Rumah PelangiT Cinta

Rumah PelangiT Cinta
Perhatianmu membuatku gugup


__ADS_3

Langit sudah terlihat gelap, Cinta tampak mengendarai motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi dengan ugal-ugalan. Ia masih mengingat dengan sangat jelas kata demi kata yang Bumi lontarkan kepadanya kalau ia ingin memastikan soal perasaannya terhadap Pelangi.


Cinta kembali mengenang semua kenangan persahabatannya dengan Bumi. Ia sama sekali tidak menyangka, kalau sahabatnya itu menyukai saudara kembarnya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Apa Cinta harus bersaing dengan saudara kandungnya sendiri?


Fikirannya hari ini sangat kalut, tetapi ia teringat kata-kata Awan yang ingin mengajaknya untuk balapan motor. Karena teringat janjinya dan sekarang jam sudah menunjukan pukul 20.30, ia langsung menuju arena balap dan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.


“Elo telat 30 menit!” seru Awan saat melihat Cinta yang baru saja datang.


“Sorry, gue tadi hampir lupa janji gue sama lo.”


“Elo tahu kan, kalau gue itu paling gak suka dengan orang yang ngaret alias tidak on time?”


Cinta mendengus. Ia menghela nafas pendek kemudian menatap wajah Awan tajam sambil membenarkan sarung tangan miliknya.


“Oke, gue salah. Sorry.”


“Baiklah, kita balapan sekarang,” katanya pelan.


Cinta mengangguk dan membuat Awan tersenyum lebar.


“Gimana kalau kita taruhan?”


Cinta menatap wajah Awan begitu lekat seraya melipat kedua tangannya. Awan hanya tersenyum kecil dan merapihkan rambutnya.


“Kalau gue menang elo harus bersedia menjadi teman gue. Kalau elo yang menang, terserah elo mau minta apa aja sama gue.”


“Teman? Hanya karena ingin menjadi teman, kita harus balapan seperti ini? Elo memang mahluk yang sangat aneh,” katanya sambil tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Terserah elo mau ngomong apa, tapi gue akui gue sangat tertarik untuk menjadi teman lo.”


“Kenapa? Kenapa elo sangat tertarik untuk menjadi teman gue?”


Sesaat Awan terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Cinta. Ia kemudian duduk di atas jock motornya dan menatap ke atas langit dengan sorotan mata yang sangat sulit diartikan.


“Gue melihat ada diri gue di dalam diri lo,” jawab Awan yang membuat Cinta terdiam dan menghampirinya. “Gue seperti bercermin saat gue bersama lo. Banyak persamaan yang kita miliki. Dan, salah satu persamaan itu adalah kita sama-sama suka dunia balap motor.”


Cinta tersenyum dan merangkul bahu Awan sambil menatap wajahnya. “Kalau begitu kita berteman saja. Gue mau berteman dengan lo, asal dengan satu syarat.”


“Syarat?”


Cinta mengangguk pelan dan melepas rangkulannya. “Syaratnya, kalau gue sampai menang di balapan nanti, elo musti temenin gue main bola malam ini juga. Gimana?”


Awan sesaat terdiam, tetapi setelah itu ia tertawa lebar hingga membuat Cinta jadi bingung sendiri melihatnya.


“Hey, kenapa elo tertawa?”


“Syarat yang sangat aneh, tanpa elo minta gue juga pasti akan menyanggupinya. Gue itu sangat menyukai bola, apalagi gue sangat mengidolakan Lampard.”


“Benarkah? Elo sangat mengidolakan Lampard?” tanya Cinta tidak percaya.

__ADS_1


“Iya, dalam dunia bola gue sangat mengidolakan Lampard dan dalam dunia balap motor gue sangat mengidolakan Mark Marquez. Mereka itu adalah orang-orang yang sangat luar biasa,” katanya bercerita dengan antusias.


Mendengar cerita Awan, tiba-tiba saja Cinta menggenggam kedua tangan Awan dan memeluknya begitu erat hingga membuat Awan begitu terkejut.


