
Sementara Pelangi dan Bumi makan bersama, Langit terlihat tengah mengendarai mobilnya untuk segera bergegas menuju rumah Kejora. Sebelum menjemput Kejora, Langit terlihat sedang memegang handphonenya dan menatap sebuah foto di mana foto tersebut adalah foto saat dirinya sedang menonton konser Indie bersama Sasha.
FlashBack
"*Gilaaa, keren banget yah, Lang!!" seru Sasha setelah mereka selesai menonton konser.
"Sumpah, keren banget. By the way, Cinta sama Bumi mana, yah?"
"Kayanya mereka pulang duluan. Udah, biarin ajalah mereka berdua, jangan diganggu."
"Oke, sekarang kita mau ke mana?"
"Gue pengen beli aro manis. Beli, yuk?"
"Elo aja, gue gak mau. Gue gak suka aro manis!"
"Beliin!!" rengeknya manja.
Karena malas mendengar rengekan Sasha, dengan terpaksa Langit membelikan satu buah aro manis berukuran besar. Sasha yang menerimanya terlihat sangat senang dan segera memakannya.
"Tali sepatu lo lepas, Sha!" ujar Langit saat melihat tali sepatu milik temannya itu terlepas*.
"Mana? Oh iya, lepas. Nih, pegang dulu!" perintah Sasha dan segera memberikan aro manis miliknya kepada Langit.
*Sasha segera merunduk dan kembali menalikan tali sepatunya yang terlepas. Melihat kerumunan orang-orang yang berlalu lalang, Langit langsung berdiri di belakang Sasha yang sedang menalikan tali sepatu bermaksud untuk menjaganya agar tidak terinjak atau terdorong oleh orang lain.
"Bangunin*!!"
"*Manja, deh. Udah punya pacar aja masih manja apalagi jomblo," sindirnya galak.
"Bodo, cowo gue lagi super sibuk. Bangunin!!" rengek Sasha kembali.
Langit mengulurkan tangannya dan membantu Sasha untuk beranjak. Sasha tersenyum dan membalas uluran tangan Langit. Begitu ia berdiri, Sasha tiba-tiba terdorong akibat desakan orang-orang yang lalu lalang hingga membuatnya terjatuh di atas pelukan Langit*.
"*Yah, aro manis gue!" teriak Sasha.
Sasha dan Langit saling beradu pandang begitu mata mereka saling bertemu. Namun, beberapa detik kemudian Langit menoyor kening Sasha dengan menggunakan keningnya*.
"*Aww, Langit sakit!!" jeritnya.
"Cepetan bangun, elo berat tahu kaya panda!"
"Elo juga berat kaya beruang*!!"
Langit kemudian tertawa hingga membuat Sasha ikut tertawa bersamanya. Sasha yang manja dan selalu berbuat sesuka hatinya itu telah menghiasi kehidupan Langit hampir 3 tahun belakangan ini.
Karena Cinta, Langit bisa mengenal Sasha dan berteman akrab dengannya. Karena Cinta juga, Langit sering kali jalan bersama Sasha walau Langit sendiri tahu kalau Sasha memiliki Guntur.
Apa mungkin gue jatuh cinta? Batin Langit.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Kejora, Langit bertemu dengan Kejora yang sudah menunggunya di depan rumahnya. Begitu melihat Kejora, Langit langsung ke luar dari mobil dan segera menghampiri Kejora.
“Sorry, jauh ya rumah gue?”
“Nggak, ko. Ya udah, kita pergi sekarang aja gimana?”
Kejora mengangguk. Setelah berpamitan kepada ke dua orang tuanya, mereka pun segera menuju tempat konser dan pergi menonton bersama. Sesampainya di lokasi, mereka terlihat sangat terkejut karena penontonnya begitu banyak dan sangat antusias sekali.
“Wah, penontonnya banyak banget!” seru Kejora sambil membenarkan kacamatanya yang melorot.
“Mereka sangat exited sekali. Kita masuk, yuk.”
Kejora dan Langit berjalan berdampingan. Mereka mencari tempat menonton yang paling dekat dengan panggung. Mereka juga terlihat sangat menikmati pertunjukan hari ini. Sambil bernyanyi bersama, Langit dan Kerjora terlihat sangat exited sekali dan berteriak-teriak histeris seperti penonton lainnya.
Melihat ada beberapa penonton yang saling mendorong, Kejora pun ikut terdorong oleh beberapa penonton itu hingga membuat jaraknya dengan Langit begitu dekat sekali. Kejora dan Langit sempat saling beradu pandang, tetapi mereka langsung cepat-cepat mengalihkan pandangan mereka dan melanjutkan menonton konsernya kembali.
