
Sesampainya di rumah, Pelangi, Cinta dan Langit tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Pelangi yang sibuk menonton drama Korea terbaru, Cinta yang sedang mengerjakan tugasnya, sedangkan Langit sedang sibuk mencetak beberapa foto terbaru miliknya.
“Kami pulang!” seru ibunda tercinta dengan diikuti oleh suaminya dari belakang. “Pelangi? Jam berapa ini? Masih betah aja nonton drama Korea. Nanti mata kamu rusak, Nak.”
“Bentar lagi, Mih. Ini tanggung banget, lagi adegan paling seru.”
“Cinta sama Langit mana?” tanya papih.
“Ada di kamar mereka masing-masing,” jawab Pelangi yang begitu serius menonton.
“Pilih kue balok atau nonton drama Korea?” tanya mamih hingga membuat Pelangi langsung menatap wajah mamihnya.
“Akh, Mamih! Pelangi jadi galau, kan?”
“Ayo pilih yang mana?”
“Baiklah, Pelangi pilih kue balok,” katanya yang langsung mematikan tv dan menghampiri mamihnya. “Kue balok memang paling enak,” katanya riang hingga membuat sang ibu hanya tersenyum kecil dan membelai rambut anak bungsunya itu.
“Temenin mamih masak, yuk? Mamih mau buat menu terbaru, nih.”
“Menu baru? Boleh, sekalian kita bikin brownis aja, Mih,” katanya riang.
“Oke, cheff cantik. Sekarang kalian menuju dapur saja dan mulai berkreasi, papih sudah tidak sabar menunggu masakan kalian jadi.”
“Siap, Komandan!” seru Pelangi dan sang istri kompak dan segera bergegas langsung menuju dapur.
“Bentar, yah? Mamih, ganti pakaian dulu.”
Pelangi mengangguk dan langsung menuju dapur. Sementara Cinta dan Langit yang baru saja selesai dengan aktivitas mereka, langsung menghampiri keluarganya di ruang tv.
“Kebetulan, Cinta pijitin papih, dong. Pegel banget, nih!” pinta papihnya terlihat manja.
Cinta mengangguk dan segera menghampiri papihnya untuk memijatnya.
“Pih, hari ini kan hari sabtu, Moto GP main. Ganti chanel, dong,” tutur Cinta yang sedang memijat punggung papihnya itu.
Sang ayah mengangguk dan langsung mengganti chanel tvnya. Melihat suami beserta ke dua anaknya sedang asyik menonton balapan motor, sang istri hanya tersenyum tipis dan kembali melanjutkan aktivitasnya untuk membuat kue bersama anak kesayangannya.
“Ko, tumben ada GP hari sabtu?” tanya papih.
“Jadwalnya sekarang memang hari sabtu, Pih.” jawab Cinta tampak bersemangat.
Sang ayah hanya manggut-manggut tanda mengerti.
“Mih, enak gak brownisnya?” tanya Pelangi yang sedang sibuk membuat kue bersama mamihnya di dapur.
“Enak, anak mamih yang satu ini emang paling pinter buat kue kaya gini.”
__ADS_1
“Pelangi kan cheff yang handal, Mih,” tawanya lebar sambil merangkul mamihnya dari samping.
“Pokoknya, kue buatan anak mamih ini rasanya TOP banget!” tutur sang ibu sambil memberikan dua jempolnya hingga membuat Pelangi tersenyum lebar sambil mencium pipi mamihnya dengan penuh kasih sayang.
Setelah selesai membuat kue, Pelangi beserta ibunya membawa beberapa cemilan ke ruang tv dan ikut menonton bersama dengan keluarga kecilnya. Sambil menikmati brownis buatan Pelangi dan ibunya, Langit, Cinta dan ayahanda tercinta terlihat begitu serius dan tampak sesekali berteriak heboh, saat menonton balapan motor.
Beberapa teriakan dari keluarga kecil ini, cukup membuat bik Minah dan bik Iyum yang sedang beres-beres di dapur, tertawa kecil melihat kebersamaan dan kekompakan mereka.
Melihat Cinta dan Langit yang duduk di bawah, Pelangi yang berada di tengah-tengah ke dua orang tuanya sambil menikmati beberapa cemilan kecil, bik Minah dan bik Iyum hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat perilaku keluarga yang cukup langka ini.
“Pokoknya Marquez pasti menang!” kata Cinta yang tetap keukeuh mendukung idolanya.
“Nggak mungkin, gue tetep dukung Lorenzo yang jadi pemenangnya!” timpal Langit tak mau kalah.
“Tidak bisa, Rossi pasti bakalan menang!” kilah sang ayah yang mendukung idolanya yaitu Valentino Rossi.
“Pelangi dukung Pedrosa aja deh, dia kan ganteng,” katanya yang berusaha mencairkan suasana yang terlihat begitu sengit ini.
“Iya, mamih juga dukung Pedrosa aja. Skillnya hebat, dia juga ganteng.”
Perdebatan kecil mulai terasa di tengah-tengah mereka. Saling mendukung idola masing-masing dan tetap keukeuh dengan pilihan masing-masing, membuat mereka semua beradu mulut dan saling melempar bantal. Pada akhirnya, Mark Marquezlah yang menang, hingga membuat Cinta melompat-lompat girang karena saking bahagianya.
Karena ini moment kebersamaan yang sangat langka, bisa menonton bersama kembali di rumah, membuat Langit berinisiatif membawa kameranya dan melakukan selfie bersama keluarga kecilnya. Dengan gaya-gaya mereka yang aneh dan juga unik, Langit dan keluarganya banyak melakukan selfie dengan gaya-gaya mereka yang cukup menghebohkan.
