Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Risalah Hati


__ADS_3

“Ra!” panggil Langit saat ia baru saja keluar dari kelasnya begitu melihat Kejora bersama temannya.


“Langit, ada apa?” tanya Kejora terlihat gugup.


“Hm, ada waktu nggak?” tanya Langit kali ini yang terlihat ragu.


"Ra, gue duluan, yah?" pamit Keke begitu melihat Langit menghampiri sahabatnya.


“Oke. Ada apa, Lang?” Kejora kembali terlihat bingung.


"Elo ada waktu nggak?"


"Waktu untuk?"


“Gue ada tiket konser band indie nih dua. Dikasih temen gue sih, elo mau temenin gue nggak?” ajak Langit yang tampak ragu sembari menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal dan memperlihatkan dua buah tiket konser indie kepada Kejora.


“Oh, konsernya sore ini, yah?”


Langit mengangguk pelan hingga membuat Keke tersenyum melihat kedekatan mereka berdua.


“Oh, boleh, sih. Tapi, kenapa tiba-tiba elo ajak gue?”


“Hm, sebenernya gue gak punya temen buat nonton. Dan, setahu gue, elo juga suka banget sama band ini, kan? Makanya gue ngajakin lo,” katanya kembali menjawab.


Degghh . . . mendengar pernyataan Langit, Kejora merasa tersentuh dan tampak bahagia sekali. Karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini, Kejora pun menerima tawaran Langit dan langsung mengangguk pelan pertanda setuju.


“Oh, oke kalau begitu.”


“Ya udah, kalau gitu mau gue jemput nanti sore?”


“Hah? Emangnya lo tahu rumah gue?” tanya Kejora tampak terkejut.


“Makanya itu gue minta alamat rumah lo. Nanti lo whatssapp gue aja alamat rumahnya.”


“Oh, oke.”


“Sampai jumpa sore nanti,” pamitnya kemudian pergi.


Sepeninggalnya Langit, Keke langsung menghampiri Kejora kembali yang tampak berdiri kaku dan masih terlihat syock.


“Gila, elo makin akrab aja yah sama Langit. Keren!”


“Ke, gue gak salah denger, kan? Gue gak mimpi, kan? Gue diajak nonton konser bareng sama Langit!”


“Elo gak mimpi, Ra. Selamat yah, akhirnya lo bisa deket juga sama lelaki pujaan lo!”


“Keke!! Gue happy banget!” teriak Kejora melompat-lompat bahagia sambil menggenggam kedua tangan sahabatnya itu.

__ADS_1


Sementara itu, karena hari ini hanya ada satu mata kuliah saja, Cinta yang baru saja keluar dari kelasnya tidak sengaja berpapasan dengan Awan yang baru keluar dari kelasnya juga.


Cinta dan Awan saling beradu pandang dengan sangat lama. Karena merasa ada yang aneh dengan tatapan mata Awan, Cinta memutuskan untuk mendekatinya dan menatapnya begitu dekat.


"Kenapa? Ada masalah sama gue? Kenapa lo menatap gue dengan tatapan mata seperti itu?” tanya Cinta terlihat galak.


Awan kembali menatap Cinta lebih dalam lagi. Merasa di tatap seperti itu, Cinta merasa sangat risih dan juga takut.


“Boleh gak gue mengenal lo lebih jauh?” tanya Awan tiba-tiba.


“Maksud lo?” Cinta terlihat bingung dan juga gugup.


“Gue tertarik aja untuk berteman dengan lo.”


“Atas dasar apa lo tertarik berteman dengan gue?”


“Semenjak pembicaraan kita kemarin malam di taman, gue ingin mengenal lo lebih jauh."


"Elo sehat, kan?" tanya Cinta dengan ekpsresi wajah yang terlihat ganas dan juga galak.


"Gini deh, gimana kalau kita balapan. Elo suka balapan motor, kan?”


Ini orang kenapa, sih? Apa dia ada gangguan otak yah gara-gara hampir tabrakan sama gue kemarin? Atau otaknya eror gara-gara semalam? Batin Cinta.


“Gimana? Kalau lo tertarik, gue tunggu jam 8 malam nanti di arena balap. On time yah, karena gue gak suka sama orang yang suka telat,” katanya kemudian pergi.


Sementara itu, Pelangi yang tampak sedang sendirian di taman kampus, terlihat sangat kesal sekali karena nilai ujian bahasa Inggrinya hanya mendapat nilai 85. Dan, menurutnya, nilainya itu masih jauh dari kata sempurna.


Melihat Pelangi yang tengah sendiri, Bumi menghampirinya dan duduk di sampingnya seraya memberikan sebuah lolipop kepadanya.