Saat tengah asyik menonton konser, Regan dan kekasihnya datang menghampiri Langit dan juga Kejora.
“Nonton juga lo?” teriak Regan karena situasi di tempat konser saat ini memang sangat berisik sekali. Jadi, harus setengah berteriak kalau ingin berbincang.
“Iya, hay Dhea,” sapa Langit begitu melihat perempuan tinggi dan cantik.
“Hay, Lang. Sama siapa ke sini?” tanya Dhea; kekasih Regan.
“Sama temen. Ra, kenalin ini temen-temen gue.”
“Oh, Kejora,” katanya memperkenalkan diri.
“Regan,” katanya sambil tersenyum tipis. “Lang, gue kira lo bakalan ajak Sasha ke sini.”
“Gak usah bahas dia bisa kali,” katanya jutek.
“Jadi, Kejora ini siapa? Temen atau pdkt-an lo?”
“Dua-duanya bisa,” jawabnya sambil tertawa hingga membuat Regan langsung ikut tertawa begitu mendengarnya. "Eh, ****! Kejora temen sekelas kita masa lo gak tahu sih? Parah lo!"
"Masa? Pantas wajahnya nggak asing!"
"Definisi cowo **** ya elo!"
"Definisi cowo jomblo ya elo!"
"Sialan lo!"
Setelah acaranya selesai, Regan dan Dhea berpamitan pulang karena mereka katanya masih ada acara selanjutnya dan mereka berempat pun berpisah di tempat konser. Karena situasi malam itu begitu ramai dan padat, Kejora dan Langit sempat terpisah karena Kejora berjalan berdesak-desakan di belakang Langit.
Melihat Kejora tampak kesulitan berjalan, Langit berinisiatif untuk menghampirinya dan menggandeng tangannya hingga membuat Kejora kembali terkejut sambil menatap tangan Langit yang sedang menggandengnya.
“Lapar nggak?” tanya Langit setelah mereka berdua cukup jauh dari kerumunan orang-orang.
__ADS_1
“Banget!”
“Ya udah, kita makan dulu aja.”
Kejora mengangguk pelan. Mereka pun makan bersama di warung sate pinggiran jalan. Karena kelaparan, Kejora terlihat lahap sekali dan membuat Langit menatapnya dengan mata melotot tajam.
“Kenapa, Lang?” tanyanya saat melihat ekspresi wajah Langit yang tampak terkejut itu.
“Lapar banget, yah?”
“Hehehe, maaf gue kalau lapar emang begini.”
Langit tertawa lebar dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Duh!”
“Kenapa, Ra?” tanya Langit bingung yang melihat Kejora menutup matanya sebelah.
“Kayanya ada debu yang masuk ke mata gue deh, Lang.”
“Coba lepas dulu kacamata lo.”
Kejora mengangguk dan segera melepas kacamatanya. Setelah melepas kacamatanya, Langit meniup mata Kejora sambil memegang kepalanya dengan lembut. Setelah selesai, untuk beberapa saat Kejora dan Langit saling beradu pandang kembali.
“Eh, ayo lanjukan makannya,” ucap Langit terlihat salah tingkah.
“Oh, iya.”
Ya Tuhan, kenapa jantung gue berdetak cepat begini? Batin Kejora yang terlihat gugup.
Kejora tampak melepaskan kacamatanya dan merapihkan rambutnya yang ikal dengan menggunakan sisir. Melihat Kejora yang tak memakai kacamata, Langit sampai melongo dan menatap wajahnya terus-menerus. Sesaat, ia terlihat sangat terpukau dan begitu terpesona melihat kecantikan Kejora yang tertutupi oleh kacamata tebalnya itu.
“Subhanallah,” ucap Langit pelan sambil menundukkan kepalanya.
“Lang, pulang sekarang, yuk?”
Langit mengangguk dan ia segera membayar makanannya. Setelah selesai membayar, Langit dan Kejora segera menuju mobil. Selama di dalam mobil, mereka berdua terlihat saling melirik satu sama lain. Dan, susana pun menjadi hening seketika.
“Udah sampai, Ra.”
“Oh, iya. Makasih untuk hari ini yah, Lang?”
“Iya, sama-sama.”
“Sampai jumpa besok di kampus,” pamitnya sambil melambaikan tangannya.
“Iya, sampai jumpa besok.”
Setelah mobil Langit berlalu, Kejora tampak memegangi dadanya sambil melompat-lompat kecil bahagia.
__ADS_1
"Jantung gue rasanya seperti mau copot, gue benar-benar hampir meledak. Ya Tuhan, gue happy banget!” teriaknya bahagia.