
Malam harinya, Pelangi dan Langit baru saja pulang dari Toserba untuk membeli beberapa barang dan makanan. Saat hendak masuk, Pelangi tidak sengaja melihat Sasha tengah memandangi Langit yang baru saja masuk ke dalam rumah dari kejauhan.
"Sasha? Ngapain dia di sini malam-malam? Sasha!" teriak Pelangi memanggil dan menghampiri Sasha.
"Pe?" serunya tampak terkejut.
"Elo ngapain di sini? Mau ketemu Cinta?"
"Nggak, ko. Gue nggak sengaja lewat sini. Ini juga gue mau pulang. Duluan ya, Pe. Bye!!" serunya kemudian pergi.
"Tunggu!!"seru Pelangi hingga membuat Sasha menghentikan langkahnya.
Pelangi berjalan menghampiri Sasha dan berdiri di hadapannya seraya menatapnya tajam. Sasha terlihat begitu gugup begitu Pelangi menatapnya dengan sorotan mata yang seperti itu.
"Boleh gue tanya sesuatu sama lo?"
"Soal apa, Pe?" tanya Sasha gugup.
"Kenapa lo jauhin Langit, Sha? Beberapa bulan ini gue sering kali melihat elo menjauhi Langit. Tiap kali Langit datang, elo selalu langsung pergi. Kenapa? Apa karena Langit sudah memiliki kekasih makanya elo ngejauhin dia?"
"Tidak seperti itu ko, Pe. Gue sama sekali tidak menjauhinya," jawab Sasha terbata-bata seperti menyembunyikan sesuatu.
"Jangan bohong, Sha. Tebakan gue, kalau lo ngejauhin Langit seperti ini pasti lo suka sama Langit, kan? Jujur sama gue, Sha."
Sasha terdiam tak bergeming. Ia seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Pelangi. Kedua matanya terlihat lirih. Apa sebenarnya yang terjadi kepada Sasha hingga ia menjauhi Langit?
Keesokan harinya, Pelangi, Cinta dan Langit tampak terlihat sudah rapih dan sudah berada di dalam mobil untuk menunggu kedua orang tuanya datang karena mereka akan pergi berlibur. Selagi Pelangi sedang menyisir rambutnya, Langit membenarkan topinya, Cinta tampak sedang memandangi layar handphonenya berulang-ulang kali.
“Tunggu telepon dari Awan?” tanya Langit yang melihat kakaknya terlihat gelisah.
“Hah? Nggak, ko!” elak Cinta.
“Dia sibuk kali, Ta. Kan, dia pewaris tunggal keluarganya yang kaya raya itu!” sindir Pelangi hingga membuat Langit menyenggol lengan adiknya itu.
“Mungkin, gue juga nggak tahu.”
“Baby, are you ready?” seru Nindi tampak bersemangat.
“I’m ready, Mom!” jawab Pelangi tak kalah semangatnya.
“Let’s go!” seru Faris yang sudah siap untuk mengemudikan mobilnya.
Selama di perjalanan, di dalam mobil tampak suasana kebahagiaan terlihat begitu jelas. Bernyanyi bersama dengan riangnya, membuat keluarga ini tampak sempurna dan sangat bahagia. Namun, tidak untuk Cinta. Ia terlihat sedih, seketika ia teringat kakaknya yang dikabarkan meninggal namun ayahnya sama sekali tidak menganggap kakak sulungnya itu sudah meninggal.
Faris yang mengetahui ekspresi anaknya terlihat sedang memikirkan sesuatu, tampak begitu sedih. Karena ia tahu, pasti anaknya tengah memikirkan Rasya; kakak pertamanya yang hilang dan sedang berandai-andai jika kakaknya ada di sini juga untuk berkumpul bersama keluarganya.