“Tahu aja deh kalau gue suka lolipop.”


“Gue kan udah kenal lo sejak Sma, masa iya gue gak tahu kesukaan lo itu apa?”


Pelangi tertawa kecil hingga membuat Bumi menyubit kedua pipi Pelangi dengan gemas.


“Hari ini jalan yuk, Pe,” ajak Bumi begitu tiba-tiba.


“Jalan?”


“Elo kan biasanya suka hunting sepatu, tas, novel sama dvd Korea, kan? Kalau gue hari ini temenin lo hunting semua itu gimana?”


“Hm, boleh, sih. Tapi, nanti temenin gue beli makanan baru buat si Milly dulu, yah?”


“Si kucing putih punya elo itu?”


“Iya, si Milly butuh makanan baru.”

__ADS_1


“Oke, elo beres kuliah jam berapa?”


“Jam 2 siang.”


“Ya udah, gue tunggu di depan kelas lo aja, yah?”


Pelangi menganggukkan kepalanya pertanda setuju. Saat melihat kebersamaan saudara kembarnya dengan sahabatnya, Cinta merasakan ada sesuatu yang berbeda dari dalam diri Bumi saat ia bersama dengan Pelangi.


Sorot matanya terlihat lebih bercahaya dan auaranya terlihat lebih merasakan kenyamanan jika bersama dengannya.


Sesaat, Cinta teringat kata-kata Bumi saat tempo lalu. Ia mengatakan, kalau dirinya menyukai seseorang. Dia adalah teman yang begitu dekat dengannya dan Cinta sendiri sangat mengenal dekat orang yang sangat disukai oleh sahabatnya itu.


“Apa itu mungkin? Tunggu, Bumi!” teriak Cinta saat melihat Bumi hendak pergi.


“Cinta? Elo belum pulang?” tanya Bumi saat melihat Cinta memanggil namanya.


“Tadi gue lihat elo sama Pelangi, kelihatannya elo makin akrab aja sama dia.”


“Hari ini gue mau jalan bareng sama Pelangi, tapi lo jangan ikut, yah? Gue ada perlu soalnya sama adik lo.”


“Perlu apa?”


“Gue mau memastikan sesuatu," katanya terlihat riang.


“Memastikan? Tunggu, apa cewe yang elo maksud itu adalah Pelangi?” tanya Cinta tiba-tiba hingga membuat Bumi begitu terkejut mendengarnya.


“Wah, elo emang yang paling mengerti gue tanpa gue kasih tahu, yah? Elo emang sahabat gue yang paling the best, deh.”


“Jadi, benar cewe itu adalah Pelangi?” tanya Cinta kembali untuk memastikan.


Bumi mengangguk dan langsung mengajak Cinta untuk duduk di bangku taman kampus.


“Sebenarnya gue udah mulai suka sama Pelangi sejak Sma dulu, cuma gue nggak berani aja untuk dekat dengannya. Banyak banget cowo yang suka sama dia, Ta. Mereka semua lebih tampan dari gue. Jadinya, gue minder, deh.


“Terlebih saat gue tahu Pelangi yang sangat menyukai Awan dan sangat mendambakannya. Gue sampai kesel sendiri dan berusaha menahan rasa cemburu gue selama ini. Gue ingin memastikannya sekali lagi, Ta. Sebenarnya gue itu suka apa nggak sama adik lo itu? Makanya, gue sekarang memberanikan diri untuk melakukan pendekatan langsung dengannya.”


Cinta sesaat terdiam. Ia tidak menyangka sama sekali kalau selama ini Bumi sangat menyukai adik kandungnya itu. Cinta sendiri sekarang bingung. Ia bingung harus bagaimana dan berbuat apa untuk menyikapi hal ini? Apa ia harus mendukung hubungan mereka berdua? Ataukah melarangnya?


“Elo setuju kan kalau gue deket sama Pelangi? Elo dukung gue, kan?” tanya Bumi yang membuat Cinta terdiam sejenak.


“Siapa pun orangnya gue setuju, ko. Pelangi anak yang baik. Tapi, elo harus sabar aja menghadapi sifat kekanak-kanakkannya dia. Dan, elo juga harus bisa membuat Pelangi move on dari Awan.”


Bumi terlihat pasrah. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya bisa mendukung sahabatnya itu walau ia sendiri tahu hatinya sakit dan juga kecewa.


“Iya, kalau masalah itu gue pasti akan lakukan. Asal gue mendapatkan dukungan lo, itu udah cukup buat gue.”


Apa salah gue menyukai sahabat gue yang ternyata menyukai adik kandung gue sendiri? Batin Cinta.

__ADS_1


__ADS_2