Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Pengakuan Cinta dan Sasha


__ADS_3

“Cinta!” panggil Awan saat melihat gadis yang ia sukai tengah berada di atap gedung kampus.


Merasa namanya di panggil, Cinta membalikkan badan dan menatap wajah Awan dengan pandangan mata sendunya.


“Ternyata, elo bisa tahu juga kalau gue ada di sini?”


“Ikatan batin,” jawab Awan pendek hingga membuat Cinta tersenyum kecil mendengarnya.


Awan memberikan sebuah kaleng minuman kepadanya. Mereka berdua minum bersama sembari menatap ke atas langit yang terlihat begitu cerah dengan suasana yang cukup sunyi untuk beberapa menit.


“Gue sudah sudah putuskan, Wan.”


Awan menatap wajah Cinta dengan seksama.


“Putuskan soal apa?” tanya Awan bingung dan kembali menatap lurus ke depan.


“Berhenti untuk menyukai Bumi,” katanya pelan hingga membuat Awan terdiam beberapa detik kemudian menatap wajah Cinta kembali .


“Kenapa tiba-tiba berhenti menyukainya? Apa elo sudah menyerah?”


Cinta menatap wajah Awan yang terlihat sangat lelah. “Apa lo senang?"


"Senang?"


"Iya. Itu artinya kan, elo mempunyai kesempatan untuk mencintai gue lebih dalam, kan?” tawanya hingga membuat Awan juga ikut tertawa bersamanya begitu mendengar perkataannya itu.


“Benarkah itu? Apa lo mengizinkan gue untuk mencintai lo, Ta?” tanya Awan tak sabaran.


“Itu hak lo untuk mencintai siapa pun, Wan. Gue nggak ada hak untuk melarangnya."


“Apa lo mulai menyukai gue?” tanyanya menggoda.


“Pede sekali kau! ” teriak Cinta sambil memalingkan wajahnya dan tertawa sinis begitu mendengar kalimat yang dilontarkan Awan yang menurutnya begitu nyeleneh.


Awan kembali meneguk minuman kaleng miliknya dan menatap lurus ke depan dengan arah yang tak pasti.


“Gue akui, gue memang mempesona dan tidak ada yang bisa menolak pesona gue. Benarkan apa kata gue?”

__ADS_1


“Ckk, lo kira gue akan menyukai lo?” tanya Cinta sembari tersenyum mengejek.


“Gue tidak berharap lo untuk menyukai gue, Ta. Asal lo bahagia dan selalu tersenyum, itu sudah cukup untuk gue saat ini,” katanya pelan hingga membuat Cinta menatap wajah Awan begitu dalam dengan mata berkaca-kaca penuh haru.


“Gue cinta sama lo, Ta," katanya kembali.


Awan mendekati Cinta. Ia menatap wajah Cinta begitu lama. Ia tersenyum kemudian mencium kening Cinta hingga membuat Cinta terkejut dengan sikap hangatnya yang begitu tiba-tiba.


"Tetap tersenyum ya gadisku," ujar Awan pelan kemudian pergi sambil tersenyum tipis.


“Awan!” panggil Cinta pelan hingga membuat langkah Awan terhenti.


Cinta tersenyum dan berjalan menghampirinya. Sambil menatap wajah pria yang sudah lama menyukainya itu, Cinta mencium pipi Awan hingga membuat Awan begitu terkejut dengan sikap Cinta yang begitu mendadak itu.


“Terima kasih, Wan. Terima kasih karena lo selalu ada di samping gue dan mencoba untuk menghibur gue. Entah apa yang gue rasakan saat ini, tapi gue merasa nyaman saat gue bersama dengan lo. Gue tidak ingin menyakiti lo lagi, jadi gue akan belajar untuk mencintai lo."


"Cinta," ucap Awan pelan.


"Gue tidak ingin kehilangan lo, Wan," katanya pelan dan terlihat bersungguh-sungguh.


Awan tersenyum lembut dan memeluk Cinta begitu erat. Rasanya, ia sama sekali tidak ingin meninggalkan Indonesia. Tapi, pembicaraannya semalam dengan ayahnya membuatnya menitikkan air matanya kembali.


“Berikan aku kesempatan 2 minggu untuk menyelesaikan masalahku di sini. Setelah itu, aku akan pergi meninggalkan Indonesia dan berangkat ke Jerman untuk menjalankan perusahaan papih.”


“Baiklah, hanya 2 minggu tidak lebih dari itu!”


