
Dengan adanya kehadiran Awan, Pelangi dan Langit merasa terbantu karena Awan rajin sekali berkunjung dan merawat Cinta dengan penuh kasih sayang. Melihat perjuangan Awan, Pelangi dan Langit sangat gembira karena Cinta menemukan lelaki yang sangat tepat.
Sudah hampir 1 minggu Awan berada di Indonesia, sudah hampir 1 minggu juga Awan menjaga Cinta di rumah sakit dan berjuang untuk membuat Cinta kembali sadar. Ketika semua berkumpul di dalam ruangan, Bumi terlihat sedang melihat-lihat foto kebersamaan dirinya bersama dengan Cinta di dalam laptopnya.
Sementara Pelangi dan Awan tampak sedang menggenggam kedua tangan Cinta seraya menceritakan hal-hal indah yang pernah mereka alami saat bersamanya. Bahkan, Langit, Regan dan juga Kejora tampak sedang memainkan gitar mereka seraya menyanyikan lagu favorit mereka Rihana-California king bad.
Tiba-tiba saja tangan Cinta dan matanya bergerak hingga membuat Pelangi dan juga Awan yang merasa tangan Cinta bergerak, langsung berteriak untuk meluapkan kebahagiaan mereka.
“Tangannya bergerak . . . tangannya bergerak!!” teriak Pelangi girang.
“Cinta kamu udah sadar, kan?” tanya Awan tak sabaran.
Cinta membuka matanya dengan perlahan, begitu matanya terbuka semua orang yang berada di dalam ruangan menangis haru dan memanggil nama Cinta bersamaan.
“Awan?” panggilnya dengan suara lemah, “kenapa kamu ada di sini? Dan, kenapa kalian semua mengelilingi gue?”
“Cinta, i miss you so much!!” seru Pelangi yang langsung memeluk kakaknya begitu erat dengan beruraian air mata. “Gue kangen banget sama celotehan lo, gue kangen sama belahan jiwa gue. Ya Tuhan, gue bener-bener happy banget. Akhirnya, elo siuman juga!”
“Cinta elo baik-baik aja, kan? Elo nggak apa-apa, kan?” tanya Bumi tidak sabaran.
“Cinta, gue kangen sama lo!” seru Langit dengan mata berkaca-kaca.
“Gue juga kangen banget sama lo, Ta!” seru Kejora dengan air mata yang sudah mengalir deras di pelupuk matanya.
“Cinta, akhirnya elo sadar juga. Kami di sini sangat merindukan lo!” seru Regan dengan mata berkaca-kaca dan terlihat begitu merindukan temannya itu.
“Gue juga kangen kalian semua. I miss you so much, guys!”
Dengan Cinta yang mulai siuman, suasana haru biru begitu terasa di dalam ruangan tersebut. Suara tangisan kencang Pelangi dan Kejora membuat Cinta juga ikut menangis bersama mereka. Setelah dirinya sadar, perlahan ia menanyakan perihal kabar kedua orang tuanya.
Begitu mendengar Nindi dan Faris meninggal setelah diceritakan Langit dan juga Pelangi, Cinta tak dapat menyembunyikan rasa sedihnya. Ia menangis hebat bersama kedua saudara kembarnya dan terus menyalahkan dirinya sendiri atas insiden tersebut. Bahkan, Cinta sampai meminta maaf terus menerus kepada kedua saudara kembarnya.
“Maaffin gue, maaffin gue!” tangisnya yang membuat Pelangi dan Langit memalingkan wajah mereka dan mencoba untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh.
__ADS_1
Bumi, Regan, Kejora dan Awan yang melihat ketiga saudara kembar itu mengalami luka pahit beberapa bulan terakhir ini, tampak ikut terbawa suasana dan menangis bersama mereka. Karena tidak ingin mengganggu, mereka berempat membiarkan ketiga saudara kembar itu untuk berbicara dari hati ke hati.
“Bicara pelan-pelan, kami tunggu di luar,” ucap Kejora pelan kemudian pergi dengan diikuti Regan dari belakang juga Bumi yang sempat memegang kepala Pelangi sejenak dan membuat Awan juga membelai rambut Cinta dengan lembut.
“Maaffin gue, Lang. Maaffin gue, Pe. Kalau bukan karena gue yang ceroboh mengemudikan mobil, kecelakaan itu tidak akan terjadi. Dan, mungkin mamih juga papih masih ada bersama kita. Kalau kalian mau menyalahkan gue, salahkan gue. Gue terima kalian mau marah atau pun benci sama gue. Gue benci diri gue sendiri!” tangisnya yang mulai pecah.
“Gue memang membenci lo, Ta! Gue sangat membenci lo karena elo sudah membuat mamih dan papih meninggal. Tapi . . . tapi gue akan semakin membenci lo kalau elo ikut pergi meninggalkan kita berdua dan menyusul kepergian mamih juga papih!” teriak Langit yang sudah berlinangan air mata.
Cinta terdiam. Sambil menatap wajah Langit yang tengah menangis dan menundukkan kepalanya, Cinta kembali berlinangan air mata.
“Cepatlah sembuh, kembalilah ceria seperti dulu. Dengan begitu, gue dan Langit akan memaaffkan semua kesalahan lo. Asalkan elo selalu ada untuk kami berdua, elo akan kami maaffkan,” tutur Pelangi pelan membuka suara.
“Cepatlah sembuh, gue kangen lo marahin kita berdua lagi. Gue kangen juteknya lo, gue kangen ribut sama lo. Dan, elo harus jagain kita berdua lagi. Karena siapa lagi yang akan menjaga kita selain lo?” lanjut Pelangi yang membuat Cinta terharu mendengarnya.
