Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
The Beginning


__ADS_3

Cinta yang terlihat baru saja selesai latihan, langsung mengganti pakaiannya. Setelah selesai berganti pakaian, ia langsung mengambil tasnya di dalam loker seraya berpamitan kepada teman-teman yang lain dan juga pelatihnya.


“Ta, gue duluan, ya!” pamit Bumi yang terlihat terburu-buru.


“Mau ke mana lo? Buru-buru banget?”


“Gue ada janji sama temen gue. Se you tomorrow,” katanya sambil melambaikan kedua tangannya, kemudian pergi.


“Kebiasaan suka buru-buru gitu. Oh iya, Langit udah beres latihan apa belum, yah? Gue ke lapangan basket aja, deh.”


Cinta segera menuju lapangan basket untuk menghampiri Langit. Belum juga sampai di lapangan, ia melihat Awan terlihat berlari-lari seperti sedang menghindari sesuatu. Ia juga terlihat seperti sedang dikejar oleh beberapa pria berjas hitam.


“Kenapa itu anak? Kenapa dia dikejar-kejar pria asing itu?” seru Cinta saat melihat Awan berlari dan berusaha untuk menghindar dari pria-pria ber jas hitam itu.


Melihat Awan yang tampak kesulitan, Cinta terlihat sedang berfikir dan menimbang-nimbang sesuatu. Namun, akhirnya ia mengambil nafas panjang kemudian memantapkan keputusannya.


“Baiklah, kali ini aja gue bantu dia.”


Tiba-tiba saja, Cinta menarik tangan Awan hingga membuat Awan begitu terkejut karena tangannya tiba-tiba saja di tarik seseorang yang tidak dikenalnya dan membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan.


“Lo ngapain?” tanya Awan dengan setengah berteriak.


Cinta langsung membekap mulut Awan dengan tangannya pertanda ia untuk diam dan tidak bersuara.


“Sttt, jangan berisik!” ucap Cinta pelan sambil menaruh telunjuknya di bibir Awan.


Awan terdiam. Cinta langsung menarik tangan Awan dan mengajaknya untuk melangkahkan kakinya dengan perlahan seraya setengah membungkuk. Awan terlihat begitu terkejut karena Cinta meraih tangannya kembali.


Dengan mata melotot tajam, Awan memandangi tangannya dan tangan Cinta yang masih berpegangan dan juga bersentuhan. Mereka tampak dekat sekali sampai membuatnya bisa mendengar hembusan nafas Cinta saat ini.


“Kayanya udah aman, ayo kita pergi sekarang,” ujar Cinta pelan dan segera menuju pintu utama untuk membukanya. “Loh, kenapa pintunya nggak bisa di buka?”


“Apa? Nggak bisa di buka?” seru Awan tampak terkejut dan langsung menghampiri Cinta yang berada di dekat pintu.

__ADS_1


Awan langsung membuka pintunya, tetapi pintunya memang sama sekali tidak bisa di buka.


“Bagaimana? Bisa di buka?” tanya Cinta kembali.


“Sial, kita terkunci. Padahal kita kan gak lebih dari 5 menit di sini, kenapa bisa terkunci gini?"


“Jadi, kita beneran terkunci? Hey, elo itu kan ketua Bem coba cari pertolongan.”


“Apa hubungannya ketua Bem dengan meminta pertolongan?” serunya ketus.


Awan langsung mencari handphonenya yang berada di kantong celananya. Sementara Cinta, sibuk mencari cara untuk membuka pintu dan berusaha untuk mendobrak pintunya.


Sepertinya, handphonenya memang tidak ada di dalam kantong celananya. Karena panik, Awan merogoh-rogoh kantong celananya dan kantong jaketnya kembali.


“Kenapa?” tanya Cinta yang melihat Awan terlihat panik.


“Handphone gue sepertinya tertinggal di ruangan Bem,” katanya yang membuat Cinta tampak kesal sembari mengacak-ngacak rambutnya karena saking kesalnya. “Coba pake handphone lo aja.”


“Handphone gue lowbet dan sekarang tamat sudah riwayat kita.”