“Ya Tuhan, gue sama sekali tidak menyangka kalau kita itu bener-bener mirip. Bener kata lo tadi, gue seperti bercermin saat bersama lo. Kita bener-bener mirip dan idola kita berdua pun sama. Gue sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang sangat mirip sekali seperti gue selain ke dua saudara kembar gue,” katanya riang.


Cinta melepaskan pelukannya dan memegang ke dua bahu Awan sambil menatap wajahnya dengan tatapan yang lebih bersahabat.


“Let’s go, kita balapan sekarang.”


Cinta langsung mengambil helmnya dan memakainya. Awan juga terlihat sedang memakai helmnya dan tengah bersiap-siap. Dalam hitungan ke-3, Awan dan Cinta sudah siap untuk mengendarai motornya. Dengan semangat 45 dan tampak menggebu-gebu mereka berdua saling menyalip satu sama lainnya.


Bagaikan seorang pembalap nyata yang tengah balapan di sirkuit, Awan dan Cinta tidak saling mengalah satu sama lainnya. Pertarungan antara Awan vs Cinta pun berlangsung dengan sengit. Sampai tiba waktunya, Cinta memenangkan balapan kali ini dan hanya berselang beberapa detik dari Awan.


“Yes, gue menang!” teriaknya riang.


“Gue akui, elo memang wanita hebat dan sangat tangguh. Walau pun elo seorang perempuan, tapi kemampuan lo tak usah diragukan lagi.”


“Kalau begitu, elo harus tepati janji lo. Kalau gue menang, elo harus temani gue bermain bola.”


Awan tersenyum dan merangkul Cinta. Mereka saling menatap satu sama lainnya sambil tersenyum lebar. Ia pun langsung mengajak Cinta pergi untuk bermain bola bersama.


♪♪♪


Setelah makan malam bersama, Bumi langsung mengantar Pelangi pulang. Namun, sebelum mengantarnya pulang, melihat Pelangi yang sejak tadi terlihat tampak kedinginan ia langsung melepaskan jaketnya dan memberikannya kepadanya.


“Elo kan alergi dingin, jadi elo jangan sampai kedinginan,” ucap Bumi lembut.


“Masih dingin?”


“Lumayan.”


Bumi mendekat ke arah Pelangi dan mencoba untuk menggosok-gosok kedua tangannya agar terasa hangat. Ia juga mencoba menggosok-gosok tangannya dan menempelkannya di kedua pipi Pelangi agar ia merasa lebih hangat.


Pelangi sangat terkejut. Entah kenapa, hari ini Bumi sangat baik dan begitu perhatian padanya. Untuk sesaat, Pelangi merasa begitu gugup bisa berdekatan seperti ini dengannya. Wajahnya dengan wajah Bumi juga terlihat sangat dekat sekali dan itu membuat mereka sempat saling beradu pandang dengan sangat lama.


Kejadian ini pernah terjadi sebelumnya saat Sma dulu. Saat acara camping tempo lalu, Pelangi kedinginan begitu hebat. Cinta dan Langit begitu khawatir melihat keadaannya yang sangat memprihatinkan sekali itu.


Flash Back


“*Ngi, lo nggak apa-apa, kan? Gue mesti gimana?” tanya Cinta yang tampak khawatir dengan mata berkaca-kaca.


“Gue kedinginan, Ta,” ucap Pelangi dengan wajah yang tampak pucat pasi.


“Elo jangan bikin gue takut, Pe! Pakai jaket gue lagi, yah?” Cinta yang mulai menitikkan air matanya memberikan jaket miliknya sambil memeluk adiknya begitu erat*.


“*Pelangi! Elo gak apa-apa?” tanya Langit yang langsung masuk ke dalam tenda. “Ngi, elo pasti kedinginan hebat, yah? Nih, pake jaket gue!”


Langit langsung melepas jaketnya dan memberikannya kepada adiknya. Ia juga tak lupa meniup-niup pergelangan tangan dan kaki Pelangi yang mulai membeku.

__ADS_1


“Pe, sabar ya, guru-guru udah panggilin dokter buat lo! Elo harus tahan, oke*?”


*Pelangi mengangguk dengan gigi bergetar karena menggigil hebat. Langit dan Cinta pun semakin memperat pelukannya. Melihat Pelangi kedinginan seperti itu, Bumi langsung memberikan selimut tebal miliknya.


