
Pelangi melangkahkan kakinya dengan terburu-buru. Ia terlihat jadi canggung sendiri di saat Bumi yang tiba-tiba saja datang merangkulnya di depan ke dua saudaranya. Ia bahkan berjalan menuju kelasnya dengan hati yang berdebar-debar dan fikiran yang tak karuan.
“Kenapa gue jadi gugup seperti ini? Gue kan tidak sedang berbohong atau menyembunyikan sesuatu. Tapi, kenapa saat Bumi datang suasana menjadi tampak aneh, yah?” gerutunya sambil menggigit-gigit bibirnya.
Karena malas berfikiran lebih jauh, Pelangi langsung masuk ke dalam kelasnya seraya bercermin seperti biasanya di depan cermin berbentuk Hello kitty miliknya.
Lain halnya dengan Cinta, ia terlihat sedang memandangi Bumi yang sejak tadi terlihat tersenyum-senyum sendiri.
“Happy banget kayanya?”
"Iya nih, gue lagi happy banget, Ta.”
“Kenapa? Elo udah berhasil memastikan perasaan lo terhadap Pelangi?”
Bumi mengangguk pelan sambil menatap wajah Cinta yang terlihat murung dan tampak kecewa.
“Gue sekarang sudah yakin dengan perasaan gue, Ta. Gue mau membuat Pelangi jatuh cinta sama gue. Dan, gue mau menghapus rasa suka Pelangi terhadap Awan. Elo bantuin gue juga, yah?”
“Hah? Bantuin lo?”
Bumi mengangguk sembari menggenggam ke dua tangan Cinta dengan erat. “Iya, gue sudah meyakinkan hati gue sekarang. Dan, gue gak akan ragu lagi dengan hati gue.”
Semenjak pembicaraannya dengan Bumi di kelas, Cinta jadi lebih banyak diam dan tidak banyak berbicara. Bahkan, saat mata kuliah hari ini selesai Bumi yang biasanya sering menghabiskan banyak waktu dengannya, tiba-tiba menghilang dan langsung pergi menuju fakultas FISIP.
“Bumi ke mana, Ta?” tanya Sasha saat mereka baru saja keluar dari kelas. “Kelihatannya buru-buru banget.”
“Mau ketemu Pelangi.”
“Pelangi? Ngapain?” tanya Sasha bingung.
“Bumi suka sama Pelangi, dia mau pendekatan lebih intens gitu sama Pelangi.”
“Serius lo?” teriak Sasha yang tidak percaya.
“Terus, perasaan lo gimana? Bumi tahu nggak lo suka sama dia?”
Cinta menggeleng dan terlihat begitu putus asa.
“Mau sampai kapan lo mendam perasaan lo terus, Ta? Udah lama banget loh elo suka sama Bumi. Elo harus mengutarakan perasaan lo yang sebenarnya sama Bumi, Ta.”
“Nggak enak jadi cewe, Sha. Cewe nggak bisa ngungkapin duluan. Gue terlalu gengsi untuk mengatakan kalau gue suka sama dia.”
“Sekarang tuh jamannya emansipasi wanita. Nggak masalah kalau cewe ngungkapin duluan. Tapi, kalau lo mau nunggu Bumi yang ngungkapin, mau sampai kapan? Buminya keburu suka sama Pelangi. Saudara kembar lo sendiri loh itu.”
“Terus lo sendiri gimana?” tanya Cinta tiba-tiba.
“Loh, ko jadi gue?”
“Jangan bohongin gue lagi, Sha. Gue itu sahabat lo, tahu semua yang lo sendiri bahkan tidak pernah ngomong sama gue. Lo suka sama adik gue, kan? Lo suka sama Langit, kan?”
Sasha langsung terdiam. Ia begitu terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan sahabatnya itu. Ia tidak menyangka, kalau sahabatnya sendiri akan menyampaikan hal itu juga.
“Jangan sok tahu lo. Gue udah punya Guntur, masa gue suka sama adik lo.”
“Yang namanya sahabat, dia bakalan tahu apa yang nggak sahabatnya ceritakan dengan sendirinya. Yang namanya sahabat, meski selalu terlihat cuek, tapi dia sebenarnya peduli. Jujur sama gue, elo suka sama Langit?”
“Gue . . . ."
“Sha?”