Sementara Langit, ia yang sudah selesai latihan dan sedang berada di tempat parkir bersama dengan Pelangi, berusaha untuk menghubungi handphone Cinta.


“Gimana?” tanya Pelangi.


“Handphonenya mati,” jawab Langit pelan.


“Itu anak ke mana sih, Bumi bilang ko tadi Cinta langsung pulang. Mereka kan udah gak ada latihan lagi. Gue juga udah cari dia di kampus dan ngehubungin Sasha, dia sama sekali nggak ada.”


“Mungkin dia udah pulang duluan. Ya udah, kita pulang aja.”


“Yakin udah pulang? Gimana kalau belum pulang? Gimana kalau Cinta bakalan ngamuk kalau kita ninggalin dia?”


“Salah sendiri handphonenya mati. Ya udah, masalah dia ngamuk atau nggak urusan nanti, sekarang kita pulang aja.”

__ADS_1


Pelangi akhirnya mengangguk dan mereka berdua pun segera pergi untuk meninggalkan kampus. Sementara Cinta dan Awan yang masih terjebak di ruangan serba guna Fakultas Hukum karena pintunya terkunci, hanya bisa bergelap-gelappan sembari duduk di lantai dari balik pintu utama.


“Mau sampai kapan kita di sini? Nggak ada cara lain apa buat kita bisa keluar dari tempat ini?” tanya Cinta membuka suara.


“Lagian, elo ngapain juga ngajak gue ke sini? Elo kan tahu sendiri ini tempat emang jarang banget di pake.”


“Hey, gue kan tadi udah nolongin lo. Harusnya lo bilang terima kasih kek gitu sama gue, bukannya nyalahin gue gitu aja!”


“Gue nggak perlu bantuan lo,” ketusnya hingga membuat Cinta semaput dan langsung terdiam.


“Emangnya pria berjas hitam tadi siapa, sih? Kenapa mereka ngejar-ngejar lo? Elo punya hutang sama mereka?”


“Bukan urusan lo. Lagian, ngapain lo nanya-nanya terus? Ini kan burusan lo!" tanya Awan yang semakin membuat Cinta hanya bisa menahan emosinya.


"Kan, gue cuma nanya. Emang salah kalo gue nanya?"


"Menurut lo?"


"Capek gue ngomong sama lo."


"Ya udah, gak usah ngomong sama gue lagi. Simple, kan?"


Cinta mendelik tajam. Ia sudah benar-benar lelah berbicara dengan pria arogan seperti Awan ini. Lebih baik ia diam saja dan tak banyak berbicara dengan pria yang sangat membuatnya emosi itu.


Melihat ada sekilas cahaya dan sebuah gitar di dekatnya, Cinta langsung mengambil gitarnya dan mulai menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur dirinya sendiri.


Cinta mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu dari Calum Scott yang berjudul You Are The Reason.


Sambil memetik gitar dan mulai bernyanyi, Awan melirik ke arah Cinta yang sedang bernyanyi. Namun, ia kembali memalingkan wajahnya. Sesekali, Awan kembali melirik ke arah Cinta secara diam-diam yang sedang bernyanyi. Ia terlihat nyaman dan sangat menikmati suara gitar dan lagu yang sedang dinyanyikan oleh Cinta. Hingga membuat suasana cukup hangat dan terang walau mereka berada di dalam ruangan yang gelap.


“Kita harus keluar dari sini, nggak mungkin kan semalaman kita terkurung di tempat ini?”


“Caranya gimana? Kalau gue tahu caranya juga, gue dari tadi pasti bakalan ngelakuin cara itu supaya kita bisa keluar,” tutur Cinta yang menyimpan gitarnya dan mulai berdiri seraya melihat ke arah sekelilingnya.

__ADS_1


Awan juga nampaknya sedang memikirkan cara agar mereka berdua bisa meninggalkan tampat ini dengan cepat. Seketika Awan melihat ke arah jendela, ia tampak berfikir dan mulai tersenyum kecil. Cinta tampak bingung karena Awan tiba-tiba saja mendorong beberapa meja dan membawa kursi ke arah jendela yang cukup tinggi itu.


Berhasilkah Awan dan Cinta keluar dari ruangan gelap itu?


__ADS_2