Ketika sudah berada di kawasan perbukitan, Cinta beserta keluarga kecilnya pergi bermain bersepeda bersama sambil bernyanyi begitu riangnya dengan menyanyikan lagu Weslife - My love yang merupakan lagu favorit Nindi dan juga Faris. Menikmati kebersamaan yang langka, keluarga kecil ini pun pergi bermain dengan suasana hati yang penuh kebahagiaan.
"Yang sampai gazebo itu dengan cepat, nanti papih kasih hadiah uang saku tambahan. Ayo, siapa yang bisa?" teriak Faris kepada ketiga anaknya.
__ADS_1
Mendengar teriakan faris, ketiga saudara kembar itu langsung berteriak heboh dan mengayuh sepeda mereka begitu kencang agar bisa mendapatkan hadiah uang saku tambahan.
Melihat kehebohan anak-anaknya, Faris dan juga Nindi tertawa lebar.
"Papih, Pelangi menang!! Tepati janji papih!!" teriak Pelangi girang.
"Pelangi curang, Pih. Cinta yang menang!!"
"Enak aja, Langit yang menang, Pih. Jangan dengarkan mereka berdua!!"
Faris tertawa lebar melihat pertengkaran kecil ketiga anaknya yang ingin sekali mendapatkan hadiah darinya.
"Sudah jangan bertengkar. Kalian semua menang, papih kasih kalian bertiga hadiah!!"
"Hore!!!" seru Langit, Pelangi dan Cinta tampak heboh.
Keluarga kecil ini kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan menikmati sebuah pemandangan indah air terjun yang tampak menyegarkan mata itu. Tak lupa, mereka mengabadikan kebersamaan mereka dengan berfoto bersama dan membuat video dokumenter dengan Langit sebagai kameramennya.
Melihat Pelangi, Cinta dan Langit sedang bersenda gurau dengan saling menyiram air dan saling mengejar satu sama lainnya, Nindi dan Faris terlihat sangat bahagia.
"Senangnya melihat mereka akur ya, Pih?"
"Iya, Mih. Tak terasa, mereka sudah beranjak dewasa. Itu artinya kita sudah tua dan berhasil mendidik mereka bertiga dengan baik."
"Kesempurnaan itu akan lengkap jika ada Rasya juga di sini bersama kita, Pih."
"Tapi, dengan melihat tawa anak-anak saja, itu sudah lebih dari cukup, Pih. Sebagai ibu, melihat mereka bertengkar tempo lalu saja itu sudah membuat mamih sedih. Mamih tidak bisa membayangkan, bagaimana jika suatu saat nanti kita tidak ada? Apa yang akan mereka lakukan? Apa mereka akan saling melindungi satu sama lainnya?"
"Jangan bersedih, Mih. Mereka saling melengkapi. Mereka pasti bisa saling melindungi. Walau mereka bertengkar, pasti akan ada jalan di mana mereka akan kembali berbaikan lagi. Mereka saudara, pasti tahu bagaimana caranya untuk saling berbagi suka dan duka."
"Mamih sayang mereka, Pih."
"Papih juga, Mih. Mereka adalah anak-anak kita, anak kebanggan kita."
Nindi menatap wajah suaminya dengan sendu. Faris kembali merangkul istrinya dan mencium kening istrinya kemudian kembali menatap ke arah ketiga anaknya.
“Cinta,” panggil Faris saat melihat anaknya tengah sendiri menikmati pemandangan indahnya air terjun.
“Papih?”
“Jangan fikirkan tentang kakakmu lagi, mungkin ini sudah saatnya kita menyerah.”
“Menyerah? Kenapa kita harus menyerah?”
“Kejadiannya sudah lama berlalu, Sayang. Mungkin, Rasya memang sudah meninggal.”
“Kita jangan menyerah, Pih! Kita harus berusaha sedikit lagi agar kebahagiaan kita tampak sempurna. Cinta akan tetap berjuang mencari tahu keberadaan kak Rasya, Cinta yakin kak Rasya pasti masih hidup," tutur Cinta seraya menatap wajah papihnya.
