Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Rasa Bangga


__ADS_3

Cinta tampak masih terlihat perang dingin dengan Bumi. Bahkan, saat di kelas saja mereka tidak saling bertegur sapa dan saling berjauh-jauhan.


Setelah perkuliahan selesai, Bumi pergi begitu saja saat melewati Cinta. Cinta yang melihat hal itu tampak sedih, tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa menatap kepergian Bumi dengan mata lirihnya.


"Sabar yah, Ta," ujar Sasha sambil memegang bahu sahabatnya itu.


"Gue nggak ngerti, Sha. Gue salah apa sama Bumi?"


"Biarkan Bumi sendiri dulu. Gue udah berusaha untuk berbicara dengannya. Tapi dia masih marah, rasa egoisnya masih terlalu tinggi. Biarkan semuanya tenang dulu."


"Iya, gue ngerti."


"Ya udah, makan, yuk? Gue laper, nih."


Cinta mengangguk. Mereka berdua pun segera menuju kantin. Sementara Pelangi, setelah perkuliahan selesai, ia terlihat lebih bersemangat dari pada sebelumnya. Ia pun memutuskan untuk mengunjungi Langit ke kelasnya. Namun, saat berada di depan kelasnya, ia melihat saudara kembarnya itu terlihat terburu-buru sekali. Karena penasaran, Pelangi pun memutuskan untuk mengikuti saudaranya itu dari belakang.


"Loh, ini kan Fakultas Ekonomi? Ngapain Langit ke Fakultas Ekonomi? Apa jangan-jangan?"


"Guntur!!" teriak Langit memanggil pria tinggi yang baru saja keluar dari ruangan dosen.


"Langit? Ngapain lo ke sini?" tanya Guntur bingung saat melihat Langit memanggil namanya.


Tiba-tiba saja Langit meninju pipi kanan Guntur begitu keras hingga membuat Pelangi dan orang-orang yang berada di sekitarnya begitu terkejut dengan aksi nekat Langit itu.


"Hey!! Apa yang lo lakukan?" teriak Guntur begitu emosi sambil memegangi pipi kanannya.


"Itu pantas untuk pria brengsek seperti lo! Selama ini gue selalu menghormati lo sebagai senior gue. Dan, gue selalu berusaha tenang karena lo adalah kekasih sahabat gue. Tapi, kali ini gue tidak akan membiarkannya begitu saja."


"Apa maksud perkataan lo?"


"Gue sering kali memergoki lo pergi bersama perempuan lain. Selama ini, gue diam karena gue fikir hubungan lo dengan Sasha akan baik-baik saja. Tapi, ternyata gue salah besar. Elo hanya salah satu pria paling brengsek yang gue kenal. Bersyukur Sasha dan lo sudah putus. Gue berharap, elo jangan mengganggu Sasha lagi. Biarkan dia bahagia dan jangan pernah temui dia lagi. Kalau sampai lo mengganggunya lagi, elo akan berhadapan dengan gue!" tegasnya kemudian pergi.


Pelangi tampak tersenyum senang. Ia bangga dengan aksi yang dilakukan Langit barusan. Dia berani memberi pelajaran untuk Guntur dan membela sahabatnya yang mungkin Pelangi sendiri tahu kalau saudara kembarnya itu menyimpan rasa untuk sahabatnya Cinta.


"Jadi elo selingkuh, Kak?" tanya Pelangi yang menghampiri Guntur saat ia tengah memandangi kepergian Langit.

__ADS_1


"Mau apa lagi lo? Mau ikut menghajar gue seperti apa yang dilakukan saudara lo?"


"Gue bukan tipe perempuan yang suka menghajar orang. Tapi, gue cuma mau bilang, elo pantas mendapat pukulan dari saudara gue. Ingat, karma akan menghampiri lo, Kak. Sahabat Cinta berarti sahabat gue juga. Kalau sampai lo menyakiti Sasha lagi, selain berhadapan dengan saudara gue, elo akan langsung berhadapan dengan gue juga. Gue tidak akan membiarkan pria seperti lo menyakiti Sasha. Semoga lo merasakan apa yang Sasha rasakan selama ini. Karma is real, Boy," katanya sambil tersenyum sinis kemudian pergi dengan langkah yang terlihat angkuh namun penuh kemenangan.


"Langit!!" teriak Pelangi memanggil.


Langkah Langit terhenti begitu Pelangi memanggil namanya.


"Gue bangga sama lo, Lang."


"Maksud lo? Kenapa tiba-tiba ngomong kaya gitu?"


