
“Lang, tadi Bumi mengatakan kalau dia suka sama gue. Gue harus gimana?” tanyanya sambil menatap wajah Langit dengan mata berkaca-kaca dan terlihat panik.
“Dia bilang suka sama lo?” teriak Langit tampak terkejut mendengar.
“Iya, gue harus bagaimana, Lang?”
Langit terdiam membisu dan tampak memikirkan sesuatu.
"Pe, lo suka sama Bumi?"
"Apa? Kenapa tiba-tiba elo ngomong kaya gitu, Lang?"
"Kalau elo memang tidak menyukai Bumi, ya elo bisa aja kan menolak Bumi secara halus. Kenapa elo harus panik dan juga bingung? Kalau elo seperti itu, elo pastinya menyimpan rasa untuk Bumi, Pe."
"Hah? Suka sama Bumi?"
Sementara itu, Cinta tampak sedang menatap ke arah yang tidak pasti di sebuah fly over. Ia menatap lurus ke depan tanpa bersuara. Mencoba untuk melupakan semuanya, namun tidak bisa. Isi fikirannya berkecamuk hingga membuatnya ingin menghilang saja dari muka bumi ini.
“Arghh!!!” teriaknya.
Tiba-tiba saja, ada seseorang yang memeluk Cinta dari belakang. Cinta yang dipeluk seperti itu begitu tekejut. Berusaha melepaskan pelukan itu, namun pelukannya semakin kencang dan juga erat.
“Please, gue hanya butuh 5 menit.”
Cinta terdiam. Dengan mendengar suaranya saja, orang yang sudah memeluknya pastilah Awan. Cinta pun membiarkan Awan untuk memeluknya. Sambil memeluk Cinta dari belakang, tiba-tiba saja Awan meneteskan air matanya.
“Elo kenapa bisa tahu gue ada di sini?” tanya Cinta membuka suara.
“Mungkin takdir yang mempertemukan kita di sini,” katanya yang membuat Cinta kembali terdiam.
“Elo kenapa? Elo ada masalah?”
Awan melepaskan pelukannya. Cinta menatap wajah Awan, ia melihat kedua matanya memerah seperti baru saja menangis.
“Elo kenapa?” tanya Cinta terlihat khawatir.
__ADS_1
“Gue bingung, Ta. Gue nggak tahu harus berbuat apa lagi.”
Cinta masih terlihat bingung dan tak mengerti arah dan maksud perkataan Awan itu ke mana. Maka dari itu, ia lebih memilih untuk diam dan mendengar semua keluh kesah Awan dengan keheningannya.
“Gue harus pergi, Ta. Gue harus meninggalkan Indonesia.”
“Apa? Meninggalkan Indonesia? Tapi, Kenapa?”
“Kalau gue cerita, elo janji gak akan bilang siapa-siapa, kan?”
Cinta sesaat terdiam, namun ia kembali mengangguk pelan. Sambil menghela nafas panjang, Awan mulai menceritakan kisah hidupnya yang sebenarnya kepada Cinta.
Begitu mendengar cerita Awan, Cinta sangat terkejut sekali dan tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Elo serius dengan yang elo bilang tadi?”
“Sorry, kalau selama ini gue gak pernah bilang soal ini sama lo. Elo itu orang pertama yang tahu mengenai identitas gue yang sebenarnya. Gue harap elo bisa mengerti dan merahasiakan hal ini.”
“Gue sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang elo ceritakan tadi. Tapi, kenapa lo harus menyembunyikan identitas lo seperti ini?”
Cinta terdiam. Ia tidak menyangka sama sekali, seorang pria seperti Awan menyimpan rahasia yang begitu besar. Melihat Awan yang seperti itu, Cinta memberanikan dirinya untuk memeluknya dari samping.
“Sebenarnya, gue nggak mau pergi, Ta. Gue ingin hidup bebas, gue ingin terbang ke mana pun yang gue suka.”
“Iya, gue mengerti maksud lo,” tutur Cinta yang semakin mempererat pelukannya.
