
Cinta menatap handphonenya berkali-kali saat berada di kelasnya. Selama 3 bulan ini, Awan masih belum menghubunginya. Sejak kepergiannya ke Jerman, Cinta masih belum tahu kabarnya bagaimana. Tapi, Awan sudah berjanji untuk kembali padanya. Dan, Cinta akan tetap menunggunya walau harus bertahun-tahun lamanya.
Saat jam mata perkuliahan berakhir, Cinta dan Bumi langsung menuju kantin. Di sana sudah ada Langit, Kejora dan Pelangi yang sudah terlebih dahulu makan bersama.
Saat melihat satu meja makan tempat di mana ia dan Awan sering makan bersama, membuat Cinta kembali mengenang kenangan singkatnya bersama Awan.
"Eh, elo kenapa menyimpan setengah nasi goreng lo di atas piring gue?" tanya Cinta bingung saat melihat Awan menumpahkan setengah nasi goreng miliknya di atas piring milik Cinta.
"Elo itu kurus kering tahu gak! Elo kudu banget banyak makan biar sehat. Elo juga kan mau ada ujian karate, jadi harus banyak makan supaya energi lo bertambah."
"Elo bawel banget ya kaya nyokap bokap gue."
"Ya bagus, dong. Itu tandanya gue care sama lo."
"Ini pasti ada maunya, nih. Kalau lo tiba-tiba perhatian gitu sama gue."
"Emang! Gue pengen elo punya hutang budi sama gue, jadinya elo bakalan sama gue terus dan gak akan ke mana-mana."
Cinta terdiam. Ia menatap wajah Awan yang tengah memandanginya.
"Kalau gue nggak ada, siapa yang bakalan memberikan semua perhatiannya sama lo?"
"Masih ada saudara-saudara gue, sahabat gue dan keluarga gue."
"Itu beda, Cinta. Kalau mereka memang mempunyai kewajiban untuk mengingatkan lo. Kalau gue kan spesial, harus selalu memberikan perhatiannya untuk orang yang gue sayangi sepenuh hati."
Cinta kembali terdiam dalam kesunyian. Terdiam tanpa kata, namun tetap memandangi pria yang duduk di hadapannya itu.
"Elo spesial untuk gue, Ta. Jadi, kalau suatu hari nanti gue nggak ada, elo bisa tetap kuat, tegar dan mandiri. Bukankah itu menakjubkan?"
Cinta tertawa lebar. Ia menampar kecil pipi Awan kemudian tertawa bersamanya.
"Jadi, makan yang banyak, yah?" tutur Awan sambil memegang kepala Cinta.
"Iya, Suhu," ujar Cinta yang ikut memegang kepala Awan dengan lembut.
Mengenang semua kenangan indah itu memang menyenangkan. Kenangan singkat yang penuh dengan makna. Cinta juga jadi teringat saat kenangannya bersama Awan di ruang musik yang ada di sudut kampusnya.
__ADS_1
Ia dengan Awan bermain piano bersama. Mereka menyanyikan lagu dari Bruno Mars - Just the way you are yang menjadi lagu favorit mereka berdua. Setiap kali bermain piano bersama, di satu piano yang sama dan duduk di satu kursi yang sama, mereka pasti akan menyanyikan lagu tersebut.
"Keren!!" seru Cinta sambil bertepuk tangan.
"Keren, kan? Bisa dong kita collabs?" ujar Awan yang duduk di samping Cinta.
"Tentu, kita bisa kaya raya nanti."
"Dasar cewe matre!"
"Kan, elo yang ajarin gue jadi matre."
"Enak aja! Mana ada yang seperti itu!"
Cinta juga sering kali mengajari Awan memetik gitar. Dan, lagu yang bisa Awan nyanyikan hanya dari penyanyi kesukaan Cinta yaitu Ed Sheeran dengan lagu Perfect. Hingga suatu hari, Awan menyanyikan lagu Ed Sheeran versi piano untuk Cinta sang pujaan hati.
"Wah, ternyata elo jago juga, yah?"
"Iya, dong. Awan kan pria yang jenius. Eh, suka nggak?"
"Mmh, suka. Versi gitarnya bisa nggak?" tanya Cinta kembali
"Kan, udah di ajarin. Apa perlu gue temani?"
"Boleh, ayo kita nyanyikan versi akustiknya."