“Ini gak bisa dibiarin terus! Ta, Lang, biar gue gendong. Kita harus bawa Pelangi ke api unggun!”


Langit dan Cinta mengangguk pelan. Bumi langsung menggendong Pelangi dan membawanya ke arah api unggun. Bumi juga terus memeluk Pelangi dan memberikan kehangatan untuknya. Dan, kejadian itu tidak akan pernah terlupakan oleh Pelangi sampai saat ini. Karena berkatnya, dirinya masih bertahan hidup dan kondisinya mulai membaik*.


“Tapi, thanks banget yah untuk kejadian saat itu. Karena lo, keadaan gue mulai membaik.”


“Kejadian saat itu?” ulang Bumi bingung.


“Saat acara camping Sma kita dulu.”


“Oh iya, gue inget. Iya, Ngi, sama-sama.”


Pelangi dan Bumi saling beradu pandang kembali. Namun, karena sudah tersadar, Pelangi dan Bumi langsung mengalihkan pandangan mata mereka yang mulai terlihat gugup.


“A . . . ayo kita pulang, gue udah gak dingin!” seru Pelangi tiba-tiba.


“Oh, baiklah,” jawab Bumi yang langsung memakaikan helm ke arah kepala Pelangi.


Selama di dalam perjalanan, Bumi dan Pelangi tampak diam dan tidak bersuara. Namun, tiba-tiba saja Bumi menarik tangan Pelangi dan melingkarkan kedua tangannya ke arah pinggangnya. Dan, dengan sikap Bumi yang tak terduga itulah, membuat Pelangi kembali terkejut.


“Biar hangat dan tidak terjatuh,” katanya yang membuat Pelangi hanya bisa terdiam.


♪♪♪


Cinta dan Awan terlihat begitu gembira dengan sesekali bersenda gurau saat mereka bermain bola bersama. Cinta juga sudah mulai terlihat akrab dengannya, ia memberanikan diri dengan melompat ke arah punggung Awan yang lebar dan pergi berlari-lari dengan riangnya.


“Nih!”


Cinta yang sedang berbaring di bawah sinar rembulan malam, menatap wajah Awan yang tiba-tiba duduk di sampingnya dan memberikannya sebotol minuman.


“Thank’s,” jawab Cinta yang kemudian duduk dan menerima botol minuman pemberian Awan.


“Sudah malam, wanita tidak baik pulang malam-malam.”


“Tenang saja, kalau ada yang macam-macam gue bakalan berikan jurus karate andalan gue,” tawa Cinta yang membuat Awan ikut tertawa juga bersamanya.


“Yakin? Kalau tiba-tiba ada seorang pria yang berbuat seperti ini, elo akan memberikan jurus apa?” tanya Awan yang tiba-tiba mendorong tubuh Cinta hingga ia terjatuh dan terbaring di tanah.


Cinta begitu terkejut karena Awan tiba-tiba saja mendorongnya. Dan, kini Awan tepat berada di atas tubuhnya dengan menatap wajahnya begitu lekat dan begitu mendalam. Cinta berusaha melepaskan diri, tetapi Awan menarik tangannya hingga wajah mereka terlihat begitu dekat sekali.


“Apa yang akan elo lakukan ketika ada seorang pria yang tiba-tiba melakukan ini? Jurus apa yang akan lo keluarkan?” tanya Awan yang membuat Cinta menjadi gugup seketika.


“Jurus babak belur!” seru Cinta yang tiba-tiba saja mendorong kepala Awan dengan menggunakan kepalanya hingga membuat Awan meringis kesakitan.


“Jangan macam-macam sama gue! Kalau sampai macam-macam, mau gue kasih jurus andalan gue lagi?” seru Cinta yang langsung beranjak berdiri dan membersihkan pakaiannya. “Gue balik duluan, bye!” seru Cinta yang kemudian pergi meninggalkan Awan.

__ADS_1


“Dasar cewe aneh,” tutur Awan Pelan sambil tertawa kecil. “Elo memang cewe yang berbeda Cinta.”


__ADS_2