


*Benar juga! Aku pernah ke rumah tuan Rendra ketika mengantarkan pesanan nona Molly. Tapi, apa hubungannya nona Molly dengan tuan Rendra ya?


Molly Federick? Ya ampun, kenapa aku tidak pernah menyadarinya ya, nama belakang mereka sama-sama Federick. Astaga*!


Dalia terus bergumam dalam hatinya tanpa sadar Lily memperhatikannya sedari tadi.


" Nona Dalia, anda mendengarku? " Tanya Lily.


" I..iya, aku dengar! Makasih yah, Lily! " Ucap Dalia tersenyum.


" Sama-sama, nona Dalia! "


Dalia langsung bergegas keluar dari gedung tersebut dan melajukan motor maticnya menuju kediaman Rendra, tanpa mendengar Faizan yang terus memanggilnya.


Kenapa Dalia terburu-buru begitu?


Tanya Faizan Dalam hati.


****


Setibanya di depan kediaman keluarga Federick, Dalia lalu memarkirkan motornya tersebut di pinggir pagar. Ia langsung bergegas menghampiri security yang berjaga saat itu.


" Permisi pak! " Sapa Dalia.


" Ada perlu apa, nona? " Security itu seperti tidak lagi mengenal Dalia karena penampilannya saat ini.


" Saya sekretaris tuan Rendra, dan saya kesini ingin menemui tuan Rendra karena ada berkas-berkas penting yang perlu tuan Rendra tanda tangani. "


Ucapan Dalia tidak sepenuhnya di percaya oleh security tersebut. Ia terus memperhatikan Dalia, hingga matanya tertuju pada kartu pengenal dan lencana Federick Corporation yang menempel di baju yang Dalia kenakan.


" Sialahkan masuk! " Ucap security itu yang langsung membukakan pagar untuk Dalia.


Tanpa ingin mengulur waktu, Dalia lalu bergegas masuk hingga berada tepat di depan pintu kediaman keluarga Federick. Ia kemudian memencet bel yang ada di rumah tersebut.


Ceklek!


Pintupun terbuka dan memperlihatkan wajah Molly yang terkejut melihat kedatangan Dalia.


" Dalia!! " Teriaknya heboh dan langsung berhambur memeluk sahabatnya tersebut.


" Molly! " Balas Dalia yang juga membalas pelukannya.


" Ya udah, ayo masuk! " Ajak Molly.


Daliapun kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah keluarga Federick. Ini kali pertamanya Ia menginjakkan kakinya di rumah mewah tersebut.


" Hmm... kita langsung ke kamar ku saja, yuk! " Ajak Molly yang tidak menyadari maksud kedatangan sahabatnya itu.


" Emm.. maaf Molly, lain kali saja ya? Sebenarnya, maksud kedatanganku kemari untuk bertemu dengan tuan Rendra." Ucap Dalia sambil menghentikan langkahnya.


Apa? Aku tidak salah dengarkan tadi? Dalia bilang Dia ingin bertemu dengan kak Rendra? Aha!!


" Kalau begitu, kau tunggulah di sini! Aku akan memanggilkan kakakku yang tampan itu. " Jawab Molly tersenyum lebar.


" Baiklah, Molly! " Dalia langsung mendudukkan dirinya di sofa mewah yang ada di ruang tamu rumah itu.


Kakak? Berarti tuan Rendra itu kakaknya Molly. Kalau tuan Rendra dan Molly bersaudara, kenapa sifatnya berbanding terbalik banget yah?


Gumam Dalia sambil menunggu kedatangan Rendra.


****


Molly kemudian menghampiri kakaknya yang sedang ngegym di ruang olahraga milik keluarga Federick.


" Kak Ren! " Sahutnya.


" Iya, ada apa? " Jawab Rendra yang masih tampak sibuk membentuk otot-ototnya tersebut.


" Ada wanita cantik yang mencari kakak tuh di luar. "


" Siapa? " Rendra masih tak bergeming.


" Dalia"


Mendengar nama itu, sontak Rendra langsung menghentikan aktivitas ngegymnya.


" Dalia? " Ulang Rendra sambil menoleh ke arah adiknya itu.


