
Karena hari ini ada jadwal latihan karate, Cinta dan Bumi sama-sama pergi berlatih dan segera mengganti pakaian mereka. Sambil menunggu rekan-rekan yang lain dan pelatihnya datang, mereka berdua terlihat melakukan pemanasan.
“Cikur, kalau kita suka temen sendiri salah gak, sih?” tanya Bumi tiba-tiba ketika ia dan Cinta sedang berada di ruang latihan karate.
Cinta yang sedang melakukan push-up dengan kakinya dipegangi oleh Bumi, begitu terkejut dengan perkataan temannya itu yang begitu tiba-tiba.
“Suka sama temen sendiri? Emangnya lo lagi suka sama siapa, Bom?” tanya Cinta yang begitu penasaran dan sempat menghentikan aktivitasnya sejenak.
Bumi menatap wajah sahabatnya itu begitu lekat. Cinta juga sepertinya terlihat begitu penasaran dengan pernyataan yang dikatakan oleh sahabatnya itu tadi.
“Dia begitu dekat dengan gue, gue sendiri jadi sulit untuk membedakan antara sayang sama dia sebagai teman dan sayang sama dia sebagai wanita yang special. Gue jadi bingung sendiri jadinya, Ta,” keluhnya.
Cinta sesaat terdiam dan sejenak berfikir. Apa maksud dari perkataan yang dikatakan Bumi tadi? Dan, siapa teman yang dimaksud olehnya tadi? Apakah teman yang dimaksud itu adalah . . .
“Cikur, ko elo malah diem, sih? Elo denger cerita gue nggak?”
“Hah? Denger ko denger, terus rencana lo selanjutnya apa, Bom?”
“Rencana untuk apa?” tanya Bumi bingung.
“Rencana ke depannyalah. Kalau lo emang suka sama temen lo itu, terus elo ke depannya mau melakukan apa?”
“Entahlah, gue masih bingung untuk menjawabnya,” katanya pelan.
Pembicaraan Cinta dan Bumi terhenti, karena pelatih mereka sudah datang dan itu artinya mereka harus mulai konsentrasi dan serius dalam menjalani latihan mereka hari ini. Karena sebentar lagi ada ujian, maka dari itu Cinta dan Bumi terlihat begitu sungguh-sungguh dalam berlatih.
Setelah selesai berlatih, Cinta menghampiri Langit di lapangan basket yang masih dalam keadaan latihan bersama anggota teamnya yang lain. Melihat ada Pelangi yang tengah sibuk memakan keripik sambil duduk di tepi lapangan menunggu Langit selesai latihan, ia memutuskan untuk menghampirinya.
“Udah selesai latihannya?” tanya Pelangi.
“Baru aja selesai,” jawab Cinta yang langsung duduk di samping Pelangi.
“Bombom mana? Biasanya dia selalu ngekor lo terus ke mana-mana,” tanya Pelangi sambil celingak–celinguk mencari sosok Bumi.
“Dia balik duluan, ada perlu katanya.”
“Kenapa? Sedih ya Bumi pulang duluan?”
__ADS_1
“Sedih? Kenapa gue harus sedih?”
“Pacarnya kan gak ada,” tawanya menggoda.
“Siapa yang pacaran?”
“Elo sama Bombomlah.”
Cinta tertawa dan merebut keripik milik Pelangi dengan secepat kilat.
“Eh, awas itu pedes!” teriak Pelangi hingga membuat Cinta yang hampir saja memakan keripiknya itu langsung terhenti dan menatap wajah adiknya. “Itu pedes banget, elo kan gak suka pedes.”
“Thank’s, udah ngingetin.”
“Makan ini aja,” tutur Pelangi sambil memberikan sebatang coklat silverqueen kepada kakaknya.
Cinta pun langsung menerimanya dan segera memakannya.
“Elo sebenernya pacaran apa nggak sih sama Bombom?”
“Nggaklah, gue sama Bombom itu cuma sahabatan dan gak lebih,” jawab Cinta sambil memakan coklat pemberian dari Pelangi.
“Cocok bukan berarti kita harus pacaran, kan?” katanya sambil menatap wajah adiknya.
“Elo emangnya gak suka sama Bumi? Sahabatan lama dan sering berduaan, harusnya tumbuh benih-benih cinta, dong.”
