Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Pelukan hangat Langit


__ADS_3

Setelah menghabiskan hari-hari terakhir Sasha di Indonesia, hari kepergian Sasha ke Singapore telah tiba. Cinta, Bumi, Pelangi dan juga Langit pergi mengantar Sasha dan ibunya ke Bandara.


Selama di Bandara, Sasha dan Langit saling bergandengan tangan untuk terakhir kalinya. Begitu jam keberangkatan Sasha tiba, Cinta, Bumi dan juga Pelangi silih berganti untuk memeluk Sasha dan berpamitan kepada ibunya Sasha untuk melepas kepergian sahabat mereka yang akan melakukan pengobatan.


Bahkan, Cinta dan Pelangi sampai menangis. Perjanjian mereka untuk tidak menangis selama di bandara pun telah dilanggarnya.


"Jaga diri lo baik-baik, Sha. Gue akan merindukan lo," tutur Cinta dengan air mata yang telah membasahi pelupuk matanya.


"Jaga diri lo baik-baik juga yah, Ta, Ngi, Bom. Gue akan selalu merindukan kalian."


"Cepat kembali dan membawa kabar baik yah, Sha. Gue akan selalu mendoakan lo."


"Makasih banyak, Ngi."


"Love you, Friend," tutur Bumi sambil memeluk Sasha.


"I love you to, my best friend." Sasha membalas pelukan Bumi dengan begitu erat.


Langit dan Sasha kembali saling beradu pandang. Mereka saling melempar senyum dan berpelukan begitu erat.


"Wait for me, Lang."


"Always, Sha." Langit mencium kening Sasha dan kembali memeluknya seperti tak ingin berpisah.


Langit mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya. Ia memberikan Sasha satu kotak kecil berwarna biru. Begitu menerimanya, Sasha menatap Langit dengan bingung.


"Bukalah."


Begitu diperintahkan Langit untuk membukannya, Sasha pun membuka kotak kecil berwarna biru itu yang ternyata isinya adalah cincin berbentuk meteor.


"Cincin ini?"

__ADS_1


"Iya, cincin ini cincin yang kamu mau saat tahun lalu. Cincin yang ingin kamu dapatkan sebagai hadiah ulang tahun dari Guntur."


"Kamu mengingatnya?"


"Aku selalu ingat setiap detik kenanganku bersamamu, Sha. Dan, aku tak akan pernah melupakannya."


Sasha kembali meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka cincin yang diinginkannya satu tahun lalu akan dibelikan oleh Langit. Saat itu, Sasha dan Langit pergi jalan-jalan bersama untuk menonton film. Saat melihat cincin itu di toko emas, Sasha memang sangat menginginkannya. Dan, ia tidak menyangka kalau Langit akan memberikannya cincin meteor yang sangat indah itu.


"Aku punya yang satunya," kata Langit sambil memperlihatkan jari manisnya yang tengah memakai cincin meteor juga.


"Couple?"


Langit menganggukkan kepalanya. "Aku pakaikan, yah?"


Sasha mengangguk. Langit pun memakaikan cincin meteor itu ke arah jari manis Sasha yang mungil. Begitu cincin itu terpakai di jari manis Sasha, mereka berdua saling melempar senyum dan kembali berpelukan.


"Aku akan merindukanmu, Sasha."


Setelah berpelukan dengan Langit, Sasha pun pergi dengan senyuman setelah berpamitan kepada sahabat-sahabatnya bersama ibunya. Mereka semua melambaikan tangan mereka dan mendoakan yang terbaik untuk sahabat terkasih mereka.


2 minggu berlalu begitu cepat. Setelah 2 minggu kepergian Sasha, Faris dan Nindi tengah bersiap-siap berangkat menuju bandara. Karena Pelangi ada jadwal kuliah pagi, ia tidak bisa mengantar kepergian orang tuanya menuju Bandara.


“Akhir-akhir rasanya sering banget mengantar orang-orang ke Bandara! Sebel banget gue!" seru Langit yang membuat Cinta hanya tersenyum kecut mendengarnya.


"Sabar ya, Sayangku," tutur Cinta pelan.


"Ciee yang mau bulan madu, bikin iri aja!” seru Langit yang tengah bersiap-siap berangkat menuju kampus begitu melihat kedua orang tuanya tengah bersiap-siap.


“Lain kali kita pasti bisa berlibur bersama ke New York,” tutur Nindi lembut sambil memegang kepala anak laki-lakinya itu.


“Iya, Langit ngerti. Ya udah, Langit pergi ke kampus sekarang, deh. Cinta, anterin mamih sama papih selamat sampai Bandara, yah!” seru Langit ketika melihat Cinta tengah memakai sepatu.

__ADS_1


“Sipp! Oh ya, kalau ketemu Bumi di kampus, bilang gue agak telat masuk kelas. Gue kan mau anterin mamih sama papih dulu!”


“Iya! Papih sama mamih hati-hati di jalan, yah?” tutur Langit seraya memeluk Nindi dan juga Faris begitu erat.


“Iya, kuliah yang benar. Dan, salam utuk Kejora dari mamih sama papih,” tutur Nindi pelan hingga membuat Langit menjadi salah tingkah.


"Papih sama mamih belum tahu kalo lo putus sama Kejora, Lang?" bisik Cinta.


"Belum, gue belum cerita apa-apa sama papih dan juga mamih."


"Pea lo!"


Langit hanya manyun dan pura-pura tak mendengar perkataan kedua orang tuanya itu. Nindi dan Faris pun segera membawa koper mereka dan langsung menuju mobil yang terparkir di depan rumah mereka.


“Ta,” panggil Langit pelan saat Cinta akan menyusul kepergian kedua orang tuanya.


“Ada apa?” tanya Cinta bingung.


Tiba-tiba saja Langit memeluk Cinta begitu erat dan membuatnya bingung seketika karena tidak seperti biasanya Langit seperti ini.


“Hati-hati di jalan yah, Kak!” katanya pelan.


“Lang, elo sehat, kan? Kenapa tiba-tiba peluk gue kaya gini dan tumben banget manggil gue kakak?” katanya terlihat bingung.


“Gue pengen aja manggil lo kakak. Thank’s yah udah jadi kakak yang paling hebat buat gue dan juga Pelangi. Pokoknya, nanti malem kita harus makan malam sama-sama di rumah. Oke?”


Cinta mengangguk dan membalas pelukan Langit dengan penuh kasih sayang.


"Janji ya, Ta?"


"Iya gue janji, Langit Wibawa Agustin Mukti Pradipta."

__ADS_1


Setelah berpamitan, Cinta segera menuju mobil dan mengantar kedua orang tuanya menuju Bandara.


Hati-hati di jalan, Kak. Batin Langit setelah Cinta melangkahkan kakinya pergi menuju mobil.


__ADS_2