Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
INTERVIEW


__ADS_3

Setelah melewati drama yang cukup panjang, Dalia dan Shenzi pun pamit pulang terlebih dahulu. Namun, sebelumnya mereka sudah di traktir makan oleh Molly. Dalia sangat bersyukur di berikan teman sebaik Molly, begitu pula Molly yang menaruh sedikit harapan pada sahabat barunya tersebut.


****


Malam Harinya Di Kediaman Keluarga Federick.


Molly terlihat bersantai di ruang tamu sambil membaca buku favoritnya. Apalagi kalau bukan buku tentang Love Story. Rendra yang melihat adiknya yang sedang bersantai itupun langsung datang menghampiri.


" Jangan suka baca beginian, terkadang apa yang ada di dalam novel tidak seperti yang ada di dunia nyata. " Ucap Rendra yang langsung mengambil buku yang sedang di baca oleh Molly.


" Iihh.. kak Ren, nyebelin deh! " Rungut Molly.


" Habisnya baca buku unfaedah begini. Baca buku tuh buku yang mengandung banyak motivasi dalam hidup. "


" Buku kayak gini juga memotivasi kok! " Ucap Molly yang tak mau kalah.


" Memotivasi apa? "


" Memotivasi kita untuk belajar jatuh cinta. " Ucap Molly sambil senyum-senyum sendiri.


" Dasar!! " Rendra lalu melempar buku itu ke sembarang arah.


" Kakak, kembalikan buku ku! " Teriak Molly.


" Udah, lupakan tentang buku! Kakak mau cerita sedikit sama kamu. "


Di balik sikap dingin seorang Birendra Federick, sesungguhnya Rendra termasuk pribadi yang hangat ketika sedang berada di rumah. Ia juga terkadang suka mengganggu adiknya, Molly. Walaupun begitu, Rendra masih sering tertutup dengan masalah pribadinya.


Mendengar Rendra mengatakan ingin bercerita, Molly mendadak diam dan terperangah sedikit tidak percaya akan perubahan sikap dari kakaknya tersebut.


" Kenapa ekspresimu seperti itu? Heh! " Tanya Rendra heran.


" Gak biasanya, kakak mau bercerita. " Jawab Molly dengan memicingkan matanya.


" Hmm... iya kah, kalau gitu gak jadi aja deh! "


" Eh.. kak Ren, jangan gitu donk! Aku bisa mati penasaran nanti! " Rengek Molly karena melihat Rendra yang ingin beranjak menjauhinya.


" Ha.. ha.. ha.. ha..! Ada-ada aja kamu, sampai segitunya. "


" Habisnya, kak Ren udah terlanjur bikin aku penasaran." Ucap Molly cemberut.


" Ya udah, aku udah siap kak! Ayo, ceritalah! "


Lanjut Molly lagi sambil membenarkan posisi duduknya.


" Segitunya banget? "


" Iya donk, ini momen langka tau..! Ayo, cerita donk kak!"


" Hmm... tadi siang kakak ada meeting di salah satu mall yang ada di Jakarta. " Rendra memberi jeda sedikit perkataannya.


" Ya, terus! " Sahut Molly yang tidak sabaran.


" Kamu gak sabaran banget sih, kalau gitu kakak gak jadi cerita aja deh! " Ucap Rendra sedikit kesal.


" Hehe.. maaf kakak, jangan marah donk! "


" Makanya, kalau kak Ren lagi cerita jangan di potong dulu! "


" Iya deh iya, Molly janji! " Ucap Molly sambil menunjukkan dua jari tanda peace.


" Saat kakak melewati sebuah toko boneka, kakak menabrak seorang anak kecil, wajahnya manis sekali. "


Anak kecil? Toko boneka? Gumam Molly dalam hati.


" Anak kecil itu laki-laki apa perempuan? " Tanya Molly semakin penasaran.


" Perempuan. "


" Perempuan? " Ulang Molly dengan antusias.


" Kamu kenapa jadi heboh gitu? " Rendra merasa heran.


" Gak kenapa-napa kok, lanjut kak! "


" Anak itu tampak sekali menginginkan boneka beruang yang ada di dalam toko tersebut, ya udah kakak belikan aja boneka untuknya. "


Anak itu di belikan boneka? Apa yang di maksud kak Ren disini adalah Shenzi yah? Kenapa ceritanya hampir sama dengan Shenzi?


Molly terus terbang dengan pikirannya sendiri.