“Gue sayang kalian berdua, love you adik-adikku!” katanya pelan hingga membuat Pelangi dan juga Langit menghampiri Cinta dan memeluknya dengan begitu erat.
“Love you to, Cinta!” seru mereka berdua bersamaan.
Melihat ketiga bersaudara itu berpelukan, Kejora yang melihat dari balik pintu menangis bahagia melihat kebersamaan mereka lagi. Bahkan, Bumi, Regan dan Awan juga ikut tersenyum bahagia dengan mata yang berkaca-kaca melihat kebahagiaan sederhana itu. Setidaknya, luka mereka terobati dengan kesembuhannya Cinta.
“Kita sudah tahu, Ta. Kita sudah tahu semuanya, ini kan alasan lo sering berdiskusi malam dengan mamih dan juga papih tanpa sepengetahuan kita?” tanya Langit yang membuat Cinta sepertinya tampak terkejut.
“Jadi, kalian sudah tahu?”
Pelangi menghampiri Cinta dan duduk di sampingnya. Dengan perlahan, Pelangi dan Langit menceritakan apa yang sudah mereka temui di kamar kedua orang tuanya. Mendengar penjelasan kedua saudaranya, Cinta memutuskan menceritakan kenapa kedua orang tuanya menyembunyikan rahasia tersebut dan kenapa Rasya yang merupakan kakak laki-laki mereka hilang begitu saja.
“Jadi, sebenarnya kita benar-benar mempunyai seorang kakak laki-laki?” tanya Pelangi tampak tak percaya.
Cinta mengangguk pelan, “Iya dan saat gue mengantar mamih dan papih ke bandara, gue baru saja mendapat kabar kalau kak Rasya pernah tinggal di salah satu panti asuhan di Jakarta. Dengan berita tersebut, kemungkinan besar kak Rasya masih hidup.”
“Lalu, apa langkah selanjutnya yang akan kita ambil?” tanya Pelangi kembali.
“Setelah kesehatan gue membaik, kita harus pergi ke panti asuhan itu dan mencari tahu soal keberadaan kak Rasya. Kalian bisa kan membantu gue?”
__ADS_1
Pelangi dan Langit saling beradu pandang kemudian mereka pun mengangguk pelan. Dengan mengetahui rahasia besar yang terjadi 18 tahun yang lalu, mereka bertiga pun sudah bertekad akan menemukan kakak laki-laki mereka kembali.
Mih, Pih, kalian tenang saja. Aku dan kedua adikku akan menemukan kak Rasya. Ini janjiku untuk kalian berdua. Batin Cinta.
Setelah Cinta siuman, semua kerabat dan teman-temannya datang untuk menjenguk dan melihat keadaannya. Bahkan beberapa dosen juga menjenguk Cinta dan ikut berbela sungkawa dengan apa yang telah terjadi kepadanya.
Sedikit demi sedikit Cinta bisa menggeraklan tangan dan kepalanya kembali, walau ia masih belum bisa menggerakkan kakinya sepenuhnya karena sudah hampir 1 bulan mengalami koma.
Awan juga sering mengunjungi Cinta di rumah sakit, bahkan ia menemaninya berjalan-jalan di taman rumah sakit walau ia harus merasa sedih karena gadis yang ia cintai harus rela duduk di atas kursi roda.
“Cinta,” panggil Awan pelan.
“Mmmh?”
“Jangan buat aku khawatir lagi yah, jangan membuat aku meneteskan air mataku lagi. Aku tidak tahu apa jadinya jika kamu pergi meninggalkanku. Rasanya hidupku tak akan ada artinya dan cahaya yang pernah aku raih selama ini mungkin akan sirna begitu saja.”
Cinta tersenyum dan menggenggam erat tangan Awan seraya menatapnya lembut.
“Aku janji tidak akan membuatmu menangis lagi. Karena satu tetes air mata yang keluar dari pelupuk matamu, itu artinya satu kata Cinta yang terlontar dari bibirku untukmu.”
“Cinta . . . ”
“Kamu tenang saja, sekarang keadaanku sudah mulai membaik. Walau jarak kita begitu jauh, asalkan kamu bisa merasakan semilir angin yang bertiup di mana pun kamu berada, itu artinya aku sedang memanggil namamu.”
“Dan, di saat hujan turun begitu deras itu artinya aku sedang merindukanmu,” tutur Awan pelan.
“Dan di saat matahari terlihat menampakkan cahayanya, itu artinya aku sedang tersenyum padamu.”
“Dan yang terakhir, ketika kamu melihat tangan kananmu sendiri itu artinya aku sedang menggandeng tanganmu dan memelukmu dengan erat.”
Cinta tersenyum lebar dan meneteskan air matanya kembali. Awan datang menghampiri, ia setengah berlutut untuk menghapus air mata Cinta dengan kedua tangannya.
“Pohon tidak akan pernah meninggalkan akarnya, matahari tidak akan pernah meninggalkan alam semestanya dan Awan tidak akan pernah meninggalkan Cinta. Seperti bintang dan bulan yang akan selalu bersama, seperti kupu-kupu yang selalu menghampiri bunga, aku akan selalu berada di sampingmu. Itu janjiku padamu!”
__ADS_1
Cinta tersenyum merekah. Ia memeluk Awan begitu erat. Melihat Cinta dan Awan yang sedang berpelukan, Pelangi yang tidak sengaja melihat pemandangan itu tersenyum kecil. Bumi yang melihat Pelangi sedang memandangi Cinta dengan Awan, langsung menghampirinya dan menggandeng tangannya.