"Gue tahu, ko. Elo suka sama Sasha, kan?"


Langit terdiam. Namun, ia kemudian tersenyum tipis penuh arti.


"Kenapa lo bisa bilang begitu, Pe?"


Pelangi melangkahkan kakinya dengan perlahan. Langit pun mengikuti langkah adiknya dan ikut berjalan berdampingan bersamanya.


"Gue sering banget lihat lo jalan berdua dengan Sasha. Gue juga sering banget lihat lo yang secara diam-diam memberikan perhatian lebih padanya, tersenyum lebar padanya dan diam-dia membantunya seperti tadi contohnya."


Pelangi tersenyum dan melipat kedua tangannya seraya menatap wajah kakaknya itu begitu lekat.


"Gue kenal lo dari kecil, Lang. Elo itu orangnya cuek banget sama yang namanya perempuan. Tapi, beda dengan Sasha. Sejak Cinta mengenalkan Sasha kepada kita, tatapan mata lo untuk Sasha beda. Gue nggak ngerti kenapa lo bisa melakukan hal yang berbeda terhadap Sasha. Setahu gue, elo juga lagi deket sama Kejora; temen sekelas lo, kan?"


"Elo tahu soal Kejora juga?"


"Tahulah, kalau gak spesial, untuk apa lo ngajak Kejora ke rumah waktu itu?"


Langit tertawa kecil. Ia merasa tidak ada gunanya menyembunyikan perasaannya dari saudara-saudaranya. Karena bagaimana pun mereka akan tahu dengan sendirinya.


"Jadi, pilih Kejora apa Sasha?"


"Menurut lo gimana?"

__ADS_1


"Kenapa tanya gue, yang ngerasain kan elo. Tapi, apa pun pilihan lo gue tetep dukung lo, Lang. Karena elo adalah kakak gue yang paling dewasa."


Langit menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah Pelangi dengan kasih sayang dan penuh perhatian sambil memegang kepalanya dengan lembut.


"Ternyata, adek gue sudah dewasa."


"Sasha baik, Lang. Jangan sakitin Sasha. Kejora juga sepertinya baik. Walau gue nggak tahu banyak soal Kejora, gue harap lo bisa memilih sesuatu dengan bijaksana. Karena dengan pilihan lo itu pasti akan ada yang tersakiti nantinya "


Langit menundukkan kepalanya. Ia berusaha meresapi apa yang dikatakan oleh adiknya itu.


"Gue bingung dengan perasaan gue sendiri, Pe. Gue tidak ingin menyakiti keduanya."


"Yang namanya sebuah pilihan pasti akan ada di posisi menyakiti dan disakiti, Lang. Tapi, itu harus dilakukan demi kebaikan dan kebahagiaan kita semua," katanya terdengar sendu.


"Elo bahagia, Pe?" tanya Langit.


"Gue bahagia melihat kedua kakak gue bahagia."


"Gue boleh menanyakan sesuatu?"


Pelangi terdiam. Ia menatap wajah kakaknya dengan tajam.


"Elo suka sama Bumi?"


Inilah pertanyaan yang ditakuti Pelangi selama ini. Ia takut kalau kakaknya yang peka itu akan menanyakan hal tersebut.


"Ini bukan soal perasaan, Lang. Tapi pengorbanan demi orang yang kita sayangi."


"Elo rela melepas Awan untuk Cinta? Atau rela melihat Cinta bersama Bumi?"


"Apa pun untuk kebahagiaan Cinta, gue rela melakukan apa pun itu bentuknya."


"Walau harus mengorbankan perasaan lo?"


"Cinta itu kakak gue, saudara kembar gue. Kita berada di dalam kandungan mamih selama 9 bulan. selama 20 tahun lebih kita hidup bersama berdampingan. Apa lo mau hidup tak akur dengan saudara lo sendiri, belahan jiwa lo sendiri? Posisi gue sulit, Lang. Kalau dengan perempuan lain gue masa bodo. Tapi, ini kakak gue sendiri."

__ADS_1


Langit tahu betul perasaan Pelangi saat ini. Ia pasti mengalami dilema yang cukup berat. Tapi, ia bangga pada adiknya itu. Karena dia tidak egois dan masih berfikir secara rasional, tidak menggebu-gebu dengan perasaannya sendiri.


"Jika Cinta jadi lo, pasti dia juga akan melakukan hal yang sama. Papih dan mamih pasti merasa bangga mempunyai anak yang dewasa seperti lo, Pelangi."


__ADS_2