__ADS_1
“Gue cuma nyaman sama Langit, Ta. Gue suka sama dia sebagai teman yang baik, nggak lebih dari itu. Udah ah, gue mau ketemu Guntur dulu. Dah!” katanya yang langsung pergi begitu saja.
“Gue nggak bisa dibohongin, Sha,” katanya pelan.
Karena ditinggal Sasha untuk bertemu pacarnya, Cinta duduk seorang diri di bangku taman kampus. Sekarang ia benar-benar merasa kesepian. Semua teman-temannya sibuk dengan orang-orang yang mereka sukai.
Melihat Cinta yang sedang sendiri, Awan yang baru saja keluar dari kelasnya langsung menghampirinya. Awan terlihat duduk di samping Cinta dan mulai menunjuk pipi kanan Cinta dengan menggunakan telunjuknya.
“Hey, apa yang lo lakukan?” tanya Cinta dengan ekspresi datarnya.
“Sekarang kan kita sudah menjadi teman. Kenapa, kayanya elo lagi ada masalah gitu?”
“Sok tahu banget sih lo, Wan.”
“Elo gak usah bohong sama gue. Gue tahu pasti elo lagi ada masalah, kan?”
Cinta menghela nafas panjang. “Huh . . . salah gak sih kalau gue suka sama temen sendiri?” tanyanya sambil menyandarkan kepalanya ke arah bahu Awan hingga membuat Awan terlihat sangat terkejut.
“Suka sama temen sendiri?” tanyanya bingung.
“Apa yang harus gue lakukan? Apa gue harus melupakannya atau kah gue harus mempertahankannya? Saat ini gue sangat membutuhkan sekali teman bicara. Gue nggak tahu lagi harus membicarakan soal ini kepada siapa? Gue rasa, kali ini gue sangat kesepian. Semua teman-teman gue sibuk masing-masing.”
“Elo nggak kesepian, Ta. Kan, masih ada gue,” katanya pelan.
Cinta tiba-tiba saja beranjak dan menatap wajah Awan dengan ekspresi bingung. Awan juga membalas menatap ke dua bola Cinta dengan hangat dan terlihat lebih akrab.
“Kenapa? Gue salah ngomong?”
“Elo serius ingin menjadi teman gue? Atau jangan-jangan elo?” selidik Cinta dengan kedua matanya yang menyipit.
“Jangan-jangan apa?” potongnya gugup.
“Nggak, lupakan saja,” jawab Cinta sambil memonyongkan bibirnya.
“Hey, mau ngajak gue ke mana?”
Sementara itu, Bumi terlihat terburu-buru sekali. Air mukanya terlihat lebih ceria dan menggambarkan kebahagiaan yang begitu luar biasanya. Ia berjalan menuju fakultas Fisip dengan langkah yang begitu bersemangat.
“Pelangi!” teriak Bumi memanggil namanya saat ia baru saja keluar dari kelasnya.
“Bumi? Ngapain lo di sini?” tanya Pelangi yang tampak terkejut ketika ia baru saja keluar dari kelasnya.
“Mau ngajak lo makan bareng. Kantin, yuk!” ajak Bumi yang langsung menarik tangannya begitu saja.
“Eh, tapi?”
Tanpa mendengar jawaban Pelangi, Bumi langsung menarik tangannya dan mengajaknya makan bersama di kantin. Sementara Cinta, ia dan Awan pergi menuju ruangan seni musik.
“Ngapain elo ngajak gue ke sini?” tanya Cinta bingung.
“Waktu kita terjebak tempo lalu di ruang serba guna, elo pernah memainkan gitar dan menyanyikan sebuah lagu. Gue pengen elo bernyanyi dan memainkan gitar kembali untuk gue.”
“Untuk lo?”
Awan mengangguk hingga membuat Cinta mengernyitkan keningnya.
“Atas dasar apa gue harus menyanyikan lagu untuk lo?”
“Gue ingin mendengar suara lo yang merdu lagi. Gue merindukan hal itu.”
__ADS_1
Cinta terdiam. Awan tampak sedang menantikan Cinta untuk menyanyikan sebuah lagu untuknya. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Cinta memainkan gitarnya dan mulai menyanyikan sebuah lagu.
Kali ini Cinta menyayikan sebuah lagu dari Christina Perri – A Thousand years.