Cinta mengangguk. Mereka berdua kembali menyanyikan lagu Ed Sheeran versi akustik dengan keduanya yang sama-sama memetik gitar. Meski ada beberapa kali kesalahan dari Awan yang memetik gitar, namun Cinta tetap menikmatinya. Hari-hari Cinta memang selalu penuh warna saat mengenal dekat sosok pria seperti Awan.
"Anak pintar. Sejak kapan jadi pintar memetik gitar?" tutur Cinta sembari memegang kepala Awan pelan.
"Semenjak gadis tomboy yang di hadapan gue ini sering muncul di dalam mimpi gue," ujar Awan sambil membalas memegang kepala Cinta.
"Wah, keren sekali!"
"Siapa yang keren?"
"Gue, dong!"
__ADS_1
Cinta dan Awan saling melempar senyum dan kembali saling menatap satu sama lainnya. Awan mendekati Cinta setelah ia menyimpan gitar miliknya. Kemudian ia mencium bibir Cinta dengan lembut hingga membuat Cinta sangat terkejut dengan Awan yang tiba-tiba saja menciumnya.
"Cowo mesum!" seru Cinta yang langsung menampar kecil pipi Awan.
"Tapi ganteng, kan?" katanya narsis sambil menjulurkan lidahnya. Cinta hanya tertawa dan kembali menampar pipi Awan hingga membuat keduanya kembali tertawa.
Selama dirinya bertengkar dengan Bumi, sosok Awanlah yang selalu menemaninya dan membahagiakannya.
Awan juga sering kali mengajak Cinta untuk balapan motor bersama. Setiap kali ada di arena balap, mereka sering kali tertawa riang dan melupakan semua permasalahan yang ada.
Awan juga sering kali melihat Cinta latihan karate. Sebelum dirinya bertengkar dengan Bumi dan juga Pelangi, Awan melihat Cinta yang sedang latihan dari kejauhan.
Saat itu, Pelangi, Sasha dan Langit berada di tempat di mana Cinta dan juga Bumi sedang berlatih. Dan, saat itu Cinta melirik ke arah Awan yang tengah memandanginya dari kejauhan.
Awan selalu tersenyum lebar jika sedang bersamanya. Awan selalu mensupportnya dan membantunya setiap kali Cinta dalam kesulitan. Awan juga selalu membantu Cinta jika motornya rusak dan mogok di tengah jalan.
Bahkan, Awan rela memberikan jaketnya kepada Cinta saat hujan turun begitu derasnya. Orang lain mungkin akan memberikan payungnya, tapi berbeda dengan Awan. Dia akan memberikan jaketnya atau tasnya untuk ia jadikan payung saat air hujan membasahi mereka berdua. Kemudian, mereka akan berlari-lari kecil dan saling melempar tawa.
"Elo unik yah, Wan?"
"Unik? Unik apanya?"
"Setiap kali gue sama lo, pasti aja hujan turun begitu deras."
"Hujan itu identik dengan nama gue. Tahu nggak kenapa?"
Cinta menggelengkan kepalanya dan menatap wajah Awan dengan seksama.
"Setelah hujan berhenti, awan yang cerah akan muncul dengan ditemani langit biru yang merekah. Jadi, kalau hujan, elo harus selalu ingat nama gue. Tiap kali lo melihat awan, ingatlah kalau gue selalu melihat lo dari jauh dan akan selalu dekat bersama lo."
Cinta tersenyum lebar. "Awan akan selalu muncul setiap kali cinta membutuhkannya. Cinta Awan akan selalu abadi."
"Anak pintar, sejak kapan jadi romantis gitu?" katanya sambil memegang kepala Cinta dengan lembut.
"Sejak cowo di samping gue ini menawarkan dirinya untuk menjadi teman gue."
Awan tertawa lebar dan mereka kembali saling melempar tawa dengan saling memegang kepala masing-masing dan saling menatap satu sama lainnya. Dan, hal itulah yang menjadi kebiasaan mereka setiap kali mereka bertemu. Dengan melakukan hal tersebut, mereka merasakan kalau salah satu diantara mereka selalu ada menemani dan memberikan semangatnya.
__ADS_1
Kenangan indah itu lah yang selalu menghantuinya setiap hari. Rasa rindu yang begitu besar itu juga menjadi bekal untuknya kelak. Dengan rasa rindu itu, ia tetap bertahan dan mencoba untuk tetap kuat.
Tunggu gue, Awan. Kita pasti akan secepatnya bertemu. Walau jarak memisahkan kita, tapi Cinta Awan akan selalu bersama di dalam hati. Batin Cinta.