" Andai kakak bisa punya anak, pasti anak kakak udah sebesar itu sekarang. " Ucap Rendra lagi dengan wajah sendunya. Tampak semburat kesedihan di matanya.


Rendra bercerai dari istrinya karena istrinya telah menghianati cintanya. Rendra sadar dengan kekurangannya, itu sebabnya Ia memilih melepas istrinya itu berbahagia dengan pria lain, sedangkan Ia memilih untuk tetap menduda karena berfikir tidak akan ada wanita yang mau menerima keadaannya dengan tulus.


" Kak Ren kok bicara begitu, kak Ren masih bisa punya anak kok, kan Kak Ren hanya di vonis dokter sulit punya anak, bukan berarti mandul kan? " Molly merasa sedih melihat kakaknya itu.


" Apa bedanya? "


" Yah, beda donk kak, aku yakin suatu saat nanti kak Ren akan memiliki anak dari wanita yang benar-benar tulus mencintai kak Ren. "


" Benarkah itu? "

__ADS_1


" Benar donk! Jangan sedih begitu donk kakakku tersayang, nanti ketampanannya luntur. " Molly mencoba menghibur Rendra.


" Biarin aja! "


" Sini, peluk dulu! " Molly langsung menghampiri kakaknya itu, lalu memeluknya.


" Suatu saat nanti, akan ada seorang wanita yang mau menerima kak Ren dengan tulus dan apa adanya! Percayalah! " Ucap Molly menenangkan.


" Seyakin itu? "


" Iya donk!" Molly langsung melepaskan pelukannya, kemudian kembali berkata.


" Kakak mau yang gadis apa yang janda? " Ucap Molly sambil menaik-naikkan alisnya.


" Mulai deh jadi kayak mama. " Ucap Rendra yang mendadak malas meladeni adiknya itu dan langsung berniat ingin pergi, namun dengan cepat di tahan oleh Molly.


" Eh... tunggu dulu, jawab dulu baru pergi. "


" Yang gadis namanya siapa? "


" Keryl. "


" Keryl? Temanmu yang pecicilan itu? " Ucap Rendra sambil mengekerutkan keningnya.


" Ehemm... "


" Iiss... bukan seleraku. "


" Kalau gitu yang janda aja.... gimana? " Goda Molly sambil mesem-mesem.


" Siapa namanya? "


" Da....! Ooppss! " Molly langsung menutup mulutnya dengan tangannya.


Hampir saja aku keceplosan, kalau sampai keceplosan, habis sudah rencanaku.


" Da... siapa? Daniel? "


" Ha..ha.. ha.. ha..! Masa' aku jodohin kakakku dengan temen aku yang jadi-jadian itu? "


" Lalu siapa? "


" Ada deh! Biarkan Tuhan yang mempersatukan kalian berdua. "


" Cih! Sespesial itukah dirinya ?"


" Jelas, Dia wanita yang sangat spesial. "


" Ah, sudahlah! Males kakak bahas soal perempuan! Mending kakak ke kamar, mau tidur! " Ucap Rendra yang langsung berlalu meninggalkan Molly yang masih terlihat senyum-senyum sendiri itu.


Gumam Molly yang tampak tak masuk akal itu, namun mampu memberi kebahagiaan tersendiri di dalam hatinya.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Ke Esokan Paginya.


Dalia tampak sudah bersiap-siap untuk melakukan interview pada hari ini di perusahaan Federick Corporation. Tidak lupa, Ia menitipkan Shenzi kepada bu Retno untuk menjaga Shenzi selama Ia pergi.


Sehari sebelumnya, Dalia memang sudah berbicara kepada bu Retno soal itu. Ia akan menggaji bu Retno di setiap bulannya nanti ketika Dia sudah di terima bekerja di perusahaan Federick Corporation.


Shenzi yang sudah duduk di bangku TK memang membutuhkan seseorang untuk menjaganya. Beruntung bu Retno yang sudah memiliki anak yang sudah besar-besar itu, memudahkan dirinya untuk menerima pekerjaan tersebut.


Setelah selesai urusan Shenzi, Dalia pun langsung melajukan motor maticnya menuju perusahaan yang masih terbilang baru baginya. Ketika sampai di depan gedung, Dalia pun memarkirkan kendaraan bututnya itu di tempat parkir yang sudah di sediakan. Ia tampak sedikit tergesa-gesa karena merasa sedikit terlambat.


Bukk!