Setelah menghabiskan malam bersama keluarga, Cinta tampak sedang melakukan skype dengan Sasha di dalam kamarnya yang terlihat sangat berantakan sekali seperti kapal pecah.
“Geblek, itu kamar atau kapal Titanic?” sindir Sasha yang baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya yang basah.
Cinta tampak terlihat sedang duduk santai di atas tempat tidurnya sembari memakan sebuah snack yang baru saja ia bawa dari dapur.
“Dugem,” jawab Sasha asal sambil tertawa ngakak.
“Geblek! Inget, almarhum kakek lo itu kiyai, masa cucunya ngedugem? Dikutuk emak lo baru tahu rasa lo!”
Mendengar celotehan sahabatnya, Sasha hanya tertawa lebar. Ia kembali sibuk dengan peralatan tempurnya alias perawatan wajahnya yang begitu banyak itu.
"Sha, tangan lo ada luka lebam. Luka apa itu?" tanya Cinta begitu melirik ke arah pergelangan tangan Sasha yang memang lebam.
"Bukan apa-apa, Ta," jawab Sasha terlihat gugup.
"Apa Guntur . . ."
"Jangan berfikiran aneh-aneh, Ta. Ini tidak seperti yang elo fikirkan," potong Sasha cepat.
Cinta merasa ada yang aneh dengan sikap Sasha kali ini. Ia seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
“Jadi, gimana?” tanya Sasha mengalihkan hingga membuat Cinta langsung mengernyitkan keningnya bingung.
__ADS_1
“Gimana apanya maksud lo?”
“Soal . . . eh, ada si Bombom on skype, nih. Skype bareng, yuk?”
Cinta mengangguk dan berakhirlah dengan 3 manusia yang sedang bermalas-malasan di kamar mereka masing-masing sambil melakukan skype.
“Kalian gosipin gue, yah?” seru Bumi yang baru saja muncul dengan keadaan rambut yang terlihat sangat berantakan sekali.
“Sotoy lo, Kuya! Siapa juga yang gosipin lo!” serbu Cinta yang membuat video call mereka kali ini tampak heboh.
“Sotoy itu makanan depan kampus, yah? Wah, enak juga ini makan sotoy jam segini.”
“Itu soto, Pea!” teriak Cinta dan Sasha berbarengan.
Bumi yang merasa di teriaki seperti itu hanya bisa manggut-manggut dan kembali tiduran di atas tempat tidurnya.
“Eh, udah pada ngerjain tugas Pancasila belum? Nyontek, dong!” tutur Sasha yang langsung memasang ekspresi wajah memelas dan merengek meminta contekan kepada teman-temannya.
“Kebiasaan nyontek mulu. Kerjain sendiri, dong!”
“Tahu ini anak tuyul satu. Kerjaannya nyontek mulu. Sibuk pacaran aja sih lo!” sindir Bumi yang membuat Sasha hanya tersenyum-senyum sendiri mendengarnya.
“Pacaran itu tuntutan profesi tahu,” katanya menjawab.
“Dasar anak tuyul!” ejek Bumi.
“Dari pada lo, anak genderwo!” balas Sasha tak mau kalah.
Kalau Bumi dan Sasha sudah saling mengejek, Cinta hanya bisa pasrah. Karena ejekan mereka itu tidak akan pernah ada habis-habisnya. Bahkan, bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk saling menghina satu sama lainnya.
“Cikur!! Minta kayu putih, dong. Kayu putih gue abis, nih!” teriak Pelangi yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar kakaknya dengan keadaan hanya memakai handuk saja.
Sasha dan Bumi yang tengah melakukan skype dengan Cinta, tampak membisu begitu melihat Pelangi yang hanya terbalut oleh handuk saja. Secara otomatis, Sasha, Cinta dan Pelangi langsung berteriak histeris hingga membuat Bumi tampak langsung terlihat salah tingkah.
“Bumi!! Jangan lihat adek gue setengah telanjang!!” teriak Cinta yang langsung mendorong tubuh Pelangi agar secepatnya keluar dari kamarnya.
“Uwooo, alien dari mana, tuh? Alien berhanduk putih?”
"Eh, kutu beranak! Jangan mesum yah lo!” teriak Sasha yang membuat Bumi seolah-olah tidak mendengar teriakan temannya itu.
“Pe, kalau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu, kek. Jangan seenaknya langsung masuk gitu aja!” seru Cinta begitu membawa adiknya itu langsung keluar dari kamarnya.
“Sorry, gue nggak tahu kalau lo lagi Video call-an sama Bumi juga Sasha. Gue cuma mau minta kayu putih lo aja.”
“Tunggu di sini. Biar gue yang ambil.”
Setelah mengambil kayu putih miliknya dan memberikannya kepada adiknya, Pelangi langsung bergegas pergi. Sementara Cinta kembali melakukan Skype bersama kedua temannya semalaman.
__ADS_1
Pembahasan mereka pun ngaler ngidul, alias nggak nyambung. Dari bahas tugas kampus, ujung-ujungnya berakhir dengan pembahasan tukang cilok di depan rumah Sasha. Semuanya di bahas, apa pun itu obrolan mereka, pasti bakalan panjang lebar kalau sudah video call-an seperti ini sampai lupa waktu.
Karena jam sudah menunjukan pukul 2 subuh, mereka bertiga pun memutuskan untuk mengakhiri video call-an mereka dan bergegas tidur.