" Iya, Dalia sekretaris kak Ren. "


Mau apa Dia kemari?


" Suruh Dia tunggu sebentar. "


" Siap kakak! "


Rendra lalu mengelap keringat yang bercucuran di tubuhnya baru kemudian mengenakan singlet yang sedikit transparan sehingga memperlihatkan dengan jelas otot-ototnya. Setelah itu, Ia langsung menemui Dalia yang sedang menunggunya di ruang tamu.


" Selamat sore, tuan Rendra! " Sapa Dalia yang langsung berdiri dari duduknya ketika melihat Rendra datang menemuinya.


" Sore! " Balas Rendra


Rendra kemudian berjalan mendekati Dalia, namun tiba-tiba kakinya menginjak sebuah kulit pisang yang tergeletak di lantai marmer rumahnya, hingga membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan terjatuh menimpa tubuh Dalia yang seketika itu keduanya pun terjatuh di atas sofa. Bibir Rendra dan bibis sexy Dalia pun bertemu. Cup! 😚😚😚


Mata Dalia terbelakak sempurna, Dalia kaget bukan main. Bibir sexynya harus Ia relakan di sentuh oleh pria Arrogan yang ada di hadapannya saat ini.


Bukan hanya itu, tubuhnya kini kaku seakan ikut terkunci oleh otot-otot kekar Rendra yang masih berkeringat. Di tambah singlet transparant yang Rendra kenakan memperlihatkan dengan jelas tubuh sixpacknya, hingga membuat Dalia hampir kehabisan nafas saking gugupnya.


Kejadian itu membuat tatapan mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain.


Yes! Berhasil! Aku harus mengabadikan moment ini!


Ucap Molly yang sedang memegang ponselnya dan bersembunyi tidak jauh dari mereka berdua.


" Rendraa!! " Teriak mama Sarafina tiba-tiba yang baru saja keluar dari kamarnya dan hendak pergi keluar.


Aduh! ****** kak Ren!


Ucap Molly dalam hati.


Sontak Rendra langsung melepaskan rengkuhannya terhadap Dalia. Begitupun Dalia, Ia segera merapikan pakaiannya dan membetulkan posisi duduknya.


" Maaf Dalia! " Ucap Rendra, namun Dalia tampak tak bergeming, Ia hanya diam sambil menundukkan pandangannya.

__ADS_1


" Kalau kamu sudah tidak tahan, segera cari calon istri! Jangan melakukan hal yang tidak-tidak di rumah ini! " Bentak mamanya lagi.


" Maaf ma! Ini tidak seperti yang mama lihat. "


" Ah, sudahlah! Mama males mau meladeni kamu, mama udah terlambat arisan sekarang! " Ucap mama Sarafina sambil melihat jam di tangannya.


"Ingat, selama mama tidak ada, jangan mengotori rumah ini! Kalau kamu menginginkannya, langsung nikahi saja wanita itu, gampang kan! " Lanjut mama Sarafina lagi dan langsung keluar sambil bernyanyi.


Hening!


Tidak ada yang memulai pembicaraan baik Rendra maupun Dalia. Hanya deru nafas yang tersengal, terdengar di ruangan itu.


" Siapa yang sudah membuang kulit pisang sembarangan di sini! " Decak Rendra kesal, sedangkan Dalia masih saja tampak diam dengan wajah yang pucat pasi.


Rendra melirik ke arah Dalia, Ia melihat dengan jelas wajah Dalia yang sama gugupnya seperti yang Ia rasakan.


" Dalia." Sapanya.


" Hmm... iya? " Dalia memaksakan senyumnya dan mencoba menatap Rendra.


" Maaf soal tadi, a.. aku tidak sengaja..." Rendra menelan salivanya sebelum melanjutkan kata-katanya.


" A.. aku tidak sengaja menciummu..! " Lanjut Rendra lagi.


Dalia hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya saja. Yah, mungkin masih malu guys? 😂😂


Hening lagi.


" Emm... ada perlu apa kemari? " Tanya Rendra lagi.


