
Sementara itu, Cinta yang baru saja masuk ke dalam kelasnya dan menyimpan tasnya di atas meja, begitu terkejut karena tiba-tiba saja ada seseorang yang merangkulnya hingga membuatnya langsung meninju orang tersebut dengan begitu keras.
“Buseett!” teriaknya.
“Eh, Bumi? Sorry-sorry, gue gak sengaja!” katanya yang langsung menghampiri teman satu kelasnya yang bernama Bumi itu karena sudah terkena tinjuannya.
“Sakit tahu! Main tinju orang seenaknya aja!”
“Ya, habisnya salah sendiri. Suruh siapa maen rangkul orang dan ngagetin gue begitu aja!”
“Yee, malah main nyalahin orang gitu aja lagi. Yang salah kan jelas elo kali,” todongnya yang langsung mendorong kepala Cinta dengan seenaknya.
“Yah, gue memang selalu salah di mata lo.”
“Anak alay lo, lebay banget sih ngomongnya.”
Cinta hanya nyengir, kemudian ia merangkul sobat karibnya itu dan memasang ekspresi wajahnya yang terlihat serius.
“Hari ini lo latihan nggak?”
“Latihan, dong. Gue kan lagi semangat-semangatnya latihan. Apa lagi bentar lagi ujian, siap-siap kalah dari gue, lo!”
“Eitss, kali ini elo yang bakalan kalah dari gue.”
“Oke, kita lihat aja nanti.”
Saat mata kuliah berlangsung, Bumi yang duduk di sebelah Cinta tampak sedang memperhatikan dosen saat sedang menjelaskan. Namun, Cinta sendiri sejak tadi hanya memandangi wajah Bumi yang terlihat begitu serius.
“Pandangin aja terus!” seru Sasha setengah berbisik begitu melihat teman sebelahnya itu memandangi Bumi sejak awal masuk kelas.
“Apaan sih lo? Komen terus dari tadi!” seru Cinta galak.
“Ya kali, gue baru aja komen, Cikur!”
“Masa?” tanya Cinta sinis.
“Jangan dilihatin terus, nanti cinta mati lagi lo sama si Bombom!”
“Bawel lo kaya emak-emak!”
“Lo tuh yang kaya emak-emak lagi arisan!” timpal Sasha tak mau kalah.
“Berisik banget kalian berdua!” seru Bumi setengah berbisik begitu mendengar kedua temannya berdebat macam Tom and Jeri.
“Syirik aja lo!” sahut Cinta dan Sasha berbarengan sambil melempari Bumi dengan gulungan kertas.
Yang dilempari hanya tersenyum kecut dan melempari balik kedua temannya itu dengan gulungan kertas.
__ADS_1
Bumi dan Sasha adalah teman terdekatnya Cinta di kelas. Di mana mereka berkumpul, di situlah pasti selalu ada pertengkaran kecil yang membumbui pertemanan mereka.
Sejak awal kuliah, Sasha, Bumi dan Cinta ini memang sudah klop. Klop dalam urusan perdebatan dan selalu memperdebatkan masalah sepele.
Sedangkan Bumi, ia adalah sahabat Cinta sejak mereka masih SMA. Bumi juga merupakan sahabat yang selalu bisa ia andalkan. Cinta memang sangat bergantung sekali kepadanya, karena itulah ia memutuskan untuk menjadikan Bumi sebagai guardian angel nya.
Kedekatan Bumi dan juga Cinta, terkadang membuat Sasha iri. Dia selalu saja mengatakan, “tidak ada yang namanya persahabatan antara perempuan dan juga laki-laki. Karena salah satunya, pasti akan memendam rasa suka. Dan, pada akhirnya akan saling melukai."
Maka dari itu, Sasha selalu mengatakan, dia harus menjadi bagian dalam persahabatan Cinta dan juga Bumi. Agar intrik cinta segitiganya terlihat lebih seru seperti di dalam sebuah film. Dan, perkataan Sasha itulah yang selalu membuat Cinta dan Bumi terkekeh setiap kali mendengarnya.
Cinta membuka sebuah dompet berwarna merah hadiah dari Bumi saat ulang tahunnya yang ke 19. Dibalik foto berduanya bersama dengan Bumi, tersimpan selembar foto Bumi saat ia masih SMA dulu.
Cinta menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca, ia juga sempat membuka kembali sebuah kertas yang sudah tampak lusuh dan kusut itu dari isi dompetnya.
Sambil membuka kembali kertas lusuh itu, Cinta membaca kembali isi surat tersebut sambil tersenyum kecil hingga membuat Bumi yang melihatnya asyik membaca sesuatu, langsung mendekat ke arahnya.
“Hayo, lagi baca apaan lo?”
“Ikh, rese lo. Sana jauh-jauh dari gue!” seru Cinta setengah berbisik.
“Surat cinta, yah? Ngaku, surat cinta dari siapa?” selidiknya.
“Berisik, udah sana perhatikan kembali dosen sedang menjelaskan.”
“Iya, bawel!” seru Bumi sambil menjulurkan lidahnya kepada Cinta.
“Sttt, berisik!” seru Sasha setengah berbisik dengan suara bulat yang menyerupai suara Patrick dalam tokoh kartun spongebob.