Sesaat Cinta terdiam dan meresapi kata-kata adiknya tadi. Sebenarnya, yang dikatakan Pelangi ada benarnya juga, Cinta memang menyukai Bumi. Tapi, entah dengan Buminya sendiri seperti apa.
“Entahlah, gue bingung. Eh, Sasha ke mana? Pulang?” tanya Cinta yang tersadar temannya tidak ada.
“Tadi di jemput Guntur, paling mereka kencan.” Cinta manggut-manggut dan kembali memakan coklat miliknya.
“Hey, sister!” seru Langit yang langsung duduk di tengah-tengah Cinta dan juga Pelangi seraya merebut keripik dan coklat yang sedang di makan oleh kedua saudara kembarnya.
“Yee, dasar curut ganggu orang makan aja, deh!” ejek Pelangi dan Cinta sambil mengacak-ngacak rambutnya hingga membuat Langit hanya bisa terkekeh.
“Cinta, awas ulat!” seru Pelangi saat melihat ada ulat di dekat kaki kakaknya.
__ADS_1
“Mana? Singkirkan ulatnya!” teriak Cinta yang langsung berdiri dan menjadi geli sendiri begitu melihat hewan yang paling ia benci.
Langit yang baru saja melihat ada ulat, langsung menginjaknya dan menyingkirkannya karena tahu kakaknya sangat membenci binatang yang sangat menggelikan itu.
Melihat Cinta berteriak, beberapa perempuan yang berada di tepi lapangan sempat menertawakannya dan berbisik-bisik tetangga.
“Bisakah kalian tidak untuk tertawa? Apa ada yang aneh kalau seorang perempuan takut dengan ulat?” teriak Langit sinis.
Cinta dan Pelangi hanya bisa tersenyum tipis dan membuat beberapa perempuan itu kembali terdiam.
“Emangnya cewe tomboy nggak boleh takut sama ulat?” gerutu Langit kesal.
“Maaf, Mas. Bisa nggak tomboynya itu nggak usah disebutkan?” tutur Cinta hingga membuat Pelangi langsung terkekeh begitu mendengarnya.
“Oh, sorry, Mba. Sengaja!” katanya kembali mengejek dan mendapat pukulan keras dari saudaranya itu. “Cikur, ambilin handuk gue, dong.”
Cinta mengambilnya dan langsung memberikannya kepada Langit. Dengan penuh kasih sayang, ia membantu Langit untuk mengelap keringatnya. Sedangkan Pelangi, ia membantu Langit merapihkan pakaiannya dan memberikan botol minuman kepadanya.
“Gaya lo, enak banget dilayani dua cewe, Lang!” seru beberapa teman satu team basket Langit menggoda.
Yang di goda hanya terkekeh dan langsung memasang ekspresi angkuhnya kepada teman-temannya itu.
“Pamit, yah. Cinta, Pelangi. Kita duluan,” pamit teman-temannya Langit.
Pelangi dan Cinta mengangguk pelan seraya tersenyum simpul dan melambaikan tangannya ke arah beberapa teman Langit yang berpamitan pulang. Karena hari sudah sore, ketiga saudara kembar itu pun pulang bersama.
Karena Langit sudah terlihat kelelahan, kali ini giliran Cinta yang menyetir. Dengan kompaknya, ketiga saudara kembar itu sama-sama memakai kacamata hitam dan mulai memperbesar volume musiknya.
Lagu Magic-Rude mulai terdengar mengalun. Sambil mengendarai mobilnya, Cinta beserta kedua saudaranya mulai bernyanyi dengan suara yang begitu keras.
Saat lampu merah menyala, Pelangi tidak sengaja melihat ada seorang pengemis yang sedang meminta-minta. Karena merasa kasihan, ia memberikan uang kepada pengemis itu dan juga beberapa makanan yang ia punya.
“Kasihan banget pengemis itu,” ucap Pelangi pelan sambil melihat beberapa pengemis yang terlihat memprihatinkan menurutnya.
“Udah dikasih uangnya, kan?” tanya Langit.
“Udah, tadi juga gue udah kasih beberapa makanan.”
__ADS_1
Cinta dan Langit mengangguk pelan dan langsung memberikan ke dua jempolnya untuk adik bungsu mereka.
“Why you gotta be so rude? Don’t you know i’m human too! Why you gotta be so rude, i’m gonna marry her anyway . . . rude . . . ”