" Bagini tuan Rendra, saya ke sini membawa berkas-berkas yang harus tuan Rendra tanda tangani. " Dalia lalu menyerahkan berkas-berkas itu kepada Rendra karena tak ingin larut dalam suasana.


Rendra kemudian mengambil berkas-berkas itu dan mulai menandatanganinya satu persatu. Tampak ada sesuatu yang mengusik mata Dalia saat melihat tangan Rendra.


Tangan tuan Rendra kenapa memar?


Tanyanya dalam hati.


Kasian juga Dia, aku tinggalkan berkas sebanyak ini, dan Diapun harus jauh-jauh ke sini hanya untuk meminta tanda tanganku. Ini semua salah Faizan! Awas saja kau Faiz, takkan ku biarkan kau mendekati Dalia lagi.


Rendra bergumam dalam hatinya.


" Sudah! Ada lagi? " Tanya Rendra sambil mneyerahkan berkas-berkas itu pada Dalia.


" Tidak ada, tuan! Terima kasih. " Ucap Dalia sambil membereskan berkas-berkas tersebut.


" Oh iya, tangan tuan Rendra kenapa memar? " Tanya Dalia lagi karena kasian melihat Rendra kesusahan memegang pulpen.


" Oh...ini! Bukan apa-apa, cuma kejepit pintu aja tadi! " Jawab Rendra berkilah.


" Emm... kalau boleh, biar saya obati, kebetulan saya membawa salep di dalam tas saya. Kasian tuan Rendra, kalau tidak segera di obati, memarnya akan lama hilang. "


Rendra menatap dalam mata Dalia, Ia memilih tidak menjawab perkataan Dalia. Rendra malah langsung menyodorkan tangannya untuk di obati.


Melihat tangan Rendra yang sudah siap, Dalia langsung mengambil salep yang Ia bawa di dalam tasnya. Dengan telaten Dalia mengoles salep itu di tangan Rendra yang mengalami memar, dengan tangan satunya lagi memegang pergelangan tangan Rendra.


Owh... so sweett...?


Ucap Molly yang ternyata masih bersembunyi melihat semuanya.


Manik mata Rendra menatap lekat pemilik wajah cantik yang bernama Dalia yang tampak sesekali meniup-niup tangan Rendra dengan lembut. Kini Rendra tidak bisa lagi membohongi hatinya, Ia sudah mengakui kalau hatinya telah di curi oleh Dalia.


Apa sebenarnya yang ada di dalam dirimu, Dalia? Kau telah menghinotisku dengan caramu.


Gumam Rendra dengan masih menatap lekat wajah Dalia.


" Sudah, tuan! " Ucap Dalia sambil menyimpan kembali salepnya di dalam tas.


" Terima kasih, Dalia. " Jawab Rendra tersenyum.


Dalia pun kini sudah bisa membalas senyum Rendra tanpa gugup lagi.


" Kalau bagitu, saya permisi dulu tuan Rendra! Oh iya, salam buat nona Molly. "


" Molly? " Ulang Rendra.


" Iya, tuan, nona Molly Federick. "


" Baiklah, nanti saya sampaikan! "


" Saya permisi, tuan Rendra! " Ucap Dalia lagi sambil berjalan keluar dari rumah mewah tersebut.


Belum jauh berjalan, suara Rendra menghentikan langkahnya.


" Dalia! "


Seketika itu, Dalia pun menoleh.


" See you tomorrow! " Ucap Rendra lagi dengan tersenyum lebar, kali ini senyumnya benar-benar bahagia.


" See you too! " Jawab Dalia yang juga membalas senyum Rendra dengan senyum terindahnya.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


" Readers! " Teriak Author.


Seketika itu Readerspun membaca pesan Author.


" See you monday! " Ucap Author.


" Yah.... lama donk Thor? " Jawab Readers kecewa..


Hehe...


Maaf yah, sampai jumpa senin lagi..


soalnya Author belum kelar nulis.


Itu sebabnya, bab kali ini Author kasih bonus hingga 2.200 kata. Biar Readers kenyang!!


😂😂😂

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu beri Author semangat dengan Like, vote, dan komen yah...


Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘


__ADS_2