“Masukin harta karun lo, nanti ketahuan lagi sama Bumi,” bisik Sasha.
Cinta mengangguk dan langsung cepat-cepat melipat kertas tersebut sambil memasukkannya ke dalam dompetnya kembali.
“Aman?” tanya Sasha.
“Salman khan,” jawab Cinta asal.
“Oke, Kajol !” jawabnya menyahut.
“Sipp, Tina,” sambung Cinta kembali.
“Rahulnya gak ada, Pea!” seru Sasha sambil menoyor kepala Cinta.
“Gue Rahulnya!” tutur Bumi yang ikut-ikutan dalam drama kedua temannya, sambil merapihkan rambutnya mengikuti gaya Sakhrul Khan dalam film Kuch-kuch Hota Hai.
Melihat Bumi membuat rambutnya agar terlihat seperti Sakhrul Khan, Cinta dan Sasha langsung menutup mulut mereka dengan ke ?dua tangannya untuk menahan tawa. Beberapa temannya yang melihat pun sempat menahan tawa mereka hingga membuat dosen mereka yang mendengar kelasnya mulai berisik, langsung menegurnya.
Pelangi terlihat baru saja keluar dari kelasnya. Ia yang baru saja berpamitan kepada teman-temannya, langsung bergegas menuju Fakultas Tehnik.
__ADS_1
Karena fakultasnya cukup jauh dari gedung perkuliahannya, Pelangi mempercepat langkahnya agar ia bisa dengan cepat sampai di Fakultas Tehnik. Namun, siapa sangka Pelangi malah bertemu dengan Awan saat di perjalanan.
“OMG, prince Lee Min ho gue!” seru Pelangi yang tampak antusias saat melihat Awan; lelaki pujaannya itu.
Melihat Awan yang sedang berjalan sambil mendengarkan lagu dengan eardphone yang menempel di kedua telinganya, Pelangi memutuskan untuk memotretnya secara diam-diam.
“Pelangi!” panggil seseorang dengan lembut yang tiba-tiba saja memegang pundaknya dari arah belakang hingga membuatnya tampak terkejut.
“Awan?” teriaknya dengan gayanya yang alay dan lebay bagaikan penonton bayaran di acara-acara tv. “Bukannya tadi elo ada di??”
Pelangi tampak bingung karena tiba-tiba saja Awan yang ia lihat ada di depannya, mendadak berada di belakangnya.
“Kamu ngapain sendirian di sini?” tanyanya sambil menatap wajah Pelangi begitu dekat hingga membuat Pelangi begitu gugup.
“Akh, tidak aku hanya sedang . . . . ”
“Mau makan siang bersamaku?” katanya tiba-tiba.
“Lunch with you?” teriak Pelangi kembali heboh.
Awan tersenyum lebar hingga membuat Pelangi langsung meleleh begitu melihat senyuman lelaki pujaannya itu. Tiba-tiba saja Awan menggenggam kedua tangan Pelangi dan membuatnya terlihat sangat syock.
“Kamu cantik hari ini,” pujinya hingga membuat Pelangi tiba-tiba saja berfantasi ria.
Tiba-tiba saja, di sekelilingnya bertebaran bunga mawar merah dan bidadari-bidadari yang turun dari kayangan sambil memainkan biola.
Awan tersenyum tipis. Ia memeluk Pelangi begitu erat juga mencium keningnya dengan lembut. Awan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Pelangi dengan begitu lekat. Tiba-tiba saja, Awan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Pelangi yang terlihat begitu gugup.
Pelangi mulai memejamkan matanya dan mulai memonyongkan bibirnya secara perlahan.
“Pelangi!” teriak seseorang dari kejauhan.
Pelangi yang namanya dipanggil langsung membuka matanya sejenak. “Lah? Tadi gue berkhayal lagi, yah? Omo, berkhayal di siang bolong. Stupid girl ! Lagian, siapa sih yang ganggu gue berkhayal indah seperti ini? Awan mana lagi? Jadi hilang kan dia!” gerutunya kesal.
“Pelangi!” teriaknya lagi.
Pelangi yang kembali mendengar ada yang memanggil-memanggil namanya, langsung membalikkan badan. Melihat ada seorang perempuan yang tengah berlari-lari kecil menghampirinya, ia memutuskan untuk menunggunya.
“Ada apa, Met?” tanya Pelangi setelah melihat seorang perempuan bernama Meta berdiri di hadapannya seraya memasang ekspresi kesal.
Perempuan bernama Meta itu memberikan sebuah surat dengan amplop berwarna pink kepadanya.
“Surat apa ini?” tanya Pelangi bingung.
“Tolong berikan surat ini sama saudara kembar lo, yah? Gue berharap banget Langit membalas surat gue,” katanya pelan.
“Oke, nanti gue berikan surat ini sama Langit.”
__ADS_1
“Thank’s banget yah, Ngi!” serunya seraya memeluk Pelangi, kemudian pergi.
“Dasar cewe, kurang kerjaan banget ngasih surat cinta buat cowo. Kenapa gak dia aja sendiri sih yang memberikan suratnya sama Langit?” gerutunya kesal sambil melangkahkan kakinya menuju kelas Langit.