“Apalagi, saat ini gue tidak ingin meninggalkan orang yang paling berarti dalam hidup gue. Gue ingin selalu berada di sampingnya.”
Awan melepaskan pelukan Cinta dan menatapnya begitu lekat.
“Gue rasa, gue jatuh cinta sama lo,” ucapnya tiba-tiba hingga membuat Cinta sangat terkejut, “gue tidak ingin pergi jauh dari lo dan gue juga tidak perlu jawaban lo, Ta. Elo tidak perlu membalas perasaan gue. Gue tidak ingin elo terbebani atas perasaan gue. Biarkan semua ini mengalir begitu saja seperti air.”
Cinta menatap wajah Awan dengan lekat. Ia sama sekali tidak menyangka kalau pria yang sangat disukai adiknya itu ternyata menyukainya.
“Tapi, kenapa harus gue? Ada perempuan lain yang lebih menyukai lo dari pada gue, Wan.”
__ADS_1
“Gue tahu, dia adik lo kan?” tutur Awan yang membuat Cinta terkejut mendengarnya.
“Jadi, elo tahu?”
Awan mengangguk dan menatap lurus ke depan.
“Gue tahu kalau selama ini adik lo suka sama gue. Sejak awal, gue sering memperhatikan Pelangi dan juga elo, Ta. Ketika lo dan saudara-saudara lo bertemu dengan gue, hanya Pelangi yag terlihat exited ketimbang lo. Dan, elo selalu saja cuek dan tidak seperti perempuan-perempuan lainnya.
“Sejak awal, gue memang sudah tertarik dengan lo. Dan, sejak awal juga gue memang sudah memperhatikan lo. Hanya saja, elo tidak sadar akan hal itu. Dan, gue sudah meyakinkan hati gue kalau gue memang suka sama lo.”
Cinta menatap wajah Awan dengan pandangan lurus dan begitu hangat. Ia memegang pipi Awan dengan lembut dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi, gue gak bisa, Wan. Gue menyukai pria lain dan pria itu bukan lo.”
Awan terdiam. Tampaknya ia sangat kecewa mendengar jawaban Cinta barusan. Tapi, itu adalah resikonya. Jadi, bagaimana pun ia harus bisa menerimanya.
“Terimakasih karena lo sudah menyukai gue. Tapi, gue minta maaf banget sama lo, Wan. Gue benar-benar tidak bisa. Rasa cinta gue bukan untuk lo, tapi untuk orang lain.”
“Iya, gue bisa mengerti. Gue juga nggak berharap lebih sama lo. Asalkan elo selalu ada untuk gue dan berada di samping gue, itu sudah lebih dari cukup,” katanya pelan.
Cinta tersenyum dan merangkul Awan dengan riang.
“Menjadi sahabat itu lebih menyenangkan ketimbang menjadi pacar. Elo tahu kenapa, karena yang namanya pacar kalau sudah putus akan sulit untuk bersama kembali. Tapi, yang namanya sahabat tidak akan pernah mengenal kata putus.”
“Sok bijak banget sih ini anak satu,” tutur Awan sambil membalas merangkul Cinta dengan kasar seraya menatap wajahnya dengan lembut.
“Tapi, elo nggak marah kan sama gue karena gue udah nolak lo?”
“Santai aja kali, gue malah seneng karena lo masih mau temenan sama gue dan nggak ngejauhin gue. Mungkin saat ini yang gue butuhkan hanya teman yang bisa mengerti gue.”
“Thank’s karena lo udah bisa mengerti.”
“Sama-sama, Ta. Tapi, lo jangan sampai nyesel ya karena udah nolak orang ganteng kaya gue,” ucapnya terlihat percaya diri.
“Ckck, dasar gila!”
__ADS_1
Pembicaraannya dengan Cinta tadi membuat Awan mengerti akan satu hal. Pertemanan yang ia jalin dengan Cinta saat ini adalah pertemanan yang tidak biasa. Walau Cinta belum bisa menerimanya, namun Awan cukup gembira karena masih bisa menjadi teman dekatnya.