Dalia terjatuh saat tubuhnya menabrak seorang pria yang sedang berpas-pasan dengannya untuk masuk ke dalam gedung.


" Awwh! " Rintihnya.


" Apa kau tidak memiliki mata! Kenapa ceroboh sekali! " Ucap pria itu yang tak lain adalah Rendra, namun Rendra tak dapat melihat wajah Dalia, karena Dalia sedang menundukkan wajahnya.

__ADS_1


" Maafkan saya! " Lirihnya.


" Anda tidak apa-apa, tuan?" Tanya Rio kepada atasannya itu, walaupun Ia tau Rendra baik-baik saja, karena memang begitulah kalau ingin selamat dari amarah Birendra Federick.


Rio melirik sekilas ke arah Dalia, dalam hatinya Ia ingin sekali menolong wanita itu berdiri. Tapi, Dia sadar saat ini Dia sedang bersama bos paling menakutkan di muka bumi ini, benaknya.


Dalia pun bangkit berdiri sendiri, setelah melihat Rendra dan asistennya masuk ke dalam. Ia pun merutuki dirinya sendiri karena telah seceroboh itu. Tak ingin membuang waktu lebih lama, Ia langsung menuju ke ruang HRD.


" Permisi pak, saya di mintai datang untuk melakukan interview. " Ucap Dalia kepada salah satu karyawan yang bertugas di situ.


" Anda, nona Dalia? "


" Iya, benar. " Dalia merasa sedikit heran karena karyawan itu sudah mengetahui namanya.


" Kalau begitu, anda di minta untuk langsung menemui pak Rio harald selaku Asisten Direktur di perusahaan ini yang ruangannya berada di lantai 3."


" Baiklah pak, terima kasih! "


Dengan perasaan bingung, Dalia pun segera menaiki lift menuju lantai tiga. Sesampainya di lantai 3,Ia lalu mencari ruangan Asisten Direktur yang di maksud karyawan tadi, dan tidak butuh waktu lama, Dalian pun menemukannya.


Tok.. tok.. tok..!


" Masuk! " Ucap seorang pria dari dalam.


Ceklek!


Pintupun terbuka dan memperlihatkan wajah Rio yang sedang menatap ke arahnya.


Cantik sekali. Gumam Rio dalam hati.


" Permisi pak! " Ucap Dalia sedikit canggung.


" Iya... silahkan duduk! " Titah Rio dan Daliapun segera mengambil posisi untuk duduk.


" Anda yang bernama nona Dalia Andrina? "


" Iya, pak. " Jawab Dalia sopan.


" Apa kita pernah bertemu sebelumnya? " Tanya Rio tiba-tiba yang merasa tidak asing dengan wajah Dalia.


" Hmm.. saya rasa belum pernah, pak. " Ucap Dalia tersenyum.


" Oh.. mungkin perasaan saya saja. " Rio lalu beralih mengambil CV milik Dalia.


" Anda memiliki banyak prestasi selama bekerja di Adiyaksa Group, tapi itu saja tidak cukup. Karena Anda akan di tempatkan langsung sebagai sekretaris pribadi tuan muda Birendra Federick. Tentu anda tidak asing dengan nama itu bukan? "


Birendra Federick? Iya, aku tau nama itu, Dia adalah anak dari Davian Federick. Davian Fedrick adalah orang yang pernah menolak kerja sama dengan proyek yang aku tawarkan waktu aku masih bekerja dengan Abigail.


" Nona Dalia, apa kau mendengarku? "


" Iya pak, saya akan bekerja dengan lebih baik lagi dan berusaha untuk tidak mengecewakan Federick Corporation. "


" Baiklah! Kalau anda sudah yakin, mari ikut saya! Anda akan di interview langsung oleh Direktur Utama perusahaan ini. "


Deg!


Dalia menelan salivanya, Dia tampak terkejut karena tidak pernah di interview oleh atasan langsung. Namun, kali ini sedikit berbeda.


Ketika sudah berada di depan ruangan Direktur Utama, wajah Dalia tampak pucat pasi. Keringat dingin juga mengguyur tubuhnya saat itu.


" Apa anda sudah siap, nona? " Tanya Rio kembali.


" Si.. siap, pak! " Ucap Dalia sambil memegang jari-jemarinya untuk mengurangi rasa gugupnya.


Ceklek!


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################

__ADS_1


Dan Rendra pun berkata jangan lupa like, vote, dan komennya yah Readers...!!


Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘


__ADS_2