“Cinta, beberapa minggu lagi papih dan mamih akan pergi ke New York. Selagi kami pergi berlibur, kami di sana juga ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Papih akan bertemu dengan kenalan papih di sana. Dia seorang detektif terkenal dan siapa tahu dia bisa membantu kita,” ceritanya panjang lebar.
__ADS_1
“Benarkah itu, Pih?” tanya Cinta antusias.
“Ini usaha papih yang terakhir selagi papih masih hidup untuk menemukan kakakmu. Jadi, jaga adik-adikmu di sini. Kamu adalah anak papih yang paling bisa papih andalkan. Jadi, apa pun yang terjadi jaga kedua adikmu itu,” nasehatnya dengan ekspresi wajah yang terlihat serius.
“Cinta janji, Pih. Cinta janji akan menjaga Pelangi dan juga Langit.”
Setelah melakukan pembicaraan serius dengan Faris, Cinta beserta keluaganya menikmati hasil makanan buatan Pelangi dan juga Nindi di sebuah gazebo.
"Lang?" panggil Pelangi pelan.
"Iya? Ada apa?"
"Nggak jadi, deh."
"Ih, kenapa sih lo?"
"Nggak apa-apa."
"Kenapa, lagi berantem sama Bumi?" sindir Langit hingga membuat Cinta tertawa.
"Sok tahu lo. Hubungan gue sama Bumi baik-baik aja, ko. Cinta juga tahu itu. Iya kan, Ta?" tanya Pelangi meminta persetujuan kakaknya.
Cinta menganggukkan kepalanya dan masih sibuk berkutat dengan makanannya.
"Honey, listen, beberapa minggu lagi papih sama mamih kan mau ke New York. Mamih sama papih berharap kalian saling menjaga satu sama lainnya, yah? Ingat, jangan berantem," tutur Nindi sambil menatap wajah satu persatu anak-anaknya.
"Iya, Mih. Kita nggak akan berantem, ko," tutur Pelangi pelan.
"Jangan lupa, belajar yang rajin. Sebentar lagi kalian kan akan nyusun skripsi. Jangan sering main dan jangan sering balapan," ujar Faris sambil menatap wajah Cinta tajam.
Cinta yang ditatap seperti itu hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Tenang, Pih. Cinta sekarang udah gak pernah balapan lagi. Iya kan, Ta?" tanya Langit sambil menyenggol lengan kakaknya.
Cinta menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Bagus kalau gitu. Perubahan yang baik. Oh iya, salam dari mamih dan papih untuk Kejora, Bumi dan juga Awan, yah."
Ketiga anaknya mengangguk pelan dan kembali menikmati bekal makanan mereka dengan ditemani suara gemericik air dan indahnya pemandangan air terjun.
Hari yang panjang ini akan menjadi hari yang paling indah untuk mereka lewati bersama. Setelah menghabiskan waktu seharian bersama, mereka pun kembali pulang dengan Langit yang mengendarai mobilnya.
Di dalam mobil tersebut, tampak Cinta dan juga Pelangi dari sisi kanan dan kiri menyandarkan kepala mereka di atas bahu Nindi. Mereka berdua juga menggandeng lengan Nindi dengan begitu erat.
Nindi membalas sikap hangat anaknya itu dengan memegang erat tangannya dan membelai lembut rambut kedua anaknya. Sesekali, Nindi mencium kening kedua putrinya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Sementara Faris, ia tampak sedang bercengkrama dengan anak laki-lakinya. Sungguh suasana yang begitu hangat dan penuh cinta akan kasih sayang sebuah keluarga.
Cinta dan kasih sayang kedua orang tua memang akan selalu menjadi nomor satu di hati Cinta dan kedua saudara kembarnya. Karena kedua orang tuanya telah memberikan sebuah cinta dengan seindah langit di malam hari dan memberikan warna kehidupan seperti pelangi.
__ADS_1