"Iya, aku mengerti."


"Papih bangga padamu, Nak. Kamu memang bisa diandalkan. Terima kasih, Nak," ujar ayahnya sambil memegang bahu kanan Awan seraya tersenyum tipis.


Mengingat pembicaraannya dengan ayahnya, rasanya Awan benar-benar putus asa. Saat memilih untuk pergi meninggalkan Indonesia, Awan memang ingin sekali melupakan Cinta dan melepaskannya untuk Bumi. Namun, sekarang kejadiannya berbeda. Cinta memberikan harapan lagi padanya dan kesempatan untuknya agar bisa mendekatinya kembali.


“Jangan pergi tinggalin gue, yah? Tanpa lo, gue takut gue rapuh dan tak mampu bertahan,” ucap Cinta pelan yang berada di dalam pelukan Awan.


Awan terdiam dan tak menjawab. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah mempererat pelukannya.


"Kejora!!" teriak Sasha begitu melihat Kejora hendak menuju kantin bersama Keke.

__ADS_1


Merasa namanya di panggil, Kejora menghentikan langkahnya seraya saling beradu pandang dengan Keke, temannya.


"Bisa ngobrol sebentar?" tanya Sasha saat sudah berada dekat dengan Kejora hingga membuat Kejora melirik ke arah Keke bermaksud memberi isyarat.


Keke yang mengerti situasi temannya langsung pergi meninggalkan temannya. Setelah Keke pergi, Kejora mengajak Sasha untuk duduk di salah satu meja kosong yang berada di kantin.


"Ada apa?" tanya Kejora membuka suara.


"Elo Kejora teman satu kelas Langit, kan?"


"Iya. Ada apa, yah? Apa ada yang bisa di bantu?"


"Gue sudah tahu hubungan lo dengan Langit seperti apa, Ra. Gue pernah melihat lo dengan Langit bernyanyi bersama di taman kampus tempo lalu. Gue juga sering melihat lo berada di sekitar Langit sejak dulu. Elo menyukainya, kan?"


Degghh,, pernyataan Sasha barusan membuatnya gugup dan tak berani menatap wajahnya begitu lama. Kenapa Sasha tahu tentang perasaannya terhadap Langit?


"Elo juga menyukai Langit kan, Sha?" tanya Kejora hingga membuat Sasha tersenyum lebar begitu mendengarnya.


"Gue mau mengaku sama lo, Ra."


"Maksudnya?" tanya Kejora tak mengerti.


"Iya, gue menyukai dan menyayangi Langit lebih dari seorang sahabat. Sebenarnya, gue tahu kalau Langit juga memendam perasaan yang sama terhadap gue. Gue juga tahu saat tempo lalu, dia hampir saja mengajak gue untuk pergi menonton konser Indie."


Mendengar tentang konser Indie, Kejora memalingkan wajahnya. Ternyata dugaannya selama ini benar, sebelum mengajaknya, pasti Langit akan mengajak Sasha terlebih dahulu. Maka dari itu, Kejora merasa memang ada yang aneh dengan Langit. Kenapa Langit mengajak dirinya untuk menonton bersama? Dan, kenapa bukan Sasha?


"Gue sengaja mengalah, Ra."


"Maksud lo?" tanya Kejora sambil menatap wajah Sasha bingung.


"Gue berbohong. Gue sengaja membiarkan Langit untuk nonton bersama lo. Gue beralasan kalau gue mau jalan dengan cowo gue. Tapi, sebenarnya saat itu keadaannya gue sudah putus dengan cowo gue. Saat itu, ada hal yang mendesak hingga membuat gue mengalihkan pembicarannya. Dan, ada alasan yang tak bisa gue jelasan secara mendetail, makanya gue menolak tawarannya."


"Kenapa elo menceritakan semua ini sama gue, Sha? Gue kan tidak perlu tahu alasan lo apa. Kita juga tidak dekat bukan?"


Sasha menghela nafas pendek. Ia menatap wajah Kejora begitu dalam dengan kedua bola matanya yang sendu namun terlihat tegas.


"Tolong bantu gue, Ra."

__ADS_1


Kejora masih tak mengerti apa maksud perkataan Sasha. Ia mengernyitkan keningnya dan masih terlihat begitu bingung.


"Tolong bantu gue untuk menjauhi Langit, Ra. Dan, tolong bantu gue untuk tidak mencintai Langit lebih dalam lagi."


__ADS_2