Sambil menyanyikan lagu tersebut, Awan tak henti-hentinya menatap wajah Cinta dengan sorotan matanya yang tampak bercahaya dan berbinar-binar.
Pandangan matanya kali ini sangat hangat dan bersahabat. Awan juga tampak menikmati lagu yang sedang dinyanyikan oleh perempuan yang berada di hadapannya itu.
Tanpa Cinta sadari, kini Awan datang menghampirinya dan duduk di sampingnya,
“Kenapa lo duduk di samping gue?”
“Gue ingin menatap wajah lo lebih lama.”
“Maksud lo?”
Awan mengambil gitar yang sedang di mainkan oleh Cinta dan menyimpannya di sampingnya. Cinta terlihat tampak sangat gugup sekali karena tiba-tiba saja Awan mendekatkan dirinya hingga wajah mereka kini terlihat sangat dekat sekali.
Secara perlahan, Awan semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Cinta yang sudah mulai terlihat gugup. Semakin dekatnya wajah mereka, tiba-tiba saja Awan memegang kepala Cinta dengan ke dua tangannya yang besar hingga membuat Cinta sangat terkejut dengan sikapnya itu.
Awan memperlihatkan senyuman termanisnya yang sebelumnya belum pernah Cinta lihat.
Dia tersenyum? Batin Cinta tampak terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Awan tersenyum begitu lebar. Ia menatap ke dua bola Cinta begitu dalam, kemudian ia menarik tangan Cinta dan menaruh tangan kanan Cinta ke arah dadanya yang bidang. Sambil menatap kedua bola mata Cinta, salah satu tangannya menggenggam tangan Cinta dengan begitu erat.
“Elo bisa merasakan detak jantung gue saat ini, kan?”
Cinta mengangguk pelan dengan mata yang masih menatap ke dua bola Awan.
“Apa yang elo rasakan saat ini?”
“Entahlah gue bingung.”
Awan kembali tersenyum dan menarik tangan Cinta hingga membuatnya jatuh ke dalam pelukannya.
“Thank’s ya, Ta. Makasih banget karena lo sudah menerima gue sebagai teman lo,” bisiknya yang kemudian melepaskan pelukannya kemudian pergi.
Cinta terlihat kebingungan sendiri dengan apa yang sudah dilakukan Awan terhadapnya. Entah apa yang dirasakannya saat ini, namun yang pasti rasanya Cinta ingin sekali pergi menghampirnya.
Karena Awan sudah pergi, Cinta memutuskan untuk pergi menemuinya. Ia pergi berlari untuk mengejar Awan yang sudah cukup jauh. Ketika dirinya berhasil menemukan sosok Awan kembali, ia berlari menghampirinya.
Pelangi yang baru saja selesai makan siang bersama dengan Bumi di kantin tidak sengaja melihat Cinta pergi berlari-lari kecil di koridor kampus.
“Loh itu kan Cinta? Dia mau ke mana?” seru Pelangi terlihat bingung.
Tiba-tiba saja Cinta memeluk Awan dari belakang hingga membuat Pelangi yang melihatnya begitu terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
“Tunggu, jangan pergi!” seru Cinta yang tiba-tiba saja memeluk tubuh Awan dari belakang.
“Ada apa?” tanya Awan yang terkejut dengan sikap Cinta yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang.
“Entah apa yang gue rasakan saat ini. Tapi, saat ini gue sangat membutuhkan lo. Elo janji kan gak akan tinggalin gue? Elo masih akan tetap menjadi teman gue, kan?”
Awan melepaskan tangan Cinta dari pelukannya dan membalikkan tubuhnya serta menatap wajah Cinta yang sedang memandanginya.
“Iya, gue janji gak akan ninggalin lo,” tuturnya pelan sambil menggenggam kedua tangan Cinta dengan lembut.
Pelangi yang tidak sengaja melihat pemandangan tak mengenakan itu sangat terkejut. Bumi yang melihat Pelangi terlihat sangat syock, langsung menarik tangannya dan mengajaknya pergi.
__ADS_1
Sementara Langit yang baru saja keluar dari kelasnya, tak sengaja melihat Cinta dan Awan yang sedang berpegangan tangan, juga Bumi yang tiba-tiba saja menarik tangan Pelangi dan mengajaknya pergi.
“Ada apa dengan mereka semua?” gumamnya yang